
Ibu Lin terpaksa kembali keruang perawatan tuan muda, mengambil kotak makan Arshila yang disimpannya diatas meja. Tiba di kamar, sudah Rachel didalam. Nyonya besar sedang marah, terlihat ia membentak putranya, yang terbaring lemah.
"Kau menganggap istrimu, apa? Aku sudah bersusah payah mengajaknya kemari dan kau membuatnya menangis."
"Ma, aku melakukannya karena tidak ingin berdebat. Aku sedang lemah sekarang."
"Kau tidak mau berdebat dengannya, tapi berdebat denganku. Memangnya, siapa dia? Kenapa kau harus takut padanya?" Rachel berbicara dengan berapi-api.
Dave terlalu lemah untuk bicara, ia mengibas-ngibaskan tangannya, meminta sang ibu untuk pergi.
"Kau mengusirku?" Rachel melotot. Mengambil bantal, yang tidak digunakan Dave diatas tempat tidur. Bugh, bugh, bugh, Rachel memukul tubuh putranya.
"Mama, hentikan!" Dave menutup wajahnya, dengan mengangkat kedua tangannya.
"Kau sudah kena karma dengan terbaring disini. Tapi, masih sempat membuat istrimu menangis." Bugh, bugh, memukul ke segala arah.
"Nyonya, hentikan." Ibu Lin meraih tangan Rachel. "Kasihan tuan muda, dia sudah kesakitan."
Rachel membuang bantal dengan sembarangan, mendarat dibawah kaki Tian. Ia menarik napas, lalu kembali duduk menenangkan diri.
"Ibu Lin, mana menantuku?" Rachel akhirnya tersadar, jika ibu Lin hanya seorang diri.
"Saya kembali, mengambil bekal nona muda. Dia sedang menunggu dihalaman belakang rumah sakit."
"Baiklah, temani dia. Jika sudah, bawa dia kembali."
"Baik, Nyonya."
Ibu Lin akhirnya keluar kamar, setelah mengambil kotak makan. Ia sedikit berlari, masuk dalam lift. Takutnya, sudah membuat Arshila menunggu lama, karena harus menyaksikan pertengkaran ibu dan anak.
Di lobi rumah sakit, ibu Lin mempercepat langkahnya. Menuju halaman belakang, yang pernah didatanginya dulu. Sebuah pohon rindang tumbuh dengan daun yang rimbun, ada bangku kayu, yang digunakan Arshila saat itu.
Saat tiba, tempat ini kosong. Tidak ada seorang pun, yang terlihat. Ibu Lin mulai panik, ia masih melangkah maju, untuk memastikan. Siapa tahu, Arshila berpindah tempat.
Nihil, ibu Lin tidak menemukannya. Ia menjadi panik dan merutuki kecerobohannya. Ia meraih ponselnya.
Saat sambungan tersambung.
"Pak Yus, beritahu Nyonya. Nona muda menghilang!"
Ibu Lin memutuskan sambungan telepon, kembali mencari disemua sudut rumah sakit.
Di ruang perawatan Dave, suasana panik tak kalah hebohnya. Rachel kembali menyalahkan anaknya, menunjuk-nunjuk dengan emosi yang sudah meledak.
Dave yang tadinya terbaring lemah, langsung bangkit, entah mendapat kekuatan dari mana.
"Tian. Cari dia, sampai ketemu! Jangan kembali, jika belum menemukannya!"
"Baik, Tuan."
Sekretaris Tian, segera pergi. Ia sempat menelpon seseorang, sebelum keluar.
Rachel yang sudah tidak tenang, mondar-mandir dengan gelisah. Sesekali, ia menatap tajam putranya, yang sudah duduk tegak dengan raut wajah tak bisa ditebak.
Rencana yang sudah disusun sempurna, harus berantakan karena ulah anaknya sendiri. Padahal semalam, ia begitu bahagia, mendengar ucapan ibu Lin. Ia ingin memastikan keberadaan cucunya, dengan mengajak Arshila ke rumah sakit.
__ADS_1
"Pak, jaga manusia laknat ini!" Anak matanya, menununjuk Dave. "Aku akan pulang, mungkin Arshila berada di rumah."
Pak Yus mengangguk.
Rachel menyambar tasnya, masih dengan kesal keluar ruangan. Ia bahkan tidak berbicara pada Dave, sebelum pergi.
Dave yang tadi terdiam, seperti berpikir keras. Akhirnya, membuka mulut.
"Kita pulang, panggil dokter!"
Pak Yus tidak membantah, meski mengkhawatirkan kondisi tuan muda. Suasana hati, Dave sedang memburuk, ia tidak ingin menambah lagi, jadi ia hanya bisa mengangguk. Selang beberapa menit, dokter yang menanganinya sudah datang bersama dua orang perawat.
"Cabut infusnya, aku mau pulang hari ini." Nada rendah dan mengintimidasi, bahkan raut wajahnya membuat dokter hanya mengangguk paham.
"Siapkan seorang perawat untukku, aku akan dirawat di rumah. Ingat, harus laki-laki.!"
"Baik, Tuan. Kami akan menyiapkannya."
Dokter dan dua perawat tadi, langsung pergi setelah mencabut jarum infus. Sedangkan, pak Yus sudah memberesakan barang-barang yang akan dibawa pulang, termaksud bekal sarapan Dave yang tak disentuh sama sekali.
