Dendam Sang Presdir

Dendam Sang Presdir
Bab 43. Kisah dari Mira


__ADS_3

Dave sudah di perusahaan, menunggu dengan kesal. Karena, Nadia sempat ijin akan terlambat datang. Pria itu mondar mandir tidak jelas, mengoceh, entah memarahi siapa.


"Telpon, dia. Katakan, untuk secepatnya berada disini."


Tian merogoh ponselnya, jika dihitung, mungkin ini sudah sepuluh kali ia menelpon Nadia. Sejak diperjalanan, hingga sekarang.


"Hallo, Pak."


"Apa kau bisa datang dengan cepat?Hah!" Tian menjadi kesal juga, gara-gara Nadia. "Lima menit, kau sudah berada disini."


Sambungan terputus.


"Lima menit lagi, Tuan," ujar Tian, padahal Nadia tadi tidak sempat menjawab.


"Apa?? Lima menit??" Dave melotot, terlalu lama baginya dengan waktu lima menit itu.


Dave menyerah, ia memilih duduk di sofa sambil bersandar. Duduk merenung, ucapan Tian dan rekaman suara Arshila membuatnya merasa cemas.


Bagaimana jika bukan dia? Apa yang harus aku lakukan?


Kurang lima menit, Nadia sudah berada didepan pintu ruangan presdir. Mengatur napas dan penampilannya sebelum mengetuk pintu. Mengingat bagaimana perjuangannya mengejar waktu lima menit itu untuk tiba.


Tian menelpon, saat ia baru saja menyelesaikan urusannya. Mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi, untuk pertama kalinya. Bahkan, melewati beberapa lampu merah. Ia tidak akan heran, dengan datangnya surat tilang esok hari.


Tok....tok....tok....


Tian membuka pintu, melotot menatapnya tanpa bicara.


"Maaf, aku ...."


"Masuk." Tian memotong dengan cepat.


Nadia menunduk, berjalan dengan was-was. Sebenarnya ada apa, sih? Kenapa mendadak memanggilku? Nadia bergumam, anak matanya melirik sang presdir.


"Sudah berapa lama kau menikah?" Dave berjalan, satu langkah berhenti tepat didepan Nadia.


"Setahun lebih, Tuan." Nadia hanya menunduk, tanpa berani menatap.


"Lalu, bagaimana dengan tugas yang aku berikan? Kau tidak lupa, kan?"


"Tidak, Tuan."


"Lalu??" Dave kembali duduk diatas sofa.


"Saya masih belum yakin, Tuan."


"Katakan dengan jelas, Nadia."


"Sa ... saya ...." Suara Nadia terbata, ia meremas kedua tangannya."


"Jawab!!" teriak Dave dengan penuh amarah, membuat Nadia terlonjak seakan ingin menangis.


"Arshila, tidak bisa mengemudi mobil, Tuan. Dia hanya bisa, mengendarai sepeda motor."


Deg.

__ADS_1


Saat itu juga, jantung Dave seakan berhenti berdetak. Ia bangkit, memegang bahu Nadia.


"Apa maksudmu? Nadia, tatap aku!!"


"Maafkan saya, Tuan. Saya ingin segera memberitahu Anda, tapi saya ingin membuatnya jelas terlebih dahulu. Ibu Dimas tanpa sengaja mengatakan itu kepada saya, saat ia sedang sakit. Saya akhirnya, bertanya pada adik Dimas untuk mengkonfirmasi, ternyata ia mengatakan hal yang sama."


Kedua kaki, Dave menjadi lemas, ia seperti berpijak diatas jely. Tubuhnya goyah, hilang keseimbangan. Ia langsung meringsut diatas lantai.


Bayangan akan wajah Arshila yang penuh air mata, memenuhi pikirannya. Wajah yang menyedihkan dan putus asa.


"Tuan."


Sekretaris Tian segera memegang tubuh presdir yang tiba-tiba melemah.


"Maafkan saya ,Tuan. Saya masih harus mencari tahu lebih banyak. Tapi, semakin kesana, hati saya semakin sakit dan bingung, harus mempercayai siapa." Nadia terisak dan ikut terduduk diatas lantai. "Saudara Dimas berkata, Arshila hidup seperti seorang pembantu di rumah mereka. Bekerja tanpa mengenal waktu dan lelah, bahkan saat hamil ia masih melakukan itu."


Dave kembali menatapnya, dengan pandangan yang berbeda.


"Saya bingung harus percaya pada siapa, Tuan. Karena suami dan ibu mertua saya, mengatakan hal berbeda."


Entah mengapa, oksigen dalam ruangan seperti menipis. Dave memukul dadanya yang terasa sangat sesak.


Tian segera bangkit, mengambil segelas air putih, lalu memberikannya. Dave menutup mata, berusaha menenangkan hati dan pikirannya yang syok.


"Nadia, apa kau siap melepaskan suamimu, jika dia bersalah?"


"Tuan, saya ...." Nadia menangis, tidak mampu melanjutkan kalimatnya. Ia sangat mengerti maksud ucapan sang presdir.


"Kau sudah terlibat terlalu jauh dan kau harus bersiap tentang konsekuensinya." Dave menoleh. "Panggil saudara Dimas, sekarang. Aku butuh jawaban yang pasti."


