Dendam Sang Presdir

Dendam Sang Presdir
Bab 32. Dia berubah


__ADS_3

Arshila sudah menyerah, untuk menunggu Dave di depan kamar. Bujukan Ica membuatnya, bekerja di ruang cuci sesuai perintah ibu Lin. Ia bekerja seorang diri, tanpa ada bantuan dari rekan pelayan lainnya.


Begitu banyak tumpukkan cucian, yang harus segera dicuci. Apalagi, matahari semakin terik. Pakaian Dave, sudah Arshila pisahkan, dari tumpukkan lainnya. Pria itu, hanya tinggal seorang diri, jadi pakaian miliknya tidak banyak.


Yang menggunung, tentu saja seprei dari semua kamar, yang diganti setiap dua hari. Tirai jendela dan pintu, di seluruh rumah. Belum lagi, alas meja dengan ukuran kecil hingga besar.


"Kak, Shi. Makan dulu, ini sudah hampir lewat."


Arshila mengangguk, lalu mengikuti langkah Ica.


Di ruang belakang, sudah ada meja makan khusus pelayan. Koki dirumah bukan hanya memasak untuk tuan rumah, tapi juga dengan para pelayan. Meski, ada beberapa menu berbeda, karena tuan mereka sangat pemilih.


Arshila mengambil piring, sudah ada dua hidangan sayur dan ikan yang berbeda. Ada ayam dan cekernya, yang dimasak dengan bumbu pedas. Arshila menelan saliva, melihat makanan kesukaannya. Tanpa menunggu lama, ia segera memindahkannya dipiring.


Para pelayan, merasa tidak hati untuk duduk semeja dengannya. Bagaimanapun, dia adalah majikan mereka, meski tidak dianggap.


Arshila mulai makan dengan lahap, rasa lapar seperti membuatnya lupa akan kepedihannya saat ini. Waktu istirahat mereka hanya satu jam, jadi semuanya bergegas untuk kembali bekerja.


Arshila memasukkan semua seprei dalam mesin cuci. Ada empat mesin cuci, diruangan loundry. Jadi, mempersingkat dan mempermudah pekerjaannya. Ia kemudian duduk berjongkok, untuk mengucek pakaian suaminya. Karena, ibu Lin berpesan pakaian Dave harus dicuci dengan tangan bukan mesin.


Ia mengangkat kemeja berwarna putih, memeluknya, membiarkan indra penciumannya bekerja, merasakan aroma tubuh suaminya yang menempel. Aku merindukanmu! Batinnya terasa pedih, mengingat ucapan dan janji Dave padanya.


Aku percaya, kau tidak seperti itu. Aku yakin, kau berbeda dari sebelumnya. Arshila memegang cincin pernikahan, yang menggantung di lehernya.


Perlahan semua baju Dave, mulai dikucek dengan sabun khusus. Ia memisahkan pakaian putih dan berwarna sebelumnya. Cukup menguras tenaga, meski pakaian itu tidak terlalu banyak.


Sudah sore, Arshila sudah menyelesaikan pekerjaannya. Kini tinggal menjemurnya saja. Ia bersusah payah mengangkat keranjang cucian. Tidak seorang pun, yang berani mengulurkan tangan untuk membantu.


Dari kejauhan, Dave memperhatikannya dengan senyum sinis.


"Apa yang dilakukannya hari ini?"


"Dia mencari Anda, Tuan."


"Lalu?"


"Dia menyerah, setelah Ica membujuknya."


"Biarkan, malam ini dia menemuiku. Tapi, jangan memberitahunya, kalau aku sudah pulang."


"Baik, Tuan."

__ADS_1


Pukul tujuh malam, Arshila berbaring didalam kamar barunya. Memejamkan mata, sekedar melepas lelah. Lampu kamar dengan cahaya remang, membuat kedua matanya begitu berat.


"Mana dia?"


Dave memperhatikan para pelayan yang berdiri menyambutnya untuk makan malam.


"Beristirahat, Tuan," jawab Ica dengan kepala menunduk


"Panggil dia kemari."


Ica bergegas pergi. Ia mengetuk pintu Arshila tapi tidak ada jawaban. Ia memilih untuk masuk, karena tidak ingin, membuat Dave menunggu lama.


"Kak Shi, bangun."


"Ada apa, Ca?" Arshila menjawab tanpa membuka mata.


"Tuan muda, mencari Anda."


Sontak mata Arshila melebar, ia langsung bangkit dan berlari menuju ruang makan.


"Dave."


Arshila tersenyum menatapnya, tapi tatapan hangat yang ia berikan tidak berbalas. Pandangan mata, pria itu sudah berubah dingin, tidak ada cinta didalamnya.


