Dendam Sang Presdir

Dendam Sang Presdir
Bab. 44. Karena semua, sudah terlambat.


__ADS_3

Arshila hanya membisu, sambil memundurkan tubuhnya. Menundukkan pandangan dengan tangan yang gemetar ketakutan. Entah mengapa, ia bereaksi seperti itu, saat melihat wajah Dave.


"Katakan, apa bukan kau orangnya? Lalu, kenapa selama ini kau diam?" Air mata Dave menganak sungai, ia masih memegang bahu Arshila.


"Tolong, lepaskan, Tuan." Arshila dengan lirih berucap, tanpa berani mengangkat wajahnya.


"Tidak, aku tidak akan melepaskanmu. Jawab, aku!"


Dave bersikukuh, tidak peduli bagaimana Arshila menolaknya. Ia butuh jawaban dan alasan yang pasti.


"Lepas!"


Arshila mendorong Dave dengan kuat, hingga terjatuh. Entah memiliki kekuatan dari mana atau memang Dave yang saat ini menjadi lemah.


"Tolong, pergilah! Aku mohon padamu, tolong pergi!" Arshila menangis.


Ibu Lin dan Grace yang menyaksikan mereka, masih membeku ditempat. Tidak berani berkomentar, apalagi melerai. Keduanya, hanya bertanya-tanya dalam hati. Apa yang sedang terjadi pada tuan muda? Ia menahan tangis dengan suaranya yang serak, tidak marah saat tubuhnya terjungkal. Apa dia sakit? Begitulah, ibu Lin dan Grace mengambil kesimpulan.


"Shi, dengarkan aku. Tolong, berhenti menangis. Aku butuh jawaban, kenapa selama ini kau hanya diam? Katakan, padaku!" Dave yang sudah bangkit, menggenggam kuat tangan sang istri, memohon untuk pertama kalinya.


Wanita itu. hanya bisa menangis dengan tubuh yang gemetar. Pandangan menunduk, tidak ada keberanian untuk menatap, meski saat ini Dave berbicara dengan lembut.


"Tuan, sebaiknya biarkan Nona beristirahat. Maafkan saya jika lancang, tapi sepertinya Nona takut kepada Anda."


Dave melepaskan tangannya, memperhatikan sang istri.


Apa kau takut padaku atau membenciku? Aku butuh jawaban, akan semua kecemasan dan ketakutanku. Aku mohon, tatap aku.


Tes.


Tes.


Tes.


Hati Dave serasa teriris pisau, perlahan tapi semakin dalam membuat luka. Wanita itu takut, sangat takut padanya. Ia tidak berani menatap, apalagi menjawabnya. Hanya ada tubuh yang gemetar dan air mata yang tercurah.


Inilah yang ia takutkan, jika sampai bukan Arshila pelakunya. Takut, bagaimana menghadapi kebencian wanita itu padanya. Takut akan semua kesalahannya tidak termaafkan, seumur hidup.


Dave ikut menunduk, membiarkan kristal bening itu jatuh. Mengepalkan tangan, menekan perasaan yang entah apa artinya. Ia hanya merasa sesak, ada sesuatu yang mengganjal didalam sana, entah bagaimana cara menghilangkannya.


Dave akhirnya bangkit dari posisinya, masih menatap sang istri yang terus menunduk masih dengan tangisnya.

__ADS_1


"Jaga, dia!"


Ia melangkah pergi, mungkin saat ini, ia harus membiarkan wanita itu tenang. Menyusuri koridor rumah sakit dengan perasaan hampa. Dave berpegangan pada tiang, saat tubuhnya hilang keseimbangan.


Semua pikiran, tertuju pada penderitaan wanita itu. Bagaimana ia menjalani hidup di rumah mantan suaminya dulu? Hidup seperti pembantu, tidak jauh berbeda dengan apa yang ia lakukan sekarang. Lalu, kenapa saat pertama kali melihatnya, ibu Dimas memperlakukannya seperti ratu, mengupas buah dan memijat bahu menantunya. Sebenarnya, ada apa dengan semua ini?


Dave memegang kepalanya, yang berdenyut. Ia berhenti sejenak, rasa menusuk didalam sana semakin terasa menyakitkan. Ia ingin berteriak sepuasnya, berteriak mengeluarkan semua beban yang mengganjal dalam hatinya.


Didalam ruangan perawatan, Arshila sudah merasa sedikit tenang. Ia tidak lagi menangis, tapi masih membisu. Tidak menjawab kecemasan ibu Lin dan Grace. Ia hanya mengangguk atau menggelengkan kepala, saat keduanya menanyakan keadaannya.


