Dendam Sang Presdir

Dendam Sang Presdir
Bab 81. Harapan orang tersayang


__ADS_3

Malam yang cukup tenang dan sepi, seperti malam-malam yang telah terlewati. Ruang perawatan dengan fasilitas lengkap. Ada seseorang didalamnya, tapi ia hanya membisu dan menatap wajah sang istri.


Tidak ada, kalimat penyesalan dan permintaan maaf, seperti sebelumnya. Ia hanya terus menunggu dengan harapan yang besar. Mungkin saat itu, ia akan langsung berlutut dan meminta maaf dengan tulus.


Dave kembali duduk seorang diri, disisi brankar. Seperti biasa, pak Yus akan pulang, saat menjelang malam dan memastikan makanan sudah disiapkan diatas meja.


Sekretaris Tian dan Nadia, juga sudah pulang. Besok mereka akan kembali dan kemungkinan akan menginap, bersama putrinya. Ya, Dave akan melakukan segala cara, agar sang istri segera bangun dari tidur panjangnya.


Dave memutar tubuhnya, menatap makanan yang sudah disiapkan pak Yus. Sebenarnya, ia tidak lapar dan tidak berselera. Tapi, ia membutuhkan tenaga, untuk menemani Arshila.


Baru satu sendok, masuk dalam tenggorokannya. Ia sudah merasa mual. Ia hanya bisa mendorong paksa makanannya, dengan air putih. Lalu, kembali menghabiskan makanannya, dengan terpaksa.


Pintu terbuka, Dave sama sekali tidak menoleh. Dari suaranya yang ketus, ia sudah bisa menebak.


"Mama, heran kamu masih bisa menelan makanan."


Rachel melewati putranya, ia duduk disisi brankar menatap menantunya. Begitu juga Liam, yang tidak menyapa Dave. Padahal keduanya, lama tidak bertemu.


Arshila terbaring, dengan perlengkapan medis menempel ditubuhnya. Wajahnya seperti tersenyum, kedua matanya terpejam dengan rapat. Rachel merasa iba dan merasa bersalah, karena meninggalkan menantunya. Ia pikir, hubungan mereka sudah membaik, sebelum ia berangkat.


Liam menepuk-nepuk punggung sang istri, saat wanita itu menagis. Ia baru pertama kali, melihat menantunya. Sebab, Dave menikah diam-diam tanpa memberitahu orang tuanya.


Liam meninggalkan sang istri, yang masih terisak menggenggam tangan menantunya. Ia mendekati putranya, yang sudah menyelesaikan makan malam.


"Kamu tidak ingin mengatakan sesuatu pada ayahmu?"


Dave membisu. Egonya terlalu tinggi, untuk memeluk ayahnya. Ia memang salah dan akan berusaha menebusnya. Tapi, ia tidak ingin disudutkan terus menerus. Karena, baginya semua sudah terlambat. Bahkan, jika ingin membunuhnya sekalipun, kesalahannya tidak akan hilang begitu saja.


"Papa, tidak akan menyalahkanmu. Papa hanya ingin mendengar, rencana apa untuk istrimu, saat ia bangun nanti?" lanjut Liam.


"Aku akan meminta maaf dan memperbaiki semuanya. Aku akan berusaha menebus kesalahanku," lirih Dave.


"Bagaimana jika dia meminta cerai?"


Dave menatap tajam ayahnya. Tidak suka, dengan kalimat itu.


"Aku tidak akan pernah menceraikannya!" tegasnya, dengan penuh penekan.


"Tapi, Papa rasa kamu harus melepaskannya, dan mulai dari awal lagi. Jika kamu masih mengikatnya dengan pernikahan. Kata maaf, akan sulit kamu dapatkan."

__ADS_1


"Aku akan memulainya dari awal, tanpa ada perpisahan." Dave bangkit. "Aku tidak akan menyerah, meski butuh waktu bertahun-tahun."


Ia melangkah keluar ruangan. Amarahnya terpancing, dengan ucapan sang ayah.


Duduk dibangku, yang banyak dijumpai, ditaman rumah sakit. Udara malam, mungkin bisa mengikis amarahnya, walaupun sedikit saja.


Dave selalu marah, saat kata cerai, terdengar dipendengarannya. Ia mengingat, sudah berapa kali Arshila meminta cerai. Kini sang ayah, meminta hal itu darinya. Tidak, sampai kapan pun, ia tidak akan melakukannya.


Ia sudah bertekad, untuk memulai dari awal. Menebus semua kesalahannya, dengan cara apapun. Jika ia harus bersujud, ia akan melakukannya.


Udara malam, yang menusuk tulang. Dave masih duduk, bertemankan sepi. Terlalu banyak, yang harus ia renungi dan pikirkan.


