Dendam Sang Presdir

Dendam Sang Presdir
34. Kebimbangan Nadia


__ADS_3

Di gedung, PT. Deval Power.


Pagi ini, Nadia bekerja seperti biasa. Sudah seminggu, ia bekerja tanpa harus bermain petak umpet dengan suaminya. Mereka berangkat bersama, dengan senyum mengembang. Tapi, entah ini hanya perasaannya saja atau tidak. Ia merasa sikap Dimas padanya, sedikit waspada dan terlalu banyak bertanya yang bukan hal pekerjaan, melainkan presdir mereka.


Seperti biasa, Nadia memeriksa setiap dokumen dan e-mail yang masuk. Akhir-akhir ini, pikirannya sedikit terganggu dengan fakta Arshila yang tidak bisa mengemudi. Ia sendiri belum mengkonfirmasi sang mertua yang bisa mengemudi atau tidak.


Fakta yang sudah diketahuinya, belum bisa ia menyampaikan pada presdir karena masih mencari tahu kebenaran lainnya.


Pintu lift terbuka, Dave berjalan bersama Tian, mereka melewatinya begitu saja. Tanpa membalas sapaan atau sekedar menoleh. Hal yang sudah biasa bagi Nadia, presdir yang wajahnya tidak memiliki senyuman sama sekali.


Menit berikutnya, ia sudah mendapat panggilan dari Tian. Tentu saja, Nadia sudah paham maksudnya.


"Selamat pagi. Tuan."


"Malam ini, bawa putrimu di kediamanku. Berdua saja!"


Nadia ingin menjawab, tapi mulutnya terkunci rapat. Tidak ada gunanya bertanya, karena ia tidak akan mendapatkan jawabannya.


"Baik, Tuan."


Dave sudah mengusirnya, dengan menggerakkan tangan.


"Alasan apa yang harus aku katakan pada mas Dimas?"


Nadia pusing memikirkannya, karena Dimas tidak pernah absen untuk menemani mereka keluar, meski ke supermarket.


"Ingin mengunjungi ibu, dia pasti meminta ikut. Menjenguk teman, tapi siapa yang sakit." Nadia mengusap wajahnya. "Rapat dadakan, tidak masuk akal. Bertemu sekretaris Tian, masa iya, bawa anak."


Pusing, pusing, pusing, Nadia memijit kepalanya. Satu-satunya cara, kecuali mas Dimas keluar kota. Tapi, bagaimana mungkin?


Belum selesai Nadia mencari jawaban, pesan singkat yang dikirim sang suami, membuatnya frustasi.


Sayang, malam ini kita makan malam diluar.


Kenapa waktunya begitu pas? Mau tidak mau, Nadia harus meminta bantuan pada sekretaris Tian.


Ia kembali melanjutkan pekerjaan, setelah dibuat pusing untuk mencari alasan membohongi sang suami.


Satu jam, Tian keluar ruangan. Dengan cepat, Nadia mencegat langkahnya.


"Pak sekretaris, tolong aku. Aku tidak tahu harus mengatakan apa pada suamiku."


"Itu urusanmu. Berpikirlah!"


"Ia mengajak kami makan malam, aku tidak punya alasan untuk menolaknya."


"Lalu?"


"Bantu aku, agar ia tetap dikantor."


"Minggir."


Benar saja, Tian sama sekali tidak bisa diajak bicara, sama dengan atasannya.


"Bagaimana ini, aku bisa gila! Berpikirlah, Nadia. Bukankah kau sangat lihai dalam berbohong?"


Waktu terus maju, jam makan siang dilewatkan Nadia begitu saja. Sungguh memusingkan, mencari alasan untuk berbohong. Ia hanya menikmati secangkir kopi yang dibuatnya sendiri dipantri.


"Nadia." Ia menoleh, ternyata si sekretaris bisu yang memanggilnya


"Ada apa, Pak?"


"Datang jam tujuh malam, jangan terlambat. Ingat, hanya berdua."

__ADS_1


Nadia menghela napas berat, sebelum menjawab. Perintah seenak jidatnya, tanpa memikirkan kesusahan yang akan dihadapinya.


"Baik, Pak."


Tian sudah masuk dalam ruangan presdir.


Pukul empat sore, para karyawan mulai bersiap meninggalkan perusahaan. Nadia mematikan layar komputer didepannya, lalu mengatur dokumen diatas meja.


Seharian ini, ia terus merangkai kata yang tepat untuk membohongi sang suami.


"Ah, masa bodoh. Jika dia minta ikut, aku menyuruhnya tinggal dalam mobil saja."


Dengan malas, ia menyambar tasnya diatas meja. Meraih ponsel, untuk menelpon sang suami.


"Halo, Mas."


"Nad, aku menunggumu dibawah."


Sambungan terputus, pasrah sudah, batin Nadia menjerit.


Dari jauh, mas Dimas sudah menunggu. Pria itu, tersenyum saat menatapnya berjalan keluar dari lift.


"Aku akan mengantarmu pulang."


"Memang, Mas mau kemana?"


"Aku harus lembur malam ini, tiba-tiba saja sektetaris Tian membawa banyak dokumen yang harus diselesaikn malam ini."


