Dendam Sang Presdir

Dendam Sang Presdir
Bab 19 Rahasia Nadia


__ADS_3

Di tempat berbeda, Dimas sudah berpakaian rapi, begitu juga sang istri. Keduanya, siap berangkat bekerja, seperti biasa.


Setahun belakangan, rumah ini begitu tenang, tidak ada pertengkaran atau teriakan memenuhi rumah. Biasanya, di pagi hari, ibu Dimas akan mengomel atau memarahi seseorang. Tapi, semuanya berbeda, saat Dimas menikah lagi.


Sang menantu yang seorang wanita karir, begitu agung-agungkan dan dipamerkan kepada para tetangganya. Ekonomi yang stabil dan penghasilan yang cukup besar dari anak dan menantunya.


Nadia juga sudah menyewa pembantu dan pengasuh, untuk mengurangi pekerjaan mertuanya. Tapi terkadang, manusia tidak pernah puas.


Ibu Dimas tidak lagi memegang kendali atas penghasilan anaknya. Semua kebutuhan rumah tangga dan gaji Dimas, diambil alih sang istri. Nadia tetap memberikan jatah bulanan kepada mertuanya dan terkadang membelikan pakaian baru untuknya. Tapi, tetap saja, wanita itu masih mengeluh dan tidak menerima dalam hati.


Wanita paruh baya itu, tidak memiliki nyali untuk meneriaki menantunya. Sifat Nadia sangat berbeda dengan menantunya dulu. Nadia, baik dan lembut, tapi memiliki sifat tegas dan tidak mau diatur. Semua urusan rumah tangga berada ditangannya, termaksud biaya pendidikan adik-adik Dimas.


Saat itu, ibu Dimas menghampiri menantunya yang baru saja pulang kerja.


"Nad, ibu mau bicara?"


"Silahkan, ibu mau bicara apa?"


"Begini, Mira dan Naya, butuh uang untuk kebutuhan di kampus. Jumlahnya, tidak banyak hanya lima juta."


Nadia menghela napas, ia melepaskan sepatunya, belum menjawab. Satu, dua, langkah ia berjalan masuk kamar. Di ambang pintu, ia memutar badan.


"Kebutuhan apa, bu?"


"Ibu juga tidak tahu."


"Aku akan menghubungi pihak kampus untuk menanyakannya. Aku sudah memberi mereka uang untuk sebulan, jadi mereka harus berhemat."


Nadia menutup pintu kamar, tanpa menunggu jawaban ibu mertuanya. Sementara, dibalik pintu, wajah ibu Dimas sudah merah padam. Nadia tidak bisa diajak kompromi, apalagi dibohongi jika masalah keuangan.


Kedua putrinya, meminta tolong untuk menambah uang jajan. Karena, jatah bulanan mereka sudah habis, membeli pakaian dan berfoya-goya, seperti anak konglomerat.


Nadia dan Dimas masuk dalam kendaraan masing-masing. Karena keduanya, memiliki arah berlawanan. Dimas bekerja di PT. DEVAL POWER, sementara sang istri bekerja di Antara Grup. Keduanya, melambai pada ibu yang mengantar mereka sampai teras rumah.


Nadia mengendarai mobinya, diperempatan belok kiri, melirik mobil suaminya yang melaju dengan lurus. Ia menepikan kendaraanya, melihat jam tangan sesaat. Menunggu sampai waktu terlewatkan sekitar sepuluh menit.


Ia kembali memutar haluan, mengambil jalan yang dilalui sang suami.


Diparkiran, Nadia masih duduk dalam mobil. Mengaduk tasnya, mencari sesuatu.


"Dimana aku menyimpannya?" Masih terus mencari, sampai ia teringat telah mengganti tasnya pagi ini.


"Ah, sial. Aku melupakannya. Sekarang bagaimana? Apa yang harus aku katakan jika mas Dimas melihatku disini."


Nadia masih memutar otak, kembali melihat jam tangan, waktu yang terus berjalan tanpa menunggunya, sebentar lagi ia akan terlambat.

__ADS_1


"Sudahlah, aku mencari alasan nanti."


Ia menapakkan kakinya, berjalan sambil menoleh kiri kanan dengan waspada.


Di pintu lobi, jantungnya berdegup tidak karuan. Masih terus melangkah masuk dengan sorot mata yang berkeliaran.


"Nad." Suara yang sudah sangat ia hapal. Nadia menoleh, mengatur wajahnya, agar tidak tampak tegang. "Kamu sedang apa disini?"


"Mas Dimas, aku sedang mewakili presdir Antara grup, untuk membahas pekerjaan."


"Benarkah? Aku akan mengantarmu, naik."


"Tidak perlu, Mas. Sekretaris Tian, memintaku menunggu dilobi."


Dari kejauhan, Tian melihat Nadia bersama Dimas. Mengepalkan tangan, lalu berjalan menghampiri.


"Kamu sudah datang?"


