
Sebuah mobil mewah, memecah kepadatan lalu lintas. Suara klakson, terdengar beberapa kali. Laju kendaraan yang sering melambat, membuat penumpang yang duduk dibelakang, berteriak frustasi.
Setelah, menerima telepon dari pak Yus. Dave langsung melesat meninggalkan perusahaan. Sekretarisnya yang selalu mendampingi, langsung duduk dibelakang kemudi. Bayangkan saja, jika Dave yang mengemudi sekarang. Mungkin, ia tidak akan segan-segan menabrak pengemudi lain, untuk membersihkan jalanannya.
Tiba dihalaman rumah, Dave langsung meloncat keluar. Padahal mobil, belum berhenti sempurna. Ia langsung berlari, berteriak memanggil pak Yus.
"Mana?" tanya Dave yang menengadahkan tangannya.
"Di kamar, nyonya. Katanya, berada dalam lemari sebelah kiri ujung, dibawah lipatan pakaian."
Ia kembali berlari masuk dalam kamar, mencari benda yang dimaksud. Bukannya mencari dengan baik, ia menghamburkan semua pakaian yang sudah terlipat rapi.
Tanpa menunggu waktu lama, ia segera keluar kamar. Kembali berlari, menuju lantai dua, ruangan kerja.
"Lepaskan aku!" Suara tangis Arshila yang meronta-ronta.
"Ah, Clarissa!"
Deg.
Dave mengusap wajahnya, dengan kasar. Rekaman yang menunjukkan dirinya yang tengah mabuk. Memaksa Arshila untuk melayaninya.
Seperti sebuah film, Dave menarik istrinya yang mencoba keluar kamar. Selanjutnya, hanya terdengar suara tangis dan ucapan seorang pria yang menyebut nama wanita lain.
"Aku mohon, Dave. Tolong, lepaskan aku!"
"Clarissa sayang, aku merindukanmu."
Kamera yang diletakkan Rachel disebuah lemari buku, hanya memperlihatkan adegan didepan pintu.
Dave membelalak, kedua matanya terbuka lebar-lebar. Rekaman yang tidak terbantahkan, membuatnya sulit bernapas. Tenggorokannya tercekat untuk bersuara. Ia merasa sangat sesak, sesuatu seperti akan meledak dalam hati dan jantungnya.
"Aku tidak ingin menghabiskan uang dan waktuku, untuk anak harammu!"
Ucapannya kepada sang istri, terlintas begitu saja. Air matanya tumpah, menetes diatas meja. Berteriak frustasi, bercampur tangis yang menyayat hati. Berulang kali memukul dadanya, yang kekurangan oksigen.
Bug, bug, kembali memukul dengan keras. Rasa bersalah ini, seperti membunuhnya. Ia jatuh dengan mendaratkan kedua lututnya diatas lantai. Kepalanya sangat pusing, pandangannya berputar.
"Tuan."
Sektetaris Tian, yang mendengar teriakan Dave berlari menyusul.
__ADS_1
"Apa yang harus aku lakukan?" Dave menjatuhkan kepalanya dipundak sekretarisnya.
Tian menepuk punggung sang presdir dengan lembut. Sang penguasa yang tidak ragu untuk menjatuhkan lawannya, kini tidak berdaya. Sang presdir yang angkuh dan kasar, terlihat berantakan dan hancur dari sorot matanya.
Dave tidak memiliki tenaga, ia terus menangis seperti seseorang yang kehilangan segalanya. Ia menyesal, sangat menyesal. Bahkan, ia tidak mampu mengucapkannya.
Aku menyentuhnya malam itu. Aku melakukannya, tapi kenapa aku tidak mengingatnya sama sekali.
Dave memejamkan mata, kepalanya terlalu pusing. Begitu juga, dadanya yang terasa sangat nyeri dan sesak. Ia kehilangan tenaga, bahkan sekedar bangkit dari posisinya.
Pak Yus datang, meletakkan segelas air putih. Ia membantu Tian, untuk memapah Dave menuju sofa. Memberikan segelas air, yang diminum Dave sampai tandas.
Pria itu, bersandar, masih terpejam dengan mata yang basah. Ia membenturkan kepalanya ke belakang, berulang kali. Jika ini mimpi, ia ingin segera bangun. Ia tidak sanggup menanggung, rasa bersalah dan penyesalan yang mengoyak hatinya. Kata maaf, tidak akan menghapus semua kesalahannya dengan mudah. Meski, ia berlutut sekalipun, ia masih tidak termaafkan.
"Tuan, tolong jangan lakukan itu!"
Pak Yus, khawatir dengan Dave yang terus membenturkan kepalanya dengan keras.
