Dendam Sang Presdir

Dendam Sang Presdir
Bab 110. Menemui Bagas


__ADS_3

Tidak ingin, menyita waktu lama. Dave bersama sang ayah, keluar dari mobil. Fira mundur selangkah. Ternyata, dia tidak sendirian. Bagaimana aku akan mengatakan tujuanku? Gumam Fira, yang mendadak bingung.


"Anda begitu gigih, Nyonya," sindir Dave.


"Aku ingin membicarakan sesuatu yang penting."


"Katakan. Waktuku tidak banyak."


"Ini sangat penting. Apa kita tidak bisa pergi tempat lain?"


"Hal penting, apa?" Kali ini, Liam yang bertanya.


Ah, sial! Kenapa ayahnya harus bersamanya saat ini? Tidak mungkin, aku mengatakan didepannya.


Yah, mana mungkin ia akan mengatakannya. Mengingat Liam dan sang suami, memiliki hubungan bisnis. Bisa-bisa ayah Dave, memberitahu suaminya. Dan itu, sama saja ia menggali lubang sendiri.


"Begini, aku perlu bantuan, putramu. Ini mendesak."


"Kalau begitu, katakan!" ujar Liam tidak sabar. Walau sebenarnya, ia sudah menebak.


"Putramu secara tidak langsung, sudah mengkhianati putriku dan menelantarkan anak mereka. Tidak masalah, jika ia harus menikah. Tapi, kenapa harus wanita itu? Aku ingin ia bertanggung jawab.


Terserah! Lebih baik, katakan itu saja dulu. Aku tidak bisa mengatakan niatku yang sebenarnya.


Liam dan Dave, saling bertukar pandang. Sampai kapan wanita ini, akan menjadi tidak tahu malu dan mempertahankan argumennya.


"Kenapa aku harus bertanggung jawab?"


"Kau masih bertanya? Kau sudah mengetahui alasannya, tapi bersikap seolah tidak ada masalah. Kau tidak takut, orang-orang akan menghujatmu."


"Dengar, Nyonya. Aku sudah tahu niat dalam hatimu. Tapi, aku tidak berniat untuk membantu. Seharusnya, Nyonya yang memberiku penjelasan. Putrimu mengandung anak orang lain dan membuatku menjadi seseorang yang harus bertanggung jawab untuknya." Dave maju selangkah demi selangkah, membuat Fira mundur perlahan dengan gugup. "Anda seharusnya berterima kasih, karena aku tidak ingin mempermasalahkannya. Aku memaafkannya, tapi Anda terus mengganggu dan menyalahkanku. Ingat, Nyonya. Jangan menguji kesabaranku. Ini terakhir kalinya, aku melihatmu. Tidak ada, lain kali."


Fira membisu, jantungnya terpacu karena merasa takut. Ia hanya menatap, mobil Dave pergi begitu saja. Kedua kakinya lemas, hingga jatuh terduduk diatas tanah. Ia bingung, harus bagaimana sekarang. Andai saja, Liam tidak bersama Dave, mungkin semua akan baik-baik saja.


Ia tidak ingin pulang, dan duduk menerima nasib. Apalagi, harus melihat putri sambungnya, menertawakan dan merendahkannya. Oh, tidak. Aku tidak mau! Semua usahanku, selama bertahun-tahun, harus berakhir menyedihkan. Aku tidak rela!


Didalam mobil, Dave meminta Tian untuk memutar arah. Ia tidak mau wanita itu, terus mengganggu dan mengungkit masa lalu.


"Biar, Papa yang bicara pada Bagas."

__ADS_1


"Tidak perlu, Pa. Aku akan menyelesaikannya sendiri."


Keduanya membisu, sembari memperhatikan jalan raya didepan. Padat dan macet, seperti biasa, saat jam pulang kantor. Dave memainkan ponselnya, lalu kembali memasukkannya dalam saku.


Tian terus melaju, ia menambah kecepatan saat melewati lampu merah.


"Kita ke perusahaan atau kediamannya, Tuan?" tanya sekretaris Tian, tanpa menoleh.


"Di kediamannya."


Mobil melewati gedung perusahaan Bagas, terus melaju dengan kecepatan normal. Sekitar sepuluh menit, mereka sudah tiba. Sekretaris Tian, membunyikan klakson mobil, hingga petugas keamanan datang menghampiri. Melihat siapa yang berada didalam, mereka bergegas membuka pintu pagar.


Sepertinya, sang pemilik rumah baru saja tiba. Terlihat dari pakaian yang digunakan dan posisinya yang masih berada diteras rumah. Bagas menoleh, ketika mendengar suara deru mesin. Ia meminta pelayannya, untuk pergi.


"Selamat sore, Tuan Bagas."


Bagas turun menghampiri, kedua rekan bisnis, sekaligus mantan calon menantunya.


"Selamat sore. Silahkan masuk."


