
Hari kerja seperti biasa, kesibukan akan terlihat, pada lalu lintas. Lalu, menyebar pada perkantoran dan pusat pelayanan serta kegiatan ekonomi lainnya.
Cuaca cerah, menjadi semangat tersendiri untuk memulai pekerjaan. Terkecuali Dimas, yang dalam perjalanannya, justru suasana hatinya sedang bergemuruh tidak menentu. Emosinya, belum reda dari semalam.
Bagaimana tidak, sang istri kabur dari rumah, membawa serta putri kecilnya. Padahal, urusan mereka belum selesai. Tapi, semuanya kacau gara-gara sang ibu.
Kini masalah bertambah rumit, karena Nadia sudah mengetahui semuanya. Sebuah rahasia, yang sudah ditutupinya selama setahun lebih. Lucunya, semua keluar dari mulutnya sendiri. Meski, tidak mengatakan secara jelas dan langsung, tapi bisa dipastikan sang istri, pasti mengerti.
Dimas memarkir mobilnya, menarik napas panjang, sebelum keluar. Ia harus meredakan amarah, sebelum masuk dalam gedung perusahaan.
Di lobi, ia melempar senyuman, membalas sapaan pada karyawan lainnya. Sekarang, ia memiliki jabatan sebagai direktur humas. Jabatan yang diperolehnya, setelah menjadikan sang mantan istri, sebagai tumbal kejahatannya. Memiliki gaji dan kendaraan, serta fasilitas yang diberikan oleh perusahaan. Dimas menikmati hidupnya dengan sangat baik.
Dimas tidak langsung naik lift, ia sengaja menunggu di lobi. Memperhatikan, para karyawan yang mulai berdatangan. Berharap, Nadia berada diantara mereka.
Sepuluh menit berlalu, Nadia tidak kunjung datang. Bahkan, waktu jam kerja sudah dimulai. Terpaksa, Dimas meninggalkan lobi, menuju ruangan tempatnya bekerja.
"Ada apa, ini?"
Dimas memperhatikan, para staf presdir sedang mengacak-acak ruangan kerjanya.
"Kami sedang mengosongkan ruangan."
"Apa maksudmu? Ini ruanganku, sekarang kalian keluar!" bentak Dimas.
Para staf tidak menggubris, mereka menyingkirkan semua barang Dimas, memasukkannya dalam kotak box.
"Keterlaluan. Aku bilang, kalian keluar dari sini!!"
"Maaf, Pak Dimas. Apa Anda tidak menerima pemberitahuan atau membaca pengumuman? Mulai hari ini, Anda dipecat. Jadi, tolong kerjasamanya!"
Wajah Dimas memucat, jantungnya terpacu. Kenapa ia dipecat? Padahal, tidak melakukan kesalahan sama sekali. Pasti, sekretaris sialan itu! Umpatnya.
Dimas memutar haluan, kembali menuju lift. ia harus mencari pria yang sudah berselingkuh, dengan istrinya.
"Aku akan menghancurkanmu, Tian."
Pintu lift terbuka, Dimas berjalan sembari memperhatikan keadaan. Hanya ada, seorang sekretaris wanita disana.
"Bapak, mau mencari siapa?" sekretaris itu mencegah langkahnya.
"Aku ingin bertemu presdir. Kenapa ia memecatku?"
__ADS_1
"Maaf, Pak. Mulai hari ini, jabatan presdir diambil alih oleh owner perusahaan. Dan saat ini, beliau tidak ada ditempat."
"Maksudmu, tuan Liam Alehandra?"
"Iya, Pak."
Sial! Ada apa ini? Kenapa ia memecatku, padahal kami tidak pernah bertemu? Dimas semakin yakin, jika sekretaris Tian, yang menjadi alasan pemecatannya.
Laki-laki pengecut, yang tidak bisa menghadapainya. Menggunakan kekuasan, untuk membuat Dimas bertekuk lutut. Tidak, aku tidak akan menyerah. Aku sudah bersusah payah sampai dititik ini, gumamnya.
"Dimana beliau? Aku harus menemuinya?"
"Dia sedang mengadakan rapat. Sebaiknya, Bapak tunggu saja."
Dimas tidak punya pilihan, selain menunggu. Masa depannya, diambang kehancuran. Ia sudah susah payah, naik diposisinya sekarang. Tidak mungkin ia menyerahkannya begiitu saja.
"Oh, iya. Nadia kemana?" tanya Dimas, yang akhirnya tersadar untuk menanyakan sang istri.
"Bapak tidak tahu?" wanita itu kembali bertanya dan Dimas hanya menggelengkan kepalanya. "Nadia sudah dipecat."
"Apa??" Dimas terlonjak, hampir jatuh dari tempat duduknya.
Ada apa ini? Kenapa mereka berdua dipecat? Dimas frustasi, apalagi ia tidak bisa menghubungi sang istri.
