
Dua hari berlalu, tanpa terasa. Pagi ini, cuaca sangat cerah, terlihat awan putih, diatas langit biru yang bersih.
Sebuah mobil mewah, terparkir, tak jauh dari rumah kos-kosan. Salah satu rumah kos-kosan tampak ramai, dengan penghuni kamar lain yang berkerumun. Selain itu, ada beberapa pihak berwajib, menggunakan seragam lengkapnya.
"Ibu, silahkan ikut kami."
"Tidak, lepaskan aku! Aku tidak bersalah, wanita sialan itu, yang melakukannya." Ibu Dimas berusaha berpegangan erat pada putrinya. "Hubungi, kakakmu! Ibu tidak mau dipenjara," lirihnya.
Mira hanya bisa menangis, sembari menganggukan kepala. Ia tidak tahu, harus berbuat apa. Dimas beberapa hari tidak pulang dan tidak bisa dihubungi.
Salah seorang petugas wanita, melepaskan tangan ibu Dimas dan menariknya.
"Lepaskan aku!" teriaknya, disertai isak tangis. "Mir, Mira, tolong ibu, Nak! Hubungi, kakakmu."
Mira hanya menangis, menatap sang ibu, dibawa masuk dalam mobil, dengan paksa. Sebelum mobil petugas pergi, Mira berlari menghampiri sang ibu.
"Maafkan, Mira, Bu. Maaf!"
Ibu terus berderai air mata, dengan menggelengkan kepalanya. Kenapa diusianya yang seperti ini, ia harus mengalami hal nasib buruk? Jika waktu bisa dikembalikan, ia ingin semuanya seperti dulu. Tapi, apalah daya, penyesalan selalu datang terlambat dan waktu terus berjalan, tanpa memperhatikan keadaan seseorang.
Mobil petugas pun, pergi membawa ibu Dimas. Mira berlari, mengejar, sambil menangis pilu.
"Ibu, ibu," lirihnya.
Sekretaris Tian yang berada dalam mobil, hanya tersenyum. Ia tidak merasa iba, karena sudah seharusnya, wanita itu membayar kesalahannya.
"Tuan, wanita itu sudah dibawa pergi," lapor Tian, pada seseorang dibalik telepon.
"Antarkan putranya, biar mereka bertemu."
"Baik, Tuan."
Sekretaris Tian, menghidupkan mesin mobil. Kembali melaju, dengan tujuan yang berbeda. Kali ini, ia menuju kawasan perumahan elit, ditengah kota.
Sekitar lima belas menit, Tian sudah tiba. Ia disambut, para petugas keamanan, yang berkedok sebagai pelayan penjaga rumah.
"Bagaiamana keadaannya?"
"Sudah lebih baik, Pak sekretaris. Tapi, ia terus mengoceh, membuat kami emosi dan ingin menghajarnya."
"Lalu, kenapa tidak melakukannya?"
"Kami membiarkannya, ia menjaga wajahnya. Kasihan jika, ia babak belur dan dijemput pihak berwajib."
__ADS_1
Cih! Tian melangkah pergi. Didalam rumah, sudah ada kepala pelayan yang menyambut.
"Bawa dia!" perintah Tian.
Sang kepala pelayan mengangguk, lalu memberi instruksi pada pelayan lain.
Tian duduk diatas sofa, memiringkan kepalanya, dengan salah satu tangannya sebagai penopang. Ia menyeringai, saat Dimas muncul. Masih ada sedikit lebam disana. Ia mendaratkan kedua lututnya diatas lantai, dengan kedua tangan terikat kebelakang.
"Kau, sekretaris sialan!"
Oh, nyawa sudah diujung tanduk, tapi masih bisa memaki. Beginilah, para penjahat, yang melupakan kesalahannya sendiri, tapi terus mengingat perbuatan orang lain.
"Sepertinya, mulutmu masih belum puas mendapat pelajaran. Perlu les tambahan?" Tian sudah mendekat, dengan tangan mencengkram mulut Dimas dengan kuat.
"Aku akan menuntut kalian. Lihat saja!"
"Oh, aku tunggu! Tapi, sebelum itu, kita harus pergi menemui ibumu."
Deg.
Dimas menatap tajam Tian. Tangannya sudah terkepal erat. Ingin bangkit, tapi tubuhnya dipegang erat oleh dua algojo.
"Kau bajingan!" teriak Dimas.
"Bawa dia, sebelum kesabaranku habis."
Dua algojo, turut masuk dalam mobil dan mengapit tubuh Dimas. Sementara, Tian berada dikursi pengemudi.
Sepanjang jalan, Dimas terus saja memaki, bahkan mungkin tenggorokannya sudah mengering, karena terus berteriak. Tian dan lainnya, sama sekali tidak peduli. Seolah menutup telinga dengan rapat.
Dimas seketika membisu, saat Tian sudah memarkir kendaraan. Tubuhnya menegang dan wajahnya berubah pucat pasi.
