Dendam Sang Presdir

Dendam Sang Presdir
Bab 46. Membiasakan diri


__ADS_3

Tiga hari sudah berlalu, masih di rumah sakit.


Jarum infus sudah dilepas, semua pakaian juga dirapikan dalam tas. Dokter sofia telah mengizinkan Arshila kembali di rumah.


"Lukanya sudah sembuh, hanya masih perlu diberi salep untuk perawatan. Agar tidak menimbulkan bekas luka."


Arshila mengucapkan terima kasih, karena dokter Sofia sudah merawatnya dengan baik.


"Silahkan, Nona."


Ia melangkah, memaksa kedua kakinya untuk berjalan. Pulang, mungkin bagi sebagian orang kata pulang, menjadi kata yang membahagiakan. Berkumpul dengan keluarga dan melakukan banyak hal. Tapi baginya, kata pulang tidak bermakna apa-apa. Karena, hanya kesepian dan derita hati yang menyambutnya.


Didalam mobil, Arshila hanya membisu sembari menatap kearah luar jendela. Akan menyenangkan, jika ia menjadi seperti mereka. Pergi bekerja, melakukan kesibukan untuk menghabiskan waktu.


Kini pikirannya, berlabuh ditempat lain. Sebuah rumah yang akan menjadi tujuannya. Apa yang akan menyambutnya? Arshila menyandarkan kepalanya dijendela, menatap lurus kedepan.


Sudah dekat! Jangan takut, Shi. Kau sudah pernah melaluinya berkali-kali. Jika kematian menunggumu didalam sana, bukankah itu lebih baik!


Ia memejamkan mata, menguatkan hatinya yang sudah pasrah.


"Kita sudah sampai, Nona."


Degup jantung Arshila semakin cepat, saat supir berkata demikian.


Ibu Lin sudah turun terlebih dahulu, begitu juga supir yang mengambil barang-barang.


Deg.


Ada apa ini? Kenapa mereka berbaris diluar? Tunggu! Bukankah, itu pak Yus! Kenapa ikut keluar? Apa Dave akan pulang? Tidak! Aku tidak mau berpas-passan dengannya. Aku harus segera masuk.


"Selamat datang, Nona."


Arshila berhenti mendadak, para pelayan yang sehari-hari membantunya bekerja, menyambut dengan hormat.


"Ka ... kalian, kenapa?"


"Silahkan masuk, Nona."


Pak Yus menghampiri Arshila yang kebingungan menatap mereka.


"Jangan seperti ini, Pak. Kalian membuatku takut."


"Takut, apa?" Rachel tiba-tiba muncul "Masuklah, kamu baru sembuh. Mulai, hari ini biasakan dirimu, menjadi menantuku."


Arshila langsung masuk, tanpa membantah lagi. Di ruang keluarga, Rachel sudah duduk dengan secangkir teh yang beruap. Sementara, Arshila memperhatikan seisi rumah yang penuh dengan dekorasi pesta.

__ADS_1


"Duduk." Rachel meletakkan cangkirnya. "Mulai hari ini, statusmu adalah menantu di keluarga ini. Jangan, memikirkan anak sialan itu. Selama aku disini, dia tidak akan berbuat macam-macam."


"Maafkan saya, Nyonya. Tapi, ..."


"Nyonya??" Suara Rachel naik satu level. "Panggil aku, Mama. Coba, katakan sekarang."


"Ma ... Mama." Arshila masih terbata karena gugup.


"Bagus." Kembali dengan nada rendah dan sedikit senyum. "Kamarmu sudah dipindahkan diatas. Kalian akan sekamar dengan suamimu."


"Apa?" Arshila terlonjak. "Tapi, Nyonya. Saya ... " Mata Rachel sudah melotot, sebelum menantunya menyelesaikan ucapannya."Maaf, Ma."


"Aku sudah bilang, dia tidak akan macam-macam. Aku tahu kekhawatiranmu, tapi sebagai pasangan kalian harus tidur bersama dan memberiku cucu."


Lagi-lagi, Arshila terlonjak dan kali ini matanya membelalak dan hampir melompat, karena kaget. Cucu! Bagaimana bisa dia meminta cucu? Putranya hanya menyiksaku, tapi dengan mudahnya meminta cucu. Ibu dan anak sama gilanya!


"A ... Aku ...." Arshila menunduk.


Rasa trauma dan takut masih menyelimuti hati dan pikirannya. Bagaimana bisa ia melewati malam, jika seranjang dengan Dave? Luka ditubuhnya baru sembuh, apa harus kembali menambah luka baru?


Rachel memeluk menantunya, ia mengerti tapi semua harus dilalui dengan cepat.


