Dendam Sang Presdir

Dendam Sang Presdir
Bab 40. Dia milikku


__ADS_3

Rachel tengah, menikmati jus favoritnya. Kedua maniknya, menatap lurus pada pot-pot bunga yang warna warni.


"Selamat siang, Nyonya." Rachel menoleh,


"Pak Yus. Ada apa? Bagaimana kabar putraku?" Rachel meletakkan gelasnya. "Ah, aku lupa. Duduklah."


"Terima kasih, Nyonya." Pak Yus duduk di sofa single. "Nyonya, ...." Ragu-ragu, pak Yus menarik napas."


"Ada apa? Jangan membuatku bertanya dua kali."


"Apa Nyonya bisa berkunjung di kediaman tuan muda?" Rachel mengerutkan alisnya. "Begini, Nyonya. Sebenarnya, tuan muda memerintahku untuk bekerja di vila dan posisiku digantikan ibu Lin. Di kediaman tuan muda ada orang baru dan beliau sedikit kasar padanya."


"Orang baru? Maksudmu pembantu baru? Ica pernah mengatakannya. Tapi, dia hanya datang sehari, lalu kembali lagi."


"Begitulah, Nyonya."


"Ck, jawabanmu tidak memuaskan. Apa kau sedang menyembunyikan sesuatu? Dengar Pak Yus, jangan terlalu takut pada putraku. Dia hanya sering melotot, tapi aku lebih suka mencungkilnya hingga keluar."


"Maaf, Nyonya."


"Pulanglah. Aku akan kesana sebentar lagi."


"Baiklah, Nyonya. Saya permisi dulu."


***


Rachel sudah mendengarkan semua penjelasan Tian. Raut wajah yang tidak bisa dibaca, membuat sang sekretaris merasa enggan untuk mengangkat wajahnya.


Mungkin sifat Dave, menurun dari sang ibu. Sedangkan, tuan besar cenderung lebih tenang.


Rachel sudah naik di lantai dua, menuju kamar putranya.


Brak! Pintu dibanting dengan keras. Disana, Dave tidur terlentang.


"Bangun sialan!"


Rachel memukul putranya dengan bantal.


"Mama." Dave bangkit, lalu menghindar. "Jangan mengangguku!"


"Hanya karena ingin balas dendam, kau melakukan hal sejauh itu. Hah! Dia sudah menerima hukumannya, tapi kenapa kau belum puas?"


"Aku tidak terima, Ma. Dia dihukum ringan, sementara aku kehilangan Clarissa dan bayiku. Aku harus membalasnya!"


"Dave, dia sudah dihukum berat." Rachel menurunkan intonasi suaranya. "Suaminya menikah lagi, saat di penjara. Anak yang susah payah dikandungnya, tidak memanggilnya ibu, bahkan sama sekali tidak mengenalinya. Itu adalah, hukuman paling berat bagi seorang perempuan."


Dave memutar bola matanya, mungkin bagi ibunya itu hukuman berat. Tapi, tidak dengannya.


"Aku tidak peduli, Ma. Aku tidak bisa hidup tenang, jika wanita itu masih berkeliaran."


"Lalu, kenapa tidak membunuhnya saja? Bukankah semua selesai dengan cepat! Mungkin Clarissa bisa hidup lagi, jika wanita itu sudah lenyap."


"Mama, aku tahu maksudmu. Tolong, jangan ikut campur lagi."


"Baiklah, tapi ingat. Mama sudah memperingatkanmu, jika nanti kau menyesal mama akan menenggelamkanmu di laut."

__ADS_1


Rachel berjalan keluar, tepat diambang pintu ia kembali berbicara tanpa menoleh.


"Sebenarnya, Mama tidak menyukai Clarissa. Karena, ibunya seorang ******."


Rachel akhirnya, benar-benar menghilang dari kamar putranya.


***


Di rumah sakit.


Suara tangis, terdengar disebuah kamar VVIP dan suara lainnya, sedang berusaha menenangkannya.


"Hiks .... hiks ... hiks....."


Kenapa, kenapa, kenapa, aku masih disini? Jika kau sangat menyayangi nyawaku, kenapa memberiku takdir yang begitu buruk. Aku tidak meminta melebihi takdirku. Aku hanya ingin kebebasan dan hidup tenang.


Arshila terus menangis dengan mata terpejam. Air mata yang mengalir deras membuat bantal dibawah kepalanya menjadi basah.


Biarkan aku, aku mohon! Paling tidak, diatas sana aku bisa bersama orang tuaku. Di tempat ini, bukanlah untukku.


"Hiks ... hiks ... hiks...."


Arshila merasa sesak, memukul dadanya, agar sesuatu yang mengganjal didalam sana bisa lepas.


"Nona, tolong hentikan!"


"Hiks ... hiks ... hiks ... aku lelah, bu. Aku sangat lelah. Nyawa gadis itu lebih berharga dari nyawaku sendiri. Kenapa tidak melenyapkanku saja? Kenapa?"


