
Pagi menjelang. Hal besar yang sudah direncanakan Dave, akan berjalan hari ini. Ibu Lin dan pak Yus, yang paling sibuk pagi ini. Mulai dari mempersiapkan pakaian hingga bekal nona muda. Bukan hanya itu, ia juga harus mempersiapkan obat dan susu ibu hamil.
Rachel juga tak kalah sibuknya. Mengonstruksikan ini itu, hingga mondar-mandir tidak jelas. Padahal, mereka hanya berkunjung dua hari saja. Tapi. Rachel ingin semua sempurna. Terutama, kebutuhan menantunya yang sedang hamil.
"Pak Yus, kamu harus ikut." perintah Rachel.
"Baik, Nyonya."
Rachel tidak mempercayai putranya, dalam hal kebutuhan Arshila. Karena ia sendiri, harus dibantu oleh pelayan.
Di kamar lantai atas. Dua orang yang ditunggu-tunggu masih terlelap. Mereka tertidur pulas, sembari berpelukan. Arshila menyandarkan kepalanya didada sang suami, sementara Dave memeluknya erat.
Dave terbangun lebih dulu. Ia tersenyum melihat, posisi mereka saat ini. Ia ingin berlama-lama, tapi tidak ingin sang istri merasa canggung padanya. Akhirnya, ia memilih bangkit dan menyelimuti Arshila.
Pintu balkon terbuka, hembusan angin menerpa wajah Dave. Ia duduk sebentar, memperhatikan tukang kebun dibawah sana.. Mereka sedang sibuk bekerja, pada lahan yang akan dibuat taman bunga. Bergeser sedikit, ada dua buah mobil terparkir dihalaman. Ada Tian disana, yang berpakaian santai, dengan jaket menutupinya.
Dave tidak mengetahui apa-apa, tentang persiapan yang dilakukan orang tuanya. Jadi, ia sedikit bingung dengan pakaian yang digunakan sekretarisnya, yang tidak biasa.
Karena waktu terus berjalan, tanpa menunggunya. Dave memilih untuk bersiap lebih dulu, sembari menunggu istrinya yang masih tertidur. Duduk dulu, memperhatikan wajah sang istri. Ini pertama kalinya, mereka tidur bersama, dalam suasana yang baik. Mengelus rambut, hingga turun ke wajah, berpindah pada bibir. Jarak 1 meter, dipangkas menjadi 1 cm, hingga ia benar-benar mendaratkan bibirnya.
Arshila menggeliat, karena terganggu. Tapi, kedua matanya masih terpejam rapat. Dave mundur, mengusap bibirnya.
"Selamat pagi, sayang," bisiknya, yang hanya terdengar olehnya.
Tepat, pukul 07.30, Dave sudah rapi dan siap berangkat. Tapi, sang ratu, masih tertidur pulas dan tidak terusik sediktpun. Mungkin karena pengaruh sedang hamil, membuat Arshila menjadi sedikit malas, pikir Dave. Ia tidak ingin terburu-buru dan membangunkan sang istri.
"Mana menantuku?" Rachel menatap putranya yang turun seorang diri, dengan pakaian yang sudah rapi.
"Masih tidur, Ma. Aku akan sarapan duluan." Dave memperhatikan Tian yang duduk ikut sarapan. "Kamu mau mau kemana?"
"Saya akan mengikuti Anda, Tuan."
"Tapi, aku tidak memintamu."
"Mama, yang memintanya," sela Rachel. "Kalian tidak bisa pergi berdua. Kalau kamu kelelahan, siapa yang akan mengurus menantuku."
Dave tidak membantah, ia menurut saja, karena tidak mau berdebat yang menghabiskan waktu.
"Mana Nadia?" tanya Dave lagi, pada ibu Lin.
"Dia masih memberikan susu, pada putrinya."
Dave mengangguk, lalu mulai sarapan.
Di kamar lantai dua. Arshila mulai mengerjap, ia merenggangkan persediannya, setelah lama tertidur. Bukannya bangkit, untuk bersiap. Ia malah kembali meringkuk dan menarik selimutnya sebatas leher. Entah mengapa, ia sangat malas untuk bergerak.
Pintu kamar terbuka.
__ADS_1
"Apa dia masih tidur?"
Dave mendekat, duduk disamping sang istri.
"Sayang. Ini sudah jam delapan. Apa kamu tidak ingin pergi?"
Arshila tidak menjawab. Ia menyingkirkan selimut, lalu duduk.
"Ayo. Aku akan membantumu bersiap."
"Aku bisa sendiri."
Satu dua langkah, ia terjatuh. Dave dengan sigap, menangkap tubuh istrinya.
"Kedua kakimu, masih lemah. Karena, tidak pernah digerakkan."
"Biar aku membantumu."
Mengangkat tubuh Arshila masuk dalam kamar mandi. Entah apa yang mereka lakukan, hanya terdengar suara penolakan Arshila. Cukup lama, mereka akhirnya keluar, dengan tubuh Arshila yang di lilit handuk.
