
Kedua mata yang lama terpejam, perlahan membuka. Menyipit karena silaunya lampu.
Suara anak kecil yang memanggil ibu dan suara lainnya, yang terdengar familiar, memanggilnya dengan lembut.
Aku dimana?
Arshila berkedip beberapa kali. Tubuh kecil memeluk erat disampingnya. Kecupan hangat bertubi-tubi mendarat dipunggung telapak tangannya.
Siapa?
Tubuhnya terlalu berat untuk bergerak. Pandangannya menangkap sosok anak kecil, yang memeluk sembari memanggilnya.
"Anakku." Suara serak dan terdengar berat. Arshila meneteskan cairan bening, diujung matanya. Anak yang begitu dirindukannya, berada tepat disampingnya, seperti mimpi.
"Ibu."
Mereka berpelukan penuh haru.
"Kamu sudah sadar, sayang?"
Arshila menatap sosok lain, yang tidak terlihat olehnya dari tadi. Wajah tak terawat dan sembab, menggenggam tangannya. Pria itu, meneteskan air mata.
Ia hanya membisu, ingatannya perlahan muncul seperti kepingan puzzle, yang mulai menyatu.
"Pergi!" usirnya, dengan nada lemah.
"Shi." Dave merapatkan tubuhnya. "Maafkan aku. Aku minta maaf!"
"Pergi! Aku bilang pergi! Pergi!" teriak Arshila, yang membuat Nadin menangis.
Dave mengalah. Ia keluar kamar memanggil dokter dan perawat. Dari kamar, sebelah, Nadia keluar karena mendengar tangis putrinya.
"Tuan."
"Masuklah," ujarnya lalu pergi, menuruni anak tangga.
"Ada apa, Dave?" Rachel mendapati putranya duduk diruang tengah, dengan kepala tertunduk.
"Arshila sudah sadar. Panggil ibu Lin, untuk menemaninya."
Rachel langsung berteriak, memanggil ibu Lin dan pak Yus. Bahkan, sang suami keluar kamar, setelah mendengar teriakan sang istri.
Mereka semua berkumpul di kamar Dave.
"Bagaimana dokter?" Rachel memilin jari-jarinya, terlihat khawatir.
"Nona sudah siuman dan baik-baik saja. Begitu juga, dengan bayinya. Untuk saat ini, tubuhnya masih lemah. Jadi, masih harus diawasi."
"Bayiku?" Arshila menatap sang dokter.
"Iya, Nona. Bayi Anda selamat dan sehat."
Arshila mengelus perutnya yang masih rata, sembari tersenyum. Ia menatap putri kecilnya, dalam pelukan Nadia.
"Terima kasih. Dokter."
__ADS_1
Di dalam kamar, semua orang tampak sibuk. Dokter dan perawat, mulai melepaskan semua peralatan medis, kecuali infus. Pak Yus dan ibu Lin, sibuk mengatur kamar. Sementara, Nadia menidurkan sang putri, disamping Arshila. Yah, anak kecil itu, tidak melepaskan jari-jari kecilnya, dari genggaman sang ibu kandung.
Arshila sendiri, mulai duduk bersandar diatas tempat tidur. Dihadapannya, Rachel duduk dengan sepiring bubur ditangannya.
"Makanlah, sedikit saja. Sudah beberapa hari, kamu tidak makan."
"Ma, aku ...."
"Sebaiknya, kamu makan dulu. Kami tahu, ada banyak hal yang ingin kamu katakan. Tapi, untuk saat ini, pikirkan dulu kesehatan dan bayi dalam kandunganmu," Liam menyela.
Arshila membisu, mendengarkannya. Ia tidak mengenal pria disamping ibu mertuanya. Tapi, wajahnya, mirip dengan Dave.
"Dia, ayah Dave." Rachel menjelaskan, karena mengetahui wajah bingung menantunya.
"Maafkan, aku. Pa."
"Sudah, tidak apa. Ayo, makan! Papa akan kembali dikamar."
Rachel kembali menyuapi Arshila. Sementara, dokter, perawat dan pak Yus, sudah keluar meninggalkan kamar.
"Nyonya, aku akan membawa putriku tidur di kamar," ujar Nadia, yang merasa canggung dengan Arshila.
"Apa kamu ingin, putrimu tidur bersamamu?" Rachel bertanya pada Arshila terlebih dahulu.
"Tidak usah, Ma. Biar, dia tidur dengan ibunya."
Arshila tersenyum pada Nadia. Wanita itu, pasti merasa tidak nyaman didekatnya. Mengingat status keduanya, dulu seperti apa.
"Baiklah. Malam ini, biar Mama yang menemanimu tidur."
Diruang kerja, Dave duduk bersama seorang dokter dan ayahnya.
"Nona baik-baik saja. Kami sudah melepaskan peralatan medis, kecuali infus. Karena, Nona masih membutuhkannya."
