
Diluar tampak hujan deras dan angin sedikit kencang. Dave menaikkan selimut dan memeluk erat sang istri, yang masih terlelap. Sudah jam tujuh pagi, tapi cuaca yang gelap, seperti masih terlihat subuh.
"Emm," Arshila menggeliat.
"Selamat pagi, sayang."
"Jam berapa?" tanya Arshila dengan kedua mata yang masih terpejam.
"Masih jam lima. Tidur lagi."
Arshila mengangguk, memundurkan tubuhnya untuk rapat, kepada Dave. Ia kedinginan dan minta dipeluk, tapi mengatakan dengan bahasa tubuh.
Dave terkekeh dan tentu saja melakukannya dengan senang hati. Tapi, kegiatan pagi ini, bukan lagi peluk-pelukkan biasa, tapi sudah lebih dari itu.
Hujan masih turun, meski intensitasnya sudah berkurang. Dua orang yang saling menghangatkan, kini duduk di meja makan, untuk sarapan. Karena cuaca sedang dingin, Arshila ingin makan sup ayam yang hangat.
Rachel dan Liam, ikut menikmati menu yang dibuat khusus, untuk sang menantu.
"Papa ingin ikut, ke kantor," ujar Liam, yang menyeruput kuah hangat sop ayam.
"Hmm," jawab Dave singkat, karena mulutnya sibuk mengunyah.
Diruang tamu, sekretaris Tian sudah menunggu, dengan segelas kopi dan roti lapis diatas meja. Padahal tadi, dia diajak sarapan bersama. Karena, sudah sarapan dirumah, ia hanya meminta segelas kopi.
"Ayo!" ajak Dave, yang sudah siap keluar. Sementara, Tian menerima payung yang diberikan pak Yus.
Kini, Liam dan Dave duduk bersebelahan dikursi belakang. Tian melaju dengan kecepatan normal, cuaca masih hujan dan jalanan yang licin. Ia harus berhati-hati.
"Apa rencana Papa mengikutiku?"
"Papa tidak mau menunggu di rumah, dengan perasaan cemas."
"Hari ini, tim pengacara kita akan bergerak. Jadi, kita cukup menunggu kabar."
Liam mengangguk pasrah. Entah dirumah atau diperusahaan, baginya sama. Karena, harus menunggu, dengan tidak pasti.
Tian sudah memarkir kendaraan, di dalam basement.
"Bagaimana dengan wanita itu?" tanya Dave dengan langkah kaki yang lebar.
"Dia tinggal bersama dua putrinya, di kos-kosan."
Mereka tiba diloby, yang disambut karyawan yang bertemu dengan ketiganya. Masuk dalam lift, dengan senyum sebagai balasan, karena sudah menyapa. Liam sendiri menuju ruangannya, yang berada dilantai berbeda.
"Selamat pagi, Presdir," sapa Nadia, yang membungkukkan badan, sebagai tanda hormat.
Dave hanya mengibaskan tangannya, kemudian masuk ruangan dengan cepat.
"Tuan," panggil Nadia.
"Ada apa?" Dave menoleh, saat berada diambang pintu. Ia tersenyum sinis, melihat seorang wanita yang sepertinya sedang menunggu kedatangannya.
"Tian, urus dia!" ujarnya, yang langsung masuk dan menutup pintu.
__ADS_1
"Dave, Dave," panggil Fira, "Lepaskan aku!" Fira mendorong Tian, yang berusaha menghalangi jalannya.
"Nyonya, silahkan pergi. Presdir, sedang sibuk."
"Sibuk? Aku hanya ingin mengatakan sesuatu padanya. Lagipula, kenapa dia memperlakukan aku seperti ini, saat putriku sudah tiada? Apa karena wanita sialan itu?"
"Nyonya, tutup mulut, Anda." Tian memperingatkan dengan nada tinggi dan wajah yang berubah menakutkan.
"Kau membentakku, sekretaris sialan? Kau lupa, siapa aku, hah!" Fira tidak mau kalah. Ia menunjuk-nunjuk Tian, dengan geram.
"Silahkan, pergi, Nyonya. Sebelum, kesabaran saya habis dan menyeret Anda keluar."
Fira tergelak. Sungguh berani, sekretaris ini padanya. Bukannya takut, Fira justru menetang keberanian Tirta. Sebesar apa, nyali sekretaris sialan ini, padanya?
"Kau berani menyeretku? Aku mau melihat, keberanian ... Aa, lepaskan sialan!!"
Dengan kuat, Tian menarik tangan Fira, menghempaskannya dengan kasar dalam lift.
"Kau ..."
"Aku sudah memperingatkanmu, Nyonya. Kesabaranku, setipis tisu yang dibagi dua."
