Dendam Sang Presdir

Dendam Sang Presdir
Bab. 45 Takdir dua pria


__ADS_3

"Dunia sangat sempit, bukan?"


Cup.


Aku baru tahu, takdir kita berdua akan selalu berakhir dengan wanita yang sama. Aku tidak mau kehilangan lagi, cukup Clarissa yang lepas dari genggamanku. Tidak kali ini!


Bugh.


Ibu Lin tersentak, ingin menjerit, tapi takut membangunkan Arshila yang baru saja tertidur.


"Jangan pernah lagi, menyentuhnya!"


"Kenapa aku harus mendengarkanmu?" Ellino menghapus sudut bibirnya yang berdarah.


"Dia istriku!" Kalimat yang penuh dengan penekanan dengan sorot mata tajam.


"Istri? Tapi, aku tidak melihat cincin pernikahan di jarinya. Apa kau suami yang tidak dianggap?" smirk yang terlihat mencemooh.


"Tuan, jangan disini!" teriak ibu Lin, saat Dave mencengkram pakaian Ellino.


"Dengar, tuan Ellino. Jangan mencoba memprovokasiku, kau tahu akan berakhir dimana, jika kau tidak segera pergi dari sini!"


"Hahaha.... memangnya, aku akan berakhir dimana?" Ellino melepaskan cengkraman Dave. "Aku tidak akan membiarkan Arshila, menanggung dendam dari kematian Clarissa. Yang aku tahu, gadis itu mati karenamu bukan orang lain."


Sorot mata Ellino tak kalah tajam dari tatapan Dave saat ini. Dua pria yang memiliki dendam masa lalu, kini dipertemukan kembali pada hal yang sama. Masalah wanita!


Elllino menjalin kasih bersama Clarissa. Dari teman masa kecil, menjadi sepasang kekasih. Janji untuk menikah, berubah menjadi janji membalas dendam pada pria didepannya.


Ingatan Clarissa yang meminta maaf, dengan bercucuran air mata. Perjodohan orang tua yang tidak bisa dibantah dan pria didepannya yang begitu memaksa untuk menikah.


"El, bawa aku pergi. Aku tidak bisa menikah dengannya. Aku akan mengikutimu kemanapun, asal jangan pernah meninggalkanku."


Percakapan terakhir melalui telepon saat itu. Ellino kembali untuk membawa Clarissa pergi. Ia dikejutkan dengan wajah pucat, sang pujaan hati yang sudah terbujur kaku di rumah sakit.


Ellino menyalahkan dirinya yang terlalu takut, hingga kehilangan Clarissa. Kesedihan itu berubah menjadi kemarahan, saat menatap Dave yang bersimpuh didepan jenazah Clarissa.


Semua salahmu! Aku tidak akan pernah melupakan hari ini.


"Aku tidak akan membiarkan Arshila mengalami nasib yang sama seperti Clarissa. Mati dengan menyedihkan!"


"Tutup mulutmu!" Dave melotot dengan rahang yang mengeras. "Kau tidak tahu apapun tentang mereka."


"Aku tahu segalanya," sahut Ellino, "Apa kau pernah bertanya pada Clarissa, jika ia mencintaimu atau tidak? Ia terpaksa!" teriak Ellino, "Kau tahu benar, perjodohan kalian hanya kau yang menginginkannya."


"Aku tidak pernah memaksanya. Dan dia sangat mencintaiku. Bayi didalam rahimnya menjadi bukti, kami berdua saling mencintai."


"Ha ... hamil?" Ellino terhenyak. "Apa maksudmu Clarissa hamil?" Ellino mencengkram kerah baju Dave dengan kuat.

__ADS_1


"Kenapa?" Bibir Dave tertarik keatas. "Kau frustasi, hahaha...." Tawa Dave menggema.


Ellino melepaskan tangannya, tawa Dave yang terdengar mengejek, tidak dipedulikannya. Kehamilan Clarissa, menganggu pikirannya.


"Cla, apa yang kamu lakukan?" Ellino menatap Clarissa tanpa sehelai benang ditubuhnya.


"Aku menyerahkan diriku, sebagai bukti aku mencintaimu."


"Kau gila!"


"Aku hanya mencintaimu, El. Aku tidak ingin dia menyentuhku. Aku tidak mau kehilanganmu. Jika aku hamil nanti, kita bisa pergi jauh. Orang tuaku pasti akan setuju."


Aku yang pertama melakukannya, apa itu bayiku? Tapi ....


Ellino menatap Dave, memperhatikan wajah pria itu dengan seksama. Wajah penuh dengan keyakinan saat kalimat itu meluncur, wajah dengan kebanggaan, karena berhasil menghancurkan hati lawannya, hanya dengan satu kalimat.