Berjalan masuk, Bagas tampak berbasa basi, dengan membicarakan keadaan perusahaannya saat ini. Liam dan Dave, hanya menanggapinya, dengan anggukan kepala.


Dave dan sang ayah, duduk bersebelahan. Bagas sendiri, duduk diseberang sofa, depan mereka. Pelayan datang menyajikan secangkir teh, lalu pergi.


"Saya tidak menyangka, kalian akan datang. Sudah setahun, saya tidak bertemu denganmu." Bagas menatap mantan calon menantunya. Entah angin apa, yang tiba-tiba membawanya datang.


"Begini, Bagas. Aku mau meminta tolong padamu, mengingat hubungan kita." Liam tampak ragu-ragu. Bagaimana pun, Bagas adalah seseorang yang dikenalnya sejak lama. Pria, yang begitu baik hati dan jujur, dalam menjalankan bisnisnya.


"Aku mau istri Anda, berhenti mengangguku!" ujar Dave, yang tidak sabar menunggu sang ayah, yang harus berbasa basi.


"Maksudnya?" Bagas menatap ayah dan anak, secara bergantian. "Apa yang dilakukan istriku?"


"Putraku sudah menikah. Dan istrimu, tidak terima dengan pernikahannya."


"Kamu sudah menikah?" Bagas menatap lekat Dave. Tidak percaya, jika mantan calon menantunya, sudah melanjutkan hidup dan melupakan putrinya. "Terus, maksudnya, Fira tidak terima?" Sebenarnya, Bagas bingung arah pembicaraan mereka.


"Aku akan persingkat. Aku membuka kembali, kasus yang menimpa Clarissa. Harap Anda hadir dipersidangan, nanti Anda akan mengerti. Cukup beritahu, istri Anda untuk berhenti mengangguku dan istriku. Aku tidak akan tinggal diam, jika dia terus berulah. Satu lagi, selama ini kalian sudah menipuku, dengan kehamilan Clarissa, yang bukan milikku."


"Ap-apa?" Bagas tersentak, dengan bangkit dari posisinya. "Apa maksud kalian memfitnah putriku? Aku terima kau sudah menikah dan melupakan putriku. Tapi, kenapa kau harus mengatakan itu?"

__ADS_1


"Silahkan tanya pada istri Anda dan tentunya putri Anda yang lain."


Deg.


Bagas membeliak. Otaknya, dipenuhi tanda tanya, yang bermuara pada hal yang sama.


"Putriku yang lain?" gugupnya.


"Aku tidak akan ikut campur urusan keluargamu, Tuan. Mengenai Alexa, kami akan berpura-pura tidak tahu. Tapi, ingatlah. Istri Anda terus mengangguku, karena menginginkan bantuanku, untuk menyingkirkan putri Anda."


Bagas menarik napas, mencoba mencerna informasi yang terlalu mengagetkannya. Ia bingung harus menjawab apa. Karena selama ini, ia berpikir sang istri sudah menyerah dan tidak mempermasalahkan lagi mengenai warisan.


"Tunggu! Aku tidak percaya, apa yang kalian katakan. Tidak mungkin, Fira melakukan itu pada putriku. Lalu, tentang Clarissa. Kenapa kalian membuka kembali kasusnya, tanpa memberitahuku? Pelakunya sudah ditangkap dan menerima hukumannya. Sebenarnya. Ada apa dengan semua ini?"


"Aku pulang."


Semua menoleh, saat suara wanita berteriak masuk dalam rumah. Baru dua langkah, wanita itu membeku ditempatnya. Ia meremas ujung baju yang digunakannya. Apalagi, tatapan sang suami, sudah seperti mau menelannya hidup-hidup.


Kenapa mereka berada disini? Tunggu, jangan-jangan!


Dave menyeringai. Pemeran utamanya, sudah tiba. Jadi, semua bisa menjadi jelas, dalam waktu singkat. Meski, ia tahu wanita didepannya, tidak mungkin akan berkata jujur.


Dalam keadaan genting, suara langkah kaki menuruni anak tangga terdengar.


"Oh, ada tamu."


Alexa berjalan mendekat, tersenyum pada kedua tamu ayahnya. Ia melirik sang ibu tiri, tertawa mengejek.


Dasar, anak sial! Kau pasti meledekku. Aku tidak bisa berada disini. Dave pasti sudah mengatakan sesuatu pada Bagas.


"Ma-maaf. Aku tidak tahu, jika ada tamu. Aku ke kamar dulu." Fira melanjutkan langkahnya, dengan menundukkan kepala.


"Mau kemana kamu?"


Fira berhenti mendadak. Jantungnya berdegup tidak karuan. Bukan hanya takut dengan amarah sang suami, tapi juga ia tidak mau dipermalukan.


"Aku mau istirahat dulu."


"Duduk," perintah Bagas, yang tidak mau mendengar penolakan.

__ADS_1


__ADS_2