
Sebuah perkampungan, yang jauh dari keramaian dan kebisingan. Ditempat yang masih rindang, karena lebatnya hutan dipegunungan. Hamparan sawah yang masih menghijau, menjadi pemandangan indah setiap yang melewatinya.
Dan disinilah, Ellino berada. Di kampung halaman orang tuanya. Disini, ia dilahirkan dan dibesarkan. Meski, hanya sedikit ingatan tentang wajah kedua orang tuanya. Kenangan yang selalu abadi dalam ingatannya, hanyalah sang kakak, yang entah berada dimana.
Setiap akhir bulan, Ellino selalu pulang di tempat ini. Berharap, kakaknya sudah kembali dan menunggunya. Tapi, sayangnya, sudah hampir 15 tahun, mereka tidak pernah lagi bertemu.
Rumah orang tuanya yang sudah pernah dijual untuk menebus utang, sudah kembali dibeli oleh Ellino. Ia sudah memperbaiki rumah tanpa mengubah, bentuknya yang dahulu. Ia berharap, kakak perempuannya bisa mengenali rumah itu dari kejauhan.
Ia sangat ingat, bagaimana sang kakak berjuang melunasi utang orang tua mereka. Ia harus kerja sana sini, sepulang sekolah. Padahal, umurnya saat itu hanya terpaut dua tahun darinya.
Arshila Syarenna, nama sang kakak yang tidak pernah luput dari ingatannya. Anak berusia sepuluh tahun, membanting tulang untuk kehidupan mereka. Setelah, orang tua mereka meninggal dunia. Ia menjadi tulang punggung untuk mencari nafkah dan membayar utang.
Anak seusianya, berjualan kue disekolah, yang seharusnya ia belajar. Ia menjadi buruh cuci untuk para tetangga dengan upah tidak seberapa. Beruntung, setiap panen padi, para tetangga selalu memberi mereka jatah sekarung beras, yang mereka gunakan lebih dari tiga bulan.
Keduanya sangat bersyukur, dengan adanya bantuan, mereka bisa makan dengan kenyang meski tidak ada lauk.
Ellino tidak diizinkan untuk membantu, karena kata sang kakak, ia masih terlalu kecil. Tapi. Ia juga tidak tega membiarkan, kakaknya kehujanan dan kepanasan. Ellino yang waktu kecil, akhirnya berinisiatif untuk berjualan es lilin.
Keliling kampung, untuk menjajakan jualannya. Sampai akhirnya, ia tersesat dan tidak tahu arah pulang. Ia terus berjalan tanpa tujuan, kelaparan, lelah dan rasa haus yang perlahan membunuhnya.
Ia terbangun disebuah rumah sakit, seorang wanita mengenggam tangannya dengan cemas.
"Kamu baik-baik saja, sayang?"
Suaranya begitu lembut, sosok ibu seperti hadir dikehidupan Ellino. Ia hanya mengangguk, sembari memegang perutnya yang kelaparan.
"Kamu pasti lapar. Biar ibu suap."
Wanita itu menyuapinya dengan telaten, menganggapnya seperti anaknya sendiri.
"Siapa namamu?"
Pria yang masih begitu muda, tersenyum padanya. Ia memegang bahu wanita itu, yang tengah menyuapinya.
"Arsya."
__ADS_1
"Sekarang, namamu Ellino Malvinder."
Begitulah, ia mendapatkan nama itu dan menggunakannya sampai sekarang. Tapi, nama Arsya, adalah sebuah nama yang tidak akan pernah ia lupakan.
Dengan kasih sayang, kedua orang tua yang menganggapnya seperti anak kandung. Ellino mendapatkan segalanya, termaksud pendidikan. Ia sudah bekerja dan mendapatkan jabatan, dibawah perusahaan milik ayahnya. Ia beruntung, sangat beruntung, ia berdoa setiap malam, agar sang kakak memiliki keberuntungan yang sama dengannya.
Ellino duduk sebuah bangku, dibawah pohon rambutan yang masih berbunga. Dihalaman rumah orang tuanya, dulu banyak tanaman buah-buahan. Tapi, saat rumah ini dijual, semua tanaman itu, habis ditebang. Hingga, ia kembali menanamnya dengan posisi yang sama seperti dulu.
"Nak, Arsya. Kapan datangnya?" Seorang nenek yang pernah menjadi tetangga mereka dulu, datang menghampiri.
"Baru saja, Nek."
"Kamu sudah menemukan kakakmu?"
"Belum, Nek. Arsya, juga bingung mau mencari kemana lagi."