"Kau yakin itu milikmu?" Ellino kembali membalas. Ia harus mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.


Bugh.


"Kau masih belum sadar rupanya? Dia bayiku dan begitu juga Arshila, kami akan memiliki bayi. Sebaiknya, kau pergi sebelum aku melakukan hal lebih jauh."


"Aku akan kembali, setelah memastikan segalanya dan ingat, aku tidak akan pernah melepaskan Arshila."


Ellino akhirnya mengalah, dengan berjalan pergi meninggalkan ruangan.


"Dengar, ibu Lin. Jangan pernah membiarkan siapapun bertemu dengan istriku. Kamu mengerti!"


"Saya mengerti, Tuan. Maafkan, saya."


"Ini kesalahan pertama dan terakhirmu."


Dave mengambil tissu basah, membersihkan kening Arshila dari bekas kecupan Ellino. Pria yang satu-satunya berani, merebut miliknya. Pria yang bukan hanya menjadi rival dalam pekerjaan, tetapi juga urusan wanita.


Setelah, membersihkannya. Dave mengecup seluruh wajah istrinya sebagai ganti kecupan Ellino. Ibu Lin memalingkan wajah, tidak mengerti sikap tuan muda yang sekarang.


Dave kembali duduk, menatap buku-buku diatas meja dan sebuah keranjang buah.


"Buang semua." Menunjuk benda-benda yang dianggap merusak pemandangan dan suasana hati.


"Tapi, Nona muda sangat menyukai buku-buku itu."


"Aku akan memberikannya yang lebih bagus dari itu."


Ibu Lin tidak punya pilihan, selain menuruti perintah. Padahal, barang-barang yang dibawa Ellino sangat disayangkan, jika harus berakhir ditempat sampah.


Di luar kamar, ibu Lin memberikan keranjang buah pada suster yang lewat. Ia juga meminta agar membagikan buku-buku itu pada pasien yang berada di rumah sakit.

__ADS_1


"Terima kasih, ibu. Saya akan membagikannya pada yang lain."


"Sama-sama, suster."


Ibu Lin kembali masuk ruangan dan mendapati wajah suram yang tengah duduk bersandar.


Sebenarnya, apa yang terjadi padanya?


"Apa tuan akan menginap?"


"Tidak. Sejak kapan Ellino mengenal Arshila?"


"Saya kurang tahu pasti, Tuan. Tapi, yang saya dengar, sepertinya tuan Ellino pernah membawa nona ke rumah sakit. Katanya, ia pingsan saat kehujanan dimalam hari."


Haa, malam itu. Aku ingat sekarang, rupanya hubungan mereka berlanjut sejauh ini dan aku tidak mengetahuinya. Benar-benar sial!


"Apa kau pernah bertanya, pada Clarissa dia mencintaimu atau tidak? Dia terpaksa!"


Kalimat yang sangat mengganggu dan mengusik ketenangan.


Dave kembali mengingat pertemuannya dengan Clarissa. Wajah cantik paripurna sesuai dengan tipe dan seleranya. Gadis itu hanya menunduk, tidak menatap orang-orang disekitarnya.


Perjodohan yang diajukan orang tua Clarissa, karena hubungan bisnis dua keluarga. Rachel, ibu Dave tidak terima, dengan alasan yang tidak diungkapkan. Sementara, Liam menyerahkan semua keputusan pada putranya.


Dave tentu saja sangat setuju, bahkan hanya seminggu setelah pertemuan pertama mereka. Dave memutuskan untuk bertunangan tanpa bertanya pada Clarissa. Karena semua, menjadi keputusan ibu gadis itu.


Hubungan mereka berjalan lancar, Clarissa sepertinya menerima perjodohan ini. Bahkan, tidak ragu untuk membalas pelukan dan ciuman sang tunangan.


Aku memang tidak pernah bertanya akan perasaannya padaku. Tapi, aku tahu dia juga mencintaiku.


"Jaga dia! Besok aku akan menyuruh Tian membawa beberapa buku."


"Baik, Tuan."


"Jangan membiarkan pria sialan itu, menemui istriku. Kamu mengerti."


"Saya mengerti, Tuan."


Dave pergi meninggalkan ruangan. Sepanjang jalan, kekesalannya seperti bertambah naik level. Entah apa alasannya, mungkin kehadiran Ellino yang tiba-tiba.


Tiba di rumah, memperhatikan keadaan ruangan seperti tengah di dekorasi tapi belum selesai. Masih tahap awal pengerjaan, tapi Dave sudah bisa menebak.


"Apa ini?" Bertanya pada salah satu pelayan yang menyambutnya.


"Ini persiapan untuk ulang tahun nona Clarissa."


Dave berjalan masuk kamar, tanpe berkomentar lebih lanjut.

__ADS_1


__ADS_2