Dendam Sang Presdir

Dendam Sang Presdir
Bab 56. Ini bukan rumah.


__ADS_3

Disisi belahan bumi, daratan yang bermil-mil jauhnya dan terpisahkan dengan luasnya samudera. Wanita tomboi yang sudah beberapa bulan dirundung kegelisahan tak berujung. Sebuah nomor ponsel yang selalu dihubunginya, tak pernah tersambung. Sangat tidak masuk akal, jika Arshila begitu sibuk. Satu-satunya, yang terlintas dalam akal sehatnya, wanita itu sedang tidak baik-baik saja.


Berada diluar negeri, membuatnya tidak bisa berbuat apa-apa. Ia sudah menghubungi tante Nessa, meminta bantuan untuk mencari tahu. Tapi, sampai sekarang tidak ada satu kabar pun yang membuat hatinya menjadi tenang.


"Kamu mau kembali, Lex?"


"Iya, Ma."


"Hati-hati. Jangan sampai terlihat oleh ayahmu."


"Tenang saja, Ma."


Alexa kembali memasukkan beberapa pakaiannya didalam ransel. Menatap jam yang melingkar dipergelangannya. Dua jam lagi, waktu penerbangan, ia segera bergegas keluar kamar.


Drt...drt.....


"Hallo, tan."


"Kau sudah siap?"


"Sudah. Aku akan berangkat sekarang."


"Baguslah, kamu menginaplah dirumah. Aku sudah memberi tahu bibik kedatanganmu."


"Terima kasih, tante. Kalau ada kabar, aku akan segera menghubungimu."


"Hati-hati."


Sambungan terputus. Alexa kembali melangkah, dihalaman sudah ada supir yang menunggu.


***


Di kediaman Dave, saat makan siang.


Arshila duduk disamping suaminya, memaksa makanan masuk dalam tenggorokannya. Mereka hanya makan berdua, karena Rachel keluar rumah, entah ada urusan apa.


Siang tadi, saat terbangun. Arshila membelalak, bahkan jantungnya sudah mau melompat keluar. Dave tidur dengan memeluknya, ujung hidung sang suami menyentuh keningnya. Bibir tipisnya hanya berjarak beberapa inci saja dari kedua maniknya.


Hembusan napas Dave, menyapu wajahnya. Dengkuran halus, membuatnya seolah berhenti bernapas. Pria itu, terlelap dengan pulas, membuat Arshila takut untuk bergerak, bahkan sekedar meluruskan kedua kakinya yang mulai keram.


Untung Tuhan menyelamatkannya, dengan suara ketukan pintu pak Yus. Membangunkan pria kasar itu, untuk makan siang.


Kembali di meja makan.


"Kau mau ke suatu tempat sayang?"


"Ti ... tidak. Cuaca sangat panas, aku mau di rumah saja." Suara terbata dan gugup, bahkan Arshila tidak menatap suaminya.


Kata sayang yang penuh kelembutan, terdengar menakutkan baginya.


"Baiklah, sebenarnya aku mau mengajakmu keluar. Besok aku harus keluar negeri selama seminggu. Selama aku pergi. Jangan pernah menginjakkan kakimu diluar rumah. Mengerti!"

__ADS_1


Arshila mengangguk, detik berikutnya ia menarik napas lega. Saat sang suami meninggalkan meja.


Tapi,


"Selesaikan, makanmu!! Aku tunggu di kamar."


Arshila sebenarnya, tidak memiliki selera makan. Jadi, ia langsung bangkit mengikuti langkah sang suami.


"Masih sakit?" Dave menyentuh pipi istrinya. Sementara, Arshila hanya menggelengkan kepala sebagai jawaban


"Maaf." Kata yang terucap begitu tulus, tapi justru sudah tidak berarti apa-apa bagi Arshila. "Aku tidak suka, kau berdekatan dengan pria lain. Apalagi. Ellino. Jadi, jangan membuatku marah!"


Arshila membisu, karena tidak tahu harus mengatakan apa. Entah apa alasan dari kalimatnya? Yang pasti, pria itu tidak mungkin cemburu.


"Berikan tanganmu!"


Arshila menurut saja, memberikan telapak tangannya. Dave menyematkan cincin di jari manisnya. Cincin yang berbeda dari cincin pernikahannya, yang ternyata milik wanita lain.


"Ini milikmu, aku mengukir namamu didalamnya. Jaga baik-baik, jangan sampai hilang. Aku tidak akan memaafkanmu, jika cincin itu lepas dari jarimu."


"Terima kasih."


