
Dave akhirnya, turun dari mobil. Sementara, Liam yang menyetir, langsung membawa kendaraan masuk halaman.
Fira memperhatikan sosok, yang turun bersama mereka. Membeliak. Gaun mewah dan perhiasan, melekat ditubuhnya. Kepalanya berasap, tidak terima. Tapi, akal sehatnya terus memberi alarm.
"Selamat malam, Nyonya. Apa yang membawamu datang sampai selarut ini."
Tangan Fira, terkepal. Akal sehatnya, terus memberi alarm, agar mengontrol emosinya.
Dia yang membuatnya menunggu lama, bahkan tidak mempersilahkannya masuk. Sekarang, dia bertanya seolah tidak tahu apa-apa.
"Aku menunggumu. Kita perlu bicara. Apa kamu tidak akan mempersilahkan ibu mertuamu masuk?"
Dave hanya tersenyum, lalu berjalan lebih dulu. Ia tidak tahu maksud, wanita ini datang, bahkan mau menunggunya. Tapi, yang jelas sepertinya sesuatu yang sangat penting.
"Silahkan!"
Fira mengedarkan pandangan, mencari sosok yang akan menjadi sasarannya.
"Anda, perlu apa?" Langsung bertanya, karena Dave tidak ingin mendengar basa-basi, yang menghabiskan banyak waktu.
"Mana wanita itu?" Fira juga, sudah tidak bisa menahan rasa penasarannya.
"Istriku? Untuk apa, Anda mencarinya?" Dave langsung mengatakannya dengan jujur. Untuk apa, terus menyembunyikannya. Toh, mereka memang suami istri.
Sementara, Fira sudah terbakar emosi, ketika mendengarnya. Wanita itu, yang menjadi akar permasalahan hidupnya. Sekarang, menjadi cinderela, menggantikan putrinya yang berharga.
"Kau menikahinya?" teriak Fira. "Kau menipuku, dengan mengatakan dia bukan siapa-siapa bagimu." Suara Fira sudah naik satu oktaf. Dadanya bergemuruh, sungguh ia seperti ingin, mendaratkan telapak tangannya diwajah Dave.
"Benar, aku menikahinya," tegas Dave, bahkan dengan wajah yang tidak terbebani dengan apapun. "Dan itu, tidak ada hubungannya dengan Anda."
"Kau." Tangan Fira terkepal erat. "Dimana nuranimu? Kau menikahi, pembunuh calon istrimu, pembunuh bayimu. Apa kau sudah gila?" Suara teriakkan memenuhi ruangan.
Raut wajah Dave berubah. Setahun, kalimat itu terngiang dalam pikirannya. Dalam setahun juga, kalimat itu juga menjadi alarm baginya. Setiap, ia merasa kasihan kepada Arshila.
Namun, kalimat itu, sekarang tidak bermakna apa-apa lagi. Itu hanyalah, sebuah kalimat kosong, tidak bernilai.
__ADS_1
"Nyonya, jika Anda datang, hanya untuk membicarakan itu. Maka, silahkan pergi!"
Fira tertawa hambar, dugaannya tidak salah. Dia terlalu sibuk dengan dunianya dan melupakan hal penting. Dia juga terlalu percaya akan kata-kata Dave.
Meski, dulu ia sudah memaafkan wanita itu, karena sudah mendapatkan hukumannya. Tapi, mendengar kenyataan, wanita itu menjadi pengganti putrinya, ia sungguh tidak terima. Sangat tidak bisa diterima!
"Aku tidak akan tinggal diam. Bagaimana bisa, seseorang yang melenyapkan putriku, justru menjadi nyonya Alehandra. Aku akan mengatakan ini pada dunia dan lihat bagaimana kalian menanganinya."
Fira mengumbar ancaman, sebagai umpan. Dave tidak akan pernah membiarkan, publik tahu, apa yang sudah terjadi. Seorang pembunuh, naik tahta menjadi ratu. Berita yang akan mengguncang seluruh negeri. Bahkan, akan menjatuhkan nama perusahaan.
"Kau mengancamku?" Dave menatap wanita itu dengan tajam. Ia paling tidak suka, dengan ancaman. Apalagi, dari seseorang yang bukan lawannya.
"Aku tidak mengancammu, tapi aku tidak terima. Bagaimana bisa, kamu menggantikan putriku dengan seseorang yang melenyapkannya? Aku tidak terima! Ingat itu!"
"Jangan pernah mengatakan itu," desis Dave dengan wajah memerah. "Ia tidak pernah melenyapkan siapapun."
Plak.
"Dia sudah melenyapkan putriku dan kau mengatakan, dia tidak melakukannya. Apa hatimu sudah mati?"
