
Di kediaman Dave.
Sejak pagi hari, rumah ini tampak sibuk. Mereka kedatangan beberapa petugas medis dan dokter, untuk membantu mempersiapkan kepindahan nona muda.
Atas perintah Rachel, menantunya akan dibawa pulang dan dirawat di rumah. Ia meminta dokter dan petugas medis, untuk membantu menyiapkan peralatan medis di kamar pribadi putranya.
Dibantu, pelayan rumah untuk berbenah, akhirnya kamar pribadi Dave, disulap layaknya kamar perawatan pasien.
Para pelayan juga, menyiapkan beberapa kamar tamu untuk ditempati dokter dan perawat, yang akan bertugas.
Setelah, semua dipastikan siap. Arshila diantar pulang, menggunakan ambulans. Ia dibaringkan, diatas tempat tidur dengan peralatan medis yang sudah tertata rapi.
Dua orang dokter, dan tiga orang perawat mulai melakukan pekerjaannya, dengan hati-hati. Mereka cukup gugup, karena diperhatikan oleh nyonya besar dan tuan muda yang sedang berkumpul.
"Sudah, Tuan."
"Terima kasih banyak, dokter." Dave menepuk pundak sang dokter.
"Sama-sama, Tuan."
"Kembalilah, berisirahat."
Mereka mengangguk, lalu berjalan keluar kamar.
Rachel menyelimuti menantunya. Membelai rambutnya dengan lembut.
Sadarlah, sayang! Kamu sudah pulang. Tolong bangunlah!!
"Kamu beristirahatlah, Nak. Biar, Mama yang menjaganya!"
"Tidak perlu, Ma. Aku bisa tidur disampingnya."
"Baiklah. Mama akan keluar."
Dave langsung berbaring disamping istrinya. Sudah beberapa hari, ia tidur dengan posisi duduk. Akhirnya, sekarang ia bisa menjaga sang istri dengan nyaman.
Dilantai bawah, Rachel sibuk memberi instruksi ini dan itu, pada pelayan rumah. Ia memberi tahu koki, untuk menambah beberapa menu makanan. Karena, mereka kedatangan tamu.
"Pak Yus, minta koki, membuat jus untuk Dave. Anak itu, kelelahan."
"Baik, Nyonya."
Matahari sudah merangkak naik. Kesibukan, berpindah dari dapur menuju ruang makan. Makanan sudah tersaji diatas meja. Para tamu, yang dimaksud Rachel sudah duduk, untuk makan siang bersama. Mereka tampak segan, untuk memulai.
"Dokter, ayo, makan! Kalian juga." Rachel mempersilahkan.
"Terima kasih, Nyonya." Ujar mereka bersamaan. Tapi, tidak kunjung mengangkat tangan, untuk mengambil hidangan. Mereka hanya saling berpandangan, memberi isyarat agar salah satu dari mereka, memulai.
"Apa aku perlu menyuapi kalian?"ujar Rachel, sembari tersenyum.
"Ti ... tidak, Nyonya. Maafkan kami."
__ADS_1
Mereka langsung bergerak, mengambil nasi dan hidangan lainnya, memindahkan dipiring mereka.
Makan siang pun, berlangsung dalam keheningan dan ketegangan.
****
Menjelang sore, tuan besar sudah tiba di rumah. Ia meminta Tian, untuk ikut masuk. Karena, sang sekretaris akan diinterogasi, oleh Rachel.
"Kamu minumlah, Tian."
"Terima kasih, presdir."
Tian meneguk minumannya, dengan tenang. Ia sudah tahu, kenapa ia berada dalam ruangan ini sekarang.
Pintu ruangan kerja, terbuka. Rachel masuk dengan langkah sedikit tergesa-gesa.
"Kau sudah minum, Tian?"
"Sudah, Nyonya."
"Bagus. Sekarang, katakan! Apa yang kamu ketahui tentang Clarissa? Kamu tahu, kan. Semua masalah ini, berasal dari wanita itu."
Cerita pun mengalir, dari mulut Tian. Mulai dari Alexa yang mengungkap segalanya. Gadis itu bunuh diri, karena tidak sudi dijodohkan dengan Dave. Ia tidak bisa membantah sang ibu, hingga mengambil jalan pintas. Anak dalam kandungannya, pun adalah milik kekasihnya. Hal itu, yang membuat Dave terguncang. Rasa bersalah pada Arshila menjadi berlipat ganda.
"Maksudmu, bukan milik Dave?" Liam tampak emosi.
"Nona Alexa mengatakan, bahwa itu adalah perbuatan nyonya Fira. Ia memberi tuan muda, obat tidur. Lalu, meminta putrinya tidur bersama."
"Ma, sabar dulu. Jangan bertindak, gegabah!"
