
Pagi ini, Dave merasa kesal dengan keberadaan sofa didalam kamarnya. Setiap kali bangun, hanya ada selimut dan bantal disana. Ia berharap, setiap bangun pagi dapat melihat wajah sang istri yang masih terlelap. Tapi, nyatanya Arshila selalu bangun pagi, saat matahari masih malu-malu diatas sana.
Setelah sarapan, ia memerintahkan para pelayan untuk mengeluarkan sofa itu. Ia berpikir, untuk memulai awal baru dengan istrinya. Tidur seranjang, layaknya suami istri pada umumnya.
Dave yang sudah siap dengan segunung rencananya, menunggu sang istri menyelesaikan yoga. Duduk ditepi ranjang, sambil memainkan ponselnya. Ia berusaha menahan senyum, saat Arshila masuk dalam kamar. Ia diabaikan, tapi masih berusaha untuk mengerti.
Namun, bunyi notifikasi di ponsel istrinya, membuatnya penasaran. Ia sangat tahu, Arshila tidak memiliki teman, selain mereka yang sudah berada diluar negeri.
Selamat siang, Shi. Bagaimana kabarmu? Kamu baik-baik saja, kan? Apa Dave menyakitimu? Jika, iya. Aku bersedia menolongmu keluar dari rumah itu. Dari Ellino.
Rencana yang sudah tersusun rapi, lenyap tanpa bekas. Senyum yang ditahannya, berubah menjadi menakutkan. Ia hampir membating ponsel Arshila, tapi ia masih membutuhkannya sebagai bukti.
Dave yang sudah terbakar amarah, semakin menjadi-jadi. Tangis sang istri, seolah menolak disentuh olehnya, seperti bensin yang menyiram api yang sudah terbakar. Arshila terus menangis dengan menggelengankan kepala, seolah membenarkan setiap pertanyaan Dave.
Api yang sudah membesar, tidak bisa lagi dipadamkan, membuat Dave kembali gelap mata, Ia kembali mengangkat tangannya, mendaratkan di wajah sang istri. Rambut indahnya pun, tak luput dari tangannya.
Dave pergi begitu saja, meninggalkan Arshila yang berlinangan air mata. Ia kini mengurung diri dalam ruang kerja, merutuki dan memaki dirinya sendiri, yang lagi-lagi tidak bisa menahan emosi yang membuncah.
Entah dia cemburu atau memang tidak menyukai Ellino yang notabene, mantan kekasih Clarissa.
Dave memukul udara, ia butuh sesuatu untuk meluapkan kekesalannya.
"Tuan," pak Yus memanggil dari balik pintu.
"Masuklah."
"Tuan, nyonya Fira datang berkunjung. Nyonya besar berpesan, agar nona muda tidak keluar kamar."
"Baiklah."
Belum selesai satu masalah, kini masalah lain muncul. Ibu Clarissa tiba-tiba berkunjung, setelah setahun lebih putrinya meninggal. Ini tentu bukan hal biasa, mengingat Dave tidak memiliki urusan lagi dengan keluarga, mantan tunangannya itu.
"Jeng Fira, silahkan duduk."
"Terima kasih." Fira mengedarkan pandangan, mencari sesuatu diantara para pelayan yang tengah bekerja.
"Tumben, berkunjung. Apa ada hal penting?" Rachel tersenyum, seolah senang dengan kedatangan wanita itu.
"Tidak ada, aku hanya mampir. Eh!!" Fira tersentak oleh sesuatu.
"Ada apa, Jeng?"
"Seingatku, foto putriku terpajang disini dan disana, disitu juga." Fira menunjuk dinding, tempat foto Clarissa dulu.
"Oh, itu! Dave sudah menyimpannya dalam gudang. Lagi pula, untuk apa menyimpannya terus menerus, iya, kan?" Masih terus tersenyum, padahal sudah mengeluarkan kalimat sindiran.
__ADS_1
"Benar juga, Jeng. Tapi, apa Dave sudah melupakan Clarissa?"
"Jeng Fira, bagaimana, sih! Putraku harus melanjutkan hidup, keluarga kami membutuhkan penerus."
Fira mengangguk-anggukan kepala, terus tersenyum dan mencari bahan pembicaraan lain. Ia harus segera menemukan wanita itu, bagaimana pun caranya.
Deg! Pandangan Fira terkunci pada seorang wanita, yang terasa tidak asing. Sepertinya, mereka pernah bertemu sebelumnya.
"Jeng, dia siapa?" Fira menunjuk ibu Lin.
"Oh, dia asistenku."
