Dendam Sang Presdir

Dendam Sang Presdir
Bab 107. Tidak semudah itu


__ADS_3

Diperusahaan.


Didalam ruangan presdir, semua orang sudah berkumpul. Tiga orang pengacara, Nadia dan sekretaris Tian.


"Bagaimana, Pak pengacara?" tanya Dave, setelah mengatakan maksud dan tujuannya. memanggil mereka.


"Jika Anda ingin membuka kembali kasus ini. Anda harus memiliki bukti kuat dan saksi, yang menyatakan bahwa selama ini, Anda telah tertipu. Hingga melakukan kesalahan, karena telah mempercayai saksi sebelumnya."


"Apa dengan bukti saja, kita tidak bisa melakukannya?"


"Bisa. Hanya saja, jika nanti saksi sebelumnya tidak berkata jujur, bahkan mencari alibi lain. Apalagi, status mereka adalah ibu dan anak. Mereka pasti akan saling melindungi. Ditambah, nona muda yang pada saat itu hanya diam dan tidak membela diri. Mereka bisa memutar balikkan fakta."


"Maksudnya?"


"Mereka bisa mengatakan kalau nona muda, bersedia menerima kesalahan untuk melindungi mantan suaminya. Meski, mereka bisa dihukum dengan ucapan seperti itu. Tapi, nona muda, bisa mendapatkan sorotan publik, dengan berbagai macam spekulasi. Dan nama baiknya, bisa saja semakin buruk."


"Bukankah, dengan mereka mendapat hukuman, nama baik istriku akan kembali?"


"Memang benar, Tuan. Tapi, dimata publik, tentu tidak semudah itu. Mengingat, kejadian ini sudah setahun lebih. Tentu, mereka akan bertanya-tanya, mengapa nona muda menutup mulut dalam waktu setahun ini? Apalagi, jika mereka mengetahui kalian sudah menikah. Sudah pasti, mereka akan menebak, alasan nona muda menutup mulut. Tidak lain, karena melindungi mantan suaminya."


"Lalu, kami harus bagaimana?" Liam bertanya, karena melihat putranya yang tampak gusar.


"Mengenai hukuman untuk tersangka yang sesungguhnya, itu bisa dilakukan. Tapi, untuk membersihkan nama baik nona muda dari berbagai spekulasi, kita membutuhkan saksi yang menyatakan bahwa saat itu, nona muda tidak tahu apa-apa dan terpaksa melakukannya."


Semuanya membisu, bingung harus berkata apa lagi. Saat itu, tidak ada yang mengetahui apa yang sedang terjadi. Dave yang merasa bahagia, karena kedatangan ibu Dimas sebagai saksi. Sementara, sang istri yang tidak tahu apa-apa, justru dijemput pihak berwajib saat itu.


"Bagaimana jika kita membuat saksi sebelumnya untuk berkata jujur?" ujar Nadia, tiba-tiba.


"Bisa saja. Ia bisa mengakui kesalahannya dan berkata sejujur-jujurnya. Tapi, apa dia bersedia? Mengingat, putranya yang akan memikul semuanya."


Benar, ibu pasti tidak akan tega, melakukan itu pada putra kesayangannya, gumam Nadia. Lalu siapa lagi, selain ibu?"


Ah, benar, Mira!


"Bagaimana dengan keluarga yang lain? Seperti adiknya. Dia mengetahui, kenapa sang ibu melakukan itu pada, kakak iparnya dulu. Dia juga bis menjadi saksi, karena ia tahu betul kakak iparnya tidak bisa mengendarai mobil."

__ADS_1


"Sebenarnya, bukan itu, intinya nona sekretaris." Pak pengacara, menghela napas. "Dengan bukti yang kuat, kita sudah bisa memenjarakan Dimas. Tapi, yang sulit adalah mengembalikan nama baik nona muda. Meski, ia akan terbebas dari tuduhan selama ini. Tapi, sorotan publik justru akan menyorotinya. Karena selama ini, nona muda hanya diam. Andai pun, ia memiliki alasan tertentu, tapi jika mereka mengetahui, nona muda sudah menikahi tuan muda. Semuanya, akan melebar kemana-mana. Apalagi, mereka menikah, hanya beberapa bulan, setelah nona muda bebas. Anda tahu betul, bagaimana pubilk akan berpikir."


"Jadi, intinya, nama baik istriku akan pulih, jika Dimas dihukum. Tapi, sorotan publik, belum tentu menerimanya?" tanya Dave, yang mulai paham dengan penjelasan yang panjang lebar dari pengacaranya.


"Benar, Tuan. Kita bisa membersihkan nama baik, nona muda. Setelah, pelaku aslinya mendapatkan hukuman."


