Dendam Sang Presdir

Dendam Sang Presdir
Bab 122. Kebersamaan


__ADS_3

Masih di kamar hotel, saat pagi mulai menyising. Arshila bangun lebih dulu, mengedarkan pandangan, karena lupa dimana ia berada saat ini. Ia tersadar, setelah melihat tumpukan kado, diatas lantai.


Disampingnya, masih terdengar dengkuran halus sang suami. Ditatapnya, sejenak, lalu menaikkan selimut untuknya.


"Terima kasih," ujarnya, dengan memberikan kecupan.


Baru saja, kedua kaki Arshila mendarat diatas lantai, tangan kekar Dave sudah menarik tubuhnya. Kembali terbaring diatas tempat tidur.


"Mau kemana?" Dave masih memejamkan mata, tangannya sudah melingkar dipinggang sang istri.


"Aku lapar."


Sontak kedua mata Dave, terbuka lebar. Ia langsung bangkit.


"Lapar?" Memegang perut Arshila. "Baik, tunggu, ya, sayang!"


Meraih ponselnya, dibawah bantal. Menekan nomor ibu Lin, yang mungkin sudah bangun.


"Suruh mereka, membawa sarapan di kamarku."


Sambungan terputus, setelah mendengar jawaban dari ibu Lin.


"Sabar, yah! Sebentar lagi datang."


Arshila mengangguk, lalu bangkit menuju kamar mandi. Tubuhnya merasa lengket dan ingin mandi.


Sarapan sudah tersaji diatas meja, dengan berbagai menu. Bahkan, roti tawar dengan dua selai, juga ada. Tak lupa, segelas susu ibu hamil dan potongan buah, sebagai penutup.


Arshila sudah lebih segar. Rambutnya yang basah dibungkus dengan handuk. Menggunakan baju terusan warna putih polos, dengan panjang selutut. Duduk ditepi ranjang membangunkan Dave.


"Aku lapar," ujarnya dengan nada sedikit manja.


Dave tersenyum simpul. Aroma parfum dan shampo, menusuk indra penciumannya. Wangi dan ingin memeluknya.


"Mau ditemani?"


Arshila mengangguk, sambil menarik tangan Dave untuk bangun.


Seporsi nasi putih, tumis jamur dan semur daging, ditemani semangkuk sup hangat. Arshila mulai menyantap makanannya. Dave duduk dengan meneguk segelas air putih. Memperhatikan sang istri yang lahap.


"Mau buka itu, sekarang atau di rumah?" tunjuk Dave, pada tumpukan kado diatas lantai.


"Bagaimana kalau di rumah saja? Agar orang-orang di rumah, bisa membantuku."


"Baiklah. Aku ikut saja. Aku akan meminta Tian, membawa semua ke rumah."


"Kamu mau bulan madu, sayang?"


"Tidak perlu. Aku ingin fokus pada kehamilanku. Tidak apa-apa, kan?"


"Tidak, dong. Aku akan menurut saja, apa yang kamu bilang."


Kadang Arshila, merasa takut mengeluarkan pendapatnya. Takut dengan kemarahan pria itu. Ia sudah pernah melihat kemarahan Dave, yang membuatnya terguncang.


Jadi, dia masih berhati-hati dalam berbicara. Bukan tidak mungkin, suaminya bisa saja kembali seperti dulu. Meski, saat ini, dia sudah sangat berubah.


Arshila mengambil roti tawar, yang diberi selai strobery, setelah piringnya kosong. Kunyah-kunyah sambil meminum susu.


Lucunya! Gumam Dave, yang kedua maniknya masih memperhatikan Arshila. Istrinya makan, dengan porsi untuk dua orang. Mangkuk supnya sudah habis, sekaranga ia menambah makan roti.


"Aku mau mandi," ujar Dave, yang memberi kecupan sebelum berdiri.


Tok tok tok.

__ADS_1


Arshila membuka pintu. Didepan sudah ada, sekretaris Tian, dengan beberapa orang dibelakangnya.


"Selamat pagi, Nona."


"Selamat pagi. Kalian mau mengambil kado, kan?"


"Iya, Nona."


Arshila membuka lebar pintu. Membiarkan mereka masuk. Tian membuka tas besar yang dibawanya. Satu persatu, kado pernikahan dimasukkannya. Setelah selesai, Tian menyuruh bawahannya, untuk membawa keluar.


"Terima kasih," ujar Arshila pada mereka.


"Sama-sama, Nona. Kami permisi."


Pintu kembali ditutup. Arshila kembali duduk dan melanjutkan makannya.


Dave sudah berpakaian rapi. Rencananya, mereka akan keluar hotel siang ini dan kembali ke rumah.


"Mama mengadakan acara makan siang, di rumah untuk keluarga besar. Aku mengundang teman-temanmu, untuk datang."