Rachel sudah mengerti maksud Fira bertanya dan apa niat wanita itu datang, tanpa undangan.
"Aku pernah melihatnya, dengan seorang wanita muda."
Rachel tersenyum sinis, "Dia menantuku."
"Apa?" Fira tersentak.
"Kenapa Anda begitu kaget?"
"Bukan itu, maksudku. Aku hanya tidak percaya Dave sudah melupakan Clarissa. Dulu, ia sangat mencintai putriku."
"Putrimu sudah lama meninggal, tidak mungkin putraku akan terus terpuruk dan menunggunya bangkit."
Dasar, rubah tua ini!
"Apa aku boleh bertemu dengan menantumu? Aku pernah melihatnya sekali dan wajahnya mengingatkan ku pada seseorang."
"Seseorang? Siapa?" tanya Rachel, tapi masih tampak tenang dan santai.
"Wanita yang melenyapkan putriku. Jeng Rachel, pasti sudah tahu, bukan?"
"Jeng Fira, apa yang terjadi pada keluargaku, bukanlah urusanmu. Kita bukan calon besan lagi, hubungan kita sekarang ini hanyalah, terikat bisnis, tidak lebih."
Fira bangkit, tidak terima dengan ucapan Rachel yang terdengar seperti menghinanya.
"Jika benar, Dave menikahi pembunuh itu, aku akan beranggapan, dia dan wanita itu bekerja sama untuk melenyapkan putriku. Dan Jeng Rachel paham, apa yang akan terjadi nantinya?"
"Kau mengancamku?" Rachel menyeringai. "Kau sedang tidak dalam posisi untuk mengancamku. Kau yang harusnya lebih paham, jika kau mengancamku."
Fira mengepalkan tangannya, dada yang bergemuruh menahan emosi yang bersarang di ubun-ubunnya.
"Kita lihat saja, nanti!"
__ADS_1
Fira melengos pergi, tanpa permisi. Ia terus memaki dan mengumpat, tanpa henti. Meski, putrinya sudah tiada, ia tidak terima, jika si pembunuh itu yang menggantikan posisinya. Andai saja, ia memiliki anak lagi, pasti akan mudah menggantikan posisi Clarissa.
Dave turun menemui ibunya, setelah mendengar ibu Clarissa pergi.
"Bagaimana, Ma?"
Rachel hanya mengangkat bahu dan kedua tangannya. Ia menyesap cangkir tehnya, yang baru saja dibuat oleh ibu Lin.
"Mama!"
"Apa sih! Dia sudah pergi. Sepertinya, tujuannya kemari hanya ingin melihat istrimu. Entah dia tahu dari mana, Arshila tinggal disini."
Dave ikut duduk, tidak bertanya lagi. Ia memainkan ponselnya, mengirim pesan pada Tian. Tentu saja, isinya untuk mencari tahu apa yang sedang terjadi hari ini.
"Mana istrimu?"
"Tidur," jawab Dave malas.
"Lalu, apa yang kau lakukan disni?" teriak Rachel. "Kembali ke kamarmu! Jangan turun, jika istrimu belum bangun."
"Apa sih, Ma! Memangnya, dia itu bayi harus ditemani!
"Pergi atau aku tendang!"
Rachel sudah berdiri, meregangkan salah satu kakinya.
"Ya, ya, baiklah!"
Dave akhirnya pergi dengan terpaksa. Ia sebenarnya, belum mau menghadapi istrinya karena kejadian siang tadi. Ia merasa bersalah, tapi egonya lebih tinggi untuk meminta maaf.
Ceklek. Pintu terbuka. Dave berdiri diambang pintu dengan mata membelalak. Arshila tidur diatas lantai, beralaskan selimut.
Ia segera menutup pintu kamar, dan mendekati sang istri.
Ia menekuk kedua kakinya, menatap wajah yang sedang terlelap. Sebuah tanda merah tercetak jelas dipipi dan itu adalah perbuatannya. Ia kembali bangkit, membuka laci dimeja nakas dan mengambil salep, mengoleskan tipis-tipis.
"Maaf." Membelai rambut Arshila, lalu mengangkat tubuh istrinya keatas tempat tidur. Menyelimutinya dan berbaring disampingnya. Ia mengelus rambut sang istri, merasakan aroma shampo menusuk hidungnya.
Cup.
Dave tersenyum, lalu kembali mendaratkan kecupan.
"Kau milikku! Hanya milikku, jadi jangan membuatku marah dengan kehadiran pria lain."
Kembali mengecup diseluruh wajah, setelah puas, ia tidur dengan memeluk erat tubuh Arshila.
__ADS_1