Dendam Sang Presdir

Dendam Sang Presdir
Bab 6 Vonis


__ADS_3

Di rumah sakit,


Arshila terbaring dengan jarum infus menancap di urat nadinya dan salah satu tangannya masih terborgol di ranjang pasien.


Tidak ada satupun, keluarga yang menemaninya, hanya seorang petugas wanita berseragam polisi, yang duduk memainkan ponselnya.


"Mbak."


"Ya, ibu butuh sesuatu?"


Arshila menggeleng, ia kembali menumpahkan air matanya.


"Bagaimana bayiku?"


"Dia baik-baik saja. Kata dokter ibu terlalu stres dan kekurangan nutrisi. Ibu akan dirawat beberapa hari sampai hari persidangan," jawabnya.


"Terima kasih."


"Tidak apa, bu. Ini sudah menjadi tugas kami."


"Mbak," panggil Arshila, tampak ragu untuk bertanya. "apa bisa memberitahu saya siapa Nona Clarissa?"


"Ibu tidak mengenalnya?"


Arshila menggeleng. Bagaimana ia bisa mengenal seseorang yang belum pernah ditemuinya.


"Dia putri tunggal Bagas Santara pemilik Antara Group dan calon istri dari pemilik PT. Deval Power."


Deval power? Bukankah itu tempat kerja Mas Dimas. Jadi, dia melakukan ini padaku untuk menyelamatkan diri.


"Itulah kenapa dua keluarga itu, menuntut ibu. Meskipun menurut saya, ibu tidak sengaja melakukannya melihat kondisi ibu sekarang."


Bukan sengaja, tapi aku tidak pernah melakukannya. Meskipun, aku jujur tidak satupun dari kalian yang akan percaya padaku. Mas Dimas dan Ibu, aku akan mengingat ini.


Satu minggu kemudian,


Menggunakan pakaian berwarna putih polos. Arshila duduk dengan kepala tertunduk, Salah satu tangannya, mengelus perut yang semakin membuncit.


Seharusnya, umur kehamilannya saat ini, ia sedang mempersiapkan diri untuk masa bersalin. Mempersiapkan perlengkapan bayi, seperti ibu hamil lainnya. Saat seperti ini juga, ia membutuhkan sang suami untuk selalu di sisinya.


Tapi, dia justru terjebak ditempat yang akan mengurungnya dalam waktu yang lama.


Arshila semakin menundukkan kepalanya, saat persidangan di mulai. Dari kursi belakang, terdengar beberapa orang yang meneriakinya. Ada juga yang hanya saling berbisik, tapi dengan tatapan merendahkan.


Salah seorang wanita dengan suara lantang memaki dan menghinanya.


"Dasar pembunuh! Wanita tidak tahu malu."


Ya, Allah. Tolong, kuatkan aku, kuatkan hatiku.


Arshila meremas tangannya, dengan air mata yang menetes jatuh dipungung telapak tangannya. Sakit, seperti tertusuk pisau, tapi tidak berdarah. Dadanya bergemuruh, terasa sesak karena memendam kesedihan dan amarah yang bercampur aduk.


Persidangan kali ini dihadiri orang tua Clarissa, sedang pihak keluarga Alehandra, hanya diwakili tiga orang pengacara. Dua keluarga itu bergabung, menuntut Arshila agar dihukum dengan berat.

__ADS_1


Diantara para pangunjung, Dimas hadir bersama ibunya sebagai saksi. Dengan rasa bersalah, ia terus menatap wajah istrinya dari jarak jauh.


Maafkan aku. Aku berjanji akan menebusnya, jika kau sudah bebas.


Sementara, ibu Dimas tersenyum puas, menatap Arshila meratapi nasibnya.


Bagus, setelah ini, aku akan membuat Dimas menceraikannmu.


Persidangan dimulai, jaksa penuntut umum mendengarkan kesaksian Dimas dan ibunya. Tidak jauh berbeda dari yang mereka ceritakan sebelumnya.


Arshila membisu dengan air mata yang terus menetes jatuh. Ia memejamkan mata, saat Dimas dan ibunya, bersaksi menyalahkan dan meminta maaf untuknya.


Perbuatan yang sama sekali tidak pernah dilakukannya, tapi ia hanya membisu, membiarkan, apa yang seharusnya terjadi. Untuk apa? Karena tidak seorang pun yang akan percaya dan membelanya. Pengacara disampingnya pun, terkesan tidak membela sama sekali.


"Setelah mendengarkan keterangan saksi dan pengakuan pelaku. Maka, sidang memutuskan Saudari Arshila Syarenna, dengan tidak sengaja telah mencelakai Saudari Clarissa. Akan menerima hukuman penjara selama satu tahun."


Tok..Tok, ketuk palu pun terdengar.


