Dendam Sang Presdir

Dendam Sang Presdir
Bab 78. Terpuruk


__ADS_3

Rumah sakit.


Sudah tiga hari berlalu, tanpa terasa. Siang dan malam bergantian, tanpa mempedulikan urusan manusia.


Selama tiga hari juga, Dave setia menemani sang istri. Ia menjadikan rumah sakit, sebagai rumahnya. Semua kegiatan dilakukannya disini, termaksud pekerjaan yang membutuhkan tanda tangan atau persetujuannya.


Pria itu, sudah tidak memperhatikan penampilannya. Rambutnya disisir asal, wajahnya sudah ditumbuhi bulu. Matanya semakin dalam, ia seperti kurang tidur dan banyak pikiran.


Didalam ruangan, ia tidak sendiri. Ada pak Yus, yang menemaninya. Pria paruh baya itu, akan pulang saat malam tiba.


Setiap hari, ia akan membawa makanan dan pakaian. Meski, Dave jarang menyentuh makanannya.


"Selamat pagi, Tuan."


Sekretaris Tian menyapa, menundukkan kepala. Lalu, berjalan masuk. Dibelakangnya, Nadia ikut memberi salam.


Pria itu, tidak menyahut, hanya membalikkan badannya sekilas, lalu kembali fokus pada istrinya.


"Tuan, aku sudah membawa putrinya."


Dave kembali menoleh, menatap gadis kecil yang memiliki wajah persis ayahnya. Rambutnya dikepang dua, dengan pita berwarna pink. Gadis kecil itu, ketakutan memeluk erat ibunya.


"Aku membenci wajah itu!"


Sontak Nadia ketakutan. Ia bersusah payah menelan salivanya. Ia menatap Tian, pria itu hanya menggelengkan kepalanya.


"Tuan, dia hanya anak kecil dan tidak tahu apa-apa."


Dave menatap tajam sekretarisnya. Lalu, beralih pada Nadia.


"Kau sudah mengambil keputusan? Aku tidak akan memaksamu untuk bercerai darinya, karena itu pilihanmu. Hanya saja, hukuman untuknya akan membuatmu kerepotan. Jadi, pikirkan baik-baik!"


"Terima kasih, Tuan."


"Mendekatlah. Biarkan anak itu, membangunkan ibunya."


Nadia menurut, menggendong putrinya duduk di kursi, diseberang Dave.


"Sayang, ini ibumu, Nak."


Nadia mengambil tangan kecil Nadin. Menempelkannya pada jari jemari Arshila, yang terbaring.


Gadis kecil itu, melepaskannya. Karena takut, dengan sosok didepan mereka. Pria itu, seolah melotot kearahanya.


"Jangan takut, Mama disini." Nadia mengelua rambut putrinya. Kembali, mengambil tangan kecil Nadin, untuk menggenggam tangan ibu kandungnya.

__ADS_1


Anak itu menurut, menggiyangkan tangan Arshila, seolah membangunkannya.


"Ibu," ujarnya, yang membuat Nadia terharu.


Sementara, Dave menatap mereka dengan teduh. Ada perasaan aneh yang dirasakannya. Mungkin, kehidupannya akan sempurna, dengan kehadiran anaknya nanti. Dan ia akan berjuang, untuk memperbaiki semuanya.


"Ibu," ujar Nadin. Ia menunduk, mencium tangan ibunya dan berpindah mencium keningnya. Meski, merasa asing, tapi ikatan darah tidak bisa dipungkiri.


"Tu ... tuan." Suara Nadia terbata. "Lihat!" Tunjuknya pada wajah Arshila.


Dave memperhatikan wajah istrinya. Wanita itu, meneteskan air mata, dengan kedua manik yang masih terpejam. Air matanya, jatuh diujung matanya.


Sang presdir semakin terpuruk. Ia menggenggam tangan Arshila, menghujaninya dengan ciuman, sembari menahan cairan bening yang akan menetes sebentar lagi.


Kenapa wanita itu menangis? Apa sebenarnya yang dialaminya, dalam tidur panjangnya? Apa merasa bahagia atau sedih di alam mimpinya?


"Bangunlah, sayang. Aku mohon." Air mata yang susah payah ditahannya, jebol juga.


Dave terisak, dengan kepala menunduk. Ia frustasi dengan keadaan sang istri.


Pihak dokter mengatakan, bahwa ia baik-baik saja. Hanya tubuhnya, yang menolak untuk bangun. Mungkin, pengaruh trauma atau kondisi psikologisnya yang terguncang.


Dave pasrah dan hanya bisa menyalahkan dirinya. Rasa bersalah dan penyesalan, membuatnya semakin terpuruk.


"Mulai, hari ini. Kamu tinggal di rumah sakit bersama putrimu."


"Tapi, Tuan. Apa yang harus aku katakan pada Dimas?"


