Dendam Sang Presdir

Dendam Sang Presdir
Bab 58. Ada apa dengan tubuhku?


__ADS_3

Sehari, setelah Dave keluar negeri.


Seperti biasa, saat pagi menyambut, diluar sana masih tampak gelap, dedaunan masih basah karena embun semalam. Arshila sudah bangun, dengan kepalanya yang terasa berat tidak seperti biasanya.


Ia berusaha bangkit, memaksa tubuhnya, tapi sia-sia, ia kembali jatuh diatas bantal. Kepalanya sangat pusing, begitu juga penglihatannya yang berputar-putar. Tubuhnya juga terasa sangat lemah, tidak memiliki energi sedikit pun.


Arshila kembali meringkuk dibawah selimut, rasa malas tiba-tiba menghampirinya dipagi hari. Entah berapa lama, ia kembali tertidur, karena sinar matahari diluar sana, sudah tampak panas.


Ibu Lin masuk kamar, setelah mengetuk pintu. Ia datang menghampiri, karena Arshila belum juga turun untuk sarapan, padahal sekarang sudah jam sembilan pagi.


"Nona, Anda baik-baik, saja? Anda tampak pucat."


"Saya baik-baik saja, ibu Lin. Apa sarapan sudah siap?"


"Sudah, Nona. Saya akan membantu Anda turun."


"Terima kasih."


Arshila bangkit, tubuhnya serasa berada diatas kapal, bergoyang karena ombak diatas laut. Untung, ibu Lin memegang tubuhnya.


"Nona, apa saya perlu memanggil dokter?"


"Tidak usah. Sepertinya, saya terlalu menangis semalam."


Mereka sudah duduk diatas meja makan. Bubur ayam kesukaan Arshila, sudah tersaji.


"Mama, mana?"


"Nyonya, menginap di kediamannya. Mungkin, sore nanti akan pulang."


"Baiklah."


Arshila menatap bubur itu, masih beruap. Tapi, ia tidak berselera.


"Ibu Lin, minta koki untuk membuatkan aku mie yang berkuah."


"Baik, Nona."


Ibu Lin pergi ke dapur, menyampaikan pesan kepada koki. Meski, terlihat heran, tapi mereka mengiyakan. Mungkin, ia berganti selera atau mungkin saja, Nona sudah bosan dengan bubur ayam yang tiap hari jadi sarapannya.


Arshila duduk menunggu, dengan memakan buah yang sudah dipotong. Sejenak tidak ada yang salah, tapi dilihat dari dekat, ibu Lin mengerutkan alisnya. Arshila makan buah dengan garam yang sudah dicampur.


Ibu Lin tidak ingin menegur, takut Arshila kehilangan selera makan.


Setelah setengah jam, mie kuah dengan irisan telur rebus sudah tersaji. Bercampur daging ayam, daun bawang dan bawang goreng, serta kuah kaldu yang kental. Arshila menelan salivanya, lalu mulai menyeruput.


"Nona, hari ini ada kelas memasak."


"Ibu Lin, aku sedang tidak ingin. Tolong, mundurkan waktunya."


"Baik, Nona."


Arshila kembali menikmati mie kuahnya, menyendok sampai habis tak tersisa.

__ADS_1


"Pak yus," panggil Arshila, saat kepala pelayan itu lewat didepannya.


"Iya, Nona."


"Apa kamu memiliki permen?" Arshila menatap penuh harap.


"Tidak ada, Nona. Saya akan meminta pelayan untuk membelinya."


"Terima kasih."


Arshila berjalan ke halaman belakang, duduk dibawah pohon mangga yang mulai berbunga. Ia kembali memakan potongan buahnya tadi. Buah warna warni dengan tekstur keras dan dicampur dengan garam kasar.


"Nona." Arshila menoleh, Ica membawa kantung plastik ditangannya.


"Ini permennya."


"Terima kasih, Ca. Duduk, temani aku."


Arshila mulai membuka kantung plastik, ada banyak jenis permen. Ica membeli semua, karena tidak tahu, permen apa kesukaan Arshila.


"Ini untukmu." Arshila memberikan permen rasa kopi pada Ica, sementara memakan permen lolipop.


"Nona, Anda baik-baik saja?"


"Aku baik, Ica. Memangnya, aku kenapa? Pagi tadi kepalaku sangat pusing, tapi setelah makan, aku jadi segar."


"Aku hanya mengkhawatirkanmu, Nona."


Arshila tersenyum, kembali memakan lolipopnya. Hampir satu jam, mereka duduk berdua. Panasnya matahari, membuat Arshila masuk dalam rumah.


"Sebentar lagi, makan siang, Nona."


"Aku masih kenyang, ibu Lin. Aku akan turun, jika aku lapar. Tapi, aku mau makan sate ayam, untuk sore nanti."


"Baik, Nona."


Ibu Lin menatap Arshila, yang sudah masuk dalam lift. Ia masih merasa heran, sepertinya ada yang salah dengannya. Apalagi mengingat, bagaimana sang majikan memakan buah yang tergolong aneh. Ia tidak mau menyimpulkannya terlalu cepat, ia harus menunggu sampai jelas, sebelum memberitahu nyonya besar.


