Dendam Sang Presdir

Dendam Sang Presdir
Bab 64. Berdua saja


__ADS_3

Sejak kejadian semalam, Arshila mengurung diri sepanjang hari didalam kamar ibu mertuanya. Ia sarapan dan beraktivitas, tanpa beranjak dari sana.


Sebenarnya, kesalahan apa yang membuat sang suami begitu marah besar? Apa hanya karena terlambat pulang, lalu langsung menamparnya. Ia bahkan tidak diberi kesempatan untuk menjelaskan.


Sampai, kapan Arshila menahan rasa sakit ini? Pernikahan tanpa cinta, yang berlandaskan kebohongan dan balas dendam. Ia menanggung semua akibat, oleh perbuatan yang sama sekali tidak dilakukannya. Apa karena ia sebatang kara, makanya diperlakukan semena-mena oleh mantan suami dan ibu mertuanya? Apa karena ia menggantungkan hidup pada mereka, hingga membuatnya menjadi tumbal?


Rasa sakit yang bertubi-tubi dan menggunung, membuatnya tidak memiliki lagi alasan untuk hidup. Sekalipun, ia mengatakan yang sebenarnya, bukankah sudah sangat terlambat. Lagipula, apa yang akan berubah? Tidak ada!


Sikap Dave atau perasaannya, bagi Arshila sama saja. Dave tidak mencintainya, begitu juga dirinya, sudah tidak memiliki rasa.


"Shi, keluarlah! Kamu perlu berjalan-jalan. Mama sudah memundurkan semua jadwal kegiatanmu."


"Terima kasih, Ma. Tapi, aku lebih baik di kamar saja."


"Shi, Mama tahu perasaanmu. Tapi, jangan mengkhawatirkan itu. Ayo, Mama akan menemanimu!"


Dengan terpaksa, Arshila menuruti keinginan Rachel.


Keduanya, menaiki anak tangga, menuju perpustakaan. Arshila sama sekali tidak melirik kamar Dave, meski Rachel menghentikan langkah, untuk bertanya pada pak Yus.


"Bagaimana, dia sudah makan?"


"Belum, Nyonya. Tuan muda kembali muntah. Saya khawatir, kondisinya makin parah. Ini sudah tiga hari, Tuan tidak makan apapun."


Rachel menarik napas, ia juga menjadi khawatir, dengan kondisi putranya.


Arshila yang mendengarkan, sedikit merasa iba kepada sang suami. Ia tidak tahu, jika kondisi suaminya sedang tidak sehat.


"Dave, kenapa, Ma?"


"Entahlah, Mama bingung. Dia tidak mau makan dan terus muntah tanpa sebab. Dokter tidak menemukan penyakitnya, jadi memutuskan untuk pulang."


Rachel menjelaskan, lalu kembali melangkah naik dilantai tiga.


"Shi, kamu disini dulu. Mama akan memanggil Ica menemanimu!"


Rachel kembali turun dilantai dua, masuk dalam kamar Dave untuk melihat keadaan putranya.


Pandangan yang pertama yang ditangkap Rachel, adalah berantakan. Putranya berantakan. Wajah pucat pasi dan sorot mata yang sayu karena lemah. Ia hanya terbaring, menggunakan tangannya sebagai isyarat, karena tidak memiliki energi, untuk bersuara.


Diatas meja, sudah ada teh jahe, Dave hanya meminumnya satu sendok, karena tidak menyukai rasanya. Pak Yus yang sudah menyajikan sarapan, kembali dibawa turun. Ia tidak makan, karena mencium baunya saja, perutnya sudah bergejolak.


Dave memejamkan mata, karena begitu sangat pusing. Pandangannya berputar, begitu membuka mata.

__ADS_1


"Apa dia sudah minum obat?" Pertanyaan ditujukan ada perawat, yang berdiri disisi tempat tidur.


"Sudah, Bu. Tapi, kembali dimuntahkan! Dokter sudah memberi obat injeksi, lewat infus. Tapi, belum ada reaksi."


Rachel menghela napas, duduk dengan pikiran mencari solusi. Apa putranya benar-benar, kena karma? Kondisinya sekarang, semakin parah, saat melakukan hal buruk pada istrinya.


Tunggu!!


Rachel mendadak bangkit, lalu meminta pelayan yang kebetulan datang membawa potongan buah.


"Panggil, menantuku dilantai atas."


Tak lama, Arshila sudah berdiri diambang pintu. Ia merasa enggan untuk melangkah maju, meski pria kasar itu terbaring lemah tak berdaya.


Rachel langsung menarik tangan menantunya, meminta duduk disamping putranya yang terbaring. Ia meletakkan telapak tangan Arshila, didahi Dave. Arshila hanya menurut saja, meski jantungnya bertalu-talu, karena merasa takut.


