Dendam Sang Presdir

Dendam Sang Presdir
Bab 49. sebuah teka-teki


__ADS_3

Di gedung, PT. Deval Power.


Dave bekerja seperti biasa, membaca beberapa dokumen sebelum membubuhkan tanda tangannya. Ia menahan egoisnya untuk urusan pribadi. Ia harus menyelesaikan pekerjaannya terlebih dahulu, sebelum mewawancarai Tian.


"Serahkan, pada Nadia. Biar dia yang menyelesaikannya."


"Baik, Tuan."


Tian keluar ruangan, memberikan dokumen pada Nadia, lalu kembali masuk.


"Sekarang, apa yang sudah kau dapatkan?"


"CCTV perusahaan sudah dibuka semua. Pada hari kejadian, Dimas datang ke perusahaan dengan mobilnya. Dan meninggalkan perusahaan sore hari dengan tergesa-gesa."


"Itu belum cukup, Tian. Aku butuh rekaman, keberadaan Arshila saat itu."


"Saya mengerti, Tuan. Saat ini, team kita sedang berusaha. Mungkin dua hari sudah ada."


"Jangan memberiku janji yang tidak pasti. Kau tahu, aku sedang menahan diri beberapa hari ini. Aku mengabaikannnya, menganggapnya tidak ada disekitarku. Aku tidak tahu bagaimana harus memperlakukannya sekarang ini."


Dave menarik napas, ia memang dilanda kebingungan dan kecemasan. Informasi dari Nadia membuatnya bingung harus berbuat apa. Ingin meminta maaf, tapi semua belum jelas untuknya. Ingin berbuat kasar seperti dahulu, tapi hati nuraninya begitu menentang keras.


"Tuan, bagaimana dengan Dimas? Apa yang harus kita lakukan padanya?"


"Biarkan saja, dulu. Biarkan dia menikmati kehidupannya diatas angin. Lagi pula, semua belum terbukti. Sekarang, katakan. Apa ada petunjuk lain?"


"Untuk sementara, belum ada, Tuan. Saya mengutus beberapa orang untuk meminta petunjuk tentang kehidupan nona di rumah itu. Tapi, semua berbeda dari yang diucapkan saudari Dimas."


"Katakan dengan jelas!"


"Semua mengatakan, nona Arshila seperti ratu di rumah itu. Ia hampir tidak pernah keluar rumah. Tapi, jika mereka berkunjung, mereka melihat nona Arshila hanya duduk atau berada dalam kamar tanpa mengerjakan apapun. Sementara, ibu Dimas mengerjakan semua pekerjaan rumah."


"Hahahaha ...... jika kamu menjadi aku? Siapa yang akan kamu percaya?"


"Menurut saya, tentu saja orang dalam rumah."


"Tepat sekali! Apa yang ditampilkan wanita tua itu, hanyalah akting saja. Orang dalam adalah orang yang lebih mengetahui dengan pasti. Dan tentunya, adik Dimas tidak mungkin berbohong."

__ADS_1


Suara ketukan pintu, membuat percakapan mereka terhenti.


"Ada apa, Nad?"


"Di lobi, ada dua orang, yang ingin bertemu dengan Pak sekretaris."


"Baiklah, ayo kita keluar." Tian mengajak Nadia keluar bersamanya.


"Kami permisi, Tuan."


Dave kembali merenung seorang diri. Ingatan tentang kejadian pagi ini, yang sempat membuatnya gusar.


Bangun dengan kepala yang terasa berat dan sedikit pusing. Ia meregangkan tubuhnya sesaat, hingga tersadar akan sesuatu yang membuatnya shock. Tidak ada sehelai benang di tubuhnya, ia tidak pernah tidur tanpa menggunakan pakaian. Ia mengedarkan pandangan, mencari Arshila untuk memastikan, apa yang sudah terjadi. Tapi, hanya ada sebuah bantal dan selimut yang sudah terlipat rapi, diatas sofa.


Pasti tidak terjadi apa-apa, karena ia yakin wanita itu pasti tidur diatas sofa. Tapi, kenapa ia telanjang? Apa merasa kepanasan dan membuka sendiri pakaiannya? Bertanya sendiri, tapi ia juga menjawabnya sendiri dengan menebak.


Untuk memastikannya, ia memilih untuk bertanya ada pak Yus. Tapi, tentu saja jawaban yang didengarnya, hanyalah kejadian seputar diluar kamar saja. Dave masih belum puas, ia masih penasaran dengan tubuhnya yang bugil. Dan satu-satunya, yang bisa memberikan jawaban hanya Arshila. Tapi, Dave ragu, akan jawaban yang diberikan oleh wanita itu.


"Tuan."


Sektretaris Tian masuk dengan tergesa-gesa, bahkan tidak mengetuk pintu. Raut wajahnya diliputi kepanikan dan cemas yang bercampur aduk.


Tian tidak langsung menjawab, ia meminta dua orang yang ikut bersamanya, maju untuk memperkenalkan diri.


