Dendam Sang Presdir

Dendam Sang Presdir
Bab 74. Pertemuan tak terduga


__ADS_3

Pagi hari, yang terlihat mendung. Meski hujan, turun semalaman, awan hitam masih menggumpal diatas sana. Sinar matahari pun, hanya bisa bersembunyi, dari tempatnya.


Akhir pekan, yang masih sama dengan hari-hari lainnya. Kepadatan lalu lintas dan kesibukan penduduk bumi, yang tidak ada habisnya.


Alexa duduk disebuah cafe, setelah berolahraga pagi, ia mampir untuk sarapan. Ada secangkir teh hangat dan sandwich diatas meja.


Kenapa belum ada kabar? Gumamnya. Ia resah, karena belum bertemu Arshila. Padahal, sudah jelas-jelas, ia mengungkap semua tentang Clarissa. Apa yang dipikirkan Dave? Kenapa belum melepaskannya? Alexa berkubang dalam pikirannya. Ia sama sekali tidak tahu menahu, tentang kehidupan sahabatnya.


Alexa melirik keadaan disekitarnya. Masih sepi, hanya ada dua pengunjung. Yang satu, duduk didekat kaca dan satunya lagi, duduk di meja depan membelakanginya. Mereka sama sepertinya, mampir untuk sarapan setelah berolahraga. Terlihat, dari pakaian yang mereka gunakan.


"Dia, ...." Alexa menajamkan penglihatannya. "Ellino." Ia menutup mulutnya, karena tersentak.


Bukankah, pria itu berada diluar negeri? Kapan dia kembali? Apa dia sudah mengetahui tentang Clarissa? Rentetan pertanyaan, menumpuk dalam benak Alexa.


Ia melirik Ellino, yang duduk dengan memainkan ponselnya. Pria itu, membalas tatapannya, lalu kembali menunduk.


Yah, keduanya tidak saling mengenal. Tepatnya, hanya Alexa yang mengenal Ellino, meski tidak pernah bertemu. Ia mengetahui banyak hal, tentang pria itu, dari saudarinya. Clarissa lebih banyak membicarakan Ellino, sebagai cinta pertamanya. Dari pada menceritakan Dave, yang notabene sudah menjadi tunangannya.


Hubungan Clarissa dan Alexa, cukup baik, meski terlahir dari ibu yang berbeda. Clarissa yang penyayang dan lembut, memperlakukannya, seperti adik kandung. Ia menjadikan Alexa sebagai teman, untuk mencurahkan isi hatinya.


Ia dapat merasakan bagaimana, Clarissa mencintai Ellino. Tapi, tidak memiliki keberanian untuk menentang ibunya, dari perjodohan. Kedekatan mereka, membuat Fira mencobloskan Alexa ke penjara. Karena terlalu banyak mengetahui, tentang rahasia putrinya.


Yah, ngomong-ngomong. Ia jadi merindukan, ibu tirinya itu. Apa jadinya, jika wanita itu sadar, kalau ia tidak memiliki apa-apa? Semua aset milik ayahnya, sudah dialihkan padanya. Mungkin, dia akan menjerit dan pingsan. Alexa tertawa seorang diri, berimajinasi, jika momen itu terjadi.


Tunggu!! Kenapa aku memikirkan itu sekarang? Ada hal penting, yang harus diselesaikannya. Pesan Clarissa, pada Ellino. Wanita itu, memberikan sesuatu padanya, sebelum ia meninggal. Pesan yang sudah cukup lama dan Alexa belum sempat menyampaikannya. Bukannya tidak ingin, tapi tidak mengetahui keberadaan pria itu.


Bagaimana caranya? Terlalu mendadak, jika aku tiba-tiba muncul, gumam Alexa. Ia terus melirik Ellino, sambil bertanya-tanya dalam hati.


Ini adalah kesempatan emas, pria itu muncul, tanpa bersusah payah mencarinya.


Yang dilirik, semakin merasa risih. Apa ada sesuatu diwajahnya, hingga wanita itu terus menatapnya? Ellino bangkit, menyambar kunci mobilnya diatas meja.


"Tunggu!!" Ia menoleh, wanita yang terus menatapnya berdiri dihadapannya.


"Apa kamu mengenalku?" tanya Ellino dengan pandangan menyelidik.


"Aku adik Clarissa. Apa kita bisa bicara?"


Deg.

__ADS_1


Ellino tidak langsung menjawab. Ia terlalu kaget dengan ucapan wanita ini. Adik Clarissa? Ia tidak mengetahui jika Clarissa memiliki saudara. Karena, seperti yang diketahui publik, ia adalah anak tunggal.


"Silahkan."


Ellino kembali duduk. Ia berpikir, untuk mendengarkan apa yang akan disampaikan wanita itu.


