
Plak.
Satu tamparan mendarat di wajah Nadia. Tubuhnya goyah, hampir tersungkur. Untung, sekretaris Tian memegang tubuhnya.
Bug, bug.
Bukan Nadia yang membalas, melainkan sekretaris Tian. Dimas tersungkur diatas rerumputan yang basah. Perkelahian yang tidak seimbang, karena Tian lebih menguasai bela diri.
Ibu Dimas berlari menyelamatkan putranya.
"Kau bajingan! Beraninya menghajar putraku!" teriak ibu Dimas.
Sekretaris Tian berjongkok, mensejajarkan tinggi badannya dengan wanita yang duduk diatas rerumputan.
"Ibu masih mengingatku?" Tian mendekatkan wajahnya "Aku yang memberikan ibu hadiah, satu miliar karena sudah bersaksi, mencebloskan mantan menantu Anda dalam penjara."
Deg.
Wajah ibu Dimas pucat pasi. Tangan yang membelai kepala putranya, gemetar.
Semua yang menyaksikan kejadian, terbelalak kaget. Begitu juga Dimas, yang tidak mengetahui perihal uang hadiah yang diterima ibunya.
"Apa ibu tidak memberitahu mereka? Padahal uangnya begitu banyak."
Ibu Dimas tidak tahu harus berkata apa. Ia menyembunyikan uang itu dalam rekeningnya. Ia tidak pernah memberitahu keluarganya, karena menurutnya mereka tidak memiliki hak atas hasil kerja kerasnya.
Dimas yang jatuh tersungkur, bangkit menatap ibunya. Wajah wanita yang telah melahirkannya itu, tidak membalas tatapannya.
"Ibumu menerima hadiah satu miliar dari presdir. Mungkin, kau sudah tahu, jika dia orang yang pertama membuka mulut, tentang kejadian itu."
Dimas mengepalkan tangan, bergumam, kenapa harus saat seperti ini?
Sekretaris Tian tersenyum sinis, bangkit dan menatap ibu dan anak secara bergantian. Ia muak, melihat dua wajah yang ingin diremasnya.
Mesin mobil menyala, lalu pergi begitu saja, tanpa ada sepatah kata. Dimas pertama kali masuk rumah, disusul ibu yang mengejarnya.
"Dimas, maafkan ibu." Wanita itu, meraih lengan putranya.
"Jadi, ini, alasan ibu saat itu. Ibu bersikeras dan mengancamku, karena uang, iya!" bentak Dimas.
Sang ibu, tidak tahu harus menjawab apa. Ia bingung, tapi masih berusaha berkilah. Agar, putranya tidak marah dan membencinya.
"Dimas, dengarkan ibu."
"Dengar, apa lagi. Ibu sengaja melakukannya bukan, demi uang satu miliar, ibu mengorbankan Arshila," teriak Dimas.
Kemarahan Dimas tidak terbendung lagi. Mengetahui, kenyataan yang saat itu tidak bisa membuatnya mundur. Ia harus memilih ibu atau Arshila. Meski, ia juga bersalah karena pada akhirnya, ia juga meninggalkan sang istri mendekam didalam penjara.
__ADS_1
Tapi, semuanya berawal dari ibunya sendiri. Andai saja, sang ibu tidak ke perusahaan dan menjadi saksi. Hidupnya dan Arshila akan baik-baik saja.
"Iya, ibu melakukannya. Bukan hanya karena uang, tapi demi kebaikanmu. Kamu pikir, kamu bisa hidup enak seperti sekarang, jika kamu yang masuk penjara. Lagi pula, wanita sialan itu hanya beban dikeluarga kita."
"Ibu!"
Tangannya terkepal, ia berusaha mempertahankan kewarasannya.
"Kenapa? Bukankah, itu kenyataannya? Apa kamu mau memungkiri, kehidupan kamu sekarang?"
Pertengkaran ibu dan anak ini, membuat suasana rumah mencekam. Kedua adik, Dimas memilih masuk kamar. Sedangkan, Nadia memperhatikan mereka dengan tersenyum getir. Rahasia yang mereka simpan dengan rapat, selama ini. Akhirnya, terkuak dengan sendirinya.
"Ibu yang tidak memberiku pilihan lain. Ibu yang menyudutkanku dengan semua janji yang ibu ucapkan. Pada akhirnya, aku sadar, itu hanya omong kosong. Ibu hanya menginginkan uang dan kebahagiaan ibu sendiri. Tapi, tidak pernah memikirkanku! Aku akan mengingat ini!"
Brak.
Suara mesin mobil, terdengar. Dimas meninggalkan rumah, tanpa berpamitan. Sementara, sang ibu dengan rasa ego yang tinggi, kembali masuk dalam kamar. Ia sama sekali, tidak melihat menantunya, yang mematung memperhatikannya.