"Sabar, bagaimana? Menginginkan putraku, menjadi menantunya dengan cara licik. Dia menipu kita!" teriak Rachel dengan amarah berkobar.
"Papa tahu. Tapi, jangan sekarang!"
Rachel kembali duduk, meski raut wajahnya belum berubah.
"Siapa Alexa?" Liam kembali bertanya pada sekretaris Dave, yang kini menjadi sekretarisnya.
"Dia keponakan, tuan Bagas."
"Keponakan?" Liam mengerutkan alisnya. "Selidiki, dia! Aku yakin, ia bukan orang biasa. Mengingat, ia banyak mengetahui tentang Clarissa dan keluarganya."
"Baik, Tuan." Tian tidak langsung bangkit. Masih ada satu hal, yang ingin disampaikannya. "Tuan, malam ini saya mengantar Nadia untuk menginap di rumah ini."
Rachel dan Liam saling menatap. Tidak mengerti maksud Tian. Apalagi, siapa wanita itu!!
"Nadia? Siapa dia? Kekasihmu?"
"Bukan, Tuan." Tian mengibaskan tangannya. "Dia sekretaris di kantor. Dia menikah dengan mantan suami nona muda. Dan juga, mengurus putri mereka."
"Lalu, kenapa dia harus menginap disini?"
__ADS_1
"Tuan muda, memintanya untuk membawa putri kandung, nona muda. Tuan muda, berharap nona muda, bisa segera bangun. Jika putri kecilnya, tidur bersama ibunya."
"Benarkah?" Mata Rachel berbinar. "Kapan mereka datang? Aku akan menyiapkan kamar."
"Malam ini, Nyonya."
"Bagus. Cepatlah, pulang. Dan antar, mereka kemari. Kalian makan malam saja, di rumah ini. Jangan telat! Mengerti."
Rachel langsung keluar ruangan. Diambang pintu, ia sudah memanggil pak Yus dan ibu Lin.
"Tian. Bagaimana dengan Dimas? Apa yang Dave lakukan padanya?"
"Tuan muda, hanya ingin mengembalikan semuanya seperti semula. Ia tidak ingin melapor ke polisi. Karena, akan mempermalukan perusahaan."
"Baguslah, jika dia tahu. Putraku sudah banyak melakukan kesalahan pada wanita itu. Aku harap, semuanya kembali normal."
"Saya juga berharap seperti itu, Tuan."
"Ya, sudah sebaiknya kamu pulang. Istriku menunggu kalian. Dia sangat senang, mendengar seorang anak kecil akan datang ke rumah."
"Baiklah, Tuan. Saya permisi."
Liam masih duduk, seorang diri. Ia memijit pangkal hidungya. Rumit, masalah ini rupanya tidak sesederhana dalam pikirannya. Seharusnya, dari awal, ia bisa membaca sikap Clarissa waktu dulu. Gadis itu, selalu menunduk dan tidak banyak bicara. Ibunya yang selalu mewakili putrinya.
Liam ingin menemui bagas, membahas masalah ini. Tapi, ia harus menahannya. Ia butuh Alexa, sebagai saksi.
Gadis yang mengetahui banyak rahasia, tentang Clarissa. Sedekat apa mereka, hingga mengetahui banyak hal.
Tok, tok, tok.
"Masuk," ujar Liam.
"Tuan, didepan pintu pagar. Ada pria bernama Dimas. Dia mengaku mantan suami nona muda. Katanya, ingin bertemu nona muda. Petugas keamanan, sudah mengusirnya. Tapi, ia bersikeras tidak mau pergi. Bahkan, berteriak memanggil nona."
"Dave?"
"Tuan muda, sedang tidur. Sepertinya, ia tidak mendengar apapun."
"Baiklah. Ayo, kita temui dia!"
Didepan pagar rumah, yang menjulang tinggi. Suara teriakkan yang tidak kunjung berhenti, meski petugas keamanan sudah mengusir dan menyeretnya pergi. Dimas masih kembali. Tidak peduli, dengan ancaman yang diucapkan orang-orang berseragam hitam.
"Arshila, keluar kamu!" teriak Dimas.
"Hei, apa kamu tuli? Pergi dari sini!!" Petugas keamanan, kembali menyeret Dimas, hingga ke tepi jalan raya.
"Lepaskan aku, sialan!" Dimas meronta sambil berteriak. "Arshila, keluar kamu! Jangan bersembunyi!"
Pintu pagar terbuka, Liam memperhatikan Dimas yang berantakan. Pria itu, segera berlari menghampirinya.
"Presdir, biarkan aku bertemu Arshila. Dia bekerja disini, kan? Aku mantan suaminya. Ada hal, yang harus kami bicarakan."
__ADS_1