"Kondisi psikisnya?" Liam lanjut bertanya.
"Maaf, jika saya harus mengatakan ini. Sebaiknya, untuk saat ini, tuan muda tidak mendekati nona muda. Melihat ia menangis, kami khawatir, ia kembali terguncang. Karena trauma dan syok."
"Lalu?"
"Nona baru saja siuman, ia harus menjaga kesehatan, mengingat ada janin dalam kandungannya. Jika ia kembali mengalami trauma berat dan stress. Ia bisa keguguran."
Dave menarik napas panjang. Ia ingin menebus kesalahannya dengan memberikan perhatian lebih, pada istrinya. Tapi, jika keadaanya seperti ini. Ia harus malakukan apa?
Setelah, dokter itu pergi. Ayah dan anak, masih duduk bersama.
"Pa, aku harus bagaimana?" Dave menatap sang ayah. Ini pertama kalinya, ia meminta saran pada orang tuanya.
"Lakukan, apa kata dokter. Kesehatan istrimu lebih penting sekarang. Kamu dapat memberikan perhatian dengan perlahan. Kami akan membantumu."
"Tapi, bagaimana jika dia tidak memaafkanku?"
"Dave." Liam merapatkan tubuhnya. "Berusahalah. Biar, waktu yang menjawabnya. Papa berharap, kamu tidak menyerah. Ingat, apa yang sudah kamu lakukan padanya."
"Aku tidak akan pernah menyerah. Aku akan melakukan apapun, untuknya."
__ADS_1
Liam menepuk bahu putranya. Berharap, masalah ini cepat berlalu. Hingga, mereka bisa menjadi keluarga yang bahagia.
Dave kembali di kamarnya. Sang ibu masih menemani Arshila, yang sedang meminum obat. Dave menatap istrinya, tersenyum hangat dari jarak jauh.
"Dia sudah makan, Ma?" Dave bertanya ada ibunya. Ia harus membuat sang istri nyaman, terlebih dahulu dengan keberadaannya.
"Sudah. sekarang kami harus tidur. Kamu istirahatlah. Biar Mama yang menjaganya."
"Aku akan tidur di sofa."
Dave melangkah membuka lemari. Mengambil selimut baru. Sementara, Arshila tidak menatapnya. Ia hanya menunduk, mendengarkan interaksi ibu dan anak didepannya.
Dave sudah membaringkan tubuhnya. Ia tidur membelakangi sang ibu dan istrinya. Ia masih mendengar percakapan mereka.
"Apa kamu butuh sesuatu?"
"Tidak, Ma. Mama tidurlah. Aku sudah lama terbaring. Aku ingin duduk sebentar lagi."
"Baiklah. Bangunkan, Mama jika butuh sesuatu."
Arshila mengangguk. Memperhatikan Rachel, sudah terbaring disampingnya.
Setelah, merasa penghuni dalam kamar tertidur. Arshila mencoba bangkit, untuk ke kamar mandi.
Pelan-pelan, ia menurunkan kedua kakinya diatas lantai. Mencoba berdiri, walau sebenarnya kedua kakinya terasa sangat lemah.
Aku terlalu lama tidur, gumam Arshila. Baru selangkah, ia sudah jatuh tapi tubuhnya ditangkap seseorang.
"Lepas!" Arshila meronta, saat menyadari siapa yang sudah menolongnya.
Dave tidak menghiraukan. Ia melepas cairan infus dari tiangngya. Lalu, mengangkat tubuh istrinya, menuju kamar mandi.
"Turunkan aku!" teriak Arshila.
Dave menurunkan Arshila, tepat didepan closet.
"Mama sedang tidur. Apa kamu mau membangunkannya? Dia sedang lelah. Biar aku yang membantumu."
Dave langsung menurunkan celana sang istri, membuat Arshila membelalak dan hampir memekik.
"Lakukan. Aku akan menunggumu, selesai."
Dave memutar tubuhnya. Membelakangi Arshila yang sudah duduk diatas closet. Tidak menghiraukan, sorot mata sang istri yang dipenuhi kobaran api.
Terdengar suara air, Dave kembali memutar tubuhnya. Tanpa permisi, ia membantu Arshila memperbaiki posisi celananya.
"Apa yang kamu lakukan?"
"Membantumu."
Dengan sigap, ia kembali menggendong Arshila menuju tempat tidur. Menggantung cairan infus dan menyelimutinya, sebelum pergi.
"Apa kamu butuh sesuatu lagi?"
"Tidak."
__ADS_1
Dave tidak menjawab. Ia membelai rambut sang istri, meski tangannya harus dihempaskan. Ia kembali terbaring diatas sofa, dengan posisi membelakangi tempat tidur.
Aku akan pelan-pelan, membuatmu kembali mencintaiku. Selamat malam, sayang.