
Rencananya hari ini, Dimas akan bertemu Nadia, disebuah pusat perbelanjaan. Sebagai kesepakatan mereka, Nadia akan membantu Dimas menebus rumah orang tuanya. Sementara, Dimas sendiri akan mengabulkan keinginan Nadia untuk bercerai, serta memberikan hak asuh anak kepadanya.
Ia yang sudah semangat pagi ini, harus menelan kekecewaan. Nadia membatalkan pertemuan mereka, dengan alasan pekerjaan yang mendesak. Mau tidak mau, Dimas hanya mampu bersabar, sampai wanita itu kembali menghubunginya.
Tapi, sepertinya pertemuan mereka yang gagal, bukan berarti ia datang dengan sia-sia. Sebab, tanpa sengaja, ia melihat sang mantan istri berjalan bersama seorang wanita dengan bergandengan tangan.
Pakaian mahal dan perhiasan yang melekat ditubuh sang mantan istri, membuat Dimas merasa geram sekaligus penasaran.
"Kalian sudah berbelanja?"
Deg.
Dimas bersembunyi dibalik pakaian yng menggantung, dipinggiran toko. Dua sosok pria yang amat dikenalnya, menghampiri Arshila dan wanita yang bersamanya.
"Apa ini? Mereka bersama?"
Jantung Dimas terpacu, matanya membeliak, saat Dave mengecup kening Arshila. Pikiranya dipenuhi tanda tanya. Sebenarnya, apa hubungan mereka? Bahkan, Liam sang owner perusahaan, begitu akrab dengan sang mantan istri.
"Tidak, tidak mungkin!" Pikiran Dimas sibuk menerka-nerka. Ia jatuh terduduk diatas lantai, karena shock.
"Benar, Arshila berada disana. Mereka menyembunyikanya. Tapi, kenapa? Bukankah dia hanya seorang pembantu. Tapi, presdir, ah, tidak, tidak mungkin."
Dimas masih tidak sanggup mengatasi keterkejutannya. Meski begitu. Ia tidak mau kehilangan jejak Arshila. Mereka harus bertemu, bagaimana pun caranya.
Ia kembali mengikuti langkah mereka, dengan jarak aman. Dimas ikut masuk disebuah restoran, tempat Arshila dan lainnya masuk. Ia duduk membelakangi keluarga itu.
"Mau makan apa, sayang?" Dave memberikan buku menu pada sang istri.
"Shi, makan banyak, sayang. Kamu sudah berjalan jauh dan berkeliling hari ini," timpal Rachel.
Dimeja belakang, dengan tangan gemetar. Dimas hanya mampu memesan jus jeruk. Amarahnya terpantik, sekaligus takut. Kata sayang, untuk Arshila, sudah dipastikan ia sudah menjadi bagian anggota keluarga Alehandra.
Mereka menikah? Jadi presdir, bukannya menjadikan Arshila pembantu, tapi menikahinya. Kenapa?
Pelayan sudah mengantarkan pesanan Dimas. Pria itu, hanya mengangguk, kepada waitres. Pendengarannya sedang fokus, pada meja dibelakangnya.
"Tadi, Mama dan Shila, cuma beli selimut dan melihat ranjang bayi. Mama bingung, mau beli apa lagi, karena cucu Mama masih sembunyi-sembunyi didalam."
Kompak mereka tertawa. Bahkan, Dave tidak ragu, untuk menarik pinggang sang istri.
Beberapa detik, jantung Dimas seakan berhenti berdetak. Napasnya tercekat akan sesuatu. Tangannya mencengkram erat gelas jus, didepannya.
Ha-hamil? Mereka benar-benar menikah. Hidupku yang sudah hancur, pasti perbuatannya yang ingin membalasku. Tidak, aku tidak terima. Kita akan hancur bersama, sayang.
Waitres, sudah menyajikan pesanan keluarga Alehandra. Mereka tampak berterima kasih, sebelum waitres itu meninggalkan meja.
Mereka menikmati makan siang, dengan tawa. Rachel yang terus berimajinasi akan cucunya. Sementara, Liam sudah menyusun jadwal untuk menemani cucunya.
__ADS_1
Drt, drt, drt.
Dave meraih ponselnya. Membaca sebuah pesan, lalu menatap ibu Lin dari meja sebelah. Ia menyeringai, sebelum membalas pesan ibu Lin.
"Sayang. Setelah ini, kalian mau kemana?"
"Aku ikut Mama, saja."
"Setelah ini, Mama mau pulang saja, sayang."
"Aku juga. Aku lelah dan mau istirahat."
"Baiklah."
Makan siang sudah selesai, mereka bersama menuju parkiran. Rachel dan Arshila ditemani ibu Lin dan supir, yang akan mengantar mereka. Sementara, Liam dimobil lain, bersama dua bodyguard, menyusul mereka.
