
Ditempat berbeda dan masih diakhir pekan.
Pasangan suami istri, yang menghabiskan waktu berdua, jika hari libur tiba. Mereka biasanya, seharian berada dalam kamar, sampai matahari meninggi. Tapi, hari ini berbeda. Dimas bangun pagi seorang diri, karena Nadia meminta izin, untuk menginap di rumah orang tuanya.
Sudah jam delapan pagi. Dimas bangun dengan malas, menguap beberapa kali. Matanya masih terasa berat, tapi dipaksanya untuk segera bangkit.
Setelah mandi dan berpakaian, ia lekas keluar kamar. Perutnya sudah berbunyi, minta untuk diisi.
"Pagi, Bu." Dimas menarik kursi, duduk dihadapan sang ibu.
"Pagi. Ayo, sarapan."
Dimas mengangguk, lalu mengambil nasi goreng.
"Kapan Nadia pulang? Ibu merindukan Nadin."
"Mungkin, sore nanti."
"Istrimu, kadang-kadang aneh. Dua hari yang lalu, dia datang menjemput Nadin, siang hari. Katanya, mau diajak jalan pulang kerja."
"Benarkah? Tapi, Nadia tidak memberitahuku."
Ibu mengangkat bahunya, lalu melanjutkan makan.
Benar kata ibu, Nadia memang aneh, akhir-akhir ini. Ia lebih sering melamun dan tidak banyak bicara. Ia juga seperti menghindarinya. Setiap kali, Dimas bertanya, alasannya selalu sama. Ia lelah bekerja, hanya itu.
Kemarin, ia juga hanya meminta izin melalui telepon. Dan tidak, membiarkan Dimas menemuinya di rumah orang tuanya. Dengan alasan, di rumah sedang ada masalah keluarga, yang sampai detik ini, Nadia tidak memberitahunya.
Dimas mengambil ponselnya dalam kamar. Menelpon sang istri, bertanya kabar. Tapi, lagi-lagi, panggilannya diabaikan. Ia kembali mencoba dan hasilnya tetap sama.
"Mau kemana?" tanya ibu, yang sudah bersiap keluar rumah.
"Jemput Nadia, Bu. Ibu sendiri, mau kemana?"
"Ibu ada arisan, di rumah pak RT."
"Baiklah. Dimas berangkat."
Sepanjang jalan, Dimas terus memikirkan perubahan sikap Nadia. Wanita itu, tidak pernah absen menelpon dan mengirim pesan. Tapi, sejak kemarin, Nadia sama sekali tidak memberi kabar.
Dimas sudah tiba, di rumah ibu mertuanya. Ada mobil sang istri, yang terparkir dihalaman. Nadia masih ada di rumah, pikir Dimas.
"Selamat pagi, Bu." Sapa Dimas.
Ibu Nadia yang tengah bersantai diruang tengah, menoleh.
__ADS_1
"Pagi, duduklah."
"Nadia, kemana, Bu?" Dimas mengedarkan pandangan.
"Dia pergi. Pagi tadi, sekretaris Tian menjemputnya."
Deg.
Sekretaris Tian, menjemputnya diakhir pekan? Untuk apa? Apa membahas pekerjaan di kantor, belum cukup, sampai harus menjemputnya?
"Mereka kemana, Bu?"
"Entahlah, ibu Tidak tahu. Sekretaris Tian, datang pagi sekali. Ibu saja baru bangun. Mungkin mereka ke kantor, tapi dia membawa Nadin. Entahlah."
Ibu sedang malas, untuk menjelaskan, panjang lebar. Lagi pula, putrinya pergi bersama atasannya, bukan orang asing. Tidak ada yang perlu, ia cemaskan.
Berbeda dengan Dimas, yang pikirannya justru menjurus ke arah lain. Jika masalah pekerjaan, Nadia tidak mungkin membawa anak mereka. Jika bukan masalah pekerjaan, lalu apa? Dimas gelisah sendiri. Apa mereka punya hubungan? Mengingat keduanya, terlihat dekat.
"Lalu, bagaimana dengan masalah keluarga? Apa sudah selesai?"
"Masalah keluarga?" Ibu balik bertanya.
"Kata Nadia, di rumah sedang ada masalah keluarga. Tapi, dia tidak memberitahuku tentang apa."
"Oh, iya. Itu sudah selesai. Kerabat ibu, bertengkar dengan suaminya dan lari ke rumah ibu. Tapi, mereka sudah berbaikan dan kembali pulang."
"Oh, syukurlah." Dimas bernapas lega. "Kalau begitu, Dimas pamit, Bu."
"Kamu, tidak menunggunya?"
"Tidak udah, Bu."
