Dendam Sang Presdir

Dendam Sang Presdir
Bab 51. Mencari sekutu


__ADS_3

Dave sudah terbangun, seperti biasa ia hanya melihat bantal dan selimut diatas sofa. Sudah dua hari mereka sekamar, tapi tidak saling bertegur sapa. Saat malam, ia akan membiarkan Arshila tidur disana, tanpa mengatakan apa-apa. Begitu juga Arshila, yang seperti menganggapnya tidak ada.


Pintu kamar mandi terbuka, tampak Arshila baru saja selesai mandi. Ia sudah menggunakan pakaian, tapi membungkus rambutnya dengan handuk.


"Siapkan air mandi untukku."


Arshila tidak menjawab, tapi ia kembali masuk dalam kamar mandi. Dave ikut menyusul, dengan cepat.


"Aaaaa!!" Arshila terlonjak.


Dave sudah bertelanjang dada didepannya. Arshila mundur perlahan hingga membentur tembok.


"Sampai kapan kamu akan mengabaikanku?" Dua tangan Dave sudah mendarat di dinding, mengurung istrinya didalam. "Apa kehidupan seperti ini yang kamu inginkan?"


"Ceraikan aku!" Arshila menjawab dengan kepala tertunduk. Ia masih merasa takut, tapi entah kenapa jawaban itu yang keluar dari mulutnya.


Rahang Dave berubah mengeras, suasana hati yang pagi ini terasa damai, menjadi penuh amarah. Cerai? Hah, jangan mimpi, bergumam, lalu menarik tangan istrinya dengan kasar keluar dari kamar mandi.


"Cerai?" Dave menghempaskan tubuh Arshila keatas tempat tidur. "Aku tidak akan pernah melepaskanmu. Benci aku sesuka hatimu atau seumur hidupmu. Tapi, aku tidak akan pernah melepaskanmu."


Arshila membisu, tidak berani menjawab. Ia hanya mengigit bibirnya, saat Dave berada diatas tubuhnya.


"Jangan pernah berpikir untuk bercerai atau meninggalkanku, Arshila!"


Brak. Pintu kamar mandi tertutup.


Arshila menarik napas lega, saat Dave pergi. Ia menghapus air matanya, yang sempat menetes. Setiap ucapan dan tindakan Dave, membuat tubuhnya gemetar ketakutan. Sehingga membuatnya, tidak melawan dan hanya bisa menurut, agar ia bisa terbebas dari cengkraman pria itu dengan cepat.


Arshila yang sudah merasa tenang, bangkit dari posisinya. Lalu mengatur rambutnya yang sudah tergerai. Dengan cepat, ia menyiapkan baju suaminya untuk berangkat bekerja. Setelan jas berwarna coklat, ditambah dasi berwarna hitam.


Ia memilih duduk didepan meja rias, mengeringkan rambut dan memoles wajahnya dengan krim perawatan. Hal sederhana, yang membuatnya merasa lebih baik.


Pintu kamar mandi sudah terbuka, hanya menggunakan handuk, Dave berjalan mendekati istrinya. Aroma shampo menyeruak dan tetesan air jatuh dari rambutnya yang basah.


"Mana pakaianku?"


Arshila hanya menunjuknya, pakaian itu berada diatas tempat tidur.


Emmhhh!!!


"Jawab dengan benar sayang, jika tidak bibirmu akan habis."


Dave menyeringai, saat melepaskan bibir Arshila.


"Bantu aku!!" Kembali memerintah dengan nada dinginnya.


Arshila menurut, membantu Dave menggunakan pakaian. Bahkan, ia sempat menutup mata dan mengalihkan pandangan, saat handuk sang suami jatuh diatas lantai.


Tangan kekar Dave, meraih pinggang Arshila. Merapatkan tubuh mereka., hanya beberapa inci saja bibir mereka bertemu.

__ADS_1


"Mulai sekarang, aku akan mengganti hukumanmu. Jika pulang nanti, kau masih membisu, aku akan benar-benar memakan habis bibirmu. Seperti ini!"


Emmhhh!! Dave ******* bibir Arshila, cukup lama hingga membuat istrinya hampir kehabisan napas.


"Sekarang, kamu tahu kan, hukumannya. Jadi, bersikap baiklah!"


Dave tertawa lepas, berlalu sampai hilang dibalik pintu. Sementara, Arshila membeku ditempatnya. Ada apa, ini? Sepertinya, ada yang salah dengannya, bergumam sembari menyentuh bibirnya.


Di lantai bawah, hidangan sudah tersaji diatas meja makan. Berbagai menu yang bisa dipilih, tapi Dave hanya mengambil sandwich dan segelas jus.


"Selamat pagi, Ma."


Arshila menarik kursi duduk disebelah Rachel.


"Pagi, sayang."


Ketiganya menikmati sarapan, ditemani keheningan. Hanya suara sendok dan garpu yang beradu diatas piring.


"Aku pergi."


Dave berpamitan pada sang ibu, ia hanya menatap Arshila sesaat sebelum melangkah pergi.


"Kamu bersiaplah. Hari ini kamu ada kelas memasak."


