
Pulang dengan putus asa dan kecewa, itulah perasaan Arshila saat ini. Janji Dimas akan mempertemukan mereka, membuatnya mengalah.
"Shi, jangan bersedih. Masih ada waktu minggu depan. Kamu harus kuat dan sudah saatnya kamu merencanakan masa depanmu."
Arshila mengangguk, memeluk tante Nessa yang sudah seperti ibunya.
"Tan, aku pulang dulu. Papa menelponku."
Alexa menghampiri.
"Kamu hati-hati, ya, Alex."
Arshila mengangkat wajahnya, melambai, saat gadis itu menoleh sebelum masuk dalam mobil.
Tante Nessa mengajak Arshila masuk dalam rumah, setelah mobil yang dikendarai Alexa menghilang dari gerbang.
"Tante, keluarga Alexa seperti apa? Seingatku, dia tidak pernah menceritakannya."
Tante Nessa masih melangkah, pikirannya berkelana mencari jawaban. Rahasia keluarga Alexa masih harus disimpannya rapat-rapat dari Arshila.
"Tante, juga tidak mengenalnya. Dia sangat tertutup. Kita tunggu saja, sampai dia membicarakannya sendiri."
Kini Alexa, tiba di rumah. Brak! Suara pintu mobil dibanting keras. Ia melangkah masuk, mengabaikan tatapan para pelayan rumah.
"Kau sudah pulang?" Ibu Clarissa bertanya, saat Alexa tiba diruang tengah. "Duduk, ada yang mau aku bicarakan."
Alexa membisu, duduk diatas sofa berhadapan dengan wanita yang dipanggilnya tante.
"Ada apa, Tante?"
"Kau masih belum mengubah panggilanmu padaku. Kita sudah bersama 20 tahun dan aku yang membesarkanmu," ujar ibu Clarissa dengan nada rendah.
"Kau menyuruhku pulang, hanya untuk mendengar omong kosongmu. Cih!" Alexa berdecis lalu melangkah pergi.
"Waktumu tiga hari, untuk mempersiapkan barang pribadimu."
"Apa maksud, Tante?" Alexa memalingkan wajah.
"Ayahmu, akan mengirimmu ke luar negeri."
"Ayahku?" Berjalan mendekati ibu Clarissa. "Benar ayahku yang berkata seperti itu. Jika benar, tentunya ide briliant itu keluar dari mulut berbisamu."
"Kenapa aku harus melakukannya?"
__ADS_1
"Tentu saja, dengan alasan yang sama, saat kau mengurungku di penjara. Ingatlah, Tante, kali ini aku tidak akan pergi. Jangan menguji kesabaranku, jika tidak ingin aku membuka mulut."
Ibu Clarissa mengepalkan tangan, mengayun hendak mendaratkan di wajah Alexa. Tapi, dengan cepat gadis itu menangkapnya.
"Jangan berpikir untuk menyentuhku, aku bukan umur tujuh tahun lagi untuk menerima tamparan dan ancaman darimu. Kuberi waktu dua hari, untuk membujuk ayahku."
Alexa menghempas tangan ibu Clarissa, lalu pergi meninggalkannya.
Masuk dalam kamar, masih dengan amarah yang belum mereda.
Perlahan matahari mulai tenggelam, cahayanya mulai redup dan posisinya mulai tergantikan. Alexa yang sudah membersihkan tubuhnya, menuruni anak tangga, menuju dapur.
"Alex," panggil Bagas.
Gadis itu, memutar badan, menatap Bagas dengan balutan jas yang masih menempel.
"Ada apa?"
"Kamu harus pergi ke luar negeri. Papa sudah menyiapkan segalanya untukmu."
"Aku tidak akan pergi, suruh wanita itu berhenti menggangguku."
"Dia ibumu," teriak Bagas, "sampai kapan kamu memperlakukannya seperti ini? Dia yang sudah membesarkanmu."
"Ibu?" Alexa mengepalkan tangan. "Wanita itu tidak akan pernah menjadi ibuku. Jangan memaksaku pergi, Papa tidak memiliki hak, untuk memerintahku."
"Kau sudah keterlaluan? Papa sudah berbuat banyak untukmu dan ini balasanmu."
"Hahahaha...." Alexa tertawa lepas. "Memangnya, apa yang kalian sudah lakukan untukku? Bahkan diluar sana, aku hanya seorang keponakan dan keluarga Santara hanya memiliki putri tunggal."
"Alex, Papa melakukannya untuk melindungimu."
"Melindungiku dari apa? Bukankah hanya untuk melindungi nama istri Papa agar tidak tercoreng. Seorang sekretaris naik jabatan, menjadi nyonya besar. Menyingkirkan ibuku, seolah dia sudah mati. Menghapus namaku dari akta keluarga, menjadikan Clarissa satu-satunya putri kalian. Itu yang kalian lakukan untukku."