Dimas kembali masuk mobil, tujuannya kali ini ke perusahaan. Mungkin, mereka berada disana, meski hatinya berkata tidak mungkin.
Masuk dihalaman perusahaan, Dimas mengedarkan pandangan. Sangat sepi, tidak ada mobil yang terparkir. Hanya ada, beberapa satpam yang lalu lalang.
Kemana mereka? Aku harus mencarinya kemana? Dimas bergumam, dengan perasaan gelisah. Tidak ada satu pun, kemungkinan tentang keberadaan sang istri. Apa aku menelpon sekretaris Tian? Nyalinya sudah menciut, saat otaknya memerintah. Si sekretaris yang memiliki sifat hampir sama dengan presdir. Menelpon dan membuatnya tersinggung, sama saja menggali kuburan sendiri.
Dimas akhirnya, memilih pulang. Menghalau pikiran negatif, yang bersarang dalam otaknya. Kembali menyalakan mesin mobil dan keluar dari halaman perusahaan.
Berkendara dengan kecepatan rendah, karena tidak ingin buru-buru tiba dirumah. Sesekali, ia menatap keluar, melihat kesibukan kota yang tidak ada habisnya.
Drt, drt, drt.
"Halo, bu."
__ADS_1
"Dimas, belikan ibu sayuran dan daging, di swalayan. Teman-teman ibu, akan datang sore nanti."
"Baik,, bu."
Dimas belok kanan, saat melihat sebuah swalayan dengan gedung yang cukup besar.
Mengambil trolli, sembari membaca pesan yang baru saja dikirim ibunya. Ada banyak bahan yang harus dibelinya.
Pertama-tama, Dimas menuju tempat sayuran. Mengambil, sesuai pesanan sang ibu.
Deg.
Pandangannya tidak sengaja, melihat sekretaris Tian dan putrinya yang duduk didalam troli. Dimas membalikkan badan, saat sekretaris Tian berjalan ke arahnya.
"Kita butuh apa, lagi?" Suara Nadia, yang ternyata bersamanya.
Sang istri berjalan disamping sekretaris Tian, yang mendorong trolli. Keduanya, tampak serasi, seperti pasangan yang sedang berbelanja.
Tian menarik pinggang Nadia, merapatkan tubuh mereka. Tersenyum, dengan jari-jari yang nakal disana.
Pemandangan yang membuat Dimas memanas. Ia mengepalkan tangan, mengikuti langkah mereka, dengan diam-diam.
"Apa kamu butuh yang lain, sayang?" Sekretaris Tian, berhenti. Mengalungkan tangannya dileher Nadia, maju beberapa centi, hingga wajah mereka bertemu. "Kamu mungkin butuh baju baru, karena semalam bajumu sudah ku robek."
Sekretaris Tian tertawa, lalu kembali berjalan mendorong trolinya.
Dimas yang mendengarkan itu, hatinya bergemuruh. Kepulan asap, sudah berada diatas kepalanya. Ia tidak tahan lagi, persetan dengan si sekretaris itu. Rupanya, Tian yang terkenal irit bicara dan pendiam, memiliki sifat bejat.
Lihat, bagaimana aku membalasmu! Dimas bergumam, sambil terus memperhatikan mereka. Kedua pasangan itu, sudah membayar dikasir. Lalu, menitipkan barang belanjaan mereka. Keduanya, naik dilantai dua, tempat penjualan pakaian.
Dimas terus mengikuti mereka. Ia meletakkan troli belanjaannya, begitu saja.
"Bagaimana dengan ini?" Sekretaris Tian, menunjukkan sebuah pakaian tidur yang kekurangan bahan. "Seksi," ujarnya lagi, sambil mengedipkan mata.
Nadia hanya menganggukkan kepala saja.
"Ya, sudah. Ini saja. Gunakan ini, saat di rumah."
Mata Dimas sudah memerah, menahan amarah yang sudah menumpuk. Bayangan sang istri, menghabiskan malam bersama pria lain, membuat rahangnya mengeras.
Apa mereka sudah lama berselingkuh? Jadi, selama ini, Nadia menggunakan alasan pekerjaan, untuk bertemu si sekretaris bajingan itu? Jangan-jangan, Nadia menghindarinya, karena sudah bersama Tian sejak lama.
Dimas berusaha menahan emosinya. Waktunya, tidak tepat untuk memberi pelajaran pada Tian. Ia harus menangkap mereka berdua, di rumah sekretaris itu. Mungkin, ditempat itu, ia akan berbuat tidak senonoh pada istrinya.
Tunggu, aku menangkap kalian! Aku akan menghancurkanmu, sekretaris sialan. Dimas mengumpat dan memaki dalam hati. Matanya sudah berkilat-kilat, melihat tangan kekar itu, menyentuh wajah istrinya.
__ADS_1