"Baru saja, Pak sekretaris."


"Baiklah, silahkan ikut saya."


Nadia menatap suaminya, tersenyum dengan melangkah mengikuti sekretaris Tian. Pintu lift, baru saja tertutup, Tian mendorong tubuh Nadia hingga tersudut.


"Maafkan saya, Sekretaris. Saya melupakan kartu akses itu."


"Ingat Nadia, ini kesalahan pertama dan terakhirmu. Jangan mengacaukan, apa yang sudah disusun presdir. Kamu tahu sendiri, akibatnya dan tidak ada seorang pun yang dapat menyelamatkanmu, termaksud suamimu."


"Saya mengerti, ini tidak akan terulang lagi."


Pintu lift terbuka, Tian keluar lebih dulu, lalu disusul Nadia.


Tian masuk dalam ruang Presdir, sementara Nadia mengambil posisi duduk disebelah pintu ruangan.


Ditempat inilah, selama ini Nadia bekerja, sebagai sekretaris Dave. Tian sebagai tangan kanan Dave, mengurus semua pekerjaan dan kehidupan pribadi presdir. Sedangkan, Nadia hanya sebatas mengurus masalah pekerjaan.


Keterlibatannya dalam rencana Dave, bermula dari Nadia yang diminta sekretaris Tian, untuk mengambil cv Dimas dari HRD. Pengakuannya mengenal Dimas sebagai mantan kekasih, membuatnya berada dalam situasi sekarang.


Tak lama, pintu lift terbuka. Dave berjalan masuk.


"Ikut aku," perintahnya pada Nadia, tanpa memalingkan wajahnya pada wanita itu.


Nadia bangkit, berjalan menyusul dengan wajah menunduk.


"Sudah setahun, ya!" ujar Dave yang entah apa maksudnya. Pria itu sudah duduk, dan menatap tajam padanya.

__ADS_1


"Iya, Tuan."


"Apa kamu sudah lelah?"


Nadia terdiam, ia memang sudah lelah, harus terus menerus, menyimpan rahasia pekerjaannya. Ia terus menolak, saat suami ingin makan siang bersama, jika jam istirahat tiba. Ia juga harus mencari alasan ini itu, jika Dimas ingin menjemputnya pulang kerja.


Kini, Nadia mengangguk sebagai jawaban. Sudah saatnya, ia berhenti dari sandiwara. Sudah setahun lebih, ia menjalani peran, sebagai sekretaris Antara Grup.


"Baiklah, aku akan membebaskanmu. Tapi, sebagai gantinya, kamu harus tetap menutup rapat mulutmu dan juga, kamu masih memiliki kewajiban memberikan informasi tentang suamimu, jika ada hal yang menarik. Kamu paham."


"Saya mengerti, Tuan. Saya berjanji akan tetap diam dan tetap bekerja seperti biasa."


"Baguslah, saya percaya." Dave memberikan isyarat pada Tian, hingga sekretaris itu mendekat dan memberikan secarik kertas pada Nadia. "Ambil itu dan tunjukan pada suamimu, jika ia bertanya."


"Terima kasih, Tuan. Saya benar-benar berterimakasih."


Nadia menundukkan kepala, belum sempat melangkah, Dave sudah memanggilnya.


"Nadia, apa kamu melupakan sesuatu?"


Dave menatapnya, menunggu jawaban. Sementara, Nadia berpikir keras tentang maksud ucapan atasannya.


"Apa aku harus mengingatkanmu?"


"Maaf, Tuan. Saya terlambat memahaminya." Akhirnya, Nadia mengerti arah pembicaraan Dave. "Tidak ada yang terjadi, setelah pertemuan kami dengan Arshila. Dimas hanya marah atas sikapnya dan kemungkinan dia tidak akan mempertemukan Arshila dengan putrinya."


"Hanya itu?" Dave tampak tidak puas.


"Iya, Tuan. Hanya itu."


"Kamu boleh pergi dan ingat Nadia, jangan menyembunyikan apapun dariku."


"Saya mengerti, Tuan."Nadia berpamitan pergi.


"Apa Tuan masih ragu?" ujar Tian.


"Sebenarnya, aku tidak membutuhkan informasi apapun lagi. Aku hanya ingin melihat kesetiaannya sampai batas mana." Dave membaca pesan yang masuk dari ponselnya.


"Grace, berkata, wanita itu menolak kehadirannya dan memintanya pergi. Cih, benar-benar merepotkan."


"Saya akan mengurusnya, Tuan."


"Tidak perlu, biarkan Grace melakukan tugasnya. Yang harus kamu lakukan sekarang ialah menyiapkan pernikahanku yang sesederhana mungkin, karena nyonya besar sudah dalam perjalanan. Hahaha...."


Ada hawa yang menakutkan, saat suara tawa Dave memenuhi ruangan. Suara tawa seperti memiliki makna terselubung dan hanya diketahui olehnya.

__ADS_1


__ADS_2