
Pintu ruangan terbuka, jantung Dave terpacu begitu cepat pada pemandangan didepannya. Dokter, pelayan dan pengawal, berusaha menenangkan Arshila, yang mengarahkan pisau dipergelangan tangan kirinya.
Wanita itu tidak mendengarkan mereka. Ia berdiri tanpa ekspresi diwajahnya. Darah terus mengalir dari telapak tangannya. Ia tidak menangis atau kesakitan. Tatapannya kosong, kedua maniknya berkedip tapi tidak memandang.
Dave mendekat dengan perlahan, mengulurkan tangannya. Jantungnya masih terpacu dengan cepat, beriringan dengan air matanya. Mungkin, inilah titik terendah hidup sang istri. Wanita itu, sudah tidak sanggup lagi menahan rasa sakit hati yang luar biasa.
"Shi, jatuhkan pisaunya. Aku mohon!"
Arshila masih bergeming, membuat Dave dilanda kecemasan. Pisau ditangan sang istri berada diatas tangan kirinya, tepat di nadi.
"Shi, tatap aku! Sadarlah, kau membahayakan anak kita. Maafkan aku! Tolong, sadarlah." Dave terisak.
"Nona, kami tidak akan melakukan prosedurnya. Anakmu akan baik-baik saja. Tolong, jatuhkan pisaunya!" Dokter menimpali.
Arshila masih tidak bergerak. Darah yang mengalir semakin banyak, membuat Dave semakin ketakutan. Ia menginstruksikan Tian dan pengawal, agar maju perlahan.
"Tuan, bagaimana jika kita meminta Nadia membawa putrinya?" ujar Tian.
"Baiklah, lakukan!"
Sektretaris Tian, mundur. Mengambil ponsel untuk menghubungi Nadia.
"Shi. Kamu tidak mau bertemu Nadin. Kasihan dia!"
Sontak Arshila tersadar, ia menjerit histeris, menangis tanpa menjatuhkan pisaunya.
"Shi, aku mohon. Lihat aku! Jatuhkan pisaunya. Kau membahayakan anak kita. Aku minta maaf, jika aku meragukanmu." Dave kembali mengulurkan tangannya, mendekat dengan perlahan. Ia ikut menangis karena rasa bersalah, yang menyebabkan sang istri begitu menderita.
"Anak?" Arshila menatapnya tajam. "Seperti Clarissa, yang membawa bayinya. Aku akan melakukan yang sama."
Sreett.
"Shilaaa....," teriak Dave.
Pria itu, menjatuhkan kedua lututnya diatas lantai. Wajahnya pias.
Darah mengalir dengan deras, saat pisau menggores nadi Arshila. Wanita itu tidak menangis, ia justru tersenyum dengan wajah meringis.
"Aku akan membawa bayiku, bersamaku."
__ADS_1
Jlebb.
Arshila kembali menusuk pisau pada perutnya. Dave seketika berlari, menghalau tangan Arshila. Benda tajam dan penuh darah, jatuh diatas lantai. Tubuh kurus Arshila, jatuh dipelukan Dave dengan berlumuran darah.
Dave tidak mampu berkata-kata. Air mata membanjiri wajahnya. Dokter dan perawat yang sudah bersiaga dengan peralatannya, langsung melakukan pertolongan pertama.
"Kami harus mengoperasinya sekarang."
Arshila langsung dinaikkan diatas brankar. Didorong, menuju lift untuk dibawa diruang operasi.
Dave syok, tenggorokannya tercekat, bibirnya kelu untuk berbicara. Hatinya hancur, sehancur-hancurnya. Wajah pucat pasi dan tubuh dipenuhi darah, membuat jantungnya seolah ikut berhenti berdetak.
Ia terus menggenggam tangan sang istri, menangis tanpa suara. Dave mengecum kening Arshila, memohon maaf sembari berderai air mata. Sang istri akhirnya masuk dalam ruang operasi.
Dalam keadaan terguncang, menunggu dalam kegelisahan. Dave tidak seorang diri. Ada sang sekretaris, pak Yus, ibu Lin dan manajer Grace, serta beberapa pengawal.
Pak Yus menyampaikan, nyonya besar sudah berada dalam perjalanan kembali, bersama sang suami. Ia segera mengajak suaminya pulang bersama, saat mendapat berita dari ibu Lin. Bahkan, wanita itu mengeluh dan memaki putranya, karena ia baru menginjakkan kaki dibandara, harus kembali lagi.
Ia juga menyampaikan pada pak Yus, ancaman pada putranya jika terjadi sesuatu pada menantunya.
Operasi masih berjalan, sementara Dave tertunduk membisu. Lumuran darah ditubuh sang istri melekat dalam pikirannya. Kekhawatiran mengenai keselamatan Arshila dan bayinya, membuat dadanya sesak.
