
Tian melajukan kendaraan dengan kecepatan sedang. Membelah keramaian, yang padat merayap. Meninggalkan suasana pedesaan yang hening dan sejuk, mereka disambut hiruk pikuk perkotaan.
Dua hari berada disana, Arshila terpaksa mengikuti Dave pulang. Ia masih ingin tinggal, tapi karena Ellino harus kembali. Arshila tidak memiliki pilihan, selain ikut pulang bersama sang suami.
Setiap akhir pekan, Dave akan mengantarnya pulang kampung, sesuai janji dua saudara itu.
Mobil sudah masuk dalam halaman rumah. Tampak Rachel, sudah menunggu kedatangan keduanya.
"Sayangku, kamu baik-baik saja, kan? Kamu tidak menangis, kan?"
Salah satu alasan Arshila menjadi bimbang, yakni kasih sayang, orang tua Dave. Kasih sayang, yang sudah lama, tidak pernah ia rasakan. Kekhawatiran sang ibu dan perhatian dari sang ayah. Demi apapun, ia menjadi semakin bimbang. Karena, inilah keluarga.
"Aku baik-baik saja, Ma. Mama jangan khawatir."
Disampingnya, Dave hanya membisu karena selalu dipojokkan sang ibu. Ia diam, dengan tas jinjing Arshila ditangannya.
"Baiklah. Ayo masuk! Istirahat, sebentar lagi. makan siang."
Mungkin inilah, keluarga utuh yang dibutuhkan anakku kelak. Ayah yang melindungi, kakek nenek yang menyayangi dan memanjakkannya. Sedangkan aku, ....
Sejak semalam, Arshila sudah banyak berpikir, tentang keputusannya. Bahkan, sang adik yang awalnya meminta untuk berpisah, sudah berubah pikiran. Dan alasannya masih sama, dengan apa yang mengganjal selama ini. Anak dan anak!
Dia tidak boleh egois, karena hidup anaknya yang perlu dipertimbangkan. Ia tidak ingin anak keduanya, mengalami hal serupa seperti Nadin, putrinya. Memiliki orang tua kandung, tapi justru dirawat oleh orang lain.
"Biar aku, bantu!"
Arshila menurut, saat tangan kekar, menurunkan resleting gaun dipunggungnya. Terasa hangat, sama saat dia memeluknya saat tidur.
Selesai, Dave memberikan pakaian yang diambilnya dari lemari.
Arshila hanya menatapnya, dengan tangan terulur.
Saatnya, untuk membicarakan ini. Toh, ia tidak bisa terus membisu dan bersikap seolah tidak terjadi apa-apa.
"Apa kau mencintaiku?"
Dave tidak langsung menjawab. Ia memeluk sang istri erat, menyandarkan kepala Arshila didadanya yang bidang.
"Aku mencintaimu, selama ini aku sudah jatuh cinta padamu. Hanya, akal sehatku terus memberiku peringatan. Aku mencintaimu. Tolong maafkan, aku. Aku ingin memulai semua dari awal. Beri aku kesempatan."
Arshila terisak, sembari menghirup aroma sang suami. Mungkin, ia harus berdamai dengan takdir, meski hatinya belum bisa menerima. Cinta mungkin bisa datang belakangan, jika luka dalam hatinya sudah sembuh.
Yah, dia akan mencobanya. Jika takdir kembali menghianatinya, ia akan benar-benar pergi sejauh mungkin.
"Aku akan mencobanya. Apa kamu bisa menepati ucapanmu?"
"Aku janji. Kalau perlu, aku akan memberikan setengah hartaku untukmu, sebagai jaminan."
Rachel meneteskan air mata, mendengar keduanya. Syukurlah, gumamnya sembari mengelus dada. Tadinya, ia akan memanggil keduanya, makan siang.
__ADS_1
"Nyonya."
"Shuuut. Jangan berisik. Aku akan menunggu mereka."
Rachel segera pergi, bersama pak Yus.
"Apa sih?"
"Saya mau mengatakan sesuatu yang penting."
"Apa?" ketus Rachel, karena pak Yus telah mengganggu momen pentingnya.
"Kemarin, nona muda menemukan saudara kandungnya."
"A-apa? Saudara kandung? Menantuku punya saudara? Siapa dia? Aku akan mengadopsinya."
"Tidak perlu, Nyonya. Dia adalah putra dari Tuan Malvinder."
"Malvinder?" Rachel berpikir keras, pernah mendengar nama itu. Siapa, ya? "Malvin," teriaknya.
"Benar, Nyonya."
"Si playboy itu, mengadopsinya. Hahahahaha, dia kena karma." Rachel terus saja tertawa, seolah mengingat kejadian yang sudah lalu, tapi belum juga dilupakannya.
"Mana Tian?"
Rachel bergegas, sebelum sekretaris itu menghilang.
