Dendam Sang Presdir

Dendam Sang Presdir
Bab 111. Fira yang shock


__ADS_3

"Jelaskan, padaku Fira!" teriak Bagas. "Apa benar yang mereka katakan?"


"Iya, benar." Fira membalas tatapan sang suami, amarah yang tersulut menutupi rasa takutnya. "Aku tidak terima, dia menikah dengan pembunuh putriku."


Tatapan Bagas beralih pada kedua tamunya. Dadanya bergemuruh, mendengar tudingan sang istri.


"Aku sudah bilang. Aku membuka kembali kasus Clarissa. Kalian datang saja ke pengadilan dan mendengarkannya disana."


"Itu alasan, kalian membuka kembali kasusnya? Karena, kau menikahi wanita yang melenyapkan putriku. Kalian mau membersihkan namanya dan memfitnah putriku, begitu!" teriak Bagas, dengan gurat amarah yang meluap.


"Kalau, iya, memangnya, kenapa?" tantang Dave, yang ikut tersulut emosi. "Aku akan membersihkan nama istriku. Mengenai Clarisssa, istri Anda lebih paham, apa yang terjadi padanya."


"Kau memfitnahku?" teriak Fira, ia harus menyudutkan Dave, melimpahkan semua kesalahan padanya. "Kau menikah dengannya, tanpa mempedulikan perasaan putriku. Bahkan, kau melupakan anak dalam kandungannya."


"CUKUP!"


Semua terdiam dan menoleh pada Alexa. Gadis yang sedari tadi, membisu dan memperhatikan situasi. Mulai muak, akhirmya membuka mulut.


"Sampai kau akan menyalahkan orang lain, atas kematian Clarissa?" Alexa maju selangkah demi selangkah, berhenti tepat dihadapan Fira. "Dari awal, kau hanya memanfaatkan putri kandungmu. Ia mencintai orang lain, tapi kau terus memaksa dan mengancamnya, hingga mau bertunangan dengan Dave. Anak dalam kandungannya pun, kau tidak peduli. Memberi Dave, obat tidur dan membuat mereka tidur bersama, di apartemen."


"Kau??" Fira mengepalkan tangannya.


"Kenapa? Apakah aku harus memanggil, paman Jay untuk bersaksi?" Alexa menyeringai. "Putrimu bunuh diri karena ulahmu sendiri."


"Tidak, tidak mungkin, dia melakukan itu."


PLAK


Bagas langsung mendaratkan tamparan, diwajah sang istri. Kesabarannya habis, mendengar ucapan Alexa, yang langsung ia percaya, begitu saja.


"Kau sekejam itu, pada putrimu sendiri?"


"Kau lebih percaya padanya? Aku istrimu!" teriak Fira, dengan berderai air mata.


"Ah, sudahlah, Tante. Aku lupa memberitahumu, seharusnya kau membiarkan Clarisa bersama kekasihnya. Kau tahu kenapa?" Alexa memajukan wajahnya, hendak berbisik. "Kekasihnya adalah putra dari Malvinder, pemilik Elf Coorperation."


Fira serasa sesak. Napasnya tercekat akan sesuatu yang mengganjal didalam hatinya. Ia ingin menangis dan berteriak sepuasnya.


"Kau ingin menipuku?"


Bagaimana ia bisa tahu, status kekasih putrinya. Bahkan, pria itu datang dengan tampilan sederhana, menggunakan kendaraan biasa, di tubuhnya tidak ada barang mewah yang melekat.


"Lihat dia! Aku dengar kekayaannya, melebihi mantan calon menantumu." Alexa memperlihatkan foto Elinno, menggunakan setelan jas dan duduk dikursi kebesaran. Tak lupa, sebuah papan nama diatas meja, terukir jabatan yang dimiliknya.


Fira membeliak, tak percaya. Bagaimana bisa kekasih, putrinya adalah bukan orang biasa. Mengingat bagaimana, penampilan pria itu, setiap kali datang, menemui putrinya.


Pakaian biasa, tidak bermerk. Bukan seperti Dave, yang menggunakan pakaian dari desainer ternama. Ia bahkan, hanya menggunakan jam tangan biasa, yang bisa ditemukan dipusat perbelanjaan, dengan harga murah.


Fira jatuh terduduk diatas lantai. Tatapannya dipenuhi kekosongan dan wajahnya basah dengan lelehan air mata. Bagaimana mungkin, penampilan pria itu, bisa menipunya. Tampilan sederhana, yang menutupi identitasnya.

__ADS_1


Tidak, tidak mungkin. Dia pria miskin, yang tidak punya apa-apa.


Alexa menekuk kakinya, mensejajarkan tinggi badannya.


"Kau menyesal?" tersenyum puas, dengan tatapan Fira, yang dipenuhi penyesalan. "Ah, sayang sekali. Padahal, dia bisa menaikkan status sosialmu."


"Alex." Bagas menatap putrinya, yang kembali duduk, tanpa rasa bersalah pada sang ibu sambung.