Sebelum berangkat, pak Yus ingin menyampaikan hal penting. Meski, waktunya tidak tepat, tapi ia harus tetap memberitahukannya.
"Tuan, nona Alexa sudah kembali." Dave tidak menjawab, ia menatapnya, meminta penjelasan lebih. "Dia datang ke rumah mencari Anda dan nona muda. Seperrtinya, ia sudah tahu nona tinggal bersama Anda. Para penjaga gerbang, menyangkal dengan mengatakan tidak mengenal nona muda."
Dave menarik napas, sembari memejamkan mata. Tidak disangka, gadis pulang dengan cepat, bahkan belum setahun ia pergi. Dave penasaran, diantara persahabatan istrinya, Alexa yang paling melindungi sang istri.
"Aku akan memngurusnya, nanti. Sekarang. Kita pulang."
"Baik, Tuan."
Di sebuah wahana, yang penuh dengan keramaian.
Arshila menikmati kebebasannya, tanpa memikirkan, sesuatu menunggunya di rumah. Ia dan Ellino, bukannya naik wahana permainan, justru berkeliling mengunjungi setiap stand makanan ditempat itu.
"Wah, kelihatannya enak. Ayo, kita mencicipinya!" Arshila menarik tangan Ellino, untuk kesekian kalinya. Udang bakar dengan bumbu pedas, aromanya menyeruak, menggungah selera.
"Apa kamu belum kenyang? Seharian, kamu terus makan. Nanti perutmu sakit."
Ellino menjadi khawatir dengan pola makan, Arshila yang tergolong aneh.
"Aku akan berhenti. Ini yang terakhir. Aku janji!"
Arshila memamerkan deretan gigi putihnya. Ia merasa sangat bahagia hari ini dan tidak ingin menyia-nyiakannya.
"Baiklah, kamu sudah berjanji, sebaiknya kamu menepatinya." Arshila terkekeh, karena ia sadar, ini kesekian kalinya ia berjanji. Tapi selalu dilanggar, saat menemukan makanan, yang sayang jika tidak dinikmati.
"Ayo, kesana. Aku akan membelikanmu boneka."
Arshila mengikuti Ellino, masih dengan senyumnya yang belum surut. Setelah membeli boneka, keduanya duduk disebuah bangku panjang. Melepas penat, karena kelelahan.
"Kamu senang?"
Arshila mengangguk tersenyum.
"Aku akan mengantarmu pulang. Ini sudah sore, orang rumah pasti mencarimu."
__ADS_1
"Aku berencana pulang, saat sudah malam. Aku tidak tahu lagi, kapan bisa keluar seperti ini." Arshila tersenyum getir.
"Kalau begitu, kamu mau pulang ke rumahku?"
Eh!
"Hahaha ... jangan menatapku seperti itu. Aku hanya ingin kamu bertemu ibuku. Dia sakit-sakitan dan sering marah. Dia butuh teman cerita. Bibik di rumah tidak kuat menghadapinya. Mungkin, karena dia sudah tua, jadi lebih sensitif."
"Benarkah? Maaf, aku salah paham padamu."
"Ah, sudahlah. Kita teman, jangan terlalu sungkan."
"Kalau begitu, ayo, kita temui ibumu." Arshila sudah berdiri dengan semangat.
Mereka keluar dari wahana, menuju parkiran mobil.
"Ibu mu menyukai, apa?" tanya Arshila, saat memperhatikan jejeran toko dan swalayan, dipinggir jalan.
"Tidak perlu, kamu cukup mendengarnya bercerita. Dia lumayan cerewet dan menyukai gadis yang cerewet juga."
"Apa aku cerewet?"
"Hahahaha ...." Ellino merasa gemas dengan pertanyaan Arshila. "Kita sudah sampai."
Penjaga langsung membuka pintu gerbang, saat melihat mobil Ellino. Ia menundukkan kepala, saat mobil melewatinya.
"Ayo, turun!"
Arshila mengangguk, lalu membuka pintu mobil.
"Selamat datang, Tuan muda. Dia?" Pelayan itu, tampak terkejut dengan kehadiran Arshila.
"Dia temanku."
Arshila tersenyum, lalu berjalan masuk bersama Ellino.
"Ibu," panggil Ellino.
"Duduk, Shi. Aku akan meminta pelayan membuatkanmu minuman."
"Terima kasih."
Dari arah, samping rumah, pintu yang terbuka lebar menampakkan jejeran pot bunga. Terdengar, suara sahutan.
"Apa sih, panggil-panggil?"
Wanita berkulit putih, langsing, rambut hitam legam terurai indah. Ia memperhatikan Arshila, yang duduk menatapnya bingung.
Apa itu ibunya? Tua, dari mana? Bahkan tidak ada satu pun keriput di wajahnya.
Arshila merasa tertipu dengan pengakuan Ellino, yang mengatakan kondisi ibunya.
Wanita itu, tampak bugar, seperti ibu mertuanya yang energik.
"Apa dia menantuku?" Ellino belum sempat menjawab, sang ibu sudah menghamburkan pelukan pada Arshila. "Aaaa .... menantuku!!" Muah, muah, muah!
__ADS_1
Bukan hanya pelukan, Arshila mendapat bonus ciuman, seperti seorang ibu menciumi putrinya. Ia menatap Ellino meminta penjelasan, tapi pria itu, hanya manangkupkan kedua tangannya.