Dendam Sang Presdir

Dendam Sang Presdir
Bab 86. Ibu, angun!!


__ADS_3

Didalam ruang kerja, Liam duduk dengan pandangan lurus menatap pak Yus, yang berdiri menghadapnya.


"Apa ini pernah terjadi sebelumnya?"


"Tidak, Tuan. Saya juga baru pertama kali melihat, mantan suami nona."


Liam mengangguk. "Rahasiakan, apa yang terjadi hari ini. Aku tidak ingin, Dave mengetahuinya. Dia harus fokus pada kesehatan istrinya."


"Saya mengerti, Tuan."


Kenapa pria itu datang kemari? Apa yang diinginkannya dari menantuku? Liam bergumam, sembari berjalan keluar, menyusul pak Yus.


Dari lantai atas, Liam dapat melihat istrinya yang sibuk. Dia bisa merasakan bagaimana, senangnya Rachel, akan kedatangan seorang anak kecil.


"Siapkan menu untuk anak-anak. Teksturnya harus lembek, tapi penuh gizi," titahnya ada seorang koki.


"Ica," beralih pada pelayan. "Siapkan satu kamar lagi."


"Baik, Nyonya."


Liam mendekat, memeluk sang istri dari belakang.


"Kau bersemangat hari ini."


Rachel tersenyum, membalikkan tubuh dan mendaratkan kecupan, dipipi kanan.


Dia bersemangat, karena malam ini rumah akan tampak ramai. Tidak seperti sebelumnya, hanya ada ketegangan dan suasana mencekam. Ia juga merasa bahagia, akan kedatangan putri menantunya. Yang dianggapnya, seperti cucu kandungnya.


Tidak sabar, ingin melihat wajah mungil itu. Memeluk dan menciumminya. Ia juga ingin mendengarkannya berceloteh. Pasti menggemaskan! Rachel tersenyum, dengan pikiran yang dipenuhi amajinasi.


Pukul tujuh malam, suara deru mesin mobil, memasuki halaman. Tampak, Nadia turun dengan menggendong putrinya. Ia dibantu sekretaris Tian, membawa tas yang cukup besar.


"Selamat malam, Nyonya, Tuan." Nadia menundukkan kepala.


"Selamat malam. Ayo, duduk."


Rachel memperhatikan gadis kecil dalam pelukan ibunya. Rambut dikepang dua, menyembunyikan wajah dalam dekapan sang ibu.


Tian ikut bergabung, setelah memberikan tas pada ibu Lin untuk dibawa dalam kamar.


"Siapa namanya?" tanya Rachel,yang tertuju pada putri kecil Nadia.


"Dia Nadin, Nyonya. Umurnya sudah setahun lebih."


"Boleh aku, memeluknya?"


"Tentu saja." Nadia bangkit memberikan Nadin pada Rachel.


Putri kecil itu, tampak menolak. Ia memeluk erat sang ibu.


"Sayang, jangan takut," bujuk Nadia.

__ADS_1


"Jangan memaksanya," ujar Liam. "Sebaiknya, kita makan malam. Dia akan terbiasa nantinya."


Keadaan rumah memang sangat ramai. Petugas medis yang merawat Arshila, ditambah Nadia dan putri kecilnya. Seperti, sebuah keluarga besar yang sedang datang berkunjung.


Mereka duduk bersama, untuk makan malam. Meski, tanpa kehadiran Dave, karena tidak ingin meninggalkan sang istri. Nadia duduk bersebelahan dengan Tian. Sementara, putri kecilnya, duduk dengan kursi yang sudah disediakan khusus.


"Ayo, makan!" ajak Rachel. "Dokter, silahkan. Kalian juga. Ayo, silahkan!"


Tidak seperti siang tadi, para dokter dan perawat, tidak sungkan lagi untuk mengangkat piring. Nadia tampak ragu, ia menatap Tian yang sudah memindahkan lauk dalam piringnya.


"Kenapa?" Tian mengambil sayur, meletakkan pada piring Nadia. "Jangan malu. Nanti, kamu kelaparan."


Nyonya rumah memperhatikan mereka. Tersenyum, sembari mengikuti mengambil makanan.


Suasana makan, yang tampak berbeda dari sebelumnya. Mereka mengobrol, bercanda, seolah tidak ada tingkatan status, diantara mereka. Nyonya rumah, yang bersikap hangat, memperlakukan para tamunya. Membuat mereka memiliki kesan tersendiri, tentang keluarga Alehandra.


Dilantai atas, Dave juga menikmati makan malam. Ia duduk dengan menghadap sang istri, yang masih terbaring. Tidak seperti mereka, yang duduk dengan rasa gembira. Dave menikmati makan malam, bertemankan kesepian dan kesedihan. Rasa makanan pun, begitu hambar dilidah.


Wajah yang memucat dan kedua mata terpejam rapat, membuat hidupnya tidak bersemangat dan seakan ikut mati. Ia tenggelam dalam penyesalan dan rasa bersalah, yang entah kapan akan berakhir.


Tok, tok, tok.


