Dendam Sang Presdir

Dendam Sang Presdir
Bab 70. Kejutan 1


__ADS_3

Gedung, PT. Deval Power


Dave sudah kembali di perusahaan, duduk bersandar dengan mata terpejam. Berusaha mengingat kejadian dimalam ulang tahun Clarissa.


Tidak ada.


Ingatannya, hanya pada saat ia sedang mabuk diruang kerja dan terbangun dengan wajah berantakan. Ia memang tidak menggunakan apapun ditubuhnya, tapi itu bukanlah sesuatu yang aneh, menurutnya. Bisa saja, ia membuka baju tanpa sadar. Apalagi, Arshila juga tidur di sofa tanpa mengatakan apa-apa.


Yah, pasti tidak terjadi apa-apa. Keputusannya sudah benar, untuk menggugurkan anak yang bukan miliknya.


Dave beralih pada berkas-berkas diatas meja. Membolak balik kertas, setelah cermat memperhatikan detailnya.


Tunggu!!


Sesuatu terlintas begitu saja. Yah, dia bermimpi tentang Clarissa. Mereka menghabiskan malam bersama. Apa mungkin? Ah, tidak, itu mustahil.


"Tuan."


Sekretaris Tian, masuk dengan tergesa-gesa.


"Hmm."


"Diluar, ada nona Alexa. Aku membawanya masuk. Katanya, ada sesuatu yang penting ingin disampaikannya."


"Jika dia hanya ingin bertanya tentang temannya itu, katakan padanya untuk pergi."


"Baik, Tuan."


Brakk.


"Nona, Anda dilarang masuk!"


Sekretaris Tian, mengangkat salah satu tangannya. Isyarat kepada Nadia, agar meninggalkan ruangan.


"Nona, saya akan mengantar Anda keluar."


"Aku tidak akan pergi."


Alexa menyingkirkan Tian, yang menghalangi pandangannya, dari pria yang duduk di kursi kebesarannya, menatap dengan dua tangan terpaut diatas meja.


"Kau mau mengatakan apa, Nona Alexa? Aku tidak mengenalmu, meski kau kerabat Clarissa. Kita tidak memiliki alasan untuk saling bertemu," ujar Dave, sinis.


"Dimana Arshila?"


Yah, Alexa hanya ingin jawaban. Dimana Arshila dan kenapa ia mengurungnya? Jika wanita itu hidup menderita, ia akan membongkar semua rahasia yng menjadi janjinya pada Clarissa.


"Kalian bertemu saat di dipenjara, aku tidak tahu rasa persahabatanmu sekuat itu." Dave bangkit, berjalan menuju Alexa. Berhenti tepat didepan gadis itu. "Arshila bersamaku. Apa yang akan kau lakukan?" Menyeringai licik.


"Apa kau menyiksanya?" Alexa berjinjit, memegang erat kemeja Dave. Ia menatap tajam, ingin menghajar pria itu yang tersenyum mengejeknya.


"Jika, Iya? Hahahaha....." Dave tertawa, gadis itu melotot, seakan ingin memakannya hidup-hidup. Ia menyingkirkan tangan Alexa dengan mudah. Lalu, kembali duduk, dengan gerakan tangannya. Ia meminta sekretarisnya, menyeret gadis itu pergi dari hadapannya.


"Lepaskan, aku!" Alexa mencoba menghempaskan genggaman Tian, dipergelangan tangannya. "Kau membuat kesalahan, Dave. Clarissa bunuh diri!" teriaknya, setelah berada diambang pintu.

__ADS_1


Brak.


Dave menggebrak meja, rahangnya mengeras. Ia berjalan, menarik Alexa kembali masuk dalam ruangan.


"Jaga mulutmu! Kau pikir, kau siapa, berani mengatakan itu dihadapanku? Hah!" desisnya kasar. "Untuk apa, dia bunuh diri saat kami akan menikah? Untuk apa, dia melakukan itu, saat anak kami berada dalam rahimnya? Kau pikir aku akan percaya padamu? Gadis yang tidak dianggap oleh keluarga Santara."


"Kau beranggapan, anak itu milikmu?"


Deg, deg.


Pertanyaan apa itu? Dada Dave bergemuruh. Tentu saja, anak itu miliknya. Ia sangat yakin, karena sampai detik ini, ia tidak pernah melupakan, bagaimana ia terbangun bersama Clarissa diatas tempat tidur, tanpa busana. Meski, ia tidak mengingat, bagaimana ia bisa berakhir dalam keadaan seperti itu.


"Jangan mengujiku, dengan omong kosongmu! Sekarang keluar!" usir Dave, bahkan menyeret Alexa dengan tangannya sendiri.


"Aku harus bagaimana, Alex? Mama terus memaksaku, untuk menikah dengan Dave. Ia mengancamku. Aku tidak mencintainya."


Klik. Alexa mematikan rekaman suara dalam ponselnya.


"Kau pasti tahu suara siapa itu?"


Tentu saja. Dave mengenalinya. Suara yang tidak akan pernah ia lupakan.


Ia membeku, hingga melonggarkan genggaman tangannya.


"Katakan dengan jelas, Alexa?" Sorot mata Dave sudah dipenuhi amarah yang tertahan.


"Clarissa mengandung anak Ellino."


