Dendam Sang Presdir

Dendam Sang Presdir
Bab 39. Amarah Dave


__ADS_3

Arshila mematung, pandangannya lurus pada sebuah foto yang menggantung di kamar Dave. Ia meraba wajah yang sedang tersenyum itu. Cantik, sangat cantik, ini kali pertama, ia mengetahui wajah Clarissa.


"Pantas saja, sampai hari ini, ia belum melepaskanmu!"


Arshila berbicara seorang diri, mengangkat cincin pernikahan didepan foto, seolah sedang menunjukkannya.


"Ini, milikmu, bukan? Aku akan mengembalikannya!" Meletakkan cincin diatas lantai, tepat dibawah foto itu menggantung.


"Kau pasti bahagia, karena Dave begitu mencintaimu. Bahkan, membalas dendam atas kematianmu. Wah, kau sangat berharga!" Kembali meraba foto itu. "Aku akan mengabulkan keinginannya hari ini, agar dia merasa puas dan aku juga bisa bebas."


Arshila duduk ditepi tempat tidur, kembali menatap wajah Clarissa. Ia melakukan itu, sembari menunggu si pemilik kamar pulang.


Tidak lama, pintu kamar terbuka. Dave sepertinya pulang lebih cepat hari ini. Ia sudah menatap tajam, pada Arshilla.


"Apa yang kau lakukan disini? Keluar!"


Arshila bangkit, membalas tatapan yang tidak kalah tajamnya. Bahkan, memperlihatkan senyumnya yang seperti mengejek pria didepannya.


"Aku bilang keluar!" Ia menarik tangan Arshila dengan kasar hingga didepan pintu.


"Lepas!" Arshila menghempaskannya.


"Kau berani sekarang?" Dave menoleh kiri kanan, seolah mencari sesuatu.


"Kau mencari ini?" Sebuah pisau jatuh dibawah kaki Dave.


"Kau sedang menantangku, sayang?"


"Tidak, aku sedang memberimu kesempatan. Bukankah, melelahkan jika kau terus menampar dan menjambak rambutku. Aku pikir kau terlalu takut."


"Hahahaha..... Kau sudah putus asa dan ingin mengakhirinya dengan cepat?" Dave menendang pisau itu, hingga membentur tembok. "Tapi, sayangnya. Kau harus menunggu lebih lama dan jangan khawatir, aku tidak akan kehabisan energi untuk menyiksamu."


Arshila berjalan keluar, tersenyum sambil mengedipkan mata. Diambang pintu, ia berhenti lalu memutar badan.


"Ah, aku ingat. Seorang wanita pernah berlumuran darah didepanku, ia menangis dan memohon. Tapi, sayangnya, tubuhku lebih berharga, saat terkena hujan."


Setelah mengatakan itu, ia kembali melangkah sambil tertawa puas.


"Arshilaaaaaa....."


Teriakan amarah yang memenuhi rumah. Para pelayan sontak terkejut dan menghentikan pekerjaan mereka. Sementara, Ibu Lin dan sektetaris Tian sudah berlari menuju anak tangga.


Saat ini, wajah Dave begitu sangat menakutkan. Sorot mata yang begitu tajam seperti sebilah pisau yang siap ditancapkan. Dada yang bergemuruh, membuat helaan napasnya tidak beraturan. Tangan yang sudah terkepal sempurna, seolah sudah tidak sabar untuk mendarat.


Ia menarik tangan Arshila, wanita itu masih tersenyum, tanpa berdosa membuat darah Dave semakin mendidih.


"Katakan, sekali lagi. Katakan!" Dave mengguncang bahu Arshila.


"Nona, tolong selamatkan bayiku dan aku menjawab-" Arshila menyeringai. "Aku sedang sibuk."


"Kauuu!"


Plak, plak, plak,

__ADS_1


Tamparan beruntun mendarat di wajahnya, sudut bibirnya sudah mengeluarkan darah segar. Arshila berusaha berdiri tegak, menerima pukulan di wajahnya. Ia berusaha menahan rasa sakit, saat Dave menarik rambutnya, hingga diujung anak tangga. Menghempaskan tubuhnya dengan keras mendarat diatas lantai.


"Kau iblis. Aku akan membunuhmu hari ini."


Dave mencekiknya dengan kuat, sementara Arshila menutup matanya dengar air mata yang sudah mengalir.


Nadin, putriku. Maafkan, ibu! Ibu akan selalu menjagamu dari atas sana.


Arshila mulai kehabisan napas, tapi ia masih tidak melawan, membiarkan pria itu dengan mudah mengambil nyawanya.


"Tuaaann."


Ibu Lin dan sekretaris Tian menjerit. Tapi, Dave seakan tuli dan masih terus mencekik istrinya.


