Dendam Sang Presdir

Dendam Sang Presdir
Bab 35. Ancaman yang nyata


__ADS_3

Di dalam rumah, para pelayan diminta untuk menyiapkan makan malam, karena malam ini tuan muda kedatangan tamu istimewa.


Arshila yang sudah membenci Dave, mulai bersikap masa bodoh. Tidak peduli, dengan tamu istimewa, entah wanita atau bukan, ia tidak peduli.


Dave sudah turun dari kamarnya, memperhatikan Arshila dengan senyum liciknya.


"Kami akan makan malam, di balkon lantai tiga. Suasana disana sangat indah, jadi siapkan secepatnya."


Para pelayan kembali bergerak, sebagian diantara mereka sudah berlari menuju tangga untuk menyiapkan meja diatas. Arshila sendiri mendapat tugas, mengantarkan makanan dilantai atas.


Dave sedikit kesal, dengan sikap wanita itu yang tampak biasa-biasa saja.


"Ibu Lin, minta koki membuatkan makanan khusus anak-anak."


"Baik, Tuan."


"Dan kamu, istriku sayang." Meraih pinggang Arshila, untuk mendekat. "Kamu hari ini bertugas menemaniku."


Arshila hanya mengangguk, sentuhan Dave sudah tidak memiliki arti baginya.


Meja sudah tersedia, para pelayan sudah mengatur hidangan diatas meja. Dua kursi saling berhadapan, diatur sedemikian rupa.


"Kalian pergilah. Biar istriku yang melayani kami." Dave tersenyum licik.


Para pelayan sudah menunggu didepan pintu, bersiap menyambut tamu istimewa tuan muda mereka. Ada rasa iba, yang ditujukkan pada Arshila. Bagaimana bisa, tuan muda mengundang wanita lain dan meminta istrinya melayani mereka.


Tapi, mana wanita lain itu? Mereka saling pandang, saat Tian melangkah masuk dengan seorang anak kecil dalam pelukannya. Apa anak itu tamunya?"


"Tuan."


Arshila menoleh, detik berikutnya ia membelalak. Jantungnya seakan berhenti berdetak.


Nadin, putriku.


"Apa yang kau lakukan?" teriak Arshila.


"Hei, kau mengagetkan tamuku." Dave masih tersenyum.


"Silahkan, duduk putri kecil."


Tian mendudukan Nadin, lalu berdiri disampingnya.


"Kamu mau makan apa, putri kecil? Paman sudah menyiapkan semuanya."


"Mama," isaknya.


"Oh, sayang." Dave bangkit, mengambil Nadin, mendudukannya dipangkuan. "Jangan menangis, paman tidak suka melihat air mata."


Arshila sudah berderai air mata, ia mengepalkan tangan dengan kuat. Rasa takut menguasai tubuhnya, bagaimana jika Dave menyakitinya?


"Putri kecil, ibumu ada didepan." Dave menunjuk Arshila. "Sapalah! Dia sangat merindukanmu, bahkan sudah ingin terjun dari lantai ini."


"Mama." Nadin masih menagis mencari ibunya.

__ADS_1


"Cup ... cup ... cup, diamlah. Paman akan menyuapmu."


"Dave, aku mohon tolong jangan sakiti dia. Aku akan patuh padamu. Tolong, lepaskan dia!"


"Hahahaha .... lihat sayang. Ibumu menangis!"


Dave berdiri diujung balkon, tempat Arshila berdiri untuk jatuh ke bawah.


"Putri kecil, tempat ini cantikkan. Lihat dibawah, paman punya taman bunga."


"Aku mohon, jangan sakiti dia. Aku mohon, hiks ... hiks ...."


Arshila sudah bersujud, menangis pilu akan putrinya yang berada diambang kematian.


"Hahahaha, memohonlah sayang. Aku suka melihatnya."


"Aku akan patuh, aku akan melakukan semua perintahmu. Tolong, lepaskan dia. Aku berjanji, tidak akan berbuat bodoh lagi. Aku janji akan terus tinggal ditempat ini, sampai aku mati."


Arshila menunduk, air mata yang mengalir deras semakin tak terbendung. Jika kematiannya adalah harga untuk nyawa putrinya ia rela. Lagi pula, hidup terlalu lama untuk apa, tanpa siapa-siapa disisinya.


Dave tersenyum puas, melihat istrinya bersujud tidak berdaya. Ia kembali duduk dan membiarkan putri kecil Arshila duduk didepannya.


"Makanlah, sayang. Paman sudah menyiapkan makanan khusus untukmu."


"Hei, kamu. Suapi tamuku!"


Arshila langsung bangkit, menghapus air matanya, meski masih terisak.


"Sayang, buka mulutmu. Biar ibu, suapi."


"Mama."


"Nadin, sayang. Ini ibu, Nak." Arshila terisak. "Tidak bisakah, kamu memanggilku ibu? Ibu merindukanmu, biarkan ibu menyuapimu sekali saja. Hiks ... hiks ...."