"Mama jamin, dia tidak akan menyakitimu lagi. Percayalah!"


"Aku takut." Arshila terisak.


"Sudah, naiklah keatas."


Arshila pun hanya menuruti saja. Jika Dave, kembali melakukan hal kasar, mungkin ia cukup berteriak saja. Agar, sang ibu mertua menghadapi anaknya sendiri.


Didepan kamar, Ibu Lin sudah menunggu. Sepertinya, untuk memperlihatkan sesuatu kepadanya.


"Nona, sebelah sini pakaian Anda dan disebelahnya pakaian tuan muda. Lemari ini, khusus tas dan sepatu." Ibu Lin kembali menunjuk lemari lainnya.


"Ibu Lin, saya hanya berada di rumah untuk apa pakaian sebanyak itu."


Ibu Lin hanya tersenyum, lalu kembali menunjukkan meja rias.


"Semua make up sudah disiapkan. Mulai besok, Nona akan melakukan perawatan rutin dan mengikuti beberapa kelas."


"Kelas?" Arshila mengerutkan alis.


"Nyonya ingin Anda mengikuti kelas bahasa inggris. Selain itu, Anda juga akan belajar di kelas memasak. Selain, itu ada akan beberapa guru les yang akan mengajari Anda tentang banyak hal."


"Apa itu?"

__ADS_1


"Anda akan tahu sendiri, Nona. Sekarang, istirahatlah. Saya akan memberikan jadwalnya minggu depan. Esok hari, cukup perawatan tubuh saja."


Ibu Lin sudah keluar, Arshila hanya duduk diatas sofa. Masih pukul 10 pagi, ia tidak tahu harus berbuat apa didalam kamar seluas ini.


Tapi, tatapannya terkunci pada bingkai foto yang masih terpajang disana. Menyakitkan, melihat foto wanita lain terpampang didepannya.


Arshila bangkit, meraba setiap bagian foto, sembari tersenyum getir.


"Aku sudah berusaha, tapi tetap saja, aku masih berdiri didepanmu. Maaf, aku tidak berniat untuk menggantikan posisimu. Aku hanya tidak punya pilihan. Jangan merasa terkhianati, karena dia tidak memiliki perasaan padaku, begitu juga aku."


Kembali tersenyum menatap foto Clarissa, wajah cantik disana seolah tersenyum untuk membalas.


Arshila mengambil sebuah bantal dan mencari selimut dalam lemari. Ia meletakkan kedua barang itu diatas sofa. Inilah tempat untuk ia merebahkan diri malam ini.


Ceklek, pintu kamar terbuka.


Rachel sudah melangkah masuk, memperhatikan dua benda diatas sofa, tapi ia mengabaikannya.


"Ambil ini." Menyerahkan sebuah ponsel. "Jangan menolak, kamu membutuhkannya. Telepon Mama, jika ada apa-apa."


"Terima kasih, Ma."


"Istirahatlah, sebentar lagi makan siang."


Arshila mengangguk. Meski, belum terbiasa ia berusaha untuk menerima semua perlakuan ibu mertuanya.


Arshila memeriksa nomor kontak di ponsel barunya. Sudah ada nama, mama dan papa, serta suami sialan. Hah! Arshila kembali membaca nama kontak itu. Suami sialan, begitulah yang tertera dan Arshila tidak berniat untuk mengubahnya.


Mama sangat lucu, tapi tegas. Ia sempat geleng-geleng kepala, mengingat sifat mertuanya yang tidak bisa ditebak. Entah bagaimana, sifat ayah mertuanya, Arshila berharap ia memiliki sifat yang sama.


Arshila memilih keluar kamar, karena merasa bosan. Ia berjalan menuju dapur, memperhatikan para koki memasak. Mungkin, ada yang bisa ia kerjakan.


"Anda butuh sesuatu, Nona?"


"Tidak, lanjutkan saja. Aku merasa bosan, apa ada yang bisa aku bantu?"


Koki tersenyum, ia sudah tahu maksud Arshila. Karena, sang majikan sudah terbiasa bekerja.


"Tidak apa, Nona. Kami sudah hampir selesai. Jika Anda merasa bosan, kenapa tidak ke perpustakaan dilantai tiga."


"Perpustakaan?"


"Iya, Nona. Sudah tiga hari, tuan muda menyiapkan perpustakaan untuk Anda. Disana, ada Ica yang sedang merapikan buku."


Arshila sempat antusias dan kegirangan, tapi detik berikutnya. Semua lenyap. Untuk apa, ia mempersiapkan perpustakaan untukku? Apa menjadi tempat baru untuk menyiksanya?

__ADS_1


.


__ADS_2