Dendam Sang Presdir

Dendam Sang Presdir
Bab. 31 Kenapa? Kenapa?


__ADS_3

Arshila perlahan melangkah, setelah Grace berpamitan padanya, saat dihalaman. Wanita itu, memberikannya hadiah pernikahan sebelum pergi. Sebuah bingkisan yang masih terbungkus rapi.


Arshila sudah didepan pintu, menarik napas terlebih dahulu. Mungkin saja, dibalik pintu ini para pelayan sudah menyiapkan kejutan untuknya. Mengingat Dave terburu-buru pulang, bahkan meninggalkannya.


Ia menyetel wajahnya, yang terus menerus tersenyum. Memegang handle pintu, dengan jantung yang berdebar.


Pintu terbuka, ia mengedarkan pandangan, tampak para pelayan sedang melakukan tugasnya masing-masing. Padahal tadi pagi, rumah ini sangat sepi, hanya ada satu pelayan yang membantunya berias.


Arshila melangkah, dengan sedikit mengangkat roknya yang sempit. Para pelayan masih sibuk, mereka tidak bertanya apalagi menatapnya. Ica yang berada diantara mereka, bingung untuk menghampiri Arshila. Ia ditugaskan untuk membawa Arshila dalam kamar barunya.


Pagi tadi, pak yus mendadak menyuruh mereka kembali, setelah Arshila keluar rumah.


"Ica, tuan muda berpesan, untuk mengantar Arshila di kamar barunya, dibelakang. Jangan memanggilnya 'Nona' dan jangan terbebani, apalagi merasa bersalah. Status kalian sama!"


Aku harus memanggilnya apa? Begitulah, Ica berdebat dalam hatinya. Nuraninya sungguh menentang keras untuk memanggil nama wanita itu.


"Kak," Sebuah kata yang menurut Ica lebih tepat.


Arshila tersenyum, meraih tangan gadis itu. Sedikit kaget, dengam cara Ica memanggil, tapi tidak mempermasalahkannya


"Kamu kemana saja, Ca? Aku mencarimu tadi pagi. Oh, ya. Bantu aku membuka sanggul rambut ini."


Arshila sudah menarik tangannya, menuju kamarnya dilantai dua.


Bagaimana ini! Bagaimana aku mengatakannya? Ica menjerit dalam hati, tidak tega merusak kebahagiaan Arshila yng baru saj menikah.


"Kak, tunggu dulu!" Ica menghentikkan langkah, "Kamar kakak sudah dipindahkan."


"Benarkah? Apa di kamar Dave?"


Arshila tampak tersipu malu membuat Ica semakin tidak tega untuk mengatakannya.


"Silahkan, ikut saya!"


Arshila mengikuti langkah Ica didepannya. Tampak para pelayan menatapnya, lalu kembali membuang pandangan. Arshila melewati dapur, biasanya para koki akan bertanya, tentang menu apa yang diinginkannya. Tapi, terlihat mereka mengabaikan dan pura-pura tidak melihatnya.


"Ica, kita mau kemana? Bukanmya kamar Dave dilantai dua?"


Ica tidak langsung menjawab, karena masih harus merangkai kalimat yang tepat.


"Maaf, Kak. Saya hanya mengikuti perintah."


Begitulah, Ica menjawab agar Arshila berhenti bertanya.


Tibalah mereka, dikamar belakang yang berbatasan langsung dengan dapur dan halaman belakang rumah.

__ADS_1


"Ini kamar siapa, Ca?"


Arshila mengerutkan alis, saat Ica membawanya ditempat ini.


"Masuk saja, Kak. Kepala pelayan baru, akan memberitahu semua yang perlu dilakukan."


Ica segera berlari, meninggalkan Arshila yang bingung dengan perkataannya.


Bukannya ini kamar pembantu? Arshila ingin bertanya seperti itu, tapi Ica sudah pergi lebih dulu. Karena Ica, sudah mengatakan itu, Arshila memilih masuk, ia juga penasaran dengan kamar yang ditunjuk gadis itu.


Kamar yang sangat sempit, hanya ada kasur kapuk, bantal dan selimut yang masih bisa menembus dinginnya udara malam.


"Koperku. Kenapa ada disini?"


Arshila membuka tas dan kopernya, barang-barang miliknya ada didalam.


"Apa ini kamarku? Tapi, kenapa?"


Arshila terus bertanya, tanpa ada seorang pun yang memberikan jawaban. Ia menarik tas dan kopernya, keluar kamar.


"Kamu mau kemana?"


Pelayan dengan setelan kemeja berwarna putih, tampak asing.


"Aku mau ke kamarku."