Hanya kalimat itu yang keluar dari mulutnya. Hati Arshila seperti mati rasa, ia tidak merasakan apa-apa, saat cincin itu melingkar di jari manisnya. Jantungnya tidak berdebar, bahkan hatinya pun tidak merasa terharu. Perasaanya benar-benar mati, pada Dave. Rasa sakit hati dan kecewa, tidak bisa tersingkir begitu saja, hanya karena sebuah cincin.


"Aku akan ke ruangan sebelah, menyelesaikan pekerjaanku. Kamu istirahatlah!"


Cup.


Rumah ini sudah seperti penjara, yang dilengkapi fasilitas mewah. Kebebasannya dibatasi dan mimpinya seakan ikut mati. Meskipun, Dave keluar negeri, nasibnya akan tetap sama, tidak ada yang berubah.


Merasa bosan, Arshila naik ke lantai tiga di perpustakaan. Disana ada Ica, yang bisa menemaninya mengobrol.


"Selamat siang, Nona."


"Siang, Ca."


"Anda mau baca buku? Saya akan mencarikan untuk Anda."


"Tidak, terima kasih. Duduklah, aku hanya ingin mengobrol."


Ica menurut, duduk disebuah kursi kayu, menghadap Arshila, dengan meja kecil ditengah sebagai pembatas jarak mereka.


"Anda mau membicarakan apa, Nona? Saya akan mendengarkannya."


Arshila tidak langsung menjawab, ia hanya menatap Ica dengan air mata yang tiba-tiba jatuh tanpa permisi.


"Nona, Anda kenapa?" Ica panik.


"Aku ingin pulang, Ca. Tapi, aku tidak memiliki rumah dan tidak ada seorang pun yang menungguku."


"Nona, Anda bicara apa. Disini rumah Anda, kami semua adalah keluarga Anda. Nyonya besar sangat menyayangi Anda."

__ADS_1


"Ini bukan rumah, Ica. Meskipun, Mama menyayangiku, tapi tidak akan sama dengan orang tua kita. Aku tidak bisa membicarakan perasaanku padanya."


Kristal bening, sudah meluncur tanpa hambatan di pipi Arshila. Tatapannya kosong dan kesepian, meski ia dikelilingi dengan orang-orang yang menyayanginya.


"Nona, saya mengerti perasaan Anda. Tapi, cobalah untuk berdamai dengan takdir Anda. Mungkin suatu saat, Anda akan merasa tenang."


"Hiks ... hiks ... hiks .... Aku lelah, Ca. Aku tidak bisa! Setiap hari, aku merasa ingin mati, aku seperti tercekik yang perlahan membuatku sesak dan tidak bernapas."


"Nona." Ica bangkit dan memeluknya. Ia menepuk punggung Arshila yang tengah menangis pilu.


"Aku ingin pulang, Ca. Aku ingin pulang, tapi tidak tahu kemana. Hiks ... hiks ... hiks ...."


Diambang pintu, Dave sudah mengepalkan tangan. Menatap tajam, dua wanita yang saling berpelukan. Sang istri menangis pilu, sembari meminta pulang kepada Ica.


Dia menangis, merasa tersiksa, hidup bersamaku. Dia ingin pulang, tapi tidak memiliki tujuan. Apa ini? Aku sedang berusaha memperbaiki semuanya, Tapi, kau masih belum puas.


Apa hidup bersama mantan suamimu lebih baik, daripada hidup denganku? Aku memberikanmu segalanya di rumah ini, tapi kau memilih hidup sebagai pembantu di rumah mantanmu.


Dave memilih pergi, kembali menuju kamar. Napasnya masih naik turun. menahan amarah.


"Sudah selesai?"


"Sudah, Tuan." Pak Yus, mengangkat sebuah koper yang sudah berisi pakaian Dave.


"Keluarlah!"


"Baik, Tuan."


Dave mengambil ponselnya diatas nakas.


"Tian, aku berangkat sore ini. Minta mereka bersiap."


"Baik, Tuan. Saya akan menjemput Anda, sekarang."


"Hmmm."


Sambungan terputus.


Dave merasa akan meledak sekarang. Ia memilih masuk dalam kamar mandi, untuk segera bersiap.


Setelah selesai, ia turun dilantai bawah dan meminta pelayan membawa kopernya di mobil.


"Aku pergi, jaga istriku! Jangan biarkan dia keluar rumah dan tidak boleh ada tamu yang berkunjung selama aku pergi."


"Baik, Tuan."


"Ingat, Pak yus. Jika terjadi sesuatu padanya, segera telpon aku." Pak Yus mengangguk. "Ingat, pesanku tadi."


"Saya mengerti. Tuan."


Dave masuk dalam mobil, saat Tian sudah membuka pintu untuknya.

__ADS_1


__ADS_2