Dendam Sang Presdir

Dendam Sang Presdir
Bab 37. Tidak tega


__ADS_3

Dokter sofia baru saja tiba, belum mengatur napasnya yang ngos-ngosan, ia sudah dibuat terkejut dengan pasien yang akan diperiksanya.


"Astaga, kenapa dia? Siapa yang melakukannya?" Suara lantang dengan emosi yang memenuhi wajahnya.


Ica dan Ibu Lin membisu, tapi anak mata mereka mengarah pada tuan rumah yang masih duduk tanpa merasa sebagai seorang pelaku.


"Dokter, periksa dia dulu."


Tian menjawab, karena tidak ingin dokter Sofia terkena awan panas yang mengelilingi tubuh Dave.


"Baiklah. Tapi, bisa kalian keluar dulu. Aku harus membersihkan lukanya."


Tian sudah keluar kamar, tapi tidak dengan Dave. Ia masih duduk bersandar, menunggu dokter Sofia melakukan tugasnya.


"Tuan," panggil dokter Sofia.


"Jangan memerintahku. Lakukan saja, tugasmu!"


Sofia menghela napas, kesal tentu saja. Tuan konglomerat, pemilik gedung rumah sakit, tempatnya bekerja. Pria tanpa senyum dan mata yang lebih sering melotot. Tapi, entah mengapa para dokter wanita, masih saja bermimpi untuk menikah dengannya.


Dokter sofia, mulai membersihkan luka Arshila yang tidur dengan posisi tengkurap. Ia memaki si pelaku dalam hati, dengan ujung mata yang melirik. Berdoa agar pria yang duduk tanpa berdosa, segera mendapatkan azab.


Luka sudah dibersihkan, dokter mengoleskan salep. Lalu, menutupnya dengan perban.


"Untuk sementara, lukanya tidak boleh terkena air. Saya akan kembali besok, untuk mengganti perbannya." Dokter sofia mengambil sesuatu dalam tasnya. "Berikan obat ini, dia harus meminumnya dengan rutin, agar lukanya tidak infeksi."


"Terima kasih, dokter," ujar ibu Lin.


Dokter sofia, mengatur barang-barangnya dan memasukkan dalam tas. Ujung matanya, memperhatikan Dave, yang masih duduk dengan santainya.


Dasar, tidak punya perasaan. Aku kutuk kau, tidak punya keturunan.


"Oh, iya. Jika besok, aku tidak datang, tolong bawa ke rumah sakit untuk ganti perban."


"Baik, dokter."


"Saya permisi, Tuan."


Dokter sofia berpamitan, sebenarnya ia sangat malas untuk berbicara dengan pria terkutuk itu


"Hmm, pergilah. Ingat, jaga mulutmu!"


"Iya, Tuan," jawab Sofia, dengan memutar bola matanya.


Ibu Lin mengantar dokter sofia pergi, sementara Ica menyelimuti tubuh Arshila.

__ADS_1


"Tinggakan kami!" perintah Dave.


"Baik, Tuan."


Dave duduk ditepi tempat tidur, tempat Arshila terbaring. Mengelus wajahnya dengan lembut, tapi mengukir senyum licik di bibir.


"Hah, istriku. Malang sekali nasibmu, bertemu denganku. Dulu, kau seorang ratu di rumah mantan suamimu. Sekarang, nikmatilah, menjadi budak di istanaku."


Ia menarik kalung di leher Arshila, kalung yang didalamnya terdapat cincin pernikahan mereka.


"Hahaha.... lucu sekali!" meletakkannya kembali. "Bersabarlah, sampai minggu depan. Karena, aku akan mempertemukanmu dengan istriku. Mungkin, aku akan menguburkamu disampingnya, agar kalian bisa berkenalan. Hahahaha ...."


Dave bangkit, lalu berjalan pergi. Di depan pintu sudah ada Ica yang masih menunggu.


"Saat aku pulang, dia sudah tidak ada di kamar ini. Mengerti kamu!"


"Iya, Tuan."


"Ganti semua seprei dan bersihkan kembali kamarku."


"Baik, Tuan."


Ica segera masuk dan duduk disisi Arshila yang terbaring lemah.


Nona, sadarlah. Cepatlah sadar, dan pergi dari sini. Aku akan membantumu keluar dari neraka ini.


Nona, sadarlah. Bangun dan tinggalkan tempat ini.


Ica terisak, menahan suara tangisnya agar tidak terdengar. Bagi Ica, Arshila adalah majikan yang sangat baik, karena tidak membeda-bedakan posisinya dengan para pelayan.


Ibu Lin kembali, Ica segera menghapus air matanya.