Mendengar itu, Arshila langsung bangkit. Duduk dipangkuan sang suami, dengan memberikan pelukan.


"Terima kasih. Aku sangat senang."


Yah, kemarin, ia belum puas untuk berbagi cerita dengan mereka.


"Bagaimana jika ucapan terima kasihnya dengan cara lain?"


Dave sudah mendaratkan bibirnya, sambil kedua tangan menahan pinggang sang istri. Cukup lama, sampai ia melepaskan Arshila untuk mengambil oksigen.


Ia bangkit dengan menggendong Arshila menuju tempat tidur. Kembali berciuman, sambil membuka pakaiannya.


Acara ucapan terima kasih, berlangsung diatas tempat tidur yang bergoyang.


Rachel sibuk mempersiapakan acara makan siang, untuk keluarga besar. Disana, sudah ada ibu Ellino yang turut membantu.


Malvel dan Liam, duduk bermain catur dihalaman samping.


"Mana putramu?".


"Dia akan datang, siang nanti. Dia sedang mengadakan rapat."


"Sangat sibuk. Kapan dia akan menikah?"


"Entahlah. Mungkin dia akan menikahi dokumen atau komputer di kantor."


"Hahahahaha." Liam tergelak. Apa segitunya Ellino mencintai pekerjaannya dan tidak mau menikah?


Tian baru saja tiba, dengan membawa tiga tas besar. Kado berukuran besar, dibawa beberapa orang dibelakangnya.


"Selamat pagi, Nyonya.," sapa Tian. "Dimana kami harus meletakannya?"


"Di kamar Dave, naik saja."


"Baik, Nyonya."


Tian menapaki anak tangga, diikuti bawahannya. Ibu Ellino memperhatikan mereka dengan menggerutu.


"Kenapa?"


"Kapan putraku akan menikah?"


"Jangan tanya padaku. Jodohkan saja dia!"

__ADS_1


Ibu Ellino menghela napas panjang. Menjodohkan bukanlah solusi terbaik, karena ia sendiri sudah beberapa kali melakukannya dan berakhir dengan kegagalan. Karena, penolakan putranya.


"Tian," panggil Rachel, saat Tian baru tiba dilantai satu.


"Minta Nadia untuk datang dan membawa putrinya."


"Baik, Nyonya."


Tian berpamitan pergi. Didepan pintu, ia bertemu dengan Alexa dan yang lainnya.


"Masuklah," ujar Tian.


"Terima kasih." Jian yang membalas, dengan tatapan penuh kekaguman.


Rachel sudah menyambut mereka dan mempersilahkan duduk.


"Terima kasih, kalian sudah mau datang. Oh, iya, Tante belum berkenalan dengan kalian."


"Aku Alexa. Ini Jian, Yessi dan itu tante Nessa."


Mereka mengulurkan tangan ada Rachel dan ibu Ellino.


"Nessa?" Ibu Ellino menatap wanita yang hampir seumurannya. "Nessa Ayunda Arthur?"


tanyanya lagi.


"Iya, ini aku, Aniah."


Aaaaaa! Keduanya memekik girang, bangkit berpelukan. Rachel dan yang lainnya, menatap bingung. Apa mereka sedang reuni?


"Kalian saling mengenal?" tanya Rachel.


"Dia sahabat SMA ku," jawab ibu Ellino yang masih menggebu-gebu.


Ibu Ellino sudah menarik tangan tante Nessa, menuju halaman samping. Dia ingin mempertemukannya dengan Malvin.


"Dasar!" gerutu Rachel yang mendadak merasa diabaikan.


"Kak Shi, sudah datang, Tante?" tanya Jian, karena tidak menemukan Arshila dalam rumah itu.


"Dia masih dihotel. Mungkin, siang nanti, baru datang."


"Hoooo," seru Jian dan Yessi, dengan senyuman yang penuh arti.


"Yah, sudah. Kalian, duduk dulu, yah. Tante mau melihat didapur."


"Baik, Tante."


Selepas Rachel pergi. Yessi dan Jian merapatkan tubuh. Sementara, Alexa, tidak peduli. Ia memilih untuk meminum teh hangat dan menikmati kue diatas meja.


"Apa yang mereka lakukan di hotel?" Jin sudh terkikik tidak jelas. Otak keduanya, yang sudah tercemari pikiran kotor, berimajinasi dengan hal-hal dewasa.


"Memangnya, apa lagi?" balas Yessi.


"Menikah, sana!" celetuk Alexa, yang tidak menoleh.


"Mesti, cari lawan, Kak. Kalau mau nikah."


"Nathan, kan ada?"


"Itu buat Yessi. Jian belum punya, Kak?"


"Sekretaris tadi, mau?"

__ADS_1


Mata Jian sudah berbinar terang. Sekretaris Tian, yang tampan dan berkharisma.


__ADS_2