"Aku pergi."
Dave mengangguk, lalu mengecup kening sang istri dengan mesra.
"Hati-hati! Aku akan pulang cepat."
Arshila mengangguk, sebelum akhirnya masuk dalam mobil.
"Kau sudah membereskannya?" tanya Dave pada sekretaris Tian, dengan wajah yang masih tersenyum dan melambaikan tangan pada sang istri.
"Baiklah. Beri dia pelajaran sedikit dan kurung dia, sampai aku membuka kembali kasus ini." Dave berbalik arah menuju mobil. Lalu, berhenti sesaat. " Ah, tidak. Biar aku memberinya sedikit pelajaran. Aku sudah terlalu lama diam, bukan?"
Tian sudah melaju, menuju tempat ia menyekap Dimas. Sebuah kawasan perumahan elit. Mereka sudah ditunggu, oleh beberapa bodyguard yang berkedok, pelayan dan tukang kebun.
"Selamat siang, Tuan."
"Awasi sekitar."
"Baik, Tuan."
Dave melangkah masuk dalam rumah, bersama Tian dibelakangnya. Sekilas, ini hanyalah sebuah rumah mewah yang seperti rumah pada umumnya. Karena tidak ditinggali, rumah ini dijaga oleh beberapa pelayan. Salah seorang pelayan, membuka akses pintu rahasia. Sebuah tangga terbuat dari kayu, menuju lantai bawah.
Dimas duduk dikursi kayu dengan tubuh terikat kuat dan wajahnya ditutupi kain hitam. Ada lima orang penjaga, yang berdiri disekitarnya.
"Selamat datang, Tuan."
Dave mengangguk, lalu mengambil posisi duduk dihadapan Dimas, yang meronta dan berusaha berteriak.
"Kau." Dimas membelalak saat kain penutup, diangkat dari kepalanya. Sosok Dave, duduk dengan senyum menyeringai didepannya. "Lepaskan aku, sialan! Apa maumu?"
Bugh, bugh.
__ADS_1
Darah segar, keluar dari sudut bibir Dimas. Pria itu, hampir jatuh bersama kursinya.
"Sudah jelas, bukan. Apa mauku?"
Dimas tertawa sumbang. Lalu, meronta, berusaha melepaskan ikatan pada kedua tangan dan tubuhnya.
"Aku akan menuntutmu, bajingan. Aku akan mengatakan pada dunia. Seorang Dave Alehandra menikahi pembunuh tunangannya sendiri. Hahahaha.... Lucu sekali!"
Aakhhh!! Dave mencekik Dimas, dengan erat.
"Karenamu, aku melakukan kesalahan besar dan tak termaafkan. Karenamu, aku tersiksa sepanjang hidupku."
Bugh, bugh.
Cairan bening, hampir saja lolos dipelupuk mata Dave. Ia kembali mengingat, bagaimana kasarnya dan kekerasan yang ia lakukan dulu pada Arshila. Hatinya masih terasa sakit.
"Apa kau punya bukti?" tantang Dimas, "Kau tahu, tuan Dave yang terhormat. Arshila menggantikanku, karena kemauannya sendiri. Aku tidak pernah meminta atau memaksanya. Dia yang mencintaiku dan bersedia melakukannya. Kau dengar!" teriak Dimas.
Emosi Dave terpantik. Kedua matanya, berkobar dipenuhi amarah. Pria bajingan, yang tidak tahu malu.
Dengan kuat, ia menendang tubuh Dimas, hingga terjatuh kebelakang, dengan posisi masih terikat diatas kursi.
"Tuan." Sekretaris Tian, menghadang Dave yang melangkah mendekati Dimas.
"Minggir!"
"Tuan, kita tidak boleh melukainya. Kita harus membawanya dipersidangan."
"Aku tidak peduli. Minggir!"
"Tuan, nona sedang mengandung!"
Dave melemah. Ia mundur beberapa langkah, sambil mengusap wajahnya dengan kasar.
Para bodyguard sudah membangunkan Dimas, dari posisinya. Pria itu, tampak tidak berdaya, meski ia masih sadar.
"Urus dia, sampai hari persidangan."
"Baik, Tuan."
Dave melangkah pergi, bersama sekretaris Tian. Ia duduk sebentar diruang tengah, meneguk habis minuman yang disediakan para pelayan. Ia perlu menenangkan pikirannya, yang masih terbalut emosi, yang tidak tersalurkan.
"Bagaimana dengan tim pengacara kita?"
"Mereka sudah siap. Besok, mereka akan menemui pihak terkait."
"Baguslah. Minta mereka, untuk mengawasai ibu Dimas. Dia juga harus mendapatkan hukuman."
__ADS_1
"Saya mengerti, Tuan."