Dendam Sang Presdir

Dendam Sang Presdir
Bab 22 Teror


__ADS_3

Sudah senja, matahari sudah tenggelam, suasana gelap pun menyapa. Arshila meringkuk dalam kamar, tadi siang Dave sudah berpesan padanya agar mengunci semua pintu dan jendela. Ia juga harus terus memegang ponsel, agar langsung menghubunginya jika terjadi sesuatu.


Masih jam enam, semua lampu sudah dinyalakan. Seluruh rumah menjadi terang, tapi wanita itu masih merasa was-was. Ia terus berada dalam kamar, yang terkunci, memegang pisau dapur sebagai senjata.


Drt ... Drt ...


"Hallo, Dave."


"Kamu baik-baik saja, sayang?"


"Iya, aku baik-baik saja."


"Baguslah. Hubungi aku jika terjadi sesuatu."


"Iya."


"Aku mencintaimu."


"Aku juga,"


Apa yang aku katakan. Kenapa aku menjawab seperti itu. Arshila merutuki dirinya, gara-gara ketakutan, ia bahkan sudah tidak sadar menjawab ucapan Dave.


"Kamu bilang apa?" Suara dibalik telepon mendesak untuk kembali mengatakan hal yang sama.


"Maaf, aku tadi tidak sadar. Aku benar-benar minta maaf,"


"Bukan itu yang ingin aku dengar. Aku tahu kamu memiliki perasaan yang sama denganku."


"A ... aku ..."


"Baiklah, maafkan aku. Sebaiknya, kamu segera makan malam."


Dave memutuskan sambungan telepon. Mungkin dia kecewa atau marah, pikir Arshila. Lalu meletakkan ponselnya.


Arshila tidak bisa menafsirkan isi hatinya saat ini. Mungkin ia sudah tahu, tapi terus menolak mengakuinya. Alasan status dan derajat menjadi batu sandungan baginya.


Kosa kata tidak pantas, menjadi senjata untuk meruntuhkan keinginannya. Kamu tidak pantas, sangat tidak pantas, begitulah ia mengingatkan dirinya sendiri.


Bagaimana kamu bisa bermimpi bersanding dengannya. Lihat dia! Dia memiliki segalanya, keberadaanmu hanya menjadi beban dan mencoreng nama dan keluarganya yang terhormat.


Arshila menarik napas, perlahan menghembuskannya. Benar, aku sudah benar dengan menolaknya. Kita berdua memiliki jarak yang sangat jauh dan aku tidak memiliki apapun untuk mengejarmu.


Sudah jam delapan malam, perut Arsila mulai berdendang didalam sana. Ia sudah kelaparan, tapi rasa takut mengalahkan rasa laparnya saat ini.


Mungkin, aku harus makan. Aku tidak punya energi jika kelaparan, gumamnya. Dengan perlahan, ia turun dari tempat tidur. Memegang pisau dapur dan ponsel, di kedua tangannya.


Ia memegang handle pintu, mengintip sebentar sebelum melangkah keluar. Merasa aman, ia melangkah menuju dapur. Dengan segera, ia menyambar piring, mengambil lauk yang masih bersisa siang tadi.


Mengunyah dengan cepat, matanya terus menatap diruang tamu.


Pranggg!


"Aaaa... " Arshila menjerit, saat kaca jendelanya pecah. Ia langsung meringkuk dibawah meja.


Praaang!


Terdengar suara kaca yang kembali pecah, entah dimana.

__ADS_1


Arshila menangis dengan menutup mulutnya.


Siapa. Siapa. Kenapa kalian melakukan ini padaku. Apa salahku.


Suara para tetangganya, berkumpul didepan rumah. Ia masih menangis, kedua lututnya terasa lemah, bahkan sekedar untuk berdiri dari tempatnya.


Suara keras pintu yang digendor, seseorang seperti sedang membuka dengan paksa. Arshila terus meringkuk, memejamkan mata dan kedua tangan menutup telinganya..


"Kamu baik-baik saja?"


Arshila membuka mata, si pemilik kontrakan, membantunya keluar dari persembunyian.


"Apa kamu baik-baik saja?"


Pria paruh baya itu, kembali bertanya, karena wanita didepannya tak kunjung menjawab.


Arshila hanya mengangguk, situasi saat ini membuatnya linglung. Bahkan, tubuhnya masih gemetar ketakutan.


"Kamu pindah saja dirumah sebelah, karena masih kosong. Besok, saya akan mengganti kaca jendela yang pecah."


Si pemilik kontrakkan, memanggil istrinya untuk membantu Arshila membawa beberapa barang miliknya


"Ayo, ikut saya."


Istri pemilik kontrakan, sudah mengambil selimut dan bantal. Sementra Arshila hanya mengikuti langkah wanita didepannya dengan membisu.


"Tidurlah, kami akan membersihkan serpihan kaca."