"Dave."


Arshila melangkah, melingkarkan kedua tangannya dipinggang suaminya. Rasa marah yang terpendam siang, seperti menguap tak berbekas.


"Lepas!" Dave mendorong tubuhnya. "Jangan pernah menyentuhku, ingat statusmu, hanya pelayan dirumah ini."


Deg. Jantung Arshila berdenyut, ucapan Dave seperti anak panah, yang tiba-tiba menancap di dadanya.


"Jadi, benar kau menjadikanku pembantu. Tapi kenapa? Kenapa?" Arshila setengah berteriak.


"Kenapa? Hahaha...." Dave berjalan mengintari tubuh Arshila. "Pikirkanlah sendiri."


"Lalu, bagaimana perasaan yang kau ungkapkan selama ini? Apa itu palsu?" Suara Arshila bergetar, karena menahan tangis. Padahal air matanya sudah menetes jatuh.


"Dunia ini, realistis. Apa kamu pikir pria kaya dan terhormat mau menikahi seorang narapidana yang tidak punya apa-apa? Lihat dirimu! Kau bahkan sudah menjadi bekas, orang lain. Jangan terlalu banyak membaca dongeng cinderella. Pria dan wanita yang memiliki kedudukan, akan mencari pasangan yang setara."


Arshila mengigit bibirnya, berusaha menahan suara tangisnya. Lihat dirimu! Kalimat Dave yang begitu menusuk dan sangat menghina dirinya.

__ADS_1


"Siapa kau sebenarnya?"


"Hahaha...." Dave tertawa lepas. "Bukankah sedikit terlambat, sayang. Seharusnya, kau menanyakan itu sebelum kakimu melangkah masuk."


"Kenapa kau melakukan ini padaku? Aku tidak mengenalmu dan kita tidak memiliki dendam."


Aaaahh!! Dave menarik rambut Arshila. Ia meringis kesakitan, bukan hanya rasa sakit pada rambutnya yang dijambak, tapi juga hatinya.


"Aku sudah memintamu untuk berpikir. Kenapa kau terus bertanya?"


"Apa maumu?"


Dave menghempaskan tubuhnya dengan kasar.


"Mudah saja, aku ingin melihatmu mati pelan-pelan."


"Jika menginginkan nyawaku, kenapa tidak langsung membunuhku saja. Seperti ini!" Arshila mengarahkan pisau dilehernya, yang disambarnya diatas meja makan.


"Itu terlalu mudah sayang!"


Dave memperhatikan leher Arshila yang sudah tergores dan darah mulai keluar. Ia mencoba bersikap tenang, meski kedua tangannya sudah terkepal.


"Cepat selesaikan! Setelah kau mati, aku akan membuat putri kecilmu menyusul. Kalian bisa berkumpul, bukankah selama ini kau tidak bisa bertemu dengannya."


Arshila membelalak, tubuhnya goyah seperti kehilangan penopang. Ia menjatuhkan pisau diatas lantai dan dengan cepat Dave menendang benda itu.


Ia duduk melemah diatas lantai, air matanya bercucuran dengan suara tangis yang pecah. Tidak ada sepatah kata, yang keluar dari mulutnya.


"Ingat, Arshila. Jangan melakukan hal bodoh, atau putrimu akan menerima akibatnya dan jangan menguji kesabaranku karena aku memiliki nilai minus dalam hal itu."


"Aku membencimu!"


Arshila membalas dengan tatapan tajam.


Ketegangan di meja makan, akhirnya selesai. Setelah, Dave pergi, meninggalkan Arshila yang masih terduduk diatas lantai sambil menangis.


Wanita itu, memukul-mukul dadanya karena merasa sesak. Suara tangis yang dari tadi bersusah payah ditahannya, akhirnya pecah hingga menggema diruangan itu.


Apa salahku? Kenapa kau tega? Seharusnya, aku tidak percaya padamu. Penyesalan selalu datang terlambat, meski berandai-andai, waktu tidak akan bisa kembali mundur.


Arshila yang masih terisak, berjalan dengan gontai menuju kamarnya. Mengabaikan para pelayan, yang menatapnya dengan iba.

__ADS_1


Ia memeluk kedua kakinya diatas kasur, menangis tanpa henti. Hinaan Dave yang merendahkannya, terngiang dalam pikirannya. Lihat dirimu! Pria yang memiliki kedudukan akan memilih wanita yang setara dengannya.


Aku hanya lemah dan kesepian, hingga mudah terbujuk kata cinta. Sosok yang selalu ada setiap aku membutuhkannya, siapa yang tidak akan luluh. Terima kasih, karena sudah menunjukkan wajah aslimu, sebelum aku benar-benar tenggelam.


__ADS_2