"Kamu tidak perlu memikirkannya. Mulai besok, ia akan sibuk memikirkan masalahnya sendiri."


Nadia tidak langsung menjawab. Ia menatap Tian, meminta pendapat darinya. Ini terlalu mendadak dan ia belum berpamitan pada ibunya. Ia juga, tidak mempersiapkan perlengkapan putrinya.


"Tuan, apa aku bisa melakukannya besok? Aku belum berpamitan pada ibuku. Dan juga, aku tidak membawa perlengkapan untuk anakku."


Dave memperhatikan mereka. Mungkin, ia berpikir, perlengkapan apa untuk anak seusia itu? Bukankah, orang dewasa lebih merepotkan? Bila mengingat, perlengkapan yang harus dibawanya jika berpergian.


"Memangnya, dia butuh apa?" telunjuknya mengarah lurus pada anak kecil itu. "Biar, Tian yang membelikannya."


"Dia butuh diapers, pakaian, selimut, susu, botol susu, mainan, cemilan dan ayunan."


"Maaf, Tuan." Tian menyela. " Menurut saya, biarkan Nadia pulang malam nanti dan mempersiapkan keperluan mereka. Jika harus saya yang membelinya, akan sulit. Karena, membeli barang untuk anak-anak, harus ibunya yang membeli," jelas Tian.


Cukup perintah, membawa dokumen saja yang ia lakukan. Ia tidak ingin membeli peralatan bayi, yang sungguh tidak dimengertinya.


"Baiklah, terserah kalian. Tapi, besok pagi, aku sudah harus melihatmu disini."

__ADS_1


"Baik, Tuan."


Nadin masih menggenggam erat tangan ibunya. Ia tidak mempedulikan perdebatan orang dewasa, yang ia tidak mengerti.


Tubuh kecilnya, merayap naik diatas brankar. Berbaring disisi sang ibu dan memeluknya.


"Ibu, angun," celotehnya.


Dave tersenyum sekaligus terharu. Ia membelai kepala Nadin dengan lembut. Mungkin, seperti ini rasanya, memiliki keluarga sendiri.


Jika, ia sakit. Ada sang anak dan istri yang akan menemaninya kelak. Membelai rambutnya, mencium dan merawatnya.


Ditempat berbeda.


Keterpurukan juga dialami, Ellino. Pria dengan langkah gontainya, berjalan diatas rerumputan. Tangannya memegang, sebuket mawar putih. Ia terus berjalan diantara makam.


Aku tidak tahu, bagaimana cara menghadapimu.


Dengan berderai air mata, ia langsung menjatuhkan lututnya didepan makam Clarissa. Mawar putih diletakkannya, ditengah-tengah makam.


"Maaf," ujarnya sambil terisak. "Maafkan aku!"


Ellino tidak tahan lagi, ia merasa sangat sesak. Permintaan maafnya, tidak terdengar oleh Clarissa. Wanita itu, sudah terbaring dengan damai.


Ia berteriak, mengeluarkan sesuatu yang mengganjal dalam hatinya. Tangisannya semakin nyaring terdengar dan menyayat hati.


"A ... aku salah, aku bodoh, karena meninggalkanmu. Maaf, maaf, maaf."


Ellino berjalan menggunakan lututnya, menyentuh batu Nisan. Ia mencium, lalu menjatuhkan tubuhnya, diatas gundukan makam.


"Kenapa, kenapa? Hiks, hiks, hiks. Kenapa kau tidak mengatakannya? Jika aku tahu, aku akan membawamu pergi."


Air matanya menetes jatuh diatas makam. Ia tidak mempedulikan, pakaiannya yang kotor dan sengatan sinar matahari yang terik.


"Tolong aku, Cla. Aku tersiksa dengan kenyataan ini. Aku tidak sanggup, sungguh aku tidak kuat. Maafkan aku, Cla."


Ellino memukul dadanya dengan kuat. Ia seperti akan pingsan, karena kehabisan oksigen. Dadanya sangat terasa sesak dan menusuk.


"Katakan, apa yang harus aku lakukan? Aku bahkan, tidak bisa meminta maaf padamu. Katakan, bagaimana aku harus menebus kesalahanku? Ini terlalu, menyakitkan karena aku tidak bisa berbuat apa-apa."


Wajah itu, dipenuhi air mata bercampur keringat. Kemeja putih, berubah warna kuning, begitu juga dengan celana jeans yang digunakannya.


Seorang pria tua menghampirinya. Ia membawa alat kebersihan, sepertinya petugas yang menjaga makam.


"Tuan."

__ADS_1


Ellino mendongak dengan sesegukan. Ia tidak menjawab, tenggorokannya tercekat.


"Jika Anda sangat menyesal dan merasa bersalah. Maka, doakanlah dia. Mintalah, pengampuan pada tuhan, untuk Anda dan untuknya. Dengan begitu, dia dan Anda akan merasa tenang."


__ADS_2