"Katakan, apa kau bukan orangnya? Lalu kenapa, selama ini kau diam saja?"


Arshila memejamkan mata.


Aku diam, karena aku tahu tidak ada seorang pun yang akan percaya pada orang sepertiku, termaksud dirimu. Kau menutup mata, Dave, dan hanya mendengarkan, apa yang ingin kau dengar.


Sekarang, kau datang bertanya akan hal yang sudah, sangat terlambat. Apa kejujuranku bisa mengubah semua penderitaan yang aku lalui karenamu? Tidak, Dave. Semua tidak bisa kembali, seperti saat kita pertama kali bertemu. Perasaanku sudah mati, begitu juga tubuhku.


Arshila kembali menangis, menutup wajah dengan kedua tangannya. Ia menjerit dengan suara yang lirih, sangat menyakitkan terdengar.


"Nona, kami mohon berhentilah. Perban di wajah Anda akan basah."


Ibu Lin memeluk Arshila, ikut menangis menemani Arshila. Menangis bersama, membuat suasana ruangan menjadi mendung.


"Menangislah, Nona."


"Hiks .... hiks .... hiks....." Arshila membalas pelukan ibu Lin.


Malam pukul tujuh, Arshila sudah terlelap tidur, setelah lelah karena menangis seharian. Sebelumnya, ia sudah makan dan meminum obat, agar ibu Lin tidak kena semprot dokter Sofia.


Grace sudah pulang satu jam yang lalu, karena harus segera melakukan tugas yang diperintahkan nyonya besar.


Tok....tok....tok....


"Silahkan masuk," jawab ibu Lin.


Pria yang tadi siang, muncul dengan membawa keranjang buah dan sebuah bingkisan.


"Selamat malam, ibu Lin."


"Selamat malam tuan Ellino."

__ADS_1


Ibu Lin menerima buah tangan, yang dibawa Ellino dan meletakkannya diatas meja.


"Dia sudah tidur?"


"Iya, Tuan. Nona, langsung tertidur setelah meminum obat."


"Padahal, aku mau mengajaknya bertemu ibuku, agar mereka bisa mengobrol."


Ibu Lin hanya tersenyum, karena tidak tahu bagaimana menanggapinya. Ia mempersilahkan Ellino untuk duduk di sofa.


"Ibu Lin, maaf sebelumnya. Saya dan Arshila baru dua kali bertemu dan saya tidak tahu apapun tentangnya. Apa bisa menceritakan sedikit tentangnya?"


"Maafkan saya, Tuan. Saya tidak bisa menjawabnya. Silahkan Anda bertanya sendiri pada Nona."


"Waah, kamu sangat tertutup ibu Lin. Kamu bisa diandalkan untuk menjaga rahasia sebesar apapun."


"Maafkan saya, Tuan."


"Tidak apa, aku tidak menyalahkanmu, lagi pula itu sudah menjadi tugasmu."


"Apa Tuan Ellino memiliki perasaan pada Nona?" Ibu Lin memberanikan diri bertanya, karena sikap Ellino mengarah pada pikiran ibu Lin sejak tadi siang.


Pria didepannya menghibur Arshila dan membuatnya tertawa lepas. Mereka mengobrol hal-hal yang ringan, tapi mampu membuat sang majikan melupakan semua rasa sakit dalam hatinya.


Sementara, Ellino tersenyum dan masih belum menjawab. Ia bangkit, memperhatikan Arshila yang terlelap dari sisi ranjang pasien.


"Aku merasa nyaman bersamanya, ia mudah akrab dengan siapapun. Sepertinya, aku menaruh hati pada majikanmu. Apa kau keberatan, ibu Lin?" Ellino menoleh.


"Itu bukan hak saya, Tuan. Tapi, saya menyarankan Anda, untuk melupakan perasaan Anda saat ini."


"Kenapa? Apa nonamu memiliki seseorang yang dicintainya? Jika iya, aku akan mundur dengan teratur. Cukup berteman saja, itu sudah cukup."


"Entahlah, Tuan. Saya tidak bisa membaca pikiran, Nona. Tapi ...."


Pintu ruangan terbuka, Ibu Lin dan Ellino menoleh ke arah yang sama. Sementara, Dave menatap tajam dengan tangan yang sudah terkepal.


Ellino tersenyum miring, sembari mengelus rambut Arshila. Memperlihatkan kepada Dave, apa yang sedang dilakukannya.


"Dunia sangat sempit, bukan?"


Cup.

__ADS_1


__ADS_2