Nadia juga masuk dalam kamar, yang seperti kapal pecah. Ia tidak menghiraukannya, apalagi berniat membereskannya.
Ia mengambil koper besar dan memasukkan semua pakaiannya, tanpa menyisakan satu pun. Setelah selesai, ia pergi dikamar putrinya, meminta pengasuh memasukkan semua perlengkapan dan pakaian.
"Ibu, mau kemana?" tanya bibik pengasuh.
"Bibik, ikut saya saja. Masukkan juga semua pakaian bibik. Kita pergi sekarang!"
Nadia sudah memesan taksi online. Dibantu pengasuh, mereka mengeluarkan tas koper terlebih dahulu, diteras rumah. Lalu, kembali mengambil Nadin, yang terlelap.
Taksi sudah terparkir diluar halaman rumah. Nadia sengaja meminta supir, agar berhenti didepan pintu pagar.
"Kita mau kemana, bu?" Bibik pengasuh masih bingung. Meski, mendengar pertengkaran tadi, tapi ia sama sekali tidak mengerti.
"Bibik, ikut saja. Sekarang, bibik bekerja untuk saya."
Si pengasuh hanya mengangguk. Memperhatikan jalanan, yang masih ramai. Kesibukan orang-orang diluar sana, yang tidak ada habisnya.
Mereka sudah tiba, sebuah gedung yang menjulang tinggi. Dibantu supir taksi, yang menurunkan barang-barang mereka.
"Bibik, gendong Nadin dan bawa tas miliknya. Aku akan membawa barang-barang."
Si pengasuh menurut, lalu mengikuti langkah majikannya masuk dalam gedung.
Nadin memencet bell, saat mereka tiba dilantai sepuluh apartemen.
Saat pintu terbuka, pria yang tengah meminum air putih, menyemburkannya keluar. Ia membelalak melihat siapa yang berdiri didepan pintu apartemennya.
"Kamu." Tian memperhatikan wanita asing dibelakang Nadia dan banyaknya koper serta tas. "Kamu kabur?"
__ADS_1
"Iya, Pak. Saya tidak punya tujuan, jadi kesini dulu. Besok saya akan mencari tempat tinggal baru."
"Tapi, kenapa harus ke apartemen saya? Bukannya, ada rumah orang tua kamu?"
Tian kembali bertanya, tanpa mempersilahkan mereka masuk lebih dulu.
"Suami saya akan menemukan saya disana. Jadi, saya pikir ini adalah tempat paling aman. Lagi pula, keadaan saya sekarang gara-gara Pak sekretaris."
"Hah. Baiklah."
Tian membantu mereka membawa koper dan tas dalam rumah.
"Kalian, gunakan kamar yang itu!" tunjuknya. "Aku akan mencarikanmu apartemen besok."
"Terima kasih, Pak."
Nadia dan bibik pengasuh, tidur bersama. Untungnya, ukuran tempat tidur cukup luas, hingga bisa menampung mereka bertiga.
"Bibik, tidur saja. Aku mau menelpon ibu."
Nadia keluar kamar. Duduk di sofa, dengan tv layar lebar dihadapannya. Si pemilik rumah ikut bergabung, meletakkan secangkir teh kepadanya.
"Ada apa? Kau diusir?"
"Tidak, Pak. Saya pergi karena sudah mengambil keputusan."
"Oohh. Lalu, apa yang terjadi di rumah?"
Nadia menghela napas. Terlalu banyak informasi yang didengarnya dan bingung harus mulai dari mana.
Pada akhirnya, ia menceritakan semuanya. Pertengkaran Dimas dan ibunya, yang akhirnya membuka sendiri aib mereka. Ibu yang ingin menyingkirkan menantunya dan Dimas yang tidak memiliki pilihan.
Tapi, bagi Nadia, Dimas tetap bersalah. Ia seorang suami yang seharusnya, mempertahankan Arshila. Apalagi, saat itu, mantan istrinya sedang mengandung.
"Jadi, apa keputusanmu?"
"Aku akan bercerai. Tapi, aku menginginkan hak asuh anak. Bapak bisa membantu saya?"
"Kau akan mendapatkannya sendiri dengan mudah. Jangan bercerai dulu, tunggu sampai kondisi mereka memburuk."
"Maksud, Bapak?" Nadia penasaran, memangnya, apa yang akan terjadi pada suaminya.
"Kita hanya berdua. Apa kamu bisa berhenti memanggilku Bapak? Apa aku setua itu?"
"Maaf, Pak. Eh, maaf."
"Sudahlah, kamu tidur sana. Besok pagi, kita harus ke rumah sakit. Orangku akan mencarikamu apartemen."
__ADS_1
"Baiklah. Terima kasih, banyak."
Tian sudah berada dalam kamar. Kehidupannya terusik, karena kehadiran orang asing. Hubungan pekerjaan, tapi menjadi serumit ini.