Arshila mengarahkan sendok, tapi lagi-lagi hanya mendapatkan penolakan.


Dave memberi isyarat, agar membawa anak itu pergi.


"Tolong, biarkan aku memeluknya sekali saja." Arshila meraih tangan, sekretaris Tian. "Aku mohon, sekali saja."


Dave menarik tangan Arshila, mencengkramnya dengan kuat. Lalu, memberikan Tian isyarat, agar segera pergi meninggalkan balkon.


"Hiks ... hiks ... Nadin." Arshila pasrah, menatap putrinya pergi tanpa memeluknya.


Maafkan ibu, Nak. Karena, melibatkanmu. Tumbuhlah dengan baik, tanpa ibu.


Plak.


Satu tamparan, mendarat di wajahnya. Terasa perih, tapi hatinya yang terasa sakit mengalahkan perih di wajahnya.


"Kamu sudah melihat apa yang bisa aku lakukan. Jadi, ini peringatan terakhirku, Arshila."


Arshila mengangguk, menangis tidak berdaya. Darah segar disudut bibirnya, tidak terasa baginya.

__ADS_1


Tuhan, aku pasrah dengan takdirmu. Jika kau tidak memberiku pilihan lain, tolong, cabut nyawaku.


Arshila terkulai lemah, diatas lantai. tangis yang tidak berhenti dan sakit hati yang menusuknya semakin dalam.


Dave menatapnya dengan senyum puas, kembali menyiram tubuh Arshila dengan wine.


"Patuhlah, sayang dengan begitu, semua akan baik-baik saja."


Suara tawa menggelegar, tak berhenti meski ia perlahan meninggalkan Arshila. Tawa yang merendakan dan menghina istrinya. Suara tawa dengan makna kemenangan penuh menjadi milikinya.


Di halaman rumah, Nadia yang merasa cemas dari tadi, perlahan lega. Tian muncul dengan memeluk putrinya.


"Sayangku."


Nadia langsung memeluk putrinya.


"Mama."


"Pulanglah!"


"Tunggu sebentar. Kamu belum menjelaskan apapun padaku."


"Pulanglah, Nadia. Suamimu sebentar lagi sampai di rumah."


Tian kembali masuk rumah. Sementara, Nadia tidak bisa berbuat banyak selain mengikuti perintah.


Masih jam delapan malam, Nadia mampir disebuah rumah makan. Menunggu di halaman rumah membuatnya kelaparan, padahal pelayan rumah sudah menyiapkan makanan untuknya. Tapi, siapa yang berselera dengan situasi seperti itu.


Rasa penasaran juga menggelitik pikirannya, tentang mantan istri suaminya, yang tiba-tiba berada dalam rumah Dave. Apakah wanita itu bodoh? Bisa-bisanya, masuk dalam kandang singa untuk mengantarkan nyawa.


Tidak habis pikir, bagaimana wanita itu berakhir disana. Ternyata, rasa penasaran bisa membuat seseorang mati mendadak, saking frustasinya.


Lagi-lagi, Nadia tidak berselera makan. Makanan sudah tersaji, tapi ia hanya mengaduknya dengan sendok. Pikirannya mengembara mencari jawaban. Ia menatap putrinya, bertanya dalam hati. Apa putrinya bisa menjawab jika ia menanyakan keadaan didalam tadi? Hahaha, tertawa sembari memaki dalam hati. Dasar, bodoh. Apa yang aku harapkan dari anak yang berusia 1 tahun lebih.


"Nadin, mama suap, ya?"


Nadia mengarahkan sendok. Perlahan, Nadin mulai mengunyah. Ia menatap putrinya, dengan pikiran yang masih berkelana.


Sebenarnya, apa yang terjadi? Kenapa wanita itu berada disana? Nadia tidak mengetahui rencana Dave. Ia hanya mematuhi perintah, untuk mendekati Dimas kala itu.


Ia kembali menyuapi putrinya, sementara ia sendiri masih tidak berselera. Hanya meminum jusnya, melalui sedotan.


Setelah satu jam, Nadia akhirnya pulang ke rumah. Di halaman rumah, mobil Dimas tidak terlihat, berarti sang suami belum pulang. Nadia segera turun, menggendong putrinya yang sudah tertidur.


"Kamu sudah pulang?" Ibu Dimas menyambutnya.


"Ibu." Nadia menatap mertuanya, entah mengapa pikirannya tersentil sesuatu. "Apa ibu bisa mengemudi mobil?"


"Tidak, motor saja ibu tidak bisa. Memang, kenapa?" Membalas tatapan sang menantu dengan penuh selidik.


"Aku berpikir untuk membelikan ibu mobil, tapi sudahlah. Aku masuk dulu."


Ibu Dimas girangnya minta ampun, menantu kesayangannya mau membelikannya mobil baru. Beda dengan Nadia, yang justru terjebak dalam praduga.

__ADS_1


Tidak mungkin, aku pasti salah. Ibu pasti berbohong.


__ADS_2