Seperti jatuh dari ketinggian dan terjun dengan bebasnya. Jantung Dave terpacu, tubuhnya goyah dan hampir ambruk. Untung saja, sang sekretaris, selalu berdiri disampingnya. Ia mundur beberapa langkah, menggelengkan kepala beberapa kali. Jantungnya masih berdegup, tidak beraturan. Bagaimana bisa? Apa yang sebenarnya sedang terjadi? Tidak, tidak mungkin, gumamnya, tapi masih terdengar oleh Alexa.


"Tante Fira, memberimu obat tidur agar kau bisa tidur dengan Clarissa. Dan malam itu, tidak terjadi apa-apa. Karena, kau tidur seorang diri. Ia tidur bersamamu, saat menjelang pagi," ungkap Alexa.


Alexa kembali melanjutkan kalimatnya. Tidak memberikan kesempatan pada Dave untuk membantah.


"Ia melakukannya karena terpaksa. Saat tanggal pernikahan kalian ditetapkan, ia frustasi. Clarissa mencoba kabur bersama Ellino, tapi ibunya kembali menangkapnya."


"Aku tidak percaya! Kau pasti berbohong." Suara Dave terbata, tidak seperti sebelumnya yang selalu percaya diri.


"Ambil ini!" Alexa melemparkan dua buah flashdisk, diatas lantai. "Lihat saja sendiri, jika kau tidak percaya."


Tian membungkuk, mengambil flashdisk.


"Dari mana kau mendapatkannya?"


"Tidak penting. Satu hal, yang aku inginkan. Bebaskan Arshila! Ia tidak bersalah karena harus menanggung kesalahan suaminya."


Dave membelalak. Ia menarik Alexa untuk mendekat.


"Katakan dengan jelas?" ujarnya dengan napas naik turun.


"Clarissa bunuh diri, dan itu salahmu!"


Yah, saat kejadian Alexa berada dalam mobil yang berbeda. Ia bertemu dengan Clarissa untuk memberikan sebuah flashdisk, untuk diserahkan pada Dave. Setelah, menerimanya, Alexa kembali masuk dalam mobilnya.

__ADS_1


Malam hari. Ia sudah mendapat berita jika adiknya tertabrak. Jadi, ia meyakini Clarissa bunuh diri. Mengingat bagaimana putus asanya dia, dengan pernikahan yang tidak diinginkannya.


"Ia tidak bunuh diri!" teriak Dave. "Wanita itu menabraknya."


Alexa tidak menjawab, ia hanya memperhatikan Tian yang sedang sibuk dengan sebuah laptop.


"Tuan." Tian membalik layar laptop, agar bisa dilihat dua orang yang sedang beradu argumen.


Dave mendekat, melihat dengan jelas. Sebuah rekaman CCTV, sepertinya diambil dari parkiran.


Deg.


Arshila.


Dave membelalak, wanita yang disiksanya selama ini, turun dari taksi, saat hujan belum turun.


"Kau?" Dave menoleh pada Alexa.


"Benar, aku yang mengambil CCTV nya. Aku menyembunyikannya setelah bebas. Setelah, mendengarkan cerita Arshila di penjara. Aku merasa bersalah padanya. Untuk itu, aku melakukan apapun untuknya. Termaksud, mengmbil CCTV, mengamankannya agar tidak diambil orang lain."


"Ja ... jadi?"


Dave luruh diatas lantai beriringan dengan air matanya. Ia tertunduk, memegang dadanya. Entah kenapa, sesakit ini rasanya. Lebih sakit, saat fakta wanita itu tidak mencintainya dan memilih mengakhiri hidup.


"Aaaaaa....." Dave berteriak bercampur tangis penyesalan. Memukul dadanya berulang kali, terasa sangat sesak. Tenggorokanya tercekat akan sesuatu yang tidak bisa ia ucapkan.


"Maaf," ujar Alexa. "Aku terpaksa menyembunyikan semua tentang Clarissa."


Setelah mengatakan itu, Alexa pergi meninggalkan Dave.


Dave masih terduduk, diam, tapi wajahnya dipenuhi air mata. Ia masih terus memukul dadanya, tanpa berhenti. Ia serasa kehabisan napas, sangat menyakitkan, tersiksa karena penyesalan.


Tangis dan bayangan Arshila terlintas begitu saja. Bagaimana ia menampar dan memukulnya tanpa ampun. Wanita itu, hanya bisa menangis tanpa membuka mulutnya.


Sekarang, apa yang akan dilakukannya? Wanita pasti membencinya, sangat membencinya.


Sang sekretaris, hanya bisa memperhatikannya. Sang presdir yang begitu angkuh, kini seperti seorang raja yang kehilangan tahta, kehilangan segalanya.


"Tuan."


Sekretarisnya memberikan ponselnya yang terus berdering. Nama pak Yus, tertera pada layar.


Dave menggeleng, ia tidak sanggup berbicara sekarang.


Tian mengangkat panggilan, menyetel mode speaker.


"Tuan muda, tolong pulang ke rumah. Nyonya, meminta saya memberikan sesuatu yang sangat penting."


"Pak Yus, katakan dengan jelas. Saat ini, Tuan sedang tidak bisa mengangkat telepon."


"Nyonya berpesan, tuan muda akan membunuh anaknya sendiri. Jika tidak segera melihat, apa yang nyonya tinggalkan untuknya."


Deg.

__ADS_1


__ADS_2