Bagaimana jika semua usahanya, berakhir dengan penolakan? Apa yang akan dilakukannya?


Ia akui, kesalahannya terlalu besar. Tapi, ia berharap, Arshila memberinya satu kesempatan.


Dave kembali masuk dalam rumah sakit. Ketenangannya terganggu, dengan kehadiran orang tuanya. Bukannya tidak suka, tapi mendengarkan ceramah yang sama dan menyudutkannya, membuatnya tidak nyaman.


"Duduklah. Ada yang ingin Papa, katakan!"


Dave menurut, memperhatikan sang ibu sejenak yang belum berpindah tempat.


"Mulai besok, Papa akan mengambil alih perusahaan. Kamu fokuslah, pada kesehatan istrimu. Sebenarnya, Papa berencana untuk menghukummu. Tapi. Papa pikir, kamu sudah mendapatkannya sekarang."


Dave hanya membisu. Yah, ini adalah hukuman berat untuknya. Menunggu dalam ketidakpastian dengan beban pikiran dan hati yang menggunung. Rasa bersalah dan penyesalan yang menggorogi hatinya, seperti memikul sebuah batu besar dipundaknya.


Dan hukuman ini, akan terus berlanjut sampai ia mendapatkan kata maaf, dari sang istri.


Tapi, bagaimana jika, kata maaf, memerlukan pengorbanan? Bila hanya harta, ia akan mewujudkannya.


Namun,


"Bagaimana jika dia meminta cerai?"


Deg.


Dave mengusap wajahnya, bagaimana? Bagaimana?


Ia tidak sanggup melakukannya, memikirkannya saja, ia sudah seperti akan mati.

__ADS_1


"Pa, aku takut!" Air matanya menetes. Pertama kali, dalam hidupnya ia menangis didepan ayahnya.


Liam memeluk putranya. Sebagai lelaki dan sudah menikah, ia paham bagaimana perasaan putranya saat ini.


"Apa kamu mencintainya?"


"Aku mencintainya. Sangat mencintainya. Perasaanku lebih besar dari sebelumnya."


Yah, sebenarnya Dave sudah jatuh cinta pada Arshila. Tapi, dendam dan akal sehatnya tidak mengijinkan.


"Lakukan, apa yang harus kamu lakukan untuk menebus kesalahanmu. Tapi, jika dia sama sekali tidak bahagia. Papa harap, kamu mau melepaskannya. Dan mulailah, dari awal, seperti pertama kalian bertemu."


"Aku tidak yakin. Jika aku melepasnya, ia akan sulit untuk aku raih kembali."


"Percayalah. Kalian pasti berjodoh. Kamu hanya perlu berusaha dan buktikan kamu benar-benar mencintainya. Bukan karena rasa bersalah atau penyesalan. Tapi, karena kamu sangat mencintainya."


Dave mengeratkan pelukannya. Beban dihatinya sedikit berkurang. Ia sejenak merasa tenang dan percaya, akan pilihannya nanti.


Rachel yang memperhatikan mereka, kembali menatap menantunya.


"Bangunlah, sayang. Beri kesempatan pada putraku. Mama tidak mau kehilanganmu. Tolong, bangunlah!"


Harapan Rachel, ia ingin Arshila tetap menjadi menantunya. Apalagi, adanya cucu dalam rahim Arshila, membuatnya tidak ingin melepaskannya.


Putranya adalah tipe pria, yang sulit untuk jatuh cinta. Setelah kepergian, Clarissa, ia bahkan sudah tidak memiliki harapan, untuk memiliki cucu. Kini Dave, memiliki Arshila sebagai istrinya. Meski, cara dan niat awalnya adalah salah.


Tapi, apakah salah, jika ia berharap lebih? Ia ingin kesempatan diberikan pada putranya. Sudah terlalu lama, ia menunggu. Jika sang menantu lepas darinya, mungkin harapannya akan kembali pupus.


"Ma, pulanglah! Biar aku yang menjaganya."


"Tidak. Sebaiknya, kamu yang pulang. Kamu sudah terlalu lelah. Biar papa dan Mama yang menggantikanmu."


"Tapi, Ma. Bagaimana jika Shila bangun dan tidak melihatku?"


"Itu yang Mama harapkan. Lebih baik dia tidak melihatmu, saat membuka mata. Mungkin, dia akan kembali tertidur, melihat matamu yang memerah dan wajahmu yang dipenuhi bulu."


Dave melotot, apa sekarang waktu yang tepat untuk bercanda?


"Dengarkan, ibumu. Pulanglah dan istiraharat. Kamu perlu, memperbaiki penampilanmu."

__ADS_1


Ayahnya menimpali.


__ADS_2