"Kalau begitu, lakukan. Masalah publik, aku sendiri yang akan menanganinya," tegas Dave. Ia akan bertindak, setelah permasalahan dimasa lalu, bersih tak tersisa. Adapun, sorotan publik, ia sudah memiliki rencana sendiri.


"Baik, Tuan. Kami akan segera melakukannya."


Para pengacara, berpamitan pergi. Diruangan masih, menyisakan Nadia dan sektetaris Tian, yang menunggu perintah selanjutnya.


"Nadia. Aku dengar, kau mau membantu Dimas, menebus rumah mereka?" tanya Dave dengan nada sinis.


"Maafkan saya, Tuan. Saya terpaksa, agar segera bercerai dan mendapatkan hak asuh anak."


"Aku akan memaafkanmu kali ini. Sekarang, aku mau kau mengulur waktu, dengannya. Masalah perceraian dan hak asuh anak, itu akan akan selesai dengan sendirinya. Setelah, ia mendapatkan hukuman yang pantas."


"Baik, Tuan. Saya mengerti."


"Berikan rekaman CCTV dari Alexa dan rekaman CCTV lainnya, kepada pengacara kita."


"Baik, Tuan. Tapi, bagaimana dengan saksi?"


"Tidak perlu. Aku akan menanganinya nanti."


Setelah, sekretaris Tian pergi. Kini, ayah dan anak, terlibat dalam pembicaraan yang lebih serius.


"Apa yang akan kamu lakukan nantinya, Dave?"


"Aku masih memikirkannya, Pa. Aku harus melihat bagaimana pandangan publik kepada istriku, setelah semua selesai."


"Lalu, bagaimana, jika dugaan para pengacara itu benar? Bukankah, itu akan menyeret nama mu?"


"Aku tahu dan aku sudah siap untuk itu."

__ADS_1


"Apa maksudmu? Jangan-jangan, kamu ...."


"Benar, Pa. Aku akan melakukannya. Lagipula, cepat atau lambat, semua akan terungkap. Aku hanya ingin ini berakhir dan memulai hidup baru, tanpa terbebani dengan masa lalu. Dengan begitu, Arshila bisa melihatku dengan cara yang berbeda."


"Baik, Papa akan mendukungmu." Liam hanya mampu menghela napas dan menerima keputusan sang anak. Ia yakin, putranya pasti sudah memikirkan hal ini dengan matang.


***


Disebuah pusat perbelanjaan. Rachel dan Arshila jalan bergandengan tangan, seperti ibu dan anak. Mereka masuk sebuah toko perlengkapan bayi. Karena, jenis kelamin sang anak belum diketahui, mereka hanya membeli perlengkapan umum saja, seperti selimut dan tempat tidur bayi.


"Lihat, ini! Oh, lucunya!"


Baju terusan motif panda, yang menggemaskan. Rachel sudah tidak sabar, ingin membelinya. Apalagi, bayangan tentang sang susu laki-laki, menggunakannya. Pasti lucu dan menggemaskan, pikirnya.


Keluar dari toko, mereka berpindah toko lainnya. Masih mencari perlengkapan bayi, tapi mereka tidak akan membelinya. Keduanya, sepakat untuk melihat-lihat saja.


Arshila sangat bahagia, sampai tidak menyadari adanya sosok, yang menatapnya dengan tajam. Tangannya terkepal dengan rahang mengeras.


"Hidupku hancur dan dia, hahahaha....." Dimas tertawa getir, melihat keadaan mereka yang berbanding terbalik.


Gaun mewah dan perhiasan mahal, menempel ditubuh, sang mantan istri. Belum lagi, seorang pelayan pribadi yang mengikuti dan dua orang bodyguard dibelakangnya. Ia pun sudah bisa menebak, apa status mantan istrinya sekarang ini.


Dimas tidak ingin gegabah, jadi hanya bisa mengikuti mereka diam-diam. Dia penasaran, apa yang sudah terjadi dengan perubahan hidup Arshila.


Ia pernah mencarinya di rumah Dave, karena berpikir wanita itu dijadikan pembantu dirumah itu. Tapi, nyatanya, ia salah. Arshila tidak berada disana.


Melihatnya sekarang, yang sudah berbeda. Dimas tentu tidak akan tinggal diam. Apalagi, hidupnya yang sudah hancur.


"Kalian sudah belanja?"


Deg.


Dimas bersembunyi, dibalik gantungan pakaian. Dua sosok pria, yang amat sangat dikenalnya, menghampiri Arshila.


Jantung Dimas terpacu, matanya membelalak, saat Dave mendaratkan kecupan diwajah Arshila. Mereka tertawa bahagia dan bergandengan tangan.

__ADS_1


"Mereka, bersama??"


__ADS_2