"Baik, Ma."


***


"Ibu pergi dulu, ya!"


Ibu berangkat, setelah Nadia dan Dimas berangkat bekerja. Ia naik taksi menuju perusahaan Antara Group.


Diparkiran, ibu meminta taksi untuk menunggu. Ia berjalan mendekati seorang petugas keamanan.


"Selamat pagi, Pak. Maaf, saya mau tanya alamat nyonya Santara dimana?"


Satpam itu tidak langsung menjawab, ia memperhatikan ibu dengan cermat.


"Maksud ibu?"


"Begini Pak, nyonya menyuruh saya antar barang di perusahaan. Tapi, beberapa menit lalu, ia meminta mengantarnya di rumah. Tapi, saya tidak tahu alamatnya. Ingin bertanya, takut nyonya marah."


Pak satpam pun mengerti kondisi ibu. Ia paham betul bagaimana sifat nyonya besar itu.


Ibu berterima kasih dan berpamitan pergi, setelah mendapatkan alamat yang diberikan pak satpam tadi.


Hanya 10 menit perjalanan, ibu tiba disebuah rumah yang dikelilingi pagar tinggi. Didepan gerbang, sudah ada petugas keamanan yang duduk disebuah bangunan kecil.


"Ibu mencari siapa?"

__ADS_1


"Saya ingin bertemu nyonya Santara."


"Nama ibu, siapa?"


"Beritahukan saja, saya saksi dari kecelakaan putrinya."


"Sebentar ibu."


Petugas keamanan tadi, kembali ditempatnya, untuk melapor melalui sambungan telepon.


"Baiklah. Ibu silahkan masuk."


Pintu gerbang terbuka, ibu berjalan kaki masuk. Ia disambut dengan hamparan rumput yang menghijau, pepohonan yang rindang tapi tidak tinggi. Ada beberapa bunga dengan kuntum besar, tumbuh diantaranya.


Kemewahan ini belum berakhir, tatkala ibu menatap rumah besar berlantai tiga, dengan cat putih mendominasi rumah ini.


Wah! Sungguh megah. Andai aku punya rumah seluas ini.


Imajinasi ibu terhenti, saat tatapannya bertemu dengan si pemilik rumah. Wanita itu memperhatikannya, seolah sedang menilai penampilannya.


"Ada urusan apa, mencari saya?" Tanpa basa basi, ibu Clarissa langsung bertanya. Bahkan. tidak mempersilahkan ibu masuk ke dalam rumah.


"Perkenalkan Nyonya, saya saksi yang waktu itu."


"Terus?"


"Begini, Nyonya. Saya mau memberitahukan hal penting, mengenai pelaku yang menabrak putri Nyonya.."


"Dengar, saya tidak ingin mendengar apapun. Putri saya sudah meninggal dan pelaku itu sudah mendapat hukuman. Saya tidak ingin bertindak lebih jauh, karena tidak berguna. Jadi, silahkan pergi!" usir ibu Clarissa, yang sebenarnya sedang malas menghadapi wanita itu. Ia yakin wanita seperti itu, datang untuk meminta uang dengan menggunakan putrinya sebagai alasan.


"Nyonya, Nyonya. Dengarkan saya dulu!" teriak ibu Dimas, saat ibu Clarissa beranjak masuk dalam rumah. "Nyonya ini tentang menantu Anda, tuan Dave," Berteriak karena si pemilik rumah sudah masuk ke dalam.


Langkah ibu Clarissa terhenti, ia menoleh lalu kembali.


"Nyonya, tolong dengarkan saya. Saya tidak meminta imbalan, saya melakukannya, karena pertimbangan sebagai sesama ibu."


"Apa maksudmu? Jangan berbelit-belit."


"Begini, Nyonya. Pelaku yang menabrak putri Anda, merayu menantu Anda, bahkan kabarnya mereka tinggal bersama."


Ibu Clarissa maju beberapa langkah, menatap tajam wanita yang memiliki umur hampir sama dengannya.


"Dave tinggal bersama si pembunuh itu. Apa kau sedang mempermainkanku?" bentaknya.


"Tidak, Nyonya. Saya bersungguh-sungguh. Nyonya mungkin sudah lupa pada wanita itu, tapi saya tidak. Karena dia, hampir menjerumuskan putra saya. Wanita itu tinggal bersama tuan Dave, bahkan pelayan disana memanggilnya nona. Entah status apa yang dimilikinya, hingga para pelayan begitu hormat padanya."


Darah ibu Clarissa berdesir menahan amarah. Meski, putrinya sudah tiada, ia belum rela jika calon menantu konglomeratnya memiliki pendamping baru menggantikan putrinya.


Bagi ibu Clarissa, Dave adalah sumber uang yang membantu mereka dengan kerjasama perusahaan. Selain itu, status dan nama sang menantu membuatnya semakin dikenal dan disegani oleh teman-teman sosialitanya.

__ADS_1


Apa jadinya, jika berita ini tersebar. Dave serumah dengan wanita yang melenyapkan masa depan putrinya. Ia tidak rela, sama sekali tidak rela.


__ADS_2