Arshila memejamkan mata, air matanya mengalir. Hukuman yang terlalu ringan, kata itu keluar dari mulut seorang wanita yang duduk dibelakang.


Apapun yang akan terjadi pada kita nanti, tolong tetaplah bersama ibu.


Dari pihak keluarga Clarissa tidak menerima keputusan hakim. Hukuman yang tidak setimpal dengan kematian putri mereka. Bahkan terlalu ringan, untuk seseorang yang menghilangkan nyawa.


Ibu Clarissa yang tidak menerima, berlari menghampiri wanita itu. Menjambak rambut hingga menamparnya. Sementara Arshila, hanya pasrah, dengan melindungi perutnya, membiarkan ibu Clarissa meluapkan kekecewaan atas putusan hakim.


"Pembunuh. Pembunuh!"


"Ma, sudah." Bagas melerai istrinya.


Ibu Clarissa masih tidak melepaskan tangannya dari rambut Arshila. Meski wanita itu, meringis kesakitan. Sampai akhirnya, petugas wanita datang membantu melerai ibu Clarissa.


"Aku akan menunggumu bebas dan membalas kematian putriku. Ingat itu!" ujarnya, sebelum pergi meninggalkan ruang sidang.


Arshila hanya menangis, memegang pipinya yang terasa panas. Kepalanya terasa perih, karena rambutnya terjambak. Ia membiarkan petugas wanita memapahnya pergi. Dari kejauhan, Dimas hanya menatap tanpa berbuat apa-apa.


"Ayo, pulang."


Ibu Dimas menarik tangan putranya, mencegah sebelum dia melakukan tindakan yang membuat rencana mereka hancur.


"Ibu."


"Dimas, jangan macam-macam kamu. Kita sudah sejauh ini, tidak bisa lagi melangkah mundur."


Dimas mengikuti langkah ibunya, sambil menoleh ke belakang menatap istrinya yang terduduk diatas lantai.


Maafkan, aku. Aku benar-benar minta maaf.


...****************...


Di tempat terpisah, Dave duduk dalam ruangan kerja di kediaman pribadinya. Ruangan yang dipenuhi rak buku dan terlihat rapi, kini nampak berbeda. Sepihan kaca berserakan diatas lantai, begitu juga beberapa kertas dan buku yang berhamburan.


"Hanya satu tahun?"

__ADS_1


"Ya, Tuan."


Tian menjawab dengan tenang, meski wajah Dave saat ini sangat menakutkan. Amarah pria didepannya, benar-benar mengerikan.


"Istriku terbunuh bersama bayiku, tapi dia hanya dihukum satu tahun?"


PRAANGG


Sebuah vas bunga kembali mendarat di dinding tembok.


"Perempuan sialan!"


Nafas Dave naik turun, bahkan wajahnya kini memerah. Sementara, Tian masih bersikap tenang.


"Apa nyawa Clarissa dan bayiku tidak begitu penting? Apa yang dilakukan pihak pengacara?"


Dave menatap tajam sekretarisnya.


"Mereka sudah berusaha semaksimal mungkin. Tapi, hakim memutuskan kecelakaan itu tidak disengaja karena tersangka sedang mengalami kontraksi."


"Tidak sengaja? Perempuan sialan!"


Tian mundur selangkah, saat Dave memukul udara, meluapkan amarahnya yang kini sudah memuncak.


"Berapa umur kandungannya sekarang?"


"Memasuki delapan bulan, Tuan."


"Delapan bulan." Dave tampak berpikir. "Kalau begitu, biarkan dia menikmati hari-harinya sebelum ia menjadi ibu. Setelah itu, lakukan apa yang harus ia rasakan."


"Saya mengerti, Tuan."


"Satu lagi. Naikkan jabatan suaminya, aku ingin kedua pasangan itu, tidak saling bertemu. Seperti dia yang mengambil Clarissa dariku, maka buat dia kehilangan cinta suaminya."


"Baik, Tuan," pamitnya, lalu melangkah keluar.


"Bersabarlah, aku akan pelan-pelan membalasnya untukmu."


Dave menatap foto Clarissa diatas meja. Lalu, beralih pada sebuah map berisi informasi tentang Arshila. Ia meraih sebuah foto, menatap dengan tajam.


"Aku akan membuatmu hidup seperti dalam neraka. Nikmatilah hidupmu, yang tersisa sebulan lagi. Setelah itu, jangan berharap kau akan melihat matahari terbit."


Dave meremas foto Arshila, melemparnya diatas lantai.


"Pak Yus," teriaknya dengan suara menggelegar.


"Iya, Tuan."


"Bersihkan."


Dave bangkit, mengambil sebuah kertas foto diatas lantai.


"Bakar, ini."

__ADS_1


"Baik, Tuan."


__ADS_2