"Dari mana rekaman itu?"
"Malam ulang tahun, nona Clarissa. Nyonya, meletakkan sebuah kamera di lemari buku. Ia meminta saya mengambilnya, saat Tuan berangkat bekerja."
"Maafkan, saya Tuan. Saya hanya memberikan kamera itu pada nyonya. Saya juga tidak tahu isinya tentang apa."
Pranggg.
Gelas kosong diatas meja, sudah menjadi serpihan yang berserakan diatas lantai.
"Jika kalian mengatakan dari awal, aku tidak akan sesakit ini." Dave terisak, meremas dadanya yang masih menusuk. "Aku seperti ingin mati. Clarissa yang aku cinta ternyata tidak mencintaiku. Ia memilih mati dari pada bersamaku. Aku membalas dendam untuknya, untuk anakku yang ternyata bukan milikku. Aku mengeluarkan amarahku pada orang yang salah. Aku membuatnya menderita, menangis dan membuatnya tidak ingin hidup lagi. Kalian tidak mengerti, sesakit apa aku sekarang!"
Dave berderai air mata, memegang lututnya seperti sedang rukuk. Terlalu menyakitkan, jika ia mengatakan semua kesalahannya.
Apa yang harus ia lakukan, agar rasa bersalah dalam hatinya berkurang, meski hanya setipis debu.
"Aku sakit, rasanya sakit sekali. Aku tercekik dan tidak bisa bernapas. Kenapa, kalian tidak mengatakannya dari awal? Kenapa?" Dave kembali menatap pak Yus.
Pria paruh baya itu, hanya membisu. Ia tidak bisa menjawab, karena memang tidak tahu apa-apa.
Bug, bug, Dave memukul dadanya. Ia menarik napas panjang. Ia merasa sangat sesak, sesuatu menghimpit pernapasannya.
Ia jatuh terduduk diatas sofa. Kenyataan didepan mata, yang entah bagaimana ia menghadapinya.
__ADS_1
Oh, tidak. Anakku!
Dave tersadar, ia segera bangkit dengan tangis yang belum reda. Memaksa tubuhnya, untuk berlari secepat mungkin.
"Tuan, Tuan," panggil sang sekretaris, yang ikut berlari keluar bersama pak Yus.
Anakku! Anakku!
Dave langsung masuk dalam mobil, duduk di kursi belakang. Beruntung sekretarisnya yang gesit, lebih dulu masuk dalam mobil dan duduk di kursi kemudi.
Mesin mobil, baru dinyalakan. Dering telepon, membuat Tian meraba saku jasnya. Pelayan baru yang menjaga nona muda menelpon. Firasatnya buruk, ia langsung mengangkatnya setelah menyetel dalam mode speaker.
"Tuan sekretaris. Tolong, nona muda ingin bunuh diri!"
Jedarr.
Dave langsung menyambar ponsel Tian.
"Apa yang terjadi?"
"Nona muda mengambil pisau buah. Ia sudah melukai telapak tangannya. Kami tidak bisa melakukan apa-apa, karena ia mengarahkan pisau dilehernya."
Jantung Dave terpacu dengan cepat. Ponsel dalam tangannya jatuh tanpa disadarinya. Wajahnya memucat dan ketakutan. Air matanya menetes, pikirannya tertuju pada sang istri yang berbuat nekat.
Jika, Arshila bunuh diri seperti Clarissa, apa yang akan terjadi pada dirinya? Bagaimana ia akan menanggung semua beban penyesalan dalam dirinya?
Dave mengacak rambutnya, ia tertunduk dengan menopang kepalanya dikedua tangannya yang tertekuk.
Anakku! Anakku!!
Kembali menangis, tanpa bersuara. Ia ingin menjerit dan berteriak sepuasnya.
Sektetaris Tian, langsung tancap gas. Keluar gerbang rumah dengan kecepatan tinggi. Mereka harus tiba segera mungkin. Jika tidak, jika tidak, Tian menghalau pikirannya. Sesuatu yang buruk akan terjadi, begitulah firasatnya berkata.
Mobil sudah terparkir di halaman rumah sakit. Dua pria dengan firasat buruk, berlari masuk. Mengabaikan pandangan orang dan salam hormat dari petinggi rumah sakit yang bertemu mereka.
Brak.
Pandangan Dave terkunci pada Arshila. Wajah sembab dan tatapan kosong. Ditangan kanannya memegang pisau, mengarahkan tepat dipergelangan tangan kirinya. Darah segar menetes dari sana, mengalir dari telapak tangannya
"Arshilaaa....."
__ADS_1