"Tian, Tian," panggilnya, saat Tian baru saja membuka pintu mobil.
"Iya, Nyonya."
"Apa benar saudara menantuku, putra dari Malvin?"
"Benar, Nyonya. Kami baru mengetahuinya, saat disana. Mereka bertemu dirumah orang tua mereka."
"Kalau begitu, carikan aku alamat, si playboy karma itu."
Tian mengerutkan alisnya, playboy karma, siapa?
"Maksudku, Malvin, carikan aku alamatnya segera."
"Baik, Nyonya. Saya permisi."
Rachel kembali masuk rumah, dengan semangat dan senyum-senyum kecilnya.
Aku tidak sabar, untuk menghinanya. Gumam, Rachel.
"Kalian sudah turun?" ujarnya, melihat Dave dan menantunya, duduk dimeja makan. "Ayo, kita makan."
__ADS_1
"Senyum-senyum, ada apa, Ma?"
"Mau tahu, aja, rahasia orang."
Rachel menyendok makanannya, masih tersenyum, bahkan tertawa kecil. Sepertinya, otaknya sedang memikirkan hal yang sangat menarik.
Dua orang, yang merasa heran. Tidak mau, lanjut bertanya. Mereka mengabaikan, Rachel yang terlihat aneh.
"Ini." Dave memberikan segelas jus pada Arshila. Keduanya, sedang duduk diatas balkon kamar.
"Dave. Apa aku boleh tahu, apa yang terjadi pada Dimas?"
Dave merapatkan tubuhnya, membawa sang istri dalam pelukan.
"Aku memasukkannya dalam daftar hitam. Jadi, dia akan kesulitan mencari kerja. Bukannkah, dia melakukan itu padamu, demi menjaga karirnya." Mengusap punggung Arshila dengan lembut, sesekali mencium rambut sang istri. Ini adalah pertama kalinya, mereka berpelukan degan mesra.
"Lalu?" tanya Arshila, yang sangat nyaman dengan posisinya.
"Aku meminta mereka, mengembalikan uang hadiah yang pernah aku berikan pada ibunya. Jumlahnya, satu miliar."
"Apa?" Arshila mendongak. "Uang hadiah apa?"
"Kamu tidak tahu." Dave mengelus pipi Arshila. Sangat jelas, sang istri terkejut. "Ibu Dimas yang datang ke perusahaanku, mengatakan kamu yang menabrak Clarissa. Dia bersedia menjadi saksi, dengan imbalan satu miliyar."
Tanpa sadar, air mata Arshila jatuh begitu saja. Ia pikir, saat itu, ibu Dimas sudah berubah. Apalagi, ia tiba-tiba menjadi baik kepadanya.
Kenapa? Kenapa mereka begitu tega kepadaku? Apa salahku?
"Sudah, sayang. Jangan mengingat, sesuatu yang sudah selesai." Dave menghapus air mata sang istri. "Aku sudah menghukum mereka. Kamu hanya perlu memikirlan dirimu dan kebahagiaanmu. Mulai, sekarang, aku akan memberikan segalanya, yang tidak pernah kamu dapatkan."
Arshila memeluk sang suami. Hatinya masih terasa sakit, saat mengetahui segalanya. Mungkin, itulah kenapa Dimas melakukan hal yang sama. Karena, ia memilih ibunya daripada dirinya, yang bahkan sedang mengandung anak mereka.
"Apa yang kamu inginkan? Suamimu ini akan memberikannya."
Arshila tersenyum. Ini sangat membahagikan untuknya. Merasa disayang, dicintai dan dimanjakan.
"Aku ingin pergi pameran, katanya disana bnyak stand makanan. Apa boleh?"
"Tentu, saja. Apapun, itu boleh," jawab Dave tanpa berpikir panjang. "Tapi, sebaiknya kita tidur siang dulu. Malam nanti, kita akan menjelajah. Anak papa, tidur dulu, yah!" Mengelus-elus perut Arshila dengan lembut.
Dave sudah mengangkat tubuh sang istri, meletakkannya diatas tempat tidur. Tidur siang, dengan berpelukan dalam. Hal yang sudah lama dinantikannya. Meski, selama ini mereka melakukannya.. Tapi, suasana sekarang berbeda, karena Arshila sudah memaafkan dan membuka hatinya.
Ditempat berbeda.
Tian baru saja melaporkan, tentang perjalanan mereka saat pulang kampung. Mulai dari hal terkecil, tak ada yang ia sembunyikan. Apalagi, tentang saudara nona muda, yang ternyata anak angkat dari rival bisnisnya.
"Si playboy Malvin, mengadopsinya?" ujar Liam, yang bereaksi sama seperti Rachel.
Seolah ada sesuatu yang membuat mereka tidak percaya. Dan Tian, hanya menjawab, sesuai apa yang diketahuinya.
__ADS_1