"Saya juga tidak tahu, Pak. Sekretaris Tian yang memberitahu dan meminta saya memberesakan barang Nadia."
Lagi-lagi, sekretaris Tian. Ada apa dengan pria sialan itu? Kenapa ia harus memecat mereka berdua. Emosi Dimas, kembali terpantik. Amarah yang belum dikeluarkannya, karena kejadian semalam, kini bertambah dua kali lipat.
Pintu lift terbuka, Dimas menoleh. Ada sosok pria asing, yang tidak pernah dilihatnya secara langsung. Jantungnya berdegup cepat, tatapan pria asing itu, sama sekali tidak jauh berbeda dari presdir sebelumnya.
Dibelakang, Liam ada sekretaris Tian. Pria yang sudah ditunggu Dimas, untuk memberinya pelajaran. Ia akan membuka sifat asli Tian, dihadapan presdir mereka yang baru.
"Selamat pagi, Pak." Dimas membungkukkan tubuhnya, untuk memberi hormat.
"Kamu siapa?" ujar Liam yang langkahnya terhenti didepan pintu ruangan.
"Saya Dimas, Pak. Saya direktur humas."
"Direktur humas?? Bukannya kamu sudah dipecat?"
"Saya ingin meminta penjelasan, Pak. Kenapa saya harus dipecat? Saya tidak melakukan kesalahan. Apa ada seseorang yang bicara tidak-tidak tentang saya?" Dimas menatap sekretaris Tian. Menegaskan kalimatnya.
__ADS_1
"Bukan saya, yang memecat kamu. Tapi, putra saya. Untuk alasannya, silahkan tanyakan sendiri padanya." Liam melanjutkan langkah.
Deg.
Ada apa ini? Apa presdir tahu tentang sesuatu? Apa Nadia yang mengatakannya? Tapi, kenapa Nadia ikut dipecat?
Pikiran Dimas mulai kalut, terlilit seperti benang kusut. Jika pikirannya benar, maka hidupnya akan hancur sebentar lagi. Tidak bisa, ia tidak. bisa menyerah, semudah itu. Semangatnya kembali muncul.
Dimas masuk dalam ruangan presdir. Ia harus menyelamatkan karirnya, bagaimana pun caranya.
"Ada apa?"
"Maaf, Pak. Tolong, beri saya kesempatan. Saya melakukan pekerjaan dengan baik. Saya yakin presdir Dave, memecat saya karena alasan pribadi. Bukankah, urusan pekerjaan tidak boleh melibatkan urusan pribadi?"
Emosi sekretaris Tian langsung meledak. Kenapa ada orang yang sama sekali tidak tahu malu? Jabatan yang dia milki saat ini, bukanlah karena kinerjanya yang bagus, melainkan sebuah hadiah yang tidak seharusnya diberikan kepadanya.
Jika Dave berdiri saat ini, mungkin Dimas akan kehilangan kepalanya.
"Kamu memang benar, Pak Dimas. Tapi, yang aku dengar, jabatanmu sekarang bukan karena kinerjamu yang bagus, melainkan sebagai hadiah ucapan terima kasih."
Deg.
Tubuh Dimas gemetar, telapak tangannya berkeringat dingin. Ia menunduk. Semua benar. Tapi, kenapa? Apa Dave sudah mengetahui semuanya?
"Mungkin, putraku menginginkan kembali hadiah itu," lanjut Liam.
Kedua kaki Dimas, goyah, tidak mampu menumpu tubuhnya yang kehilangan keseimbangan. Pikirannya, tertuju pada satu alasan yang pasti. Sudah setahun lebih. Apa pria itu kembali menyelidikinya? Tapi, kenapa? Arshila sudah dihukum dan ....
Tunggu!!
Arshila, yah, wanita itu!! Apa dia membuka mulut sekarang? Mengingat wanita itu, bekerja sebagai pembantu di rumah Dave.
Ah, sial, sial! Seharusnya aku bertemu dengannya, untuk memperingatkannya!!
Dimas menggeram kesal, pasti ulah mantan istrinya. Tidak mungkin, Nadia yang melakukannya. Buktinya, sang istri ikut dipecat dari pekerjaannya.
Aku harus menemukan wanita itu! Sudah setahun lebih, untuk apa kamu membuka mulut sekarang, sialan!!
"Silahkan pergi!" usir sekretaris Tian.
Dimas melangkah keluar dengan emosi yang tersimpan rapat dalam hatinya. Kini semua yang menimpanya, adalah ulah sang mantan istri. Pasti dia, dan sekretaris Tian pasti ikut terlibat memprovokasi Dave.
__ADS_1
Dimas sudah mengambil barang-barangnya. Ia meraih ponsel, sebelum pergi. Berharap, bisa menguhubungi Nadia. Tapi, lagi-lagi, ponselnya tidak aktif.