Sementara, Dave masih terduduk diatas lantai. Merenungkan banyak hal, didalam pikirannya. Mulai saat pertama, wanita itu menjadi tersangka. Ia terus menangis, tapi tidak mau mengatakan apapun. Begitu juga dipersidangan, hanya air mata yang keluar dari pelupuk matanya. Ia bahkan tidak membela diri, saat suami dan ibu mertuanya bersaksi untuk menyalahkannya.


Apa sebenarnya yang ada dalam pikiran wanita itu? Mengapa tidak ada sepatah kata yang keluar dari mulutnya, untuk membela diri? Apa dia sedang menyesali perbuatannya atau ia sedang menutupi sesuatu dengan tangisnya? Dave bertanya-tanya dalam batin yang bergejolak. Perasaannya kini jadi terombang ambing, tanpa ada tempat untuk berlabuh.


Setelah cukup tenang, ia kembali duduk di sofa, dibantu oleh Tian yang masih memegangi tubuhnya.


"Aku harus bagaimana, Tian? Aku sungguh tidak tahu, harus berbuat apa sekarang. Aku bingung, apakah harus percaya atau tidak perkataan Nadia."


Tes.


Tes.


Tes.


Sang predir yang begitu dingin, tegas dan tidak banyak bicara, kini menitikkan air mata didepan sekretarisnya. Ia bahkan memegang dadanya, yang terasa sangat menusuk.


"Tuan, bagaimana jika kita kembali menyelidikinya? Saya akan memulai dengan CCTV rumah sakit, tempat nona Arshila berada waktu itu."


Dave belum menjawab, ingatannya mundur dengan cepat. Yah, wanita itu berada diperjalanan menuju rumah sakit karena kontraksi, saat itulah ia menabrak Clarissa.


"Lakukan, Tirta. Semuanya, jangan melewatkan apapun."


"Baik, Tuan. Saya segera melaksanakannya."


Tian undur diri, disaat yang sama Nadia sudah datang bersama Mira.

__ADS_1


Nadia menjemput Mira, di kampus. Beruntung, hari ini ia memiliki jadwal kuliah. Jika tidak, ia harus memutar otak untuk menjawab semua pertanyaan ibu mertuanya.


"Duduk," perintah Dave.


Mira menatap kakak iparnya, karena aura pria didepannya begitu menakutkan.


Nadia meraih tangan adik iparnya, menggenggam seolah sedang berkata, tenanglah, aku ada disini.


Kedua wanita itu pun duduk, berseblahan.


"Apa kau tahu siapa, aku?"


"I ... iya, Tuan. Kak Nadia sudah mengatakannya."


Tadi di kampus, Nadia mengatakan bahwa atasannya ingin bertemu. Karena tergesa-gesa, Nadia hanya menjanjikan akan memberi uang jajan lebih, tanpa memberi tahu alasannya.


"Ceritakan semua yang terjadi di rumahmu, saat Arshila masih menjadi kakak iparmu." Dave meletakkan segepok uang diatas meja. "Apa cukup?"


Mata Mira berbinar, seumur hidup ia tidak pernah melihat uang sebanyak itu. Tanpa pikir panjang, ia menganggukkan kepala.


"Apa kau bisa tutup mulut Mira?"


"Bisa, Tuan. Jangan khawatir, percaya sama saya."


"Bagus, mulailah dari awal."


Kisah pun dimulai, tidak jauh berbeda dari apa yang dikatakannya pada Nadia. Hanya saja, kali ini ceritanya lebih detail. Bagaimana perlakuan sang ibu pada menantunya. Sikap Dimas yang hanya diam dan membiarkan. Begitu juga, sikap Mira dan adiknya yang katanya hanya ikut-ikutan saja.


"Lalu, apa benar Arshila tidak bisa mengendarai mobil?"


"Benar, Tuan. Kak Shi, hanya bisa mengendarai sepeda motor. Ia juga tidak pernah belajar, karena ibu dan mas Dimas melarangnya keluar rumah."


Deg.


Jantung Dave berdegup kencang, ia membuang pandangan sejenak.


"Terus, bagaimana dengan ia di penjara? Apa kau tahu sesuatu?"


"Masalah itu, sampai saat ini saya juga tidak mengerti, Tuan. Ibu melarang kami membahasnya dan tidak ikut campur. Hanya saja, seingat saya. Waktu itu. Kak Shi ke rumah sakit menggunakan taksi yang dipesan oleh adik saya, Naya."


Dave tidak bisa berkata-kata lagi, bibirnya menjadi kelu. Ia menunduk, bulir-bulir kesedihan jatuh diatas lantai, tanpa disadarinya. Ada sesuatu yang mengganjal dalam hati yang membuatnya ingin berteriak sekuat tenaga.


Arshila, maafkan aku.


Sebelum keluar ruangan, Dave kembali memberikan sejumlah uang kepada Mira, tapi itu tidak gratis. Karena, gadis itu harus menutup rapat mulutnya, sebelum semua terungkap.


Kini ia, bergegas pergi, menuju rumah sakit. Mengendarai dengan kecepatan yang tidak masuk akal sambil meneteskan air mata.


Terus berjalan, menyusuri koridor rumah sakit, mengabaikan para petugas dan petinggi rumah sakit, yang memberi hormat.


Brak!!!


Semua mata menoleh padanya, saat pintu terbuka dengan keras. Ada wajah yang sebagian tertutup perban, wanita itu menatapnya dengan dingin.


"Katakan, apa kau bukan orangnya? KATAKAN!!"

__ADS_1


__ADS_2