"Selamat siang, Tuan. Kami dari team IT. Kami perlu memberitahu Anda beberapa hal yang sangat penting, mengenai rekaman CCTV di rumah sakit."


Dave langsung bangkit, perasaannya berubah menjadi ikut cemas.


"Duduk." Mereka berempat duduk saling berhadapan di sofa. "Katakan, ada apa?"


"Kami sudah memutar ulang rekaman CCTV yang diambil dari rumah sakit. Diantaranya, dalam ruang tindakan, UGD dan parkiran."


"Lalu, apa yang kalian dapatkan?"


"Begini Tuan, untuk ruang tindakan dan UGD kami mendapatkan bukti jika nona muda, memang berada ditempat itu, untuk mendapatkan penanganan. Tapi, seperti, yang Anda tahu, jika bukti kuat terdapat pada rekaman CCTV area parkir dan sepertinya rekaman itu sudah diambil oleh orang lain."


"Apa maksud kalian? Bukankah, kalian mengatakan sudah mengambil rekamannya!"

__ADS_1


"Kami memang sudah mengambilnya, Tuan. Kami menyadari, ternyata rekaman CCTV yang kami ambil, bukanlah dari tahun lalu, melainkan rekaman yang terjadi dari tiga bulan lalu sampai sekarang. Sepertinya, ada yang sengaja mengganti CCTV rumah sakit. Kami sudah menghubungi pihak rumah sakit, tapi mereka baru juga mengetahuinya."


Dave bangkit dengan dada yang bergemuruh, mengusap wajahnya dengan kasar. Ia berjalan menjauhi sofa, bertolak pinggang dengan napas tidak teratur.


"Siapa yang sedang bermain-main padaku? Berani mengganti CCTV digedung milikku!" Nada yang rendah tapi entah mengapa terdengar sangat menakutkan.


Dave menoleh menatap mereka, tangannya terkepal, menahan amarah yang membuncah.


"Jadi, CCTV itu diganti, setelah istriku bebas dari dipenjara?"


"Benar, Tuan."


Dave menatap tajam, pria yang baru saja menjawabnya. Ia bertambah kesal, mendengar pembenaran dari mulut pria itu.


"Cari tahu, aku ingin semuanya terbongkar. Cari tahu, siapa yang ada dibelakang semua ini. Aku yakin Dimas, tidak memiliki kemampuan untuk melakukannya."


"Baik, Tuan. Kami akan segera melakukannya."


Setelah mereka pergi, Dave kembali duduk dengan otak yang akan berpikir keras.


"Siapa? Siapa? Siapa yang begitu berani melakukannya?" Dave bangkit lagi, berjalan mondar-mandir didepan meja kerjanya. "Kenapa ia baru mengganti CCTV, saat Arshila baru bebas? Kenapa tidak dari tahun lalu?"


"Sial!" teriaknya.


Saat ia menyusun rencana untuk membalas dendam, ternyata ada musuh dengan rencana yang sempurna. Ia bingung. Apa tujuan mereka? Arshila bukan siapa-siapa dan tidak memiliki apa-apa. Apa Dimas memiliki koneksi yang begitu tinggi diluar sana? Apa dia menyembunyikan bukti, agar istrinya tidak bisa membuka mulut? Tapi, kenapa, ia bertindak saat istrinya sudah bebas? Dave mengerang frustasi.


"Sebenarnya, apa yang aku lewatkan?" teriaknya lagi, "Dia bukan siapa-siapa, apa yang kalian inginkan dari wanita itu? Apa untungnya menyembunyikan fakta, kematian Clarissa?"


Tunggu! Apa mungkin, ini semua menyangkut Clarissa? Apa ada sesuatu yang aku tidak tahu tentangnya?


Oh, Tuhan. Aku bisa gila.


Dave kembali berteriak frustasi, sangat frustasi. Teka-teki dalam pikirannya, butuh dipecahkan. Jika dirangkai kejadian dan bukti, itu belum cukup untuk memecahkan teka-teki ini.


Jika ini semua tidak menjadi jelas, maka sikap dan perasaannya pun, akan terombang ambing tidak pasti. Bicara soal perasaan, Dave memang sudah jatuh cinta dari pertama kali ia menolong wanita itu, saat dikontrakkan. Tapi, ia terus mendoktrin perasaannya. Wajah Clarissa dan bayinya, membuatnya menutup mata dan hati untuk Arshila.


Kini perlahan semua mulai terkuak, ia siap meminta maaf dan mengubah segalanya. Ia siap, menebus hari-hari yang dilalui sang istri karena derita yang diberikannya.

__ADS_1


Tapi, saat jalan itu mulai terbuka lebar, ada sebuah batu karang menghalangi, menghentikkan semua langkah Dave untuk maju. Tidak ada, jalan untuk meneruskan, kecuali mengangkat batu itu, membersihkan jalan agar terbuka lebar.


__ADS_2