"Tuan."
Nadia membawa putrinya, Nadin. Gadis kecil yang masih berumur satu setengah tahun, dengan rambut dikepang dua.
"Duduklah." Sekretaris Tian, mempersilahkannya. "Untuk sementara, kamu harus berada disini bersama putrimu. Masalah pekerjaan, jangan memikirkannya!"
"Baik."
Nadin menurut saja. Ia sebenarnya, masih tidak mengerti. Kenapa ia harus datang dan diminta menunggu? Ia juga tidak tahu, kenapa semua orang berkumpul disini? Entah siapa yang sedang dioperasi didalam, hingga mendapat pengawalan yang begitu ketat? Mungkin, nyonya besar, gumam Nadia.
Satu jam berlalu, pintu ruang operasi dibuka. Arshila didorong keluar, ditubuhnya menempel berbagai peralatan medis.
Nadia tersentak, bola matanya membelalak. Jantungnya berdegup kencang, hatinya bertanya-tanya. Sebenarnya, apa yang sudah terjadi pada wanita ini?
"Bagaimana dokter?" tanya Dave dengan gurat kesedihan diwajahnya.
"Nona sudah melewati kritis. Bayinya juga selamat, karena luka tusuk tidak dalam. Nona hanya kehilangan banyak darah. Untuk sementara, kami akan terus memantau kondisinya."
__ADS_1
"Terima kasih, dokter." Untuk pertama kalinya, sang presdir berterima kasih dengan tulus. Para dokter tersenyum dan berbesar hati, menerima ucapan itu.
"Kami akan mengantarnya kembali diruang perawatan."
Arshila sudah terbaring, dengan mata terpejam rapat. Dave yang tidak melepaskan tangan sang istri, terus menangis tanpa mempedulikan pandangan bawahannya.
Tian mengajak Nadia, untuk berbicara secara pribadi. Sementara, putri kecilnya dititipkan pada ibu Lin.
"Kau pasti bertanya dalam hati, apa yang sedang terjadi?" Nadia mengangguk. "Nona muda bunuh diri dan ia sedang mengandung."
Nadia menatap Tian, wajahnya dipenuhi keterkejutan. Bibirnya kelu, untuk bertanya, tentang alasan wanita itu melakukannya.
"Aku memanggilmu, bukan untuk membicarakan itu. Tapi, mengenai suamimu," lanjut Tian.
"Mas Dimas. Dia kenapa?"
"Mulai hari ini, pikirkan masa depanmu dan perasaanmu padanya. Putuskan, apa yang menjadi kebaikanmu."
"Tunggu! Sebenarnya, apa yang ingin Anda sampaikan?"
"Tuan muda, sudah mengetahui kejadian yang menimpa nona Clarissa. Fakta, bahwa Dimas yang melakukan tabrak lari dan memutar balikkan fakta, untuk menuduh istrinya."
Deg.
Sorot mata Nadia berubah, jantungnya berdegup tidak beraturan.
"Pak sekretaris. Apa itu benar?"
"Berpikirlah, Nadia. Jika suamimu bisa mengorbankan mantan istrinya untuk masa depannya, bagaimana denganmu? Apa kamu pikir, ia tidak bisa melakukannya padamu? Aku memberitahumu, karena aku yang melibatkanmu untuk berurusan dengannya. Jadi, pikirkanlah baik-baik!!"
"A ... aku, ...." Suara Nadia gemetar, bukan rasa takut yang menghinggapi perasannya, tapi kebingungan akan sikapnya.
"Tuan belum mengambil keputusan. Apakah ia akan menghukumnya sendiri atau menyerahkannya pada polisi? Tapi, menurutku, ia akan melakukannya sendiri. Dan kamu pasti paham, apa yang akan terjadi padanya."
Nadia sangat mengerti, apa yang akan terjadi pada sang suami. Tapi, bukan itu yang menjadi kekhawatirannya, melainkan perasaannya, yang diliputi kekecewaan.
Yah, Dimas telah membohonginya, selama ini. Berpura-pura menjadi suami yang begitu baik dan menempatkan mantan istrinya, sebagai wanita tidak tahu malu. Ia ingat betul, kata-kata yang waktu dulu memojokkan sang mantan istri, ditambah ucapan sang ibu mertua, membuat Nadia langsung percaya padanya.
Ia sebenarnya, mulai ragu tentang kebaikan sang ibu mertua. Apalagi, setelah mendengar cerita Mira, tentang kakak iparnya dulu. Jika menempatkan posisinya pada Arshila, apakah wanita tua itu, akan memperlakukannya dengan sama?
__ADS_1
Tapi, Nadia masih menepis keraguan dalam hatinya. Akal sehatnya, tertutupi oleh cinta yang besar pada sang suami.
Sekarang, ia harus bagaimana??