Dendam Sang Presdir

Dendam Sang Presdir
Bab 13 Perjuangan Arshila


__ADS_3

Angin berhembus, dari pintu balkon yang masih terbuka. Saat semua orang sudah terlelap, seorang wanita masih bergelut dengan sebuah buku diatas meja. Menulis beberapa rencana dan keuangan yang harus ia keluarkan.


Dalam buku tabungannya, hanya memiliki dua juta. Uang yang bisa ia kumpulkan selama menikah dengan Dimas. Tiga tahun pernikahan, ia hanya bisa menyisipkan sebanyak ini.


Kala itu,


"Ibu, sabun dan shampo Shila habis." Berbicara dengan hati-hati.


"Terus. Kamu mau minta uang, begitu?" Ibu Dimas memicingkan mata.


"Iya, bu. Mas Dimas bilang, aku mintanya sama Ibu."


"Cih. Kamu tuh kalau pake sabun jangan banyak-banyak. Shamponya juga, rambutmu juga tidak perlu keramas tiap hari. Buang-buang duit saja. Seharusnya, kamu tuh kerja, biar punya uang beli sendiri. Masa kebutuhan kamu, harus suami kamu yang nanggung."


Ibu Dimas mengomel seperti biasa, menunjuk-nunjuk kening menantunya.


"Maaf, bu. Nanti, aku sedikit-sedikit saja pakainya."


"Selalu, begitu." Ibu Dimas memberikan uang 50 ribu. "Ambil ini. Kamu belinya yang murah, tidak usah sok."


Begitulah, hari-hari Arshila dimasa lalu. Dari uang kembalian membeli ini itu, ia simpan dengan baik. Meski, terkadang uang kembalian itu, hanya terdiri uang seribuan atau lima ribuan. Itupun tidak setiap hari, ia dapatkan.


Masih mencoret-coret diatas buku, sambil menggunakan ponselnya sebagai kalikulator.


"Kata tante, gaji aku 1.500.00. Naik ojek, sekian, makan, trus bayar kontrakan sekian."


Hitung-hitung, sambil mencoret yang tidak perlu.


"Aku bawa bekal aja."


Arshila menatap hasil catatannya, tersenyum senang meski sisa gaji untuk dia tabung tidak seberapa.


Setelah semua selesai, ia merapikan buku catatannya, bangkit menuju pintu balkon. Keluar sebentar, merasakan hembusan angin menerpa wajahnya.


Ia menutup pintu, lalu berjalan menuju tenpat tidur.


"Selamat malam putriku."


Arshila mengecup ponselnya. Tampak wajah anak perempuan tersenyum ke arahnya. Sebuah foto yang ia dapatkan dari mantan suaminya, sebagai pelepas rindu dan penenang hatinya.


Pagi hari sudah tiba, meski matahari masih tampak malu-malu. Kabut diluar sana masi terlihat, menyelimuti pepohonan.


Arshila yang sudah terbiasa bangun pagi, mulai menyiapkan pakaiannya. Lalu, pergi menuju dapur untuk memasak, karena berencana membawa bekal.


Dilantai bawah, para pelayan rumah sudah melakukan tugasnya masing-masing.


"Nona butuh, apa?"


Seorang koki, bertanya karena menatap Arshila yang terlihat bingung.


"Maaf, Pak. Saya mau masak, buat bekal."


Sang koki tampak menahan senyum. "Nanti kami siapkan. Nona maunya menu yang sama dengan sarapan atau mau beda?"


"Yang sama saja, Pak. Tidak perlu repot-repot, telur ceplok juga tidak masalah."


"Baiklah, Nona."


Arshila berjalan pergi, karena tidak tahu harus melakukan apa. Di rumah ini, para pelayan sudah mempunyai tugas. Jadi, tidak ada yang bisa ia kerjakan.

__ADS_1


Ia berjalan menuju taman, tempat favoritnya di rumah ini. Duduk seperti biasa, dan memandang banyaknya bunga yang bergoyang dan terayun karena hembusan angin.


"Masih jam enam!" gumamnya, lalu meletakkkan ponselnya.


Cukup lama ia duduk dan terdiam, pandangannya masih diarah yang sama. Pohon bunga melati dengan kuncup putih yang sudah bermekaran.


"Ternyata kamu disini."


Tante Nessa ikut duduk, disamping Arshila.


"Aku menyukai bunga melati, Tante. Mereka putih bersih dengan aroma yang unik."


"Kalau tante lebih menyukai bunga mawar. Mereka cantik, tapi membahayakan."


Keduanya tertawa.


"Hari ini, aku sudah siap kerja. Aku juga berniat mencari kontrakkan, Tante."


"Tante menyukai semangatmu. Masalah kontrakkan, kamu jangan terburu-buru. Lebih baik, kamu tinggal disini dulu sampai mendapatkan gaji. Setelah, itu aku tidak akan menahanmu."


"Tapi, Tante, aku tidak bisa merepotkan lebih lama lagi."