"Kenapa kalian membawaku kesini?" ujarnya dengan suara terbata.
"Bukannya, kau mau melaporkanku. Aku membantu untuk mengantarmu."
Tian sudah keluar lebih dulu. Dua algojo tadi menarik Dimas keluar dari mobil.
"Sekretaris Tian. Tolong, maafkan aku! Aku salah, aku akan berusaha mengembalikan uang yang diterima oleh ibuku."
"Presdir, sudah tidak memerlukannya. Kau cukup mengakui perbuatanmu, maka semua akan kembali seperti semula."
Dimas terus memohon, sambil mengikuti langkah Tian. Bagaimana pun, ia tidak mau mendekam dalam penjara.
__ADS_1
Tian menyerahkan Dimas, pada petugas. Tidak peduli, dengan permohonan maaf, pria itu. Ia menemui pengacara, yang sudah menunggu dari tadi.
Dimas sendiri, hanya tertunduk pasrah. Tenaganya sudah habis, untuk berteriak. Ia mengikuti langkah petugas, disebuah ruangan yang tertutup.
"Ibu, ibu," panggil Dimas, yang berlari menghampiri sang ibu. Wanita itu, menoleh dengan mata sembab dan rambut berantakan.
"Dimas. Kamu datang, Nak. Kamu mau mengeluarkan ibu, kan?"
Dimas hanya mengangguk, dengan tangis tertahan. Hatinya terasa sakit, seperti sebuah pisau menancap, persis dijantungnya.
Petugas yang membawa Dimas. Keluar meninggalkan mereka, seolah memberi waktu pada keduanya.
"Ibu, maafkan Dimas, bu."
"Ibu yang harusnya, minta maaf. Semua terjadi, karena kesalahan ibu." Ibu kembali menangis, penuh penyesalan. Tidak ada langkah untuk mundur, selain menerima nasibnya.
"Ibu, jangan khawatir. Biar Dimas, yang menanggung semuanya. Ibu bisa pulang dan beristirahat dirumah."
Ibu hanya menangis, sambil menggelengkan kepalanya. Bagaimana bisa, ia membjarkan sng putra menanggung semua kesalahannya. Apalagi, semua ini berawal darinya, yang ingin mengusir Arshila dari rumah. Menantu yang sama sekali, tidak ia sukai. Meski, wanita itu sudah melakukan banyak hal untuknya.
"Ibu, dengarkan Dimas!" Dimas memegang tangan sang ibu dengan erat. "Apapun yang mereka tanyakan, cukup salahkan Dimas, Bu. Aku mohon. Jangan mengatakan apa-apa, selain itu."
Ibu tidak menjawab, ia hanya menangis dengan menundukkan kepalanya.
Petugas tadi, akhirnya kembali. Ia membawa rekannya, untuk membawa Dimas keluar ruangan.
"Kalian, mau membawaku kemana? Biarkan, aku bersama ibuku. Aku akan mengakui semuanya."
Mereka sama sekali, tidak mendengarkannya. Dimas meneteskan air mata, saat menatap ibunya, yang pasrah.
"Ibu Dimas. Apa kita bisa mulai?" Ibu Dimas hanya menganggukkan kepala, sembari menghapus air matanya.
Petugas mulai bertanya, yang dijawab ibu Dimas dengan seadanya. Tidak ada, yang ia tutup-tutupi lagi. Toh, ia sudah tertangkap, yang artinya mereka memiliki bukti yang kuat.
Ibu Dimas mulai menceritakan semuanya, saat diminta. Dimulai dari, rasa tidak sukanya pada menantunya, hingga akhirnya, muncul sebuah ide, untuk menyingkirkannya. Selain itu, ia juga tergiur dengan hadiah uang, yang jumlahnya fantastis.
"Putraku, tidak pernah menyetujui dengan yang aku lakukan. Ia menentang keras, mengingat saat itu, Arshila sedang mengandung."
"Tapi, pada akhirnya, ia setuju, bukan?"
"Karena aku mengancamnya. Jika Dimas mengatakan yang sebenarnya, maka aku yang akan dipenjara.. Putraku akhirnya. Tidak punya pilihan, selain menerimanya."
"Bagaimana dengan uang yang ibu terima? Apakah putra Anda ikut menikmatinya?"
__ADS_1
"Tidak. Sebenarnya, putraku sama sekali tidak mengetahui perihal uang hadiah. Ia baru mengetahuinya, beberapa minggu yang lalu, secara tidak sengaja. Putraku tidak bersalah, akulah yang menyebabkan semua kekacauan ini. Dari awal, dia ingin mengaku dan menyerahkan diri, tapi aku sebagai ibunya, tidak mau ia mendekam dalam penjara. Hukum aku, saja, Tuan."
Ibu kembali terisak sambil menunduk. Ia benar-benar menyesal, dengan apa yang sudah terjadi. Meski, Dimas sudah memintanya untuk diam. Ia tidak bisa melakukannya.