
Arshila perlahan membuka mata, hal pertama yang dirasakannya adalah rasa perih yang begitu menyakitkan. Bulir-bulir air mata menetes, saat ingatannya kembali pada Dave. Waktu itu, ia berharap, siksaan pria itu bisa mengakhiri hidupnya dengan cepat.
Kata-kata yang begitu sangat menusuk dan terus terngiang di pendengarannya.
Matilah, matilah, matilah.
Aku juga ingin segera mati ditanganmu, agar semua segera berakhir. Tapi, kenapa, saat membuka mata, aku masih ditempat yang sama.
Arshila menutup wajahnya, dengan kedua telapak tangan. Menangis sepuas-puasnya, Ica yang duduk disampingnya ikut menangis.
Kenapa? Kenapa? Aku masih disini. Aku ingin semuanya berakhir.
"Hiks....hiks....hiks.... Aku lelah, Ica."
"Nona, hiks....hiks..."
Ica memeluk Arshila, seperti seorang adik yang menenangkan saudarinya. Keduanya, larut dalam tangis yang memilukan.
"Ica,"
"Iya, Nona."
"Bantu aku!"
Arshila berusaha bangkit, dibantu Ica yang memegang tubuhnya. Ia bersandar, menghapus air matanya.
Matilah, matilah, matilah.
Arshila memejamkan mata, bulir-bulir kristal bening, kembali mengalir jatuh.
"Nona, makanlah. Anda harus minum obat."
Arshila menggeleng, dengan mata terpejam.
"Nona, saya mohon. Anda harus segera pulih."
Arshila membuka mata, menatap Ica dengan sepiring makanan di tangannya.
"Ica, apa kamu punya keluarga?"
"Iya, Nona. Ibuku bekerja di kediaman nyonya besar. Ayahku sudah meninggal, aku memiliki dua orang adik yang masih bersekolah."
"Pasti, menyenangkan jika kalian berkumpul bersama."
"Nona."
__ADS_1
Mata Ica menganak sungai, menatap wajah majikannya begitu putus asa.
"Aku tidak memiliki siapapun, orang tuaku sudah meninggal, saat aku masih bersekolah. Kau tahu, aku bekerja sambil bersekolah untuk melunasi utang mereka. Aku memiliki seorang adik, waktu itu masih berusia delapan tahun. Dia menghilang, saat aku pergi bekerja."
Ica membisu, mendengarkan Arshila berbicara mengenang masa lalunya. Mungkin, saat ini sang majikan sedang merindukan keluarganya.
"Aku bekerja serabutan, buruh cuci, berdagang kue, apapun itu. Aku mengumpulkan uang, untuk menyewa seorang ahli, mencari adikku. Tapi, sampai sekarang, aku tidak pernah menemukannya. Sampai akhirnya, aku datang di kota ini. Bekerja disebuah hotel, cukup lama, hingga aku menikah."
"Nona, aku yakin suatu hari kalian akan bertemu. Bersabarlah!"
"Terima kasih, Ica. Aku juga berharap, bisa bertemu dengannya sebelum aku mati."
"Nona! Tolong, jangan mengatakan itu!"
Arshila memejamkan mata, saat rasa perih menusuk tubuhnya. Begitu sakit, hingga ia mengepalkan tangan.
"Ca, tolong ambilkan pakaianku dan bawa aku ke kamar."
"Baik, Nona. Tapi, ibu Lin berpesan agar Anda tinggal di kamar miliknya."
"Tidak perlu, aku merasa nyaman di kamarku sendiri."
"Baiklah, Nona."
Ica memapah tubuh Arshila, mengerahkan tenaga untuk memegangnya. Sebab, tubuh Arshila lebih tinggi darinya.
Para pelayan, yang bekerja dilantai bawah segera berlari, membantu Ica.
Empat orang pelayan wanita, membantunya berjalan hingga masuk dalam kamar, lalu membaringkannya.
"Terima kasih,"
"Sama-sama, Nona. Jika Anda butuh sesuatu, tolong jangan sungkan memanggil kami."
"Aku sangat berterima kasih."
Arshila terbaring seorang diri, menatap langit-langit kamar, dengan perasaan hampa. Terkurung dan tersiksa, hingga ia sendiri menginginkan agar kematian segera menghampirinya.
Bulir-bulir kesedihan jatuh tanpa bisa dicegah. Arshila menangis dengan suara tertahan. Menyebut nama Dave yang telah menyakiti hati dan tubuhnya, tanpa belas kasih. Pria yang dulu sehangat matahari pagi, berubah menjadi sedingin es. Pria yang begitu lembut, sekarang sudah menjadi pria kejam.