Suara lantang Alexa memenuhi rumah, wajahnya memerah, Untungnya, ia masih memiliki sedikit rasa hormat pada ayahnya.
"Aku bukan putrimu, jadi jangan mengaturku."
Alexa kembali berjalan menuju dapur, membuka kulkas, mengambil beberapa buah. Menyambar sebotol air, lalu kembali menuju kamar.
"Alex." Bagas kembali memanggil, masih ditempat yang sama, saat putrinya melangkah menuju dapur.
"Jangan memaksaku, jika papa masih ingin aku memanggilmu dengan gelar seorang ayah."
__ADS_1
Bagas menarik napas berat, menatap putrinya pergi begitu saja. Kesalahan masa lalu, yang tidak bisa ia perbaiki lagi. Menuruti, kemauan sang istri demi reputasi keluarga.
Kini kepergian Clarissa, membuatnya kehilangan penerus, padahal ia masih memiliki seorang putri yang diakuinya sebagai keponakan. Tapi, bagaimana bisa ia memberitahu dunia tentang itu.
Alexa mengunyah buah, memainkan ponsel sambil membuka grup obrolan dengan anggota para mantan napi.
"Kakak-kakakku, besok kami harus keluar negeri. Maaf, tidak bisa mengadakan acara perpisahan."
Alexa menautkan alisnya, suatu kebetulan Yessi dan Jian berangkat keluar negeri. Apalagi terkesan mendadak.
"Kok, mendadak?"
"Entahlah, tante. Aku dipaksa oleh papa begitu juga dengan Yessi. Kami tidak diberi kesempatan untuk menolak."
"Berapa lama?"
"Belum tahu, kak. Mungkin tahunan, kak shi, maaf ya, tidak bisa menemani."
"Tidak apa, adik-adkku. Aku masih punya adik Alexa dan tante Nessa."
Alexa masih membaca obrolan mereka, masih tidak berkomentar. Pikirannya dipenuhi praduga. Ia meletakkan ponsel, berlari keluar kamar.
"Papa," panggil Alexa, menatap ayahnya duduk diruang kerja. "Katakan padaku, siapa yang meminta Papa mengirimku ke luar negeri?"
"Maksudmu?" Bagas masih bersikap tenang, tidak terpancing dengan pertanyaan Alexa, yang tepat sasaran. Memangnya, siapa yang bisa memerintah Papa."
Alexa maju dua langkah, berhenti tepat dihadapan sang ayah.
"Jangan membodohiku, Pa. Aku tahu, siapa yang bisa memerintah seorang pengusaha selevel Papa. Katakan, apa dia?"
"Memangnya, kalian punya hubungan apa, sampai ia harus mengirimmu keluar negeri. Kamu sudah berpikiran jauh."
Apa memang hanya kebetulan. Tapi, aku merasa itu tidak mungkin. Apa ia merencanakan sesuatu terhadap kak Shila.
Tidak mendapatkan jawaban, Alexa memutar badan, untuk pergi.
"Alex," panggil Bagas, "papa minta maaf, untuk semua yang terjadi pada keluarga kita. Apa kamu tidak bisa menerima keadaan kita sekarang? Sudah 20 tahun, kita tinggal seatap dengan Fira, apa kamu tidak bisa memanggilnya ibu? Apa kamu begitu membencinya?"
"Bagaimana aku bisa memanggilnya ibu, jika ia tidak bersikap menjadi ibuku. Dan asal Papa tahu, bukan cuma wanita itu yang aku benci."
"Alex, tolong berhenti bersikap kekanak-kanakan."
"Aku memang masih kanak-kanak, bukankah kalian juga mengganti tanggal lahirku. Aku yang lebih dulu lahir dari Clarissa, tapi aku yang harus menjadi adiknya. Aku hanya seorang keponakan dari saudaramu yang ada didalam kubur."
__ADS_1
Bagas menghela napas panjang, membiarkan putrinya pergi dengan kebencian yang luar biasa pada dirinya. Permasalahan yang tidak pernah menemukan jalan keluar, ia selalu terpojok, saat putri pertamanya menyerang dengan kata-kata pedas.
Ia menyandarkan punggungnya, kembali memikirkan permintaan Dave mengenai Alexa. Mereka tidak memiliki hubungan, bahkan mungkin tidak saling mengenal. Tapi, kenapa? Pertanyaan yang ingin dia tanyakan langsung, tapi masih memiliki keraguan. Menjaga perasaan menantunya agar tidak tersinggung atau marah.