Fira hanya bisa terdiam. Wajah Tian yang murka, sama persis dengan Dave. Pria yang menakutkan dan tidak memiliki kesabaran.
Tian berlalu, setelah mengantar Fira masuk dalam lift. Ia meraih ponselnya, memperingati resepsionist, untuk tidak mengizinkan wanita itu datang kembali.
"Apa kau tidak bisa mengusirnya?" Kini Nadia, yang mendapatkan sisa-sisa kemarahan Tian.
"Aku sudah melakukannya. Tapi, dia keras kepala."
Fira yang berada dalam lift, masih mengumpat dan menyumpahi Tian. Dadanya bergemuruh, dipenuhi amarah. Dia sudah datang, dengan merendahkan harga dirinya dan ini balasannya.
Tiba diloby, Fira menatap nyalang, pada semua karyawan. Ia merasa tatapan mereka, seolah sedang menyindirnya. Apalagi, karyawan wanita yang tadinya sedang berkumpul, tiba-tiba membubarkan diri, saat melihatnya.
"Dasar rendahan. Kalian menggosipkanku?"
Karyawan wanita tadi, memilih menghindar. Karena tidak, ingin memicu masalah diperusahaan.
"Dasar sial!" umpat Fira.
Ia meraih ponselnya, hendak mengadu pada sang suami. Tapi, baru saja sambungan terhubung, sang suami menolak panggilannya.
Bukan main, amarah Fira, saat ini. Ia ingin berteriak dan membanting ponselnya.
"Mana dia?" tanya Dave, yang sibuk dengan dokumen diatas meja.
"Saya sudah mengurusnya, Tuan."
" Minta orangmu untuk mengawasinya. Aku tidak mau ia membuka mulut, dan merusak rencanaku."
"Baik, Tuan."
Waktu terus bergulir. Diluar sana, hujan sudah berhenti beberapa jam yang lalu. Tapi, cuaca masih mendung dan gelap. Saatnya makan siang dan Dave belum mendapat kabar dari tim pengacara. Ia merasa gusar dan kehilangan selera makan.
__ADS_1
"Kamu kenapa?"
"Aku cemas, Pa."
"Sudah duduk saja dan nikmati makananmu. Papa yakin mereka akan segera memberi kabar."
Memang tidak ada cara lain, selain menunggu dan mempercayakan semua kepada mereka.
Denting jam dinding yang terus berbunyi, seiring perasaan cemas dua pria, yang duduk menunggu, tanpa kabar.
"Tuan."
Keduanya menoleh, saat sekretaris Tian masuk, dengan terburu-buru.
"Kenapa?" tanya Dave, yang dilanda kecemasan.
"Mereka sudah menghubungi saya."
"Lalu, bagaimana?"
"Semua sudah selesai. Tapi, kita harus menunggu. Karena, pihak berwajib akan melakukan penyelidikan ulang dan memanggil Dimas dan ibunya."
"Berapa lama?"
"Paling cepat, minggu ini. Besok saya akan mengantar Dimas dan ibunya."
"Bagus, bagus. Akhirnya." Dave bernapas lega, begitu juga Liam, yang tampak puas.
Setelah menunggu cukup lama, akhirnya kabar baik datang juga.
"Kita pulang. Ini sudah sore," ajak Liam.
Dave mengangguk, lalu memanggil Nadia untuk mengatur dokumen diatas meja.
Dilantai basement, Tian sudah menunggu dan membuka pintu mobil.
"Papa senang, hari seperti ini, akan tiba."
Dave menoleh, menatap sang ayah. Tidak mengerti, dengan ucapan tiba-tiba Liam.
"Kamu sudah kembali seperti dulu, bahkan lebih baik dan. bertanggung jawab," lanjut Liam.
"Aku masih harus berusaha, Pa. Kadang emosi dan amarahku, masih mengendalikanku."
"Ingat, Nak. Sebentar lagi, kamu akan menjadi seorang ayah dan tanggung jawabmu semakin besar. Papa berharap, kamu sudah sepenuhnya berubah. Apalagi, sifat kasar dan pemarahmu."
"Aku mengerti. Aku akan berusaha."
Mobil sudah keluar basement dan tiba dihalaman perusahaan. Baru juga, Tian hendak berbelok, sebuah mobil sedan, mencegat. Tian berhenti mendadak dan membunyikan klakson.
"Siapa itu?" tanya Dave, dengan menatap seseorang yang keluar dari mobil tersebut. "Wanita. Itu tidak menyerah."
Fira dengan percaya diri, berjalan mendekat. Ia mengabaikan sekretaris Tian, yang menghadangnya, didepan mobil.
__ADS_1
"Minggir. Aku mau bicara dengannya."