"Hahahaha, kamu ini. Merepotkan apa? Bahkan, aku tidak melakukan apa-apa. Di rumah ini, aku senang, punya teman mengobrol. Kamu lihatkan, aku tidak punya siapa-siapa."


Arshila membisu, sudah tiga hari tinggal di rumah ini, tapi belum pernah melihat anak dan suami tante Nessa begitu juga dengan keluarganya. Sesekali ia ingin bertanya, tapi takut untuk menyinggung perasaan wanita itu.


"Yuk, kita sarapan. Kamu harus cepat pergi. Ini hari pertama, jangan terlambat."


Keduanya berjalan masuk, duduk di meja makan, menikmati sarapan.


"Tante, aku keatas dulu."


"Iya, bersiaplah. Tante akan menunggumu."


Arshila menapaki anak tangga, masuk dalam kamar mandi membersihkan tubuhnya.


Tidak terlalu lama, ia bergegas mengenakan pakaiannya, menyambar tas, lalu berlari menuruni anak tangga.


"Aku sudah siap, Tante."


Tante Nessa memperhatikan penampilan Arshila dari atas sampai ke bawah. Tersenyum puas, lalu meraih tangan wanita itu.


Sepanjang perjalanan, tante Nessa menceritakan teman yang akan menjadi atasan Arshila.


"Dia baik, tapi sedikit galak jika kamu melakukan kesalahan. Apalagi menyangkut, langganan VIP nya."


"Aku akan berusaha, Tante."


Kini mereka tiba, sebuah toko butik yang lumayan besar. Masih sepi, tampak beberapa pegawai masih bersih-bersih.


"Bos kamu, sudah datang?" Tante Nessa menghampiri seorang karyawan wanita.


"Sudah, Nyonya. Ada didalam."


Tante Nessa kembali berjalan, dibelakangnya Arshila menyusul sambil mengedarkan pandangannya.


Tok ... Tok ... Tok ...


"Masuk." Suara wanita terdengar dari dalam.

__ADS_1


"Kau sibuk?"


Wanita itu, mengangkat wajahnya, lalu bangkit menghamburkan pelukan.


"Kau kemana saja? Setelah bebas, kau tidak pernah mengunjungiku."


"Maaf, aku terlalu sibuk merenung, hahaha..." Tante Nessa menatap Arshila. "Shi, kemari. Kenalkan ini Yuri. Dia akan menjadi atasanmu."


"Salam kenal, Nyonya. Saya Arshila." Menunduk lalu mengulurkan tangannya.


Yuri menyambut uluran tangan wanita itu, sembari memperhatikan penampilan, yang menjadi prioritas utamanya.


Cantik, seksi, walau tidak tampak.


"Dia adikku, yang aku ceritakan padamu."


Yuri masih memperhatikan Arshila, wanita yang sudah sering sekali didengarnya, dari cerita Nessa.


"Baiklah, Shi. Kamu bisa langsung bekerja hari ini. Kamu temui Vina di depan, minta padanya untuk menjelaskan pekerjaanmu."


"Baik, Nyonya terima kasih."


Arshila menunduk, lalu berjalan pergi, mencari gadis yang dimaksud atasan barunya.


"Jadi, dia wanita yang kamu maksud?"


Yuri menatap serius wajah Nessa.


"Iya, jadi pekerjakan ia dibelakang saja. Aku tidak mau, ia bertemu dengan seseorang yang mengenalnya. Terutama dari keluarga Santara dan Alehandra."


"Aku mengerti. Aku akan melakukannya, Kakakku sayang."


Keduanya kembali terlibat pembicaraan, yang menyangkut kehidupan Nessa. Sementara di luar ruangan, Arshila mendengarkan penjelasan Vina. Gadis yang sudah cukup lama bekerja ditempat itu.


"Kamu masih baru, jadi sementara kamu di bagian gudang. Di sana kamu beres-beres saja."


"Baik, Mbak. Saya mengerti."


"Selamat datang." Terdengar suara dari salah seorang pegawai yang menyambut pelanggan.


Seorang pria tampan, wajah putih bersih, dengan tinggi badan semampai. Badan proporsional, meski tertutup balutan jas mewah.


"Ada yang saya bisa bantu, Tuan?" Vina bertanya, karena pria itu berhenti tepat didepannya.


"Aku mau mengambil baju, ibuku. Atas nama Rachel Alehandra."


"Baik, Tuan. Silahkan duduk dulu."


Dave mengangguk, menatap Arshila yang menunduk sambil tersenyum.


"Siapa namamu?"


"Saya Arshila, Tuan."


"Nama yang bagus." Masih tersenyum, saat wajah itu sedikit terangkat meski tidak membalas tatapannya. "Bisa buatkan saya kopi?"


"Baik, tunggu sebentar, Tuan."


Arshila pergi, menghampiri seorang karyawan, lalu kembali melangkah. Dari sana, Dave masih menatap dengan senyum yang sudah menghilang.

__ADS_1


Selamat datang, ratuku. Pelan-pelan, kita akan sering bertemu.


__ADS_2