Dendam Sang Presdir

Dendam Sang Presdir
Bab 106. Membuka luka lama


__ADS_3

Arshila belum mengganti pakaian. Masih duduk membisu, ditepi ranjang. Dia ingat, siapa wanita tadi. Wanita yang dulu, menampar dan menjambak rambutnya. Wanita itu, bahkan berjanji akan membalas dendam, saat ia bebas dulu.


Sudah setahun lebih, kenapa ia baru datang sekarang? Apa dia mengetahui statusnya?


Tiba-tiba, sebuah tangan kekar, memeluk dan menarik pinggangnya.


"Jangan pikirkan, apapun. Semua sudah selesai."


"Tapi, ...."


"Dia bukan siapa-siapa. Aku akan melindungimu."


Arshila merasa sedikit tenang. Sikap Dave, sekarang yang sudah berubah, meski Arshila belum percaya sepenuhnya. Masih ada rasa takut dan was-was, yang menghantui. Kadang, ia sendiri tidak berani menatap kedua manik suaminya.


"Ganti bajumu dan istirahat! Ini sudah larut."


Arshila mengangguk, bangkit, menuju kamar mandi. Dave sendiri, kembali keluar kamar, mengecek, apa wanita itu sudah pergi.


"Ma."


Rachel berdiri didepan pintu kamar anaknya. Ia ingin melihat keadaan menantunya, yang pasti merasa tertekan.


"Mana istrimu?"


"Dia sedang mandi."


"Baguslah. Ikut, Mama."


Dave mengikuti langkah sang ibu, menuju ruang kerja.


"Ada apa?"


Kini mereka duduk bersebrangan, disebuah sofa.


"Mama ingin, kamu memperkenalkan Arshila pada publik. Kalian harus mengadakan acara resepsi pernikahan."


"Aku masih memikirkannya. Mama tahu betul, resiko apa yang harus aku tanggung nantinya."


"Bukankah dia sudah jelas, tidak melakukan kesalahan itu. Apa yang kamu takutkan?"


"Dia memang tidak melakukannya. Tapi, aku yang menyerahkan saksi pada pihak berwajib dan menghentikan penyelidikan. Aku yang hanya mendengarkan secara sepihak, tanpa menyelidiki kebenarannya. Mama tahu, apa yang akan terjadi, selanjutnya? Jika aku, memperkenalkan Arshila sebagai istriku."


"Mama tahu. Tapi, bagaimana pun, istrimu butuh pengakuan dan kita harus membersihkan nama baiknya. Kita tidak bisa, membiarkan namanya tercoreng selamanya. Apalagi, ia sudah menjadi bagian keluarga kita dan mengandung anakmu."


Dave mengusap wajahnya. Semua memang benar, ia harus membersihkan nama baik sang istri. Tapi, untuk melakukannya. Ia harus kembali membuka kasus. Dan ia tidak mau, Arshila kembali mendapatkan sorotan dan tekanan.


"Aku akan memikirkannya, Ma. Beri aku waktu!"


"Baik. Ingat Dave, ini menyangkut masa depan anakmu. Kita tidak membiarkan nama baik ibunya, tercoreng atau dia akan mendapatkan cemoohan dari teman-temannya kelak."


"Aku tahu."

__ADS_1


Setelah, Rachel pergi. Dave masih duduk, menenangkan pikirannya. Ternyata, ada hal yang lebih penting yang harus ia lakukan. Langkahnya, memberikan Dimas hukuman dengan tangannya sendiri, ternyata salah.


"Beri tahu, Nadia. Untuk, menemuiku besok," perintah Dave pada seseorang dibalik telepon.


"Baik, Tuan. Tapi, Nadia, sedang meminta proses perceraian dengan Dimas. Dan ia memintaku, untuk menerima uangnya."


"Uang? Uang apa?"


"Nadia akan membayar sebagian uang hadiah, sebagai syaratnya untuk bercerai dan mendapatkan hak asuh anak."


"Tidak perlu. Ia akan mendapatkan semua itu, tanpa harus melakukan apa-apa. Katakan padanya, untuk datang dan juga beri tahu pengacaraku."


"Baik, Tuan."


Sambungan terputus. Dave harus membicarakan ini dulu kepada para pengacaranya. Ia harus mengetahui langkah dan akibat, yang harus ia tanggung nantinya. Terutama, untuk Arshila.


Merasa sedikit tenang, ia kembali menuju kamar. Tampak, Arshila masih duduk menunggunya dengan menggunakan piyama berwarna hitam.


"Kenapa belum tidur?"


"Aku menunggumu."


Dave mengulas senyum. Sebuah jawaban, yang membuat hatinya berbunga. Ia mendekat dan langsung meraih tubuh


sang istri, untuk tidur disampingnya.