"Maaf, jika membuatmu kaget. Namaku Alexa. Aku dan Clarissa, terlahir dari ibu yang berbeda," ungkap wanita itu.


Ellino tidak merespon, ia tidak bisa memercayai seseorang yang baru saja ditemuinya.


"Apa ada yang ingin kamu katakan? Jujur saja, aku tidak percaya tentangmu. Sepengetahuanku, keluarga Santara hanya memiliki anak tunggal."


Memang benar, begitulah yang tersebar dimasyarakat. Keluarga Santara hanya memiliki satu anak dan Alexa tidak berniat untuk membuka identitasnya. Lagi pula, ia tidak terlalu menyukai nama belakangnya.


"Aku tidak akan memaksamu untuk percaya atau tidak. Aku hanya ingin menyampaikan pesan Clarissa."


"Pesan?"


Alexa memberikan sebuah kartu nama. "Aku menitipkannya, pada pengacarku sebelum keluar negeri."


"Maksudmu, aku harus menemuinya?"


"Aku sudah menyampaikannya. Terserah, kamu percaya atau tidak."


Ellino mematung, menatap Alexa yang kembali di mejanya. Menyambar tas dan tersenyum sekilas, sebelum berlalu.


"Ada apa, lagi?" tanya Alexa, saat tangannya diraih seseorang, saat hendak masuk dalam mobil.


"Apa kamu tidak bisa memberiku penjelasan? Clarissa sudah meninggal setahun yang lalu. Kenapa kamu baru mengatakannya sekarang? Bukankah sudah sangat terlambat!"


"Pertama, kamu tidak percaya padaku. Kedua, aku tidak mengetahui keberadaanmu. Clarissa hanya menceritakan perasaannya dan menunjukkan fotomu kepadaku. Ia tidak pernah memberitahuku, siapa keluargamu." Alexa menghempaskan tangan Ellino. "Memang terlambat, tapi bukankah masih lebih baik kamu menerimanya, daripada tidak sama sekali."


"Bukankah, dia meninggal karena kecelakaan? Bagaimana bisa, ia memberikannya padamu?"


"Clarissa bunuh diri!" Mata Ellino membulat, ia mundur selangkah. "Dia menunggumu untuk menjemputnya, tapi kamu tidak pernah datang."


"Ap ... apa yang kamu. bicarakan? Ia tidak mungkin melakukan itu?" bantah Ellino.


Wanita yang dicintainya, tidak mungkin seputus asa itu. Lagi pula, waktu itu, Ellino menunggu Clarissa dibandara cukup lama. Sampai akhirnya, pesan singkat dari Clarissa membuatnya pergi seorang diri.

__ADS_1


"Temui pengacaraku. Mungkin, ada rahasia yang bisa kamu temukan dalam pesannya."


Alexa masuk dalam mobilnya, lalu pergi meninggalkan Ellino, yang masih menatapnya tidak rela.


Diperjalanan, Alexa menghubungi pengacara, memberitahukan kedatangan Ellino. Ia meminta, agar memberikan benda yang dititipkannya kepada pria itu.


Sementara, Ellino yang yang tidak ingin mati penasaran. Langsung, menuju kantor pengacara yang dimaksud Alexa.


Akhir pekan yang seharusnya, menjadi hari libur setiap orang yang lelah bekerja. Tapi, kantor ini tetap buka, mungkin sengaja menunggu kedatangannya.


Brak.


Pintu mobil ditutup dengan keras. Ellino sangat terburu-buru. Entah, apa yang ditinggalkan Clarissa, untuknya. Tapi, hatinya sudah sangat tidak tenang.


"Saudara Ellino?" Pria muda, menyambutnya didepan pintu.


"Iya."


"Silahkan, ikut saya!"


Ellino mengikuti langkahnya. Tiba didepan pintu ruangan, ia dipersilahkan masuk.


"Silahkan duduk. Saya akan mengambil benda yang diberikan nona Alexa."


Ellino mengangguk, memerhatikan pria muda itu, membuka sebuah lemari brankas.


"Ini." Ia meletakkan sebuah amplop coklat diatas meja. "Saya tidak.mengetahui isinya. Nona hanya menitipkannya, sebelum pergi."


"Terima kasih," ucap Ellino, lalu meraih amplop itu.


"Jika Anda, ingin melihatnya sekarang. Saya akan keluar sebentar."


Ellino mengangguk, lalu berterima kasih, saat pria itu pergi dan menutup pintu.


Deg.


Jantung Ellino terpacu. Gambar hasil USG, yang diambil setiap bulan berturut-turut, selama tiga bulan. Ellino tahu, gambar apa itu. Sebuah janin. Tapi, kenapa Clarissa memberikan ini, padanya?


Beberapa foto mereka, saat menjalin asmara dan sebuah surat yang masih disegel.

__ADS_1


"Aaa......" Ia menjerit frustasi, saat ia membaca surat itu.


__ADS_2