"Nona." Ibu Lin mengenggam tangan Arshila. "Aku tidak mengerti, apa yang sudah terjadi hari ini. Tapi, aku mohon. Tolong, berhentilah memancing amarah tuan muda."


Begitu lebih baik, pikirnya. Karena membuka tabir kebenaran yang sudah lama terkubur, tidak berguna lagi. Siapa yang akan percaya padanya, saat ibu dan anak bersatu untuk menyalahkannya.


Toh, dia sudah menerima hukuman. Apa gunanya, membuka mulut sekarang, percuma. Dia hanya akan mendapat tawa sinis dari Dave. Jadi, dari pada menanggung lebih lama, jalan kematian adalah jalan pintas tercepat bagi Arshila.


"Ibu Lin. "Arshila menarik napas. "Ini pertama kali aku melihat wajah Clarissa. Selama ini, kalian pasti menganggapku bodoh, karena masuk dalam sarang harimau, mengantarkan nyawaku." Arshila tertawa hambar.


"Nona." Ibu Lin terperanjat, ia meminta penjelasan lebih.


"Tidak ada gunanya, Ibu Lin. Semua sudah terlambat, sangat terlambat!"


Ibu Lin membangunkan tubuh Arshila, saat wanita itu sedikit tenang. Posisi duduk, mungkin bisa membuat pernapasannya terasa lancar.


"Nona, makanlah. Sedikit saja. Luka kemarin belum sembuh. Tadi, dokter sudah mengganti perban dan memarahiku, karena Anda belum meminum obat."


Ibu Lin menyodorkan segelas air putih, yang diterima Arshila. Glek, glek, meminumnya sampai setegah gelas.


"Nona, saya akan menyuapimu."


Arshila membuka mulut, sebenarnya ia sama sekali tidak berselera. Tapi, mendengar ibu Lin kena marah, ia pun tidak tega.


Piring ditangan ibu Lin menyisakan sedikit makanan. Ia memberikan obat Arshila, agar segera meminumnya.


"Ibu Lin, aku ingin keluar sebentar."


"Baik, Nona. Tunggu sebentar!"

__ADS_1


Ibu Lin mengambil kursi roda, membantu sang majikan untuk bangkit. Lalu, mendorong kursi keluar ruangan.


"Anda mau kemana?"


"Aku ingin duduk dibawa pohon."


"Aku ingat, di taman belakang rumah sakit ada pohon yang rindang."


"Terima kasih, ibu Lin."


Arshila duduk diatas kursi roda, membiarkan angin senja menyapu wajahnya. Sementara, ibu Lin duduk disebuah bangku kayu dibawah pohon.


Sejuknya! Aku ingin selalu seperti ini, terasa sangat damai dan sepi.


"Hai, Nona!"


Seorang pria mendekat, menggunakan baju kaos dan celana jeans hitam.


"Apa Anda tidak ingat padaku?"


Arshila mengerutkan alisnya, berusaha mengingat. Pada akhirnya, ia hanya menggeleng.


"Aku Ellino. Pria yang membawamu ke rumah sakit saat hujan."


"Ah, maafkan aku. Sudah begitu lama, tolong maafkan aku."


"Tidak apa-apa, Nona."


"Panggil aku Arshila, seingatku aku sudah menyebut namaku waktu itu."


Ellino tersenyum, menatap ibu Lin. Memberi isyarat, agar ibu Lin memberinya tempat untuk duduk disamping wanita yang sudah dicarinya selama sebulan.


Ibu Lin menggeser posisinya, hingga Ellino duduk, tepat disamping kursi roda Arshila.


"Apa kamu sakit lagi?" Ellino memperhatikan Arshila, tubuh yang dibalut dengan baju pasien. Tapi, wajah sembab dan disekitar leher terlihat memerah.


"Aku hanya flu, mungkin waktu itu aku kualat karena pergi tanpa berterima kasih."


"Hahaha...." Keduanya tertawa. Ibu Lin ikut tersenyum mendengar suara tawa Arshila.


"Apa yang Anda lakukan disini?"


"Aku menjenguk ibuku, semalam tekanan darahnya meningkat."


"Benarkah? Maafkan aku!" Arshila menoleh, menatap wajah Ellino yang sedari tadi tidak berkedip.


"Kenapa harus minta maaf, ini bukan salahmu. Dia hanya stress, karena anak durhaka sepertiku."


Arshila tersenyum, pria didepannya begitu lucu, hingga bisa membuat ia melupakan sejenak masalah yang menimpanya.


Sementara, dari jarak jauh dan aman. Pria dengan balutan jas, darahnya kembali mendidih, bahkan seperti ada asap yang sudah mengepul diatas kepalanya.


Senyum dan tawa istrinya, kepada pria lain.


Dia milikku, hanya milikku.

__ADS_1


__ADS_2