"Berusahalah dan berdoa, Nak."
"Terima kasih, Nek."
Sebenarnya, Ellino juga tidak memilki perasaan pada Arshila. Ia hanya penasaran pada wanita yang memiliki nama yang mirip dengan kakaknya. Sampai akhirnya, ia tahu wanita itu memiliki hubungan dengan Dave. Pria yang selalu menganggapnya musuh. Ia pun tersentil, untuk memanfaatkan wanita itu.
Tapi, perlahan ia sadar, ia salah. Dan akhirnya, mulai menganggap Arshila sebagai teman saja, tidak lebih. Ellino merasa kasihan dengan hidup Arshila. Ia selalu berharap, kehidupan kakaknya diluar sana jauh lebih baik.
"Kak Shila, apa kamu baik-baik saja? Pulanglah, agar kita bisa bertemu."
Ellino masuk dalam rumah, setiap kali pulang, ia akan menginap semalam. Di ruang tamu, sudah ada foto yang menggantung. Foto keluarga, foto Arshila dan dirinya sewaktu kecil. Ia mendapatkan foto-foto itu, melalui nenek tadi. Rupanya wanita tua itu, menyelamatkan beberapa harta benda keluarga mereka yang hampir dibuang.
Dan Ellino, sangat berterima kasih hingga tak lupa, selalu memberikan santunan kepada nenek, setiap ia akan kembali ke kota.
Kini Ellino sudah memiliki segalanya dan berharap bisa menemukan kakaknya untuk hidup bersama. Ia dengan senang hati akan merawat dan menjaganya seumur hidup.
"Apa kakak baik-baik saja? Apa kakak menyelesaikan sekolah dengan baik? Pulanglah, Kak. Aku merindukanmu."
Ellino menatap foto Arshila, yang masih berpakaian seragam merah putih dengan rambut dikucir. Entah bagaimana wajah, Arshila sekarang. Mungkin, dia akan tetap secantik dulu.
__ADS_1
***
Di tempat berbeda, di kediaman tante Nessa.
Alexa sudah tiga hari, pulang dari luar negeri. Usahanya sia-sia mencari Arshila. Ia sudah pergi dikediaman Dave, bahkan diperusahaan. Tapi selalu, mendapatkan penolakan.
Ia kini uring-uringan, karena bingung harus berbuat apalagi. Ia sudah mendapatkan nomor ponsel Dave dengan susah payah. Tapi, lagi-lagi panggilannya tidak pernah tersambung. Sepertinya, pria gila itu, sengaja memblokir nomor asing yang masuk diponselnya.
"Shila, kamu dimana?" Alexa menggenggam erat ponselnya. "Aku harus mencarimu dimana?"
Alexa mematung, pikirannya terlintas sesuatu.
Ah, benar. Wanita kejam itu! Alexa langsung berlari menuju kamar, menyambar tas dan kunci mobil.
Harap-harap cemas, wanita kejam yang dimaksud Alexa adalah ibu Dimas, yang pernah menjadi ibu mertua Arshila. Entah mengapa, pikiranmya terlintas padanya. Tapi, apa salahnya mencoba? Pikir Alexa.
Belum juga mengucapkan salam, Alexa sudah disambut dingin, wanita itu.
"Cari siapa kamu?" Berkacak pinggang dengan wajah tidak bersahabat. Sepertinya, beliau masih mengingat Alexa dengan baik.
"Aku mencari Arshila. Dimana dia?"
"Aku tidak tahu. Sekarang pergi."
Tidak mau membuang waktu, Alexa mengeluarkan sebuah amplop, cukup tebal, hingga membuat wanita itu merubah raut wajahnya dengan cepat.
"Untuk apa, kamu mencarinya?" Menyambar amplop ditangan Alexa. "Dia sudah menikah dengan pria kaya, hidupnya sudah bahagia."
"Pria kaya yang mana, Tante?"
"Pria yang tunangannya mati tertabrak, oleh wanita sial itu. Entah kenapa pria itu mau menikahinya, mungkin dijadikan pembantu disana."
Ya, semuanya sudah jelas. Arshila berada dikediaman Dave. Tapi, kesulitan Alexa adalah cara menemuinya. Pria itu, pasti tidak mungkin mengizinkannya. Apalagi, jika Arshila hidup sebagai pembantu disana dan menjadi pelampiasan dendam.
Alexa kembali masuk dalam mobil, tujuannya hari ini menemui Dave di perusahaan. Jika pria itu, tetap menolak bertemu, ia akan mengerjarnya sampai kerumah. Ia tidak akan menyerah.
__ADS_1