Dave tidak menoleh. Ia masih melanjutkan makan malam tanpa bersuara.


"Selamat malam, Tuan."


Sekretaris Tian, mengajak Nadia masuk. Tidak perlu menunggu atasan mereka menjawab. Karena ia tahu, pria itu tidak akan menjawabnya.


Dave mendongak, memperhatikan wajah gadis kecil, dalam pelukan sang ibu. Ia tersenyum, mempersilahkan mereka duduk, dengan isyarat tangan.


Dia benar-benar hancur. Dia tidak seperti presdir, yang aku kenal. Apa presdir, benar-benar mencintai Arshila? Atau dia seperti ini, hanya karena merasa bersalah? Nadia membatin. Memperhatikan Dave, yang


tidak seperti biasanya. Diwajahnya, ditumbuhi bulu, rambutnya acak-acakkan, bahkan sudah panjang. Raut wajahnya yang biasa, dingin dan tidak bersahabat. Kini seperti, menjadi


seseorang yang tengah berduka. Ia membisu dan tidak banyak bicara. Matanya memerah dan sembab, karena sering menangis.


Pria, itu menyelesaikan makan malamnya. Meneguk segelas air, sebagai penutup.


"Putri kecilmu akan tidur bersamaku dan ibunya. Aku akan memanggilmu, jika dia membutuhkanmu malam nanti."


"Baik, Tuan."


"Bawa barang-barang, yang diperlukannya. Letakkan disana." Dave menunjuk sebuah meja kecil disudut kamar.


Dave bangkit menuju tempat tidur, disusul Nadia yang menggendong putrinya.


"Jam berapa dia tidur?"


"Biasanya, dia akan tidur setelah meminum susu."


"Siapkanlah. Biar aku yang menidurkannya."

__ADS_1


Nadia tertegun. Tersadar, setelah Tian menepuk punggungnya.


Ia menurunkan, putri kecilnya diatas tempat tidur. Nadin merangkak, duduk diam disamping Arshila.


"Ibu," celotehnya, dengan menempelkan kepalanya, diatas perut Arshila.


Kenapa hatiku sakit? Nadia memegang dadanya yang terasa menusuk. Aku tahu, dia ibu kandungnya. Tapi. Aku tidak rela. Bagaimana jika Arshila bangun dan mengambil Nadin darinya? Mereka memang tidak ada hubungan darah. Tapi, dialah yang membesarkan dan merawatnya selama ini.


"Kamu baik-baik saja?" Tian menggoyang lengan Nadia. Karena, wanita itu mematung saat hendak membuat susu.


"Aku baik-baik saja," balasnya.


"Aku tahu, apa yang kamu pikirkan. Tapi. Percayalah. Nona, tidak mungkin mengambilnya darimu. Kebahagiaan putrinya ada ditanganmu. Tidak mungkin, ia tega menghancurkannya."


Nadia berharap, ucapan Tian bisa terjadi. Ia memang, tidak mengenal sifat Arshila. Selama ini. Ia hanya mendengar ucapan Dimas dan ibu mertuanya.


Susu sudah dibuat. Nadia menyerahkannya pada Dave, lalu kembali menuju kamar sebelah yang sudah disiapkan.


"Kamu sudah mau tidur?" Dave menggoyang-goyangkan botol susu. Tapi. Nadin hanya menatap sekilas, lalu kembali memeluk ibunya.


Dave ikut duduk. Mengelus rambut Nadin dengan lembut.


"Kamu mendengar sesuatu?" Dave terus memperhatikan anak kecil itu, menempelkan kepala diatas perut ibunya. "Ada adikmu, didalam. Kamu bisa memanggilku, ayah."


Anak yang baru berumur satu tahun lebih, tidak mengerti ucapan Dave. Tapi, wajah yang tersenyum didepannya, membuat ia memperlihatkan deretan giginya yang baru tumbuh sebagian.


"Mau minum susu?"


Nadin menggeleng. Ia berdiri, merentangkan kedua tangannya. Meminta dipeluk.


Ada perasaan aneh, yang menyelimuti Dave. Mungkin, seperti ini rasanya, jika memiliki seorang anak. Perasaan sayang yang timbul dan rasa ingin menjaganya, selama hidup.


"Ibu." Nadin melepaskan pelukan, Duduk disamping Arshila dan menggoyangkan tubuhnya.


"Ibu, angun." Tangan kecil itu, sedang menggoyang lengan ibunya. "Ibu, angun, bu. Ibu, ibu." Ia menangis tanpa sebab, hingga air mata jatuh tepat diwajah sang ibu.


"Ibu, angun!"


"Kenapa sayang? Ibu sedang tidur. Biar ayah, memelukmu."


Deg.


Dave membeku. Tangannya menggantung diudara.


Mata yang sudah lama terpejam rapat. Bergerak. Perlahan membuka, karena merasa setitik air berada diatas bola matanya.


"Shila."


"Ibu."


Pesan Author

__ADS_1


Terima kasih, yang masih setia menunggu. Maaf jika slow update. Selamat menunaikan ibadah puasa. Semoga kita semua diberi kesehatan.


__ADS_2