"Boleh, aku bertanya?" Memeluk tubuh Arshila dengan erat, sambil tangan kirinya mengelus perut sang istri.


"Apa?" jawab Arshila, yang mulai merasa mengantuk.


Arshila tidak langsung menjawab. Ia sudah tahu, jika sang suami menghukum Dimas dengan caranya sendiri. Tapi, kenapa ia masih bertanya?


"Bukankah, kamu sudah memberinya hukuman? Sekretaris Tian, yang memberitahuku."


"Itu, belum cukup."


Arshila memutar tubuhnya, menatap sang suami.


"Lalu?"


"Aku ingin membersihkan nama baikmu dan mempublikasikan hubungan kita."


"Tidak perlu. Semua sudah berlalu dan aku ingin melupakannya."


"Bukan itu. Ini mengenai masa depan, anak kita."


Deg.


Yah, anak. Status sang anak, sebagai pewaris keluarga sang suami. Ia harus memiliki status tinggi dan nama yang bersih, tidak tercoreng oleh perbuatan masa lalu, termaksud orang tuanya.


"Aku, ..."

__ADS_1


"Jangan takut. Aku akan mengurus segalanya. Aku hanya memintamu, untuk tidak terbebani dan merasa tertekan. Apa kamu bisa melakukannya?"


Arshila menganggukkan kepalanya perlahan. Meski, ia harus membuka luka lama. Ia akan siap menghadapinya, demi buah hati mereka.


***


Pagi menjelang. Seperti biasa, sebelum sarapan. Arshila sudah menjalankan kewajibannya sebagai seorang istri. Menyiapkan air mandi dan pakaian kerja Dave.


"Jika ingin keluar, ajak ibu Lin menemanimu."


"Terima kasih. Aku ingin mencari perlengkapan bayi."


"Benarkah?" Dave menekuk kedua kakinya, merapatkan kedua telinga diperut sang istri. "Anakku ingin membeli apa, hm? Jangan membuat ibumu, lelah. Mengerti!"


Arshila tersenyum lebar, sekaligus terharu. Apa ia akan selamanya bahagia seperti ini? Sungguh, ia ingin selamanya, merasa menjadi wanita yang paling bahagia.


Terima kasih. Terima kasih, Tuhan!


"Ayo, kita sarapan. Papa dan mama, pasti sudah menunggu."


Dave menggenggam tangan sang istri, masuk dalam lift. Senyum-senyum, dengan terus mengelus perut Arshila. Entah mengapa, ini membuatnya merasa sangat senang.


"Ma. Shila, mau belanja perlengkapan bayi."


"Benarkah? Apa Mama boleh ikut?" Rachel antusias.


"Tentu, Ma." Kali ini Arshila yang menjawab, dengan senyum lebar.


"Pa. Apa bisa menemaniku ke perusahaan?"


"Untuk apa?" jawab Liam malas. Ia ingin mengikuti istri dan menantunya berbelanja. "Papa, kan, sudah mengembalikan jabatanmu. Untuk apa lagi, Papa ke sana?"


"Ada hal penting. Papa bisa menyusul mereka ke mall, nanti." Dave sudah menduga, kenapa sang ayah sedang malas pergi bersamanya.


"Iya, iya. Tapi, cepat, yah! Papa mau memilih baju untuk cucu Papa."


"Apa sih! Untuk apa baju. Jenis kelaminya saja belum diketahui. Kalau salah beli bagaimana?" protes Rachel.


"Yah, simpan saja, untuk adiknya nanti."


Sepasang suami istri itu terkekeh. Cucu pertama saja belum lahir. Eh, sudah memikirkan adiknya.


Mereka pun berpisah, dihalaman rumah. Rachel dan Arshila masuk dalam rumah untuk bersiap. Mereka meminta ibu Lin, untuk menemani.


Diperjalanan. Dave mulai membicarakan mengenai rencananya. Ia ingin sang ayah mengetahui dan memberikan solusi untuknya.


"Bagaimana dengan pengacara?"


"Saya sudah meminta mereka untuk datang, Tuan." Tian menjawab, dari balik kemudi.


"Kita bisa membuka kasus ini kembali. Tapi, apa kalian sudah punya bukti kuat? Setahun lalu, kalian hanya mendengarkan wanita itu. Bahkan, meminta pihak berwajib menghentikan penyelidikan. Jika kalian tidak memiliki apa-apa, semuanya hanya akan berakhir sia-sia."

__ADS_1


"Aku sudah memikirkannya, Pa. Aku tidak akan menyerah sekarang. Aku ingin semua selesai dan ibu Clarissa tidak mengangganggu istriku lagi."


"Papa juga mengharapkan hal sayang sama. Kita akan mendengarkan, bagaimana pendapat para pengacara kita."


__ADS_2