"Aku sudah menyiapkan baju untukmu." Memberikan dress dengan panjang selutut.
Arshila tidak membantah, ia segera menggunakannnya. Ia juga membiarkan sang suami menyisir rambut dan memasang kalung dilehernya.
Sudah siap.
Dave menggendong tubuh istrinya, keluar dari lift. Mereka disambut orang tuanya, yang sudah menunggu dari tadi.
"Terima kasih, Ma."
Menunggu sang istri sarapan. Dave duduk bersama sang ayah.
"Tian dan pak Yus, akan mengikuti kalian."
"Kami hanya dua hari, untuk apa mereka ikut?"
"Dave, perjalanannya cukup jauh. Tian akan menyetir dan pak Yus, akan membantumu menyiapkan keperluanmu dan Arshila."
"Hah! Baiklah." Menghela napas panjang.
Arshila sudah sarapan, ia juga sudah berpamitan pada orang-orang rumah. Wajahnya sedikit cerah, karena merasa bahagia akan pulang dikampung halamannya.
"Jaga dia, awas saja jika kamu kembali membuatnya menangis!" ancam Rachel.
Tian sudah membuka pintu mobil, sementara pak Yus memasukkan barang dibagasi.
Akhirnya, dua kendaraan keluar dari halaman. Tuan dan nona muda, duduk bersebelahan dikursi belakang. Tian sebagai pengemudi dan pak Yus, duduk aal dengan sebuah tas dipangkuannya.
__ADS_1
Beruntung, cuaca sangat cerah pagi ini. Terlihat langit yang begitu bersih, bertemankan awan putih diatasnya.
"Seperti apa, kampung halamanmu?" Dave membuka percakapan.
"Disana, ada sawah dan perkebunan. Udara yang sejuk dengan air gunung yang dingin," jawab Arshila dengan antusias. "Hah, aku sangat merindukan mereka."
"Siapa?"
"Adikku, orang tuaku, orang-orang yang selalu membantuku. Aku merindukan semua kenanganku." Arshila meneteskan air mata.
"Adik? Kamu punya seorang adik?"
"Hmm. Iya menghilang, saat kami masih bersekolah. Saat itu, aku pergi bekerja dan tidak pernah menemukannya, sampai sekarang." Arshila mendongak, mencoba menahan air mata yang sebentar lagi meluncur. Ia tidak ingin menangis, dihari bahagia ini.
Dave menatap sang istri. Hal yang tidak pernah diketahuinya. Ternyata, hidup Arshila sangat menderita, saat ia masih kecil. Ketika dewasa pun, hidupnya tidak jauh berbeda. Bahkan mungkin, ia lebih menderita. Dave semakin tenggelam, pada rasa bersalah.
"Apa kamu pernah mencarinya?" tanya Dave lagi.
"Aku mencarinya seperti orang gila. Aku terus bekerja untuk mengumpulkan uang, berharap bisa menyewa seseorang untuk mencarinya. Tapi, tidak pernah kesampaian. Aku akhirnya, datang ke kota, untuk mencari pekerjaan. Karena, dikampung, aku sudah kehilangan tempat tinggal. Aku hanya bisa berharap, dia baik-baik saja dan hidupnya, jauh lebih baik dariku." Arshila tersenyum getir, tanpa menoleh kepada sang suami.
Deg.
Dave menunduk, dadanya seperti tertusuk duri. Entah mengapa perkataan Arshila, seperti menyindir dirinya.
"Nona, anda ingin makan sesuatu?" tawar pak Yus, mencoba memecah kecanggungan tuannya.
"Apa ada buah, Pak?"
"Ada, Nona. Tunggu sebentar." Pak Yus, membuka tas diatas pangkuannya Mengeluarkan kotak makanan, yang tersusun rapi. Lalu, memberikan salah satunya pada Arshila.
"Wow." Arshila tersenyum saat membukanya. "Terima kasih, Pak."
"Sama-sama, Nona."
Dave menyambar, buah stroberi. Mengunyah perlahan, sambil meresapi. Ada yang aneh dengan rasanya. Tapi, melihat sang istri memakannya dengan lahap, ia membuang jauh pikirannya.
Kok, agak asin? Dave membatin, karena tidak mau membuat Arshila kehilangan selera makan. Ia meraih ponsel dan menulis pesan untuk pak Yus.
"Buahnya, agak asin."
"Maaf, Tuan. Potongan buahnya, dicampur sedikit garam. Karena nona muda, ingin makan yang seperti itu. Mungkin pengaruh, mengidam," balas pak Yus.
Dave kembali menatap sang istri, yang masih mengunyah.
"Kamu ingin makan sesuatu sayang?"
"Tidak." Arshila menggelengkan kepalanya. Ia menutup kotak makan, saat kedua matanya terasa berat.
__ADS_1
"Tidurlah." Meraih kepala sang istri, untuk bersandar dibahunya. "Aku akan membangunkanmu, kalau kita sudah sampai."
Maaf, jika aku justru, membuat hidupmu semakin gelap. Masalah adikmu. Aku akan menemukannya.