"Ini adalah kamar barumu. Apa pelayan tadi tidak memberitahumu?"


"Ini kamarku? Tapi, kenapa?"


"Berhenti bertanya dan ambil ini."


Kepala pelayan melemparkan baju, tepat di wajah Arshila.


"Lima menit, kamu sudah berada di dapur."


Arshila mengangkat baju itu, bukankah ini pakaian yang digunakan Ica dan pelayan lainnya? Kenapa aku harus memakai ini dan tinggal di kamar pembantu? Pertanyaan Arshila kini menumpuk dalam kepalanya. Dan hanya satu orang yang bisa memberikan jawaban atas kebingungannya.


"Dave, dimana dia?"


Arshila sudah mengganti pakaiannya, karena di kamar ini tidak ada lemari, jadi dia memasukkan baju pengantinnya dalam koper.


Di dapur, kepala pelayan wanita tadi sudah menunggu. Menatap Arshila dengan penampilan barunya.


"Panggil aku, ibu Lin. Aku kepala pelayan baru, yang akan mengawasi pekerjaan kalian."

__ADS_1


Ibu Lin memperkenalkan diri terlebih dahulu, sebelum memberitahu Arshila hal yng harus dilakukannya.


Arshila tidak menjawab, pikirannya tengah berkelana, karena situasi yang tidak ia mengerti.


"Kamu, sebagai pelayan baru, bertugas diruang cuci. Jangan pergi ditempat lain dalam rumah ini. Kamu mengerti?"


Arshila membisu, kata pelayan seperti membuat tubuhnya tersengat listrik. Sebenaranya, kenapa? Kenapa? Rententan pertanyaan, yang sebenarnya bermuara pada hal yang sama.


"Kamu tidak menjawab? Apa kamu keberatan?"


Ibu Lin bertanya, masih dengan bernada rendah,


"Aku tidak keberatan, tapi ada sesuatu yang mengganggu pikiranku dan aku yakin, ibu Lin tahu maksudku. Kalian semua tahu!"


"Kami tahu, Arshila. Tapi, jawaban itu hanya bisa diberikan tuan muda. Tapi, menurutku, sebenarnya jawaban itu sudah ada didepan matamu."


Deg. Dia menjadikanku pembantu di rumahnya. Tapi, kenapa? Apa salahku? Lalu, bagaimana dengan perasaan cinta dan perhatian yang dia berikan padaku? Apa semuanya palsu?


Tes. Air matanya, sudah jatuh. Jawaban yang didepan mata, sudah tertangkap dalam pikirannya. Tapi, kenapa? Itulah, jawaban yang dia ingin dengar langsung dari Dave.


"Menangis, tidak akan memberikanmu jawaban. Bekerjalah, siapa tahu tuan muda, mau memberimu kesempatan untuk bertemu dengannya."


Arshila tidak bergerak, ia tidak ingin menduga-duga, apalagi sampai berprasangka buruk. Tidak mungkin, Dave melakukan ini padanya. Mereka berdua tidak ada dendam dimasa lalu, bahkan Arshila sama sekali tidak mengenal pria itu, selain namanya.


Bukannya, pergi keruang cuci seperti perintah ibu Lin. Arshila berlari menuju tangga. Tidak bisa, aku harus bertemu dengannya.


"Ibu Lin, bagaimana ini?"


Ica merasa takut, begitu juga dengan pelayan lainnya, yang sebenarnya sangat tidak tega.


"Biarkan saja, tuan muda belum kembali. Dia akan lelah sendiri."


Ibu Lin memutar arah menuju halaman rumah. Ia memiliki perasaan yang sama dengan pelayan lainnya. Tapi, apalah daya, ia hanya seorang kepala pelayan yang menerima perintah.


Dua hari yang lalu, Dave secara pribadi menemuinya. Ibu Lin bertugas sebagai kepala pelayan di villa Dave. Meski, jarang dikunjungi, Dave tetap ingin villa miliknya, tetap berpenghuni. Karena, tempat itu adalah hadiah pernikahannya untuk Clarissa .


"Pak Yus akan menggantikanmu. Lakukan tugasmu seperti biasa. Tapi, ingat jangan menyentuhnya, cukup berteriak padanya."


"Saya mengerti, Tuan."


"Satu lagi, jangan mengatakan apapun padanya dan yang paling penting, aku tidak ingin dia keluar meninggalkan rumah. Entah, dia sakit atau meregang nyawa, jangan melakukan apapun tanpa izinku."


"Saya mengerti, Tuan."


Begitulah, ucapan Dave padanya. Hanya dia yang berhak atas Arshila.

__ADS_1


__ADS_2