Didalam kamar, Arshila tidak tidur, ia hanya berbaring menatap langit-langit kamar. Permen lolipopnya, sudah mendarat ditempat sampah. Ia merasa mual saat memakannya cukup lama.


Drt ... drt ....


Arshila menatap layar ponselnya, sebuah nama kontak suami sialan, tertera didepan layar.


"Halo."


"Kamu baik-baik saja?"


"Iya."


"Kamu sudah makan?"


"Sudah."

__ADS_1


"Baguslah. Aku akan pulang beberapa hari, jadi jaga dirimu."


"Iya."


Sambungan terputus, Arshila menghela napas. Hanya jawaban, singkat yang ia berikan pada sang suami, karena tidak tahu harus membalas apa. Meski, dia sudah berbicara lembut dan penuh perhatian, Arshila masih tidak merasakan apa-apa, selain rasa takut. Baginya, menjawab telepon sang suami, seperti kewajiban. Bukan, sesuatu hal, seperti melepas rindu pada pasangan umumnya.


Arshila meletakkan ponselnya dengan asal, lalu memejamkan mata. Tapi, ia kembali bangkit, karena merasa sangat lapar.


"Pak yus, makan siang, apa sudah siap?" Arshila sudah menarik kursi meja makan.


Ibu Lin yang mendengar suara Arshila datang menghampiri.


"Nona, Anda butuh apa?"


"Aku lapar, ibu Lin. Buatkan aku makanan, aku ingin makan, iga bakar yang manis dan semangkuk sup ayam."


Ibu Lin memberikan isyarat pada koki di rumah, melalui anggukan kepala. Ibu semakin merasa aneh dengan tingkah Arshila. Seingatnya, sang majikan baru saja makan dan tadi ia mengatakan, kalau ia masih kenyang. Sekarang, ia tiba-tiba muncul seperti gadis kelaparan. Kemana perginya semua makanan tadi?


Keanehan juga dirasakan pak Yus dan para pelayan lainnya. Biasanya, Arshila akan turun makan, jika sudah dipanggil. Wanita itu, tidak pernah meminta makanan kepada pak Yus dan koki di rumah, meski ia sudah kelaparan.


Di tempat berbeda, kondisi berbanding terbalik, dengan sang istri di rumah. Dave sama sekali tidak memiliki selera makan. Sejak pagi, ia terus muntah-muntah tanpa sebab. Ia juga kehilangan selera makan. Sandwich yang menjadi makanan favoritnya saat sarapan, sama sekali tak disentuhnya.


Dave terpaksa, harus diinfus, karena mengalami dehidrasi, ditambah tidak ada makanan yang masuk dalam perutnya sedkit pun.


Dave mengambil ponselnya, menghubungi sang istri, meski hanya jawaban singkat yang didengarnya, tapi sudah cukup membuatnya tenang. Ia masih ingin mengobrol, tapi perutnya kembali bergejolak, hingga terpaksa mematikan sambungan telepon.


"Tuan, Anda harus makan. Dokter bilang, Anda mengalami gejala maag."


"Aku tidak berselera, Tian. Kepalaku sudah mau pecah."


"Lalu, apa Anda menginginkan sesuatu?"


"Entahlah, aku juga bingung mau makan apa. Belikan aku permen."


"Hah!" Tian melongo, bingung. Sejak kapan sang presdir memakan permen.


"Aku bilang permen, jangan membuatku mengulanginya lagi."


"Ah, baik, Tuan. Maaf."


Tian bergegas keluar, mencari supermarket terdekat. Tak lama, Tian kembali dengan membawa permen sekantung penuh. Dave mengambil permen rasa mint.


"Apa Anda butuh sesuatu lagi?"


"Belikan aku makanan yang berkuah."


"Baik, Tuan."


Sekretaris Tian kembali pergi, mencari makanan yang dimaksud Dave. Sejak pagi, ia terus mondar mandir kesana kemari. Mencari makanan, yang bisa ditelan sang presdir. Sebab, makanan yang baru saja menyentuh tenggorokannya, kembali dimuntahkan keluar.


Sepeninggal Tian, Dave masih mengisap permen dalam mulutnya. Sepertinya, ini satu-satunya makanan yang diterima oleh tubuhnya. Makanan yang sama sekali tidak mengenyangkan perutnya.


"Ada apa, dengan tubuhku?" Dave berdengus kesal. Apalagi, ia hanya bisa terbaring lemah dengan jarum infus yang menancap.

__ADS_1


Ia kembali membuka permen, saat permen dalam mulutnya sudah habis.


Sepuluh menit berlalu, sekretaris Tian sudah muncul. Ia langsung membuka kotak makan yang berisi sup ayam yang masih panas. Bukannya berselera, Dave kembali mual saat mencium aroma makanan itu, hingga kembali membuatnya masuk dalam kamar mandi.


__ADS_2