"Baiklah, Mas."


Dasar sekretaris bisu, kau pasti takutkan, jika aku tidak datang


Setelah mengantar Nadia sampai halaman, Dimas kembali ke perusahaan. Dengan cepat, Nadia masuk dalam rumah.


"Nadin, sayang. Mama pulang, Nak."


"Mama."


"Nadin, ikut mama, ya!"


Ibu Dimas menghampiri mereka, pendengarannya menangkap jelas percakapan sang cucu dan ibunya.


"Kalian mau ke mana?"


"Aku mau bertemu ibu."


"Ohh,"


Ibu Dimas pergi, kecewa, karena tidak mengajaknya. Padahal, dia yakin menantunya akan pergi jalan-jalan.


Sudah pukul lima, ibu dan anak kompak menggunakan dress berwarna putih. Masih ada dua jam, dari waktu yang ditentukan. Nadia berkesempatan untuk mampir di rumah ibunya, sebagai alibi, jika mas Dimas bertanya.


"Ayo, sayang. Kita ketemu oma."


Keduanya masuk mobil, ibu Dimas masih mengawasi mereka sampai di teras rumah. Feelingnya mengatakan, sang menantu akan pergi bertemu dengan teman-temannya, untuk berpesta.


Hanya dua puluh menit, Nadia sudah tiba di kediaman orang tuanya. Parkir dihalaman, lalu segera berlari masuk dalam rumah, sambil menggendong putrinya.


"Ibu, tolong aku!"


"Apa sih, Nadia. Datang-datang, sudah bicara seperti itu. Memang, ada apa?"


"Ibu, jika mas Dimas atau mertuaku menelpon, katakan pada mereka aku bersama kalian dan makan malam disini."

__ADS_1


"Maksud kamu?" Ibu Nadia menautkan alis, "Jangan macam-macam kamu, Nadia."


"Ibu, apaan sih. Aku mau ke rumah atasan aku, ini urusan pekerjaan. Jangan negatif pikirannya."


"Jika hanya ke rumah atasan kamu, kenapa meminta ibu berbohong pada suamimu? Lagian, kenapa membawa Nadin segala. Jangan membohongi ibu, Nadia."


"Ibu, ini ceritanya rumit. Aku tidak ada waktu, untuk menjelaskannya. Katakan, saja seperti itu."


"Ibu tidak mau, sampai kamu bicara jujur."


"Ibu, tolong! Jangan membuang waktuku. Aku juga tidak mengerti, kenapa atasanku meminta membawa Nadin."


"Kenapa kamu tidak bertanya saja, padanya."


"Ibu, stop. Aku harus pergi. Asal ibu tahu, atasanku itu singa. Wajahnya sudah menakutkan saat dia diam, apalagi saat dia bicara."


Nadia memeluk sang ibu, lalu berlari keluar rumah, masuk dalam mobilnya.


"Oke, beres. Sekarang, tinggal ke rumah bos sialan itu. Mama ingin tahu, kenapa dia ingin membawamu ke rumahnya."


Nadia kembali mengemudi, ke rumah Dave yang arahnya berlawanan. Cukup jauh, sekitar 30 menit mereka sudah tiba. Ia membunyikan klaskon didepan gerbang.


Petugas keamanan, menghampirinya.


"Nona, siapa?"


"Saya, Nadia. Sekretaris tuan Dave. Beliau meminta saya datang malam ini."


"Baik, Nona. Tunggu sebentar."


Nadia mematikan mesin mobil, menatap petugas keamanan yang tengah berbicara entah pada siapa dibalik telepon. Petugas lainnya, memeriksa kendaraan Nadia dengan teliti.


"Nona, tolong buka bagasinya."


"Baiklah."


Mereka kembali memeriksa bagasi, lalu kemudian menutupnya.


"Maaf, nona. Tuan berkata, Anda tidak perlu masuk, cukup anak kecil itu."


"Apa?" Nadin segera mengunci mobilnya, lalu sedikit menurunkan kaca jendelanya. "Aku tidak bisa membiarkan putriku, masuk seorang diri."


"Maaf, Nona. Kami hanya menjalankan perintah. Tolong, buka mobilnya. Kami akan mengantarnya didalam."


"Tidak, aku tidak mau."


"Ada apa, ini?"


Sekretaris Tian mendekat, setelah mendengar keributan.


"Katakan pada presdir, aku tidak mau membiarkan putriku masuk seorang diri."


"Aku yang akan menemaninya. Sekarang, buka pintunya."


"Tian, jangan lakukan ini. Dia masih kecil."


"Memangnya, apa yang akan kami lakukan? Tuan muda hanya ingin mempertemukannya dengan ibunya. Dan kamu sebaiknya tidak menampakkan wajahmu didalam sana."


Nadia membuka pintu mobil, bergegas keluar.


"Apa maksudmu, mempertemukan ibunya? Apa jangan-jangan ...." Nadia menutup mulutnya.


"Tunggu disini, pelayan akan membawakanmu makanan, jika kau bosan menunggu."

__ADS_1


Tian sudah menggendong Nadin, melangkah masuk dalam rumah.


Arshila, apa yang kamu lakukan di rumah ini?


__ADS_2