"Bu," panggilnya, "Siapa yang melakukannya?"


Siapa. Kenapa mereka terus menggangguku. Rentetan pertanyaan, menumpuk dalam benak Arshila. Tidak ada satupun jawaban, yang terlintas dalam pikirannya.


Aku hanya orang miskin, tidak memiliki apa-apa. Aku juga tidak mengenal siapapun selain mereka, aku juga tidak pernah menyinggung siapapun.


"Kecuali ...."


Mata Arshila membelalak, tersentak sendiri dengan sebuah jawaban yang terlintas dalam pikirannya.


Apa mereka sedang membalas dendam padaku. Apa ibu wanita itu yang melakukannya.


"Hiks ... hiks ... aku harus bagaimana?"


Arshila tenggelam dalam tangisnya, ingin mengadu entah pada siapa. Ingin berkeluh kesah pada teman-temannya, tidak mungkin. Mereka berada disisi belahan bumi yang lain dan pastinya mereka memiliki kesulitan sendiri.


Senyum seorang pria, terlintas. Senyum dan tutur lembut mengingatkannya. Pria yang mengaku kalau dia mencintainya.


Arshila mengambil ponselnya.


"Ada apa, sayang?"


Seperti biasa, ucapan Dave membuat Arshila merasa tenang.


"Hiks ... hiks..."


"Kamu menangis? Apa terjadi sesuatu?"


Suara panik terdengar jelas dari balik telepon.

__ADS_1


"Aku takut, aku tidak sanggup."


"Tunggu aku, jangan kemana-mana!"


Sambungan terputus, setelah memberinya perintah.


Arshila mengambil selimut, menutup tubuhnya. Ia duduk diatas lantai sembari bersandar di dinding.


Apa aku pergi saja dari sini. Tapi, kemana. Aku tidak bisa merepotkannya terus menerus. Lagi pula, hubungan kami, hanya sebatas teman.


Tapi, jika aku pergi, bagaimana dengan putriku. Aku tidak bisa lagi bertemu atau melihatnya.


Arshila berada dalam kebimbangan. Ia tidak bisa melanjutkan hidupnya, jika terus mendapatkan teror.


Di depan, suara para tetangga seperti tengah berdebat. Mereka seperti sedang menyerang satu pihak.


"Pak Amran, sebaiknya mengusir perempuan itu."


"Iya, betul." Mereka yang memiliki pendapat yang sama, menyuarakan dengan tegas.


"Ibu-ibu, tenanglah. Kenapa saya harus mengusirnya? Kasihan dia."


"Pak Amran, jangan mengasihaninya. Dia itu perempuan tidak benar. Tiap hari, membawa pria yang berbeda. Mungkin saja, kejadian malam ini karena dia mengganggu pria beristri."


"Iya, betul, Pak. Tadi pagi, saja membawa pria masuk dalam rumah. Entah apa yang mereka lakukan."


"Pokoknya, Pak Amran harus mengusirnya. Jika tidak kami sendiri yang akan menyeretnya keluar."


Para tetangga yang didominasi para ibu-ibu, semakin mendesak pak Amran, untuk segera mengambil tindakan.


Ditengah perdebatan, suara mobil berdecit didepan mereka. Seorang pria turun, dengan tampak terburu-buru. Mengabaikan tatapan disekitarnya, ia langsung melangkah menuju rumah kontrakkan Arshila. Rumah dua petak, yang didepannya serpihan kaca sudah berserakan.


"Kemana perginya wanita yang tinggal disini?"


Pertanyaan ditujukan kepada istri sang pemilik kontrakkan.


"Kami pindahkan dia di rumah sebelah."


Istri pak Amran, menunjuk rumah disebelah yang hanya jaraknya mungkin sekitar 1 meter saja.


Dave berterima kasih, lalu berjalan pergi. Ibu-ibu disekitarnya, semakin emosi, mereka meluapkan kemarahan dengan menatap tajam sang pemilik kontrakkan dan kembali meminta untuk mengusir Arshila.


"Shi," panggilnya, saat masuk dalam rumah. Ia membuka pintu kamar, dilihatnya Arshila duduk diatas lantai.


"Dave."


Pria itu memeluknya dengan erat, rasa cemas tercetak jelas pada raut wajah Dave. Tapi, dibalik pelukannya, Dave menyeringai licik.


Ratuku, menangislah! Dalam istanaku nanti, kau tidak hanya akan menangis.


Keduanya masih berpelukan, saat para tetangga menerobos masuk dalam rumah.


"Lihat, kan! Kami sudah bilang, mereka pasti sedang melakukan hal tidak senonoh."


Dave melerai pelukan, kembali menyetel raut wajah yang penuh kecemasan.


"Ada apa, ini?" Melindungi Arshila dibelakang tubuhnya.

__ADS_1


__ADS_2