"Sudahlah, Pa. Biarkan mereka membuka kembali kasusnya. Lagipula, pelaku yang menabrak Clarissa adalah orang lain."


"Kamu tahu semuanya, tapi tidak memberitahu ayahmu?"


"Apa Papa akan percaya padaku, saat itu?" Alexa bangkit, maju selangkah didepan sang ayah. "Tidak, bukan! Di matamu, hanya ada Clarissa dan istrimu, sebagai keluarga. Dan aku, hanyalah orang luar."


Setelah mengatakan itu, Alexa langsung pergi. Ia tidak menghiraukan sang ayah, yang terus memanggil namanya.


"Maafkan, aku Tuan Liam. Maaf, karena sudah tersulut emosi dan membiarkan kalian melihat ini."


"Tidak apa. Kami sebaiknya pergi."


Dave berjalan lebih dulu. Dihalaman depan, ternyata Alexa sudah menunggunya.


"Papa. Tunggu aku, di mobil."


Memastikan Liam, masuk dalam mobil, Dave mendekati Alexa, tidak jauh dari mobil yang terparkir.


"Hmm. Terima kasih, karena mau membantuku."


"Tidak. Aku tidak membantumu. Jangan berpikir, kesalahanmu akan selesai, hanya karena kau mengembalikan semuanya."


"Aku mencintainya dan akan melakukan apapun, untuknya. Sebaiknya, kau jangan ikut campur."


Dave segera menyusul sang ayah, masuk dalam mobil. Ia tidak mau membuang waktu lebih lama lagi.


Sepanjang jalan, kedua pria beda usia, hanya terus membisu. Entah tidak tahu harus membicarakan apa atau mungkin, keduanya sudah lelah sepanjang hari. Apalagi, langit diatas sudah gelap, lampu-lampu dijalanan sudah menyala. Ternyata, di kediaman Bagas, mereka menghabiskan banyak waktu.


Tian sudah menepikan kendaraan dihalaman. Pak Yus, membuka pintu dan menyambut keduanya.


"Mana istriku?" tanya Dave, yang melangkah masuk rumah lebih dulu.


"Nona sedang berada diperpustakaan bersama Ica."


"Apa yang dilakukannya seharian ini?"


"Nona seharian bersama Nyonya dalam rumah. Mereka tidak melakukan apa-apa, selain mengobrol."


"Baguslah. Siapkan, air mandiku."


Pak Yus bergegas naik tangga, menuju kamar. Sementara, Dave menuju perpustakaan, tempat Arshila berada.

__ADS_1


Tampak sang istri sedang, fokus membaca sebuah buku kehamilan. Diatas meja, ada potongan buah, dan segelas jus.


Ica yang menyadari kedatangan tuan muda, mundur perlahan tanpa bersuara.


"Kamu membaca buku apa, sayang?" Memeluk sang istri dari belakang. Mendaratkan kecupan dipipi kiri dan menghirup aroma tubuh Arshila.


"Kamu sudah pulang?"


Dave mengangguk, dengan meletakkan kepalanya dibahu sang istri.


"Kamu mau mandi? Aku akan siapkan air."


"Tidak perlu. Ayo, kita ke kamar saja."


Arshila mengangguk, membiarkan sang suami menggandeng tangannya, masuk dalam lift.


Di dalam kamar mandi, pak Yus sudah menyiapkan semuanya. Arshila cukup, menyediakan pakaian yang akan digunakan Dave, setelah mandi.


Sambil menunggu, ia mengirim pesan pada sang adik. Menanyakan kabar dan hal lainnya.


"Kak, aku mau keluar kota, besok. Kamu ingin oleh-oleh apa?"


"Benarkah? Belikan aku keripik singkong dan keripik ubi jalar ungu."


"Bukannya, itu banyak dijual?"


"Aku mau makan, yang berasal dari kotanya."


"Hahahaha, baiklah. Aku akan memborongnya, untukmu."


"Aku menunggunya. Hati-hati, ya!"


"Oke."


Arshila meletakkan ponsel, setelah mendengar suara pintu kamar mandi terbuka. Dave keluar dengan handuk yang melilit dipinggang. Tetesan air, jatuh dari rambutnya yang masih basah.


"Apa kamu bosan berada di rumah?"


"Kadang. Tapi, aku juga tidak tahu, mau kemana?"


"Kamu bisa mengajak Mama, untuk keluar. Aku tidak akan melarangmu, pergi. Selama, kamu pergi bersama Mama atau orang dalam rumah."


Arshila hanya tersenyum sekilas, diiringi helaan napasnya, yang berat.


"Kenapa?" Dave mendekat, dengan perasaan khawatir.


"Aku ingin seperti orang lain, yang memiliki teman. Dulu aku punya mereka. Tapi. Tiba-tiba harus pergi, dengan berbagai alasan. Aku juga kehilangan kontak, karena ponselku yang rusak."


Deg.

__ADS_1


__ADS_2