Dave membisu. Ia benar-benar malas untuk berdebat. Apalagi, wanita ini, pasti tidak akan menerima, apapun yang dikatakannya. Percuma!
Fira yang dikuasai emosi, mendadak diam. Ancaman yang membuatnya, berpikir seribu kali, untuk melakukannya. Tujuannya, hanya ingin Dave tunduk, karena ancamannya. Tapi, kenapa yang terjadi justru sebaliknya.
Tidak ingin pergi dengan sia-sia, Fira mengejar sang mantan menantu.
"Dengarkan, aku!"
Dave berhenti, tapi tidak menoleh.
"Apa tidak ada perasaan sedikit pun, yang tersisa, bagi putriku? Apa kau sadar, yang kamu lakukan, sangat tidak adil baginya? Dia sangat mencintaimu, tapi kamu, apa yang kamu lakukan sekarang? Menikahi wanita, yang membuatnya meninggal." Fira sudah menangis. Emosinya yang tadi membara, berubah menjadi kepiluan yang mendalam.
Dave hanya menyeringai. Dulu ia percaya, Clarissa mencintainya. Wanita yang selalu mengatakan kata itu, hanya melalui balik telepon. Setiap bertemu, ia hanya tertunduk, tak berani menatapnya.
Merasa muak, Dave kembali berjalan. Meninggalkan Fira, yang menatapnya bingung.
__ADS_1
Bagaimana mungkin, hatinya sama sekali tidak tergerak? Apa putrinya sudah tidak membekas lagi dalam hatinya? Mengapa?
Fira semakin bingung, harus berbuat apa. Dave sudah pergi, tanpa mengatakan apa-apa. Bukan ini, yang ia harapkan dari kedatangannya.
Tidak, aku tidak boleh kembali, tanpa mendapatkan apa-apa, gumam Fira.
Prok, prok, prok.
Suara tepuk tangan, disertai tawa yang mengejek. Rachel yang dari tadi mendengar dan memperhatikan, akhirnya keluar. Sebenarnya dari tadi, ia sudah tidak tahan, untuk menemui wanita itu. Tapi, sang suami menahannya.
"Wah, jeng Fira. Selarut ini, datang hanya untuk menghina menantuku."
"Menantu? Cih." Fira sungguh muak dengan kata itu. Wanita sialan itu, sungguh menggantikan posisi putrinya, dihati semua penghuni rumah ini. "Aku penasaran, bagaimana jika semua orang tahu."
"Aku juga penasaran." Rachel duduk diatas sofa, memiringkan kepalanya, menatap Fira dengan santainya. "Wah, kira-kira bagaimana reaksi mereka, yah?"
"Kau sedang mengujiku? Kau pikir, aku takut dengan ancaman putramu." Kembali, terpantik. Fira berteriak dengan geram. "Dengar, Jeng, kamu tahu betul, bagaimana pandangan orang nantinya."
"Aku tahu." Rachel bersandar dengan melipat kedua tangannya. Masih dengan nada santai dan tidak takut. "Aku penasaran, bagaimana pandangan orang nantinya. Mengetahui putrimu, mengandung anak orang lain."
Deg.
Wajah Fira berubah. Sorot mata yang menantang, perlahan menunduk. Raut wajahnya dipenuhi kegugupan.
"Ap-apa, yang kau bicarakan? Kau memfitnah putriku?"
"Jangan lagi berpura-pura, Jeng. Sikapmu membuatku ingin muntah. Kita sama-sama memegang kartu. Jadi, terserah padamu kapan kau akan menggunakan kartu terakhirmu."
Fira membisu, dengan sejuta tanya dalam hati. Pikirannya, menerka-nerka, dari mana mereka mengetahuinya? Rahasia itu, hanya dia dan putrinya yang tahu.
Kecuali,
"Oh, ya, Jeng. Aku dengar, kau sudah tidak memiliki apa-apa, selain nama." Rachel tertawa. "Sebaiknya. Kau pulang. Tidak lucu, jika suamimu mengusirmu, karena berkeliaran malam hari."
Fira membeliak. Harga dirinya terinjak. Satu-satunya harapannya saat ini, hanyalah nama besar sang suami dibelakangnya. Selain itu, ia tidak memiliki apapun lagi.
__ADS_1
Berperang tanpa senjata, membuatnya mati konyol dimedan perang. Bermodalkan taktik serangan, itu sama sekali tidak cukup.
Fira akhirnya, pergi tanpa mendapatkan apa-apa. Meski, begitu, ia tidak menyerah. Masih ada hari lain, pikirnya.