Rachel meminta perawat untuk keluar, membiarkan pasangan suami istri itu, sendiri.


Arshila belum melepaskan telapak tangannya. Ia merasa iba, dengan Dave yang sangat lemah. Pria yang biasa berteriak lantang dan memperlakukannya kasar, kini tidak berdaya.


Emmm,!!


Kelopak mata dengan bulu mata lentik, perlahan bergoyang. Arshila sudah melepaskan tangannya, berganti mengusap rambut suaminya dengan lembut.


Arshila langsung memberikannya, botol minum dengan sebuah pipet didalamnya.


"Kamu mau makan?" tanya Arshila. "Kamu mau buah?"


Dave menggeleng, ia melingkarkan tangannya dipinggang Arshila yang masih duduk. Tubuh wanita itu menegang, jujur saja ia masih takut.


Pintu kamar terbuka, pak Yus melangkah masuk dengan nampan ditangannya. Ia meletakkan diatas meja, tepat didepan Arshila.


Pria paruh baya itu, langsung keluar yanoa mengatakan apa-apa.


"Kamu harus makan, bangunlah aku akan menyuapmu."


Dave tidak bergeming, justru mempererat pelukannya.


"Maaf!" cicitnya, membuat Arshila menatapnya. "Aku minta maaf, tentang semalam."


Bukannya menjawab, Arshila melepaskan tangan Dave. Ia perlahan membantu suaminya untuk bangun.


"Ini, teh jahe." Arshila mendekatkan sendok dibibirnya, dan Dave meminumnya tanpa membantah.

__ADS_1


Satu dua sendok, hingga akhirnya menyisakan setengah cangkir. Arshila menyusun bantal dibelakang ounggung suaminya, agar bisa bersandar.


"Kamu sudah lebih baik?" Dave mengangguk. "Kamu mau makan sekarang?"


"Kamu kemana kemarin, pulang sampai malam?" Dave menjawab dengan pertanyaan kepada sang istri.


"Aku mengunjungi putriku. Kebetulan, disana hanya ada Mira, jadi dia memberiku banyak waktu untuk bersama Nadin."


"Kamu senang?"


"Tentu saja. Kemarin pertama kali. Ia mau memelukku tanpa menangis dan memanggiku ibu, meski masih ragu-ragu. Tapi, aku sudah sangat bersyukur."


"Maaf, aku emosi karena melihatmu turun bersama Ellino." Dave menyentuh wajah Arshila, mengusap pipinya dengan lembut.


Tapi, reaksi tubuh Arshila justru berbeda, ia gemetar tiba-tiba dengan jantung yang berdegup kencang. Tangan kekar, yang mengelus lembut seperti akan menamparnya. Ia memejamkan mata, mencoba menguasai diri dari rasa takut yang tiba-tiba menjalar.


"A ... aku dan Ellino bertemu di rumah makan, tanpa sengaja."


Tangan kekar itu, kini memeluknya. Tubuh mereka merapat, tanpa celah. Kepala Arshila membentur dada bidang Dave. Rasa takut berubah menjadi perasaan nyaman, tapi masih merasa waspada.


"Aku mengkhawatirkanmu. Aku mengatakan hal itu pada, ibu Clarissa untuk melindungimu."


Arshila tidak menjawab, ia hanya membiarkan Dave berbicara. Ia bingung, apa karena sedang sakit, suasana hati suaminya ikut berubah?


"Sebaiknya, kamu makan. Mama mengkhawatirkanmu."


Pelukan mereka berakhir, Arshila mengambil sepiring bubur ditemani telur rebus dan daging cincang.


Arshila meniupnya terlebih dahulu. Sebelum memberikannya pada Dave. Pria itu, membuka mulut, menerima setiap suapan. Entah mengapa ia tidak merasa mual lagi. Mungkin karena pengaruh teh jahe, yang sudah diminumnya.


Arshila memberikan segelas air putih, saat makanan di piring tersisa sedikit.


"Duduklah, dulu. Jangan langsung, berbaring. Makananmu perlu dicerna."


"Terima kasih," ujar Dave.


Keduanya kembali membisu, karena tidak tahu harus membicarakan apa. Padahal, begitu banyak yang mereka harus selesaikan.


Ya, pernikahan!!


Pernikahan mereka seperti kapal yang terombang ambing dilautan, berlayar tanpa arah dan tempat berlabuh.


Perasaan!!

__ADS_1


Dave mungkin sudah memiliki rasa pada sang istri, tapi kecemburuan dan ego, selalu membuatnya gelap mata. Sementara, Arshila sudah seperti patung yang bernyawa. Perasannya, sudah benar-benar mati.


__ADS_2