
Sebuah keluarga, yang setahun ini selalu dipenuhi dengan keharmonisan. Canda tawa hanya terdengar didalamnya. Dua sejoli yang selalu sibuk bekerja, sebisa mungkin meluangkan waktu untuk keluarga kecil mereka.
Tapi, saat kehidupan lalu mulai terkuak, Nadia mulai dilanda kecemasan. Berandai-andai, jika kehidupan Arshila menimpanya, apakah keluarga ini akan memperlakukannya dengan sama. Bukan hanya itu, sikap ibu Dimas selama ini kepadanya yang begitu baik, membuat Nadia berpikir, jika itu adalah kepalsuan.
Siang tadi, di perusahaan. Sektetaris Tian memberinya tugas baru. Memberitahukan suami dan ibu mertuanya, jika Arshila berada di rumah presdir. Dia sudah tahu akan hal itu, tapi memberitahukan suaminya, untuk apa? Pertanyaan, yang langsung dijawab Tian detik itu juga.
"Lakukan seperti biasa, tanpa bertanya. Cukup perhatikan mereka."
Hanya kalimat itu yang keluar dari mulut Tian. Nadia sudah seperti musuh dalam selimut. Ia harus memata-matai suaminya sendiri, tanpa alasan yang jelas.
"Katakan, seperti yang aku katakan padamu. Ingat, Nadia jangan mencoba untuk menjadi penghianat karena perasaan pribadimu. Kau tahu betul, akibat yang akan kau tanggung nantinya."
Sebelum pergi, Tian kembali mengumbar ancaman, yang membuat Nadia ketakutan dan hanya bisa menuruti perintah.
Nadia sudah cukup terguncang dengan fakta kehidupan mantan istri suaminya itu. Kehidupan bagaimana Arshila, diperlakukan dulu. Tapi hal itu, tidak membuat rasa cintanya berkurang. Karena sebenarnya, dalam hal ini ibu Dimas lah yang bersalah. Tapi, kini ia merasa cemas, setiap Tian memberinya perintah baru. Perintah yang membuatnya selalu merasa bersalah.
Di teras rumah, Nadia dan ibu Dimas duduk bersebelahan. Menikmati secangkir teh, di malam yang sedikit berangin. Keduanya mengobrol seperti biasa, layaknya ibu dan anak.
"Nad, Apa kamu tidak ingin punya anak sendiri?" ibu meletakkan cangkirnya.
"Aku belum memikirkannya, bu. Lagi pula, Nadin masih kecil dan aku masih sibuk bekerja."
"Ibu tahu, Nak. Tapi, akan lebih baik, jika kamu punya anak kandung sendiri."
Nadia menerawang, memperhatikan bintang yang sedang bersinar diatas sana. Masalah anak, ia memang belum memikirkannya. Lagi pula, ia sudah menganggap Nadin putri kandungnya.
"Aku akan memikirkannya, bu. Jika aku hamil, mungkin aku harus berhenti kerja. Mas Dimas sekarang, punya jabatan. Dia bisa menghidupi keluarga kita."
Ibu tersentak, matanya membelalak karena kaget, sepertinya dia sudah salah bicara. Ia kembali meraih cangkir, menyesap perlahan. Lalu, kembali meletakkannya dengan asal.
"Kenapa harus berhenti, karir kamu sedang bagus. Ada pengasuh yang akan membantumu, Nadin juga sudah setahun lebih, ibu bisa mengurusnya."
"Bukan itu, masalahnya, bu. Aku bisa hamil dan mengambil cuti. Tapi saat ini, suasana hati presdir sedang memburuk. Ia bisa memintaku mengundurkan diri."
"Hah? Kok bisa? Memangnya, ada apa dengannya?" Suara ibu sedikit meninggi, tidak terima dengan aturan yang tidak masuk akal. Nasib karyawan tergantung pada suasana hati sang presdir. Aturan apa, itu? Begitulah arti nada tingginya.
"Ibu lupa. Sejak tunangannya meninggal, presdir berubah. Ia menakutkan dan sangat dingin."
"Tu ... tunangan? Maksudmu, yang ditabrak lari?" Suara ibu terbata, bahkan menelan salivanya.
"Benar, bu. Gadis yang ditabrak mbak Shila. Tapi aku heran, kenapa dia berada di rumah presdir?"
"Siapa yang berada di rumah presdir?"
Nadia dan ibu menoleh, Dimas sudah berdiri didepan pintu.
__ADS_1
"Mas." Nadia meraih tangan suaminya, meminta duduk disebelahnya. "Mbak Shila, aku melihatnya di rumah presdir."
Degup jantung Dimas, menjadi tidak beraturan. Seperti, ada sebuah benda yang tiba-tiba jatuh menimpanya. Ia berusaha setenang mungkin, menghadapi istrinya yang notabene adalah sekretaris presdir di perusahaan.
"Shila, berada di rumah atasan kalian?" Ibu Dimas panik dan cemas, terlihat dari raut wajahnya yang sudah berubah. "Kenapa dia berada disana? Apa yang sedang dilakukannya?"
"Ibu," teriak Dimas dengan nada rendah, tapi menatap tajam dengan penuh arti.
"Ibu hanya takut, dia kenapa-kenapa."