"Ibu Lin, kasihan Nona. Aku tidak tega melihatnya seperti ini. Sudah sebulan lebih, tuan memperlakukannya seperti budak. Dia bekerja tanpa dibayar dan harus disiksa setiap hari. Hiks ... hiks....." Ica kembali menangis sambil menggenggam tangan Arshila dengan erat.


"Aku juga tidak tega, tapi kita tidak memiliki kekuatan untuk membantunya."


"Bagaimana jika kita membantu Nona pergi dari sini?"


"Jangan, kau membuat dirimu dalam bahaya. Kau tahu, tuan muda seperti apa, orangnya."


"Lalu, kita harus bagaimana? Aku takut tuan kembali menyiksanya, padahal lukanya belum sembuh."


"Satu-satunya cara, kita harus memberitahu nyonya besar. Tapi, aku masih memikirkan caranya. Sekarang, ini kita harus membuat nona cepat sembuh."


"Ibu Lin, kita harus segera memberitahu nyonya besar sebelum minggu depan."

__ADS_1


"Memangnya, kenapa?"


"Minggu depan adalah ulang tahun nona Clarissa. Saya takut, tuan akan kehilangan kendali."


"Apa?"


Ibu Lin shock, lalu mengusap wajahnya dengan kasar. Waktunya, tinggal satu minggu lagi. Bagaimana caranya membuat nyonya besar, untuk tinggal di kediaman putranya?


"Kamu jaga, Nona. Saya akan keluar sebentar."


Ibu Lin bergegas pergi, masuk dalam kamar dan menyambar tas. Didepan, sudah ada supir yang menunggu.


"Kita ke villa."


"Baik."


Lalu lintas, masih padat pagi ini. Padahal, jam masuk kantor sudah lewat dua jam yang lalu. Ibu Lin mengirim pesan melalui ponselnya, meletakkan kembali dengan helaan napasnya yang berat. Sebenarnya, ia tidak ingin ikut campur urusan tuan muda, tapi jelas hati nuraninya menentang keras perbuatan Dave. Bagaimana bisa, membalaskan dendam pada seorang wanita yang sudah menjadi istrinya? Lagi pula, wanita itu, sudah menerima hukumannya. Belum lagi, mantan suaminya yang meninggalkannya, saat berada dibalik jeruji. Kecelakaan dan hilangnya nyawa, bukanlah keinginan Arshila, karena semua sudah diatur oleh sang pemilik semesta.


"Kita, sudah tiba."


Ibu Lin segera tiba, berlari masuk dalam villa. Sudah ada, pak Yus dan Grace yang menyambutnya.


"Kita perlu bicara." Ibu Lin langsung berucap, saat ia masih didepan pintu.


"Ada apa, Lin?" Pak Yus, ikut melangkah. Lalu, mempersilahkannya duduk.


"Hari ini, tuan muda sudah sangat keterlaluan. Dia hampir membunuh nona Arshila."


"Apa?" pekik Grace, sementara pak Yus tercengang. "Apa yang dilakukannya?"


"Dia mencambuk nona dengan tali pinggang. Tubuhnya dipenuhi luka, hingga tidak sadarkan diri."


Grace menutup mulutnya tidak percaya, bagaimana bisa Dave sekejam itu. Ia berpikir, Dave hanya akan membebankannya pekerjaan rumah.


"Manajer Grace, Pak Yus. Tolong, bantu nona Arshila. Kami tidak tega, jika tuan muda terus menyiksanya."


"Ibu Lin, kamu tahu, kita tidak memiliki kekuatan untuk melakukan itu. Justru, akan membahayakan kita sendiri."


"Aku tahu, Pak Yus. Untuk itu, aku butuh bantuan. Aku ingin, nyonya besar tinggal sementara di kediaman tuan muda, selagi nona menyembuhkan lukanya. Ulang tahun nona Clarissa seminggu lagi, aku takut tuan akan melakukan hal yang lebih mengerikan."


"Clarissa, ulang tahun minggu depan?"


"Iya, manajer Grace. Tolong, lakukan sesuatu!"


"Baiklah, ibu Lin. Dengar, aku akan menolong nona muda. Tapi, ini akan menjadi rahasia kita. Lakukan persiapan, untuk ulang tahun nona Clarissa. Jika dalam tiga hari, sebelum hari ulang tahun, nyonya tidak datang. Maka lakukanlah, apa yang menurutmu benar."

__ADS_1


"Pak Yus, terima kasih. Aku minta maaf, sudah melibatkan kalian."


Ibu Lin, akhirnya bisa bernapas lega. Karena, sudah mendapat bantuan dari orang kepercayaan Dave. Ketiganya, melakukan ini bukan semata-mata untuk menolong Arshila, tapi untuk tuan muda, agar bisa terbebas dari tuntutan hukum.


__ADS_2