Diatas meja kecil, sudah ada sepiring nasi dan segelas air serta obat. Para pelayan, sudah menyiapkan sebelumnya. Ia menatap bingkai foto yang menggantung diatas meja kecil tadi. Sebuah hadiah pernikahan yang diberikan Grace padanya. Senyum seorang anak kecil dengan rambut dikucir. Senyum yang membuat Arshila bertahan, demi sang buah hati.
Putriku. Maafkan ibu, Nak. Ibu belum bisa memberikan apapun padamu.
Arshila meraung-raung, menangis sejadi-jadinya untuk meluapkan sesuatu yang mengganjal dihatinya. Sesuatu yang seperti bongkahan batu besar yang tidak bisa untuk dipecahkan.
__ADS_1
Bantal yang digunakan, menjadi basah karena air matanya. Hari ini, adalah yang hari paling menyedihkan dalam hidupnya. Sabetan tali pinggang, begitu membekas disekujur tubuhnya.
Matilah, matilah, matilah.
"Hiks ....hiks...."
Suara pintu terbuka, Ibu Lin masuk tapi sedetik kemudian ia mematung, menatap nanar wanita didepannya. Ia membisu, membiarkan suara tangis yang menyayat hati memenuhi pendengarannya.
Menangislah, Nona. Tumpahkan semua rasa sakit dan beban dalam hatimu.
Tidak ingin mengganggu, ibu Lin meletakkan paper bag diatas lantai, lalu keluar.
Arshila bangkit dan duduk bersandar, saat rasa perih dipunggungnya berdenyut. Ia membuka kalung yang melingkar di lehernya. Mengambil cincin pernikahan mereka. Menatap sendu, lalu tertawa hambar. Menertawakan kebodohannya yang saat itu begitu bahagia menerima lamaran Dave.
Untuk apa, aku terus menyimpannya bersamaku. Sungguh tidak berguna!
Ia melemparnya, membentur tembok dan menggelinding diatas lantai. Sinar matahari memantul diatas cincin yang bertahtakan berlian itu. Sebuah nama terukir didalamnya.
Clarissa
Deg. Jantung Arshila berdetak dengan cepat, telapak tangannya menjadi terasa dingin. Sebuah nama, yang begitu melekat dalam ingatannya. Sebuah nama, yang membuatnya berada dalam penjara.
Ia kembali memperhatikan cincin itu dengan teliti, sampai akhirnya ia menjatuhkannya kembali diatas lantai.
Arshila memukul dadanya yang terasa begitu sesak, seakan semua oksigen ditarik keluar paksa dari tenggorokannya.
Apa karena wanita ini, dia membalas dendam padaku? Tapi, apa hubungan mereka? Jangan-jangan dia, hah!!
Mata Arshila melebar, menutup mulutnya yang hampir menjerit karena terkejut.
Ingatannya mundur, saat berada dirumah sakit. Polisi wanita mengatakan, Clarissa adalah tunangan dari presdir PT. Deval Power.
Apa dia orangnya? Dia atasan mas Dimas.
Air matanya sudah mengalir, ternyata dari awal, pria itu sudah merencanakannya. Selama ini, ia hanya berpura-pura, tidak ada cinta atau kasih sayang. Mungkin, saat ia menciumnya, Dave pasti merasa jijik padanya.
Bodoh, sungguh sangat bodoh! Seharusnya, ia mencari tahu dulu sebelumnya. Dave yang menjelma sebagai penyelamat dan mengaku jatuh cinta padanya secara tiba-tiba, seharusnya sudah dicurigainya dari awal.
Dia yang memiliki segalanya, jatuh cinta pada wanita sepertinya. Ia sudah mendoktrin batinnya berulang kali, tapi mengapa ia begitu lemah akan perasaannya.
"Hahaha.... Sangat lucu! Pasti menyenangkan, melihatku jatuh cinta seperti perempuan bodoh."
Arshila tertawa hambar. Lalu, bangkit keluar kamar. Menyeret langkahnya menuju ruang tengah. Penampilannya begitu berantakan, ditambah wajah yang sembab dan basah karena air mata yang tak jua berhenti mengalir.
Ia berdiri tegak, menatap bingkai foto berukuran besar yang menggantung di dinding. Foto dengan wajah yang sama, yang menggantung hampir disemua dinding rumah. Apalagi, di kamar Dave. Foto dengan senyum manis tergantung tepat didepan tempat tidurnya.
__ADS_1
Hai, Clarissa. Aku Arshila, si penebus nyawamu.