Dimas menoleh pada Nadia, melawan degup jantungnya yang berdetak tidak beraturan.
"Apa kamu yakin, itu Arshila? Dia tidak mungkin berada disana."
"Aku yakin, Mas. Dia itu mbak Shila. Aku tidak tahu dia melakukan apa di rumah itu. Aku juga tidak berani menanyakannya pada Tian. Tapi, aku mendengar para pelayan memanggilnya nona."
Nadia menyesap tehnya, yang mulai dingin. Bersikap biasa saja dengan tenang. Ia hanya menjalankan perintah dan melihat reaksi mereka, itu saja.
"Nona?? Apa maksudnya?"
"Entahlah, bu. Aku juga tidak tahu pasti."
Hanya sebatas itu ucapan Tian kepadanya. Jadi, Nadia tidak bisa mengatakan lebih dari itu. Ia juga penasaran, kenapa Arshila berada di rumah itu.
Ketegangan berangsur pulih, setelah Nadia masuk dalam rumah lebih dulu. Ia tidur lebih cepat, karena esok ada rapat penting, yang akan membuatnya sibuk.
"Dimas, apa kamu bisa mencari tahu pasal Arshila? Akan berbahaya, jika ia tinggal bersama atasanmu. Ia bisa membuka mulut, dan membuatmu kehilangan pekerjaan."
Dimas belum menjawab, ia hanya menarik napas. Bersandar di kursi sembari menerawang.
"Dimas, apa kamu tidak dengar ibu? Apa kamu tidak penasaran, kenapa wanita itu berada disana? Ia dipanggil nona, mungkin saja ada sesuatu."
"Bu, tenanglah. Nadia bisa mendengarmu. Ibu tahu kan, posisi Nadia di perusahaan."
"Hei, kamu bicara apa, Nak. Dia itu istrimu, mana mungkin membicarakan keluarga kita. Lagi pula, ia tidak tahu apa-apa."
"Sudahlah, bu. Biar Dimas mencari tahunya besok."
Udara diluar semakin dingin, tapi Dimas masih duduk seorang diri. Bayangan Arshila kembali membuat hidupnya merasa tidak tenang. Padahal setahun ini, ia sudah melupakan wanita itu.
Keadaan yang sama terjadi pada ibu di dalam kamar. Ibu merasa gelisah, hingga berulang kali mengubah posisii tidur. Merasa tidak tenang, ia memilih untuk bangun. Berjalan mondar-mandir, sambil berpikir.
Apa yang harus aku lakukan? Kenapa wanita itu masih hidup? Bagaimana jika ia membuka mulut? Ah, tidak. Tidak bisa! Putraku sudah berbahagia sekarang, aku tidak bisa membiarkannya hancur.
Ibu meremas tangannya, duduk ditepi ranjang, masih dengan pikiran yang sama. Siapa yang akan menolongku? Bergumam dengan napas yang berat. Ia kembali berbaring, menatap langit-langit kamar, sembari menerawang jauh, kembali ke masa dulu.
__ADS_1
Benar! Wanita itu!
Ibu bangkit dari posisinya, tersenyum ketika sebuah solusi permasalahan terlintas di kepalanya. Bayangan sosok wanita yang menampar dan menjambak rambut Arshila, saat dipersidangan. Seorang wanita paruh baya yang terus menangis, bahkan tidak terima dengan keputusan hakim.
"Aku harus menemuinya, dia bisa membuat wanita itu keluar dari rumah menantunya."
Ibu keluar kamar, menengok kiri kanan, sebelum beranjak. Ia mengetuk pintu putrinya, yang bersebrangan dengan kamarnya.
"Ada apa, bu?" Mira membuka pintu dengan malas. Sepertinya, ia sudah tertidur.
"Mana adikmu?"
"Entahlah, bu. Naya belum pulang, katanya lagi mengerjakan tugas."
"Jam segini?"
"Udahlah, bu. Dia bukan anak kecil, dia akan pulang sendiri."
Mira berjalan ke tempat tidur, dengan malas ia kembali terbaring.
"Mira, bangun!"
"Apa sih, bu? Ini sudah larut, Mira mengantuk."
"Ibu mau minta tolong, cepat bangun!"
Mira akhirnya bangun, meski kedua matanya terasa sangat berat.
"Bantu ibu mencari alamat keluarga santara atau alamat perusahaannya."
"Ibu, bisa tanya kak Nadia. Dia pernah bekerja disana atau tanya kak Dimas, dia pasti tahu."
"Huss, berisik kamu. Jangan banyak bicara, cepat lakukan."
Mira mengambil tasnya, mencari sesuatu didalamnya.
"Ini." Menyerahkan sebuah kartu nama. "Ini milik temanku, kami berencana magang disana."
"Baiklah, ibu akan mengembalikannya, nanti."
Ibu segera keluar kamar, lalu menutup pintu perlahan.
"Ibu," panggil Dimas yang ternyata baru masuk rumah.
"Dimas, telepon adikmu. Naya belum pulang, ini sudah larut."
__ADS_1
"Baiklah."
Malam yang sudah semakin larut, disaat semua orang sudah tertidur, ibu masih sibuk dalam kamar. Ibu menyiapkan pakaian yang akan digunakannya besok, sambil memikirkan naskah yang akan disampaikannya esok hari.