"Tuan, lepaskan!" Sekretaris Tian, menarik tubuh Dave, dengan susah payah. Tapi, pria itu lebih kuat darinya.


"Apa yang kau lakukan?" Suara memekik, membuat Dave melonggarkan tangannya, hingga Arshila terjatuh dalam keadaan tidak sadarkan diri.


"Mama."


Plak.


"Apa kau sudah gila? Apa kau mencoba membunuhnya?"


Mengabaikan ibu dan anak, Tian menyelamatkan Arshila. Wanita itu memucat, denyut nadi lemah.


"Nona," Tian menepuk pipinya. "****!"


"Siapkan mobil," teriak Tian pada pelayan dilantai bawah.


Tian melajukan mobil dengan kecepatan tinggi, di kursi belakang ibu Lin berusaha membangunkan Arshila sambil terisak.


"Minggir," teriak Tian pada perawat yang menghalangi jalannya.


"Pak sekretaris." Dokter heru mendekat.


"Jangan banyak bertanya, selamatkan dia!"


Dokter heru dibantu perawat, memasang selang infus dan oksigen. Sementara, Tian keluar menemui Ibu Lin.


"Apa yang sebenarnya terjadi?"


"Aku juga tidak tahu."


Tian menghela napas berat, keadaan Arshila membuatnya frustasi, ditambah dengan kedatangan nyonya besar yang begitu mendadak. Pasti ia akan dipanggil, untuk menjelaskan semuanya.


Meninggalkan kecemasan Tian dan ibu Lin. Di kediaman Dave, Rachel mencecar putranya, dengan banyak pertanyaan.


"Apa kau sudah kehilangan akal, Dave? Kenapa kau ingin membunuh seorang pembantu? Kesalahan apa yang dibuatnya, sampai kau harus mencekiknya?"


"Dia pantas mendapatkannya!"


"Dave, dia perempuan. Apa kau sadar? Dimana nuranimu?"

__ADS_1


"Stop! Jangan ikut campur urusanku, Ma."


Dave berjalan pergi, satu dua langkah. Ia kembali berhenti, karena teriak ibunya.


"Icaa,"


"Iya, Nyonya."


Ica bergegas berlari, begitu mendengar namanya dipanggil.


"Katakan, siapa wanita itu? Kenapa Dave mencekiknya?"


"I ... itu..." Ica melirik Dave, kemudian menunduk lagi.


"Katakan, saja. Jangan takut, aku lebih berkuasa darinya!"


"Di ... dia, Nona Arshila."


"Nona??" Rachel menautkan alisnya, tatapannya berpindah pada sang putra, yang membisu tapi menatap tajam Ica.


"Dave, Mama tidak suka bertanya dua kali. Katakan, siapa dia? Kamu bukan pengecut untuk mengakuinya."


"Dia istriku. Dia yang sudah melenyapkan Clarissa."


"Ap ... apa? Apa maksudmu? Kau tahu dia yang melenyapkan Clarissa, lalu kenapa menikahinya?"


"Ma, aku lelah. Sisanya, tanyakan pada dia."


Dave kembali berjalan menuju kamar, sementara Rachel masih memanggil namanya.


Rachel membawa Ica diruang tengah. Dimana, semua pelayan diminta untuk berkumpul.


"Sekarang, ceritakan apa yang terjadi di rumah ini!"


Ica memulai lebih dulu, menceritakan sejak kedatangan Arshila di rumah ini. Pelayan lain. Ikut menambahkan, apa yang mereka lihat dan dengar.


Rachel terkesiap mendengarnya. Ia memang sudah tahu, jika pelaku tabrak lari waktu itu sudah ditangkap dan dihukum penjara. Tapi, Rachel sama sekali tidak mengenal wajah dan melupakan namanya.


Ia meminta pelayan untuk kembali bekerja dan meraih ponselnya.


"Bagaimana keadaannya?"


"Dia belum sadar, nyonya. Tapi, kata dokter ia baik-baik saja."


"Sekarang, kembalilah. Biar ibu Lin yang menjaganya."


"Baik, Nyonya."


Kini, Tian sudah duduk dengan perasaan gelisah. Sesuai dugaannya, ia harus menjelaskannya dari awal sampai akhir. Meski, rasa takut menghantui akan amarah Dave. Tapi, bagi Tian, wanita didepannya lebih menakutkan. Seperti, psikopat yang tersenyum sambil memegang pisau ditangannya.


"Katakan, Tian. Lebih baik aku mendengarnya langsung dari mulutmu. Tidak menyenangkan, jika aku mengetahuinya dari orang lain." Rachel tersenyum, sambil memainkan es batu dalam gelasnya.


Mau tidak mau, Tian menceritakan semuanya tanpa terlewatkan. Senyum Rachel mendadak berubah, awan hitam seperti mengepul diatas kepalanya.

__ADS_1


__ADS_2