Dendam Sang Presdir

Dendam Sang Presdir
Bab 41. Perasaan Dave


__ADS_3

Didalam kamar, Dave tidur terlentang, memejamkan mata dengan satu tangan diatas kepala. Wajah Arshila terlintas dalam pikirannya. Wajah yang dipenuh air mata, kedua mata terpejam dengan pasrah, saat kedua tangannya mencekik erat.


Dave menghela napas, yang terjadi hari ini seperti terjadi begitu saja, tanpa diduganya. Ia tidak berniat menyakiti wanita itu lagi. Setelah mencambuknya, Dave berusaha menekan amarah dan menjauhi wanita itu. Tapi perkataan Arshila, begitu memancing kemarahannya.


Bagaimana bisa tubuhnya lebih berharga, dari Clarissa yang tengah meregang nyawa? Apa hatinya terbuat dari batu, membiarkan tunangannya basah kuyup berlumuran darah sambil memohon.


Tes.


Tes.


Tes.


Dave menghapus air matanya, saat terdengar suara langkah kaki menuju kamarnya. Brak! Pintu dibanting dengan keras. Ia tahu, siapa yang begitu berani melakukan itu di rumahnya.


Rachel sudah memaki lebih dulu. Sebelum membicarakan inti permasalahan.


"Mama sudah mengingatkanmu! Jika nanti kau menyesal, mama akan akan menenggelamkanmu di laut."


Sang ibu pergi begitu saja, setelah menasehati dengan berapi-api.


Dave bangkit, duduk ditepi ranjang. Sebuah pantulan cahaya, menyilaukan mata. Ia mendekati sebuah benda kecil yang gemerlap, diatas lantai, tepat dibawah bingkai foto.


Sebuah cincin pernikahan untuk Clarissa, tapi disematkan di jari manis Arshila. Entah mengapa, ukurannya begitu pas.


"Kau mengembalikan padanya?" Memegang cincin itu, lalu berdiri menatap foto sang tunangan. "Aku sudah membalaskan dendammu padanya, tapi kenapa hatiku menjadi sakit." Dave memegang dadanya, tertunduk dengan air mata menetes jatuh.


"Maafkan aku, Cla. Maaf, jika aku tidak pernah memikirkanmu lagi. Hatiku sakit memikirkan wanita lain."


Tes.


Tes.


Tes.


Dave terduduk diatas lantai, menggenggam erat cincin pernikahan.


Setahun lebih, Dave sudah tidak memikirkan Clarissa. Pikirannya dipenuhi rencana, untuk mendekati Arshila. Menunggunya bebas dari penjara, lalu melancarkan aksinya.


Hari demi hari, kedekatan mereka semakin akrab. Dave tidak ragu untuk mendaratkan kecupan, yang entah mengapa membuatnya candu.


Entah dia sudah jatuh cinta atau tidak, Dave terus melawan perasaannya. Hanya foto Clarissa yang terus mengingatkannya, itulah kenapa rumah Dave dipenuhi foto Clarissa.


Bersama Arshila, perlahan mengikis keberadaan Clarissa dalam hatinya. Tapi, setiap, menatap foto sang tunangan kebencian Dave kembali muncul.

__ADS_1


Suara ponsel berdering, sebuah pesan masuk. Ia hanya membacanya sekilas, lalu sebuah foto muncul, membuatnya seketika bangkit.


Arshila duduk dibawah pohon, bersama seorang pria, tersenyum dengan bebas tanpa beban. Sang fotografer, sepertinya sengaja tidak memotret ibu Lin, hingga hanya tampak dua sejoli dengan senyum malu-malu.


Dan disinlah, Dave berada dengan amarah yang berapi-api dari sebelumnya.


Sang istri tersenyum pada pria yang sangat dikenalnya dengan baik. Ellino Malvinderes, sang rival bisnis dan juga mantan kekasih Clarissa.


"Aku tidak akan biarkan, kau mengambil wanitaku lagi."


Dia milikku! Hanya milikku!


Suara tawa Arshila dan Ellino, serasa menusuk dada hingga ulu hati. Bahkan, ibu Lin yang bersama mereka seperti tidak terlihat di mata Dave.


Kedua kakinya begitu gatal, ingin segera berjalan melabrak mereka. Berselingkuh didepan mata, membuat urat syarafnya terganggu, seperti memutus satu persatu untaian aliran darah Dave.


"Tuan, jangan sekarang!" Sekretaris Tian, menahan tangan Dave.


"Kenapa? Aku harus memberi mereka pelajaran."


"Tuan, Nona baru siuman dan luka yang kemarin masih belum sembuh. Tolong, jangan membuatnya semakin terpukul. Biarkan dia tertawa hari ini, saya mohon!"


Dave membuang muka, ia akhirnya memilih pergi, disusul oleh Tian. Mereka masuk dalam ruangan direktur rumah sakit, yang sengaja ditinggalkan si pemilik ruangan.


"Bagaimana kondisinya?" Dave duduk di sofa.


Dave menarik napas panjang, memijit pelipisnya yang berdenyut.


"Sepertinya, dia sudah mengingat Clarissa. Dia mengembalikan cincin pernikahan dan meletakkannya di bawah bingkai foto."


"Tuan," Tian mengigit bibirnya, keraguan sangat mendominasi pikirannya saat ini.


Dave menatapnya dengan alis berkerut, ia tentu saja tahu, sekretarisnya saat ini, tengah bingung untuk mengatakan sesuatu.


"Tadi ibu Lin mengirimkanku rekaman suara."


Tian menyerahkan ponselnya.


"Ibu Lin. Ini pertama kali, aku melihat wajah Clarissa. Selama ini, kalian pasti menganggapku bodoh, karena masuk dalam sarang harimau, mengantarkan nyawaku." Terdengar Arshila tertawa hambar.


"Nona."


"Tidak ada gunanya, Ibu Lin. Semua sudah terlambat, sangat terlambat!"

__ADS_1


Dave yang mendengarkan, menatap Tian meminta penjelasan. Ia tidak bisa begitu saja mempercayai rekaman suara itu.


"Apa kita perlu menyelidiki ulang, Tuan? Mungkin saja kita melewatkan sesuatu."


"Tidak perlu, semuanya sudah jelas."


"Tapi, ...."


"Tian, kau tahu kenapa aku mencekiknya hari ini? Karena wanita itu, sudah mengingat Clarissa. Tanpa rasa bersalah ia mengatakan, tubuhnya lebih berharga untuk terkena air hujan dari pada Clarissa yang berlumuran darah. Dia sibuk hingga tidak menolong Clarissa yang memohon untuk menyelamatkan bayi kami dan dia mengatakan itu sambil tertawa mengejekku."


Tian mencerna ucapan pria didepannya. Pantas saja, Dave hampir membunuhnya. Tunggu!!


"Tuan, saya rasa dia sengaja memprovokasi Anda untuk membunuhnya. Anda tahu betul, ia berulangkali meminta Anda mengakhiri hidupnya."


"Ck!" Dave bangkit, berdiri membelakangi Tian. "Lalu, bagaimana dengan perkataannya padaku? Jelas itu semua adalah perbuatanya waktu itu!"


"Bagaimana dengan penjelasan saksi waktu itu, bukankah kita semua mendengarkannya. Mungkin saja, Nona mengatakannya hanya untuk memprovokasi dengan menambahkan beberapa kalimat."


Dave menoleh, berdecak pinggang dengan helaan napas panjang.


"Kita kembali dan panggil Nadia."


"Baik, Tuan."


Dave dan Tian keluar beriringan. Bukannya menuju parkiran, Dave memutar arah menuju taman rumah sakit dibelakang, tempat Arshila berada.


Dari jauh, pemandangan sebelumnya tidak jauh berbeda. Masih ada Ellino disana, bahkan didepan mereka, sudah ada meja dan buku diatasnya, serta buah-buahan. Sepertinya, pria sialan itu yang menyiapkannya, umpat Dave.


Jika saja, Tian tidak mengingatkan dan mencegah langkahnya, ia sudah berada disana mengobrak-abrik benda yang dibawa pria itu.


Sorot mata Dave berpindah pada istrinya, yang asik membaca buku dan membiarkan angin menerpa wajahnya. Sesekali, mata wanita itu terpejam, seolah menikmati hembusan angin. Tapi, detik berikutnya, terlihat Arshila menghapus air matanya.


Dave segera pergi, tidak ingin berlama-lama, melihat pemandangan yang menguras emosi dan meluluhkan nuraninya karena air mata disana.


Sepanjang jalan, ia terus memikirkan perkataan Tian dan Arshila.


"Nona, tolong selamatkan bayiku." Arshila menyeringai. "Aku sedang sibuk."


Wajah Arshila yang tersenyum, setelah mengucapkan itu tanpa dosa, membuat Dave menguras otak.


Apa mungkin ia sengaja melakukannya? Apa kau sudah sangat putus asa?


Dave kembali teringat, saat wanita itu menjatuhkan pisau dibawah kakinya, sepertinya, ia sudah menyiapkan semua, tinggal menunggu emosiku meledak lalu membunuhnya, Dave bergumam sembari memijit pangkal hidungnya.

__ADS_1


Dari kursi depan, Tian menatapnya dari kaca spion.


"Tuan, jika